LOGINLuna adalah seorang istri yang dikhianati oleh suaminya. Rasa cinta yang begitu dalam, membuat dia seperti kehilangan pegangan. Hingga akhirnya dia menyadari, bahwa ada lelaki dari masa lalunya, yang ternyata begitu mencintainya. Pandangannya berubah, ketika dia mengetahui bahwa mantan kekasihnya menempati rumah sebelah.
View MoreTara merasakan kepalanya berat sekali, sewaktu memaksakan diri untuk bangun dari tempat tidurnya. Yang diingat olehnya, ketika ia bersama teman-teman sekolah menghadiri pesta ulang tahun dari teman sekelasnya.
Ia pun tidak tahu siapa yang mengantarkan dirinya sampai ke rumah. Ia melihat sekeliling kamarnya dan dilihatnya seisi kamar seperti terbalik. Kembali ia menutup matanya dan mengingat-ingat apa yang telah terjadi padanya malam itu. Masih terasa hinggar binggar musik di rumah temannya saat pesta berlangsung. Membuat mereka menggoyangkan badan mengikuti irama. Lalu,Tara mengingat satu persatu kejadian yang telah terjadi di tempat pesta itu. Ia teringat ketika beberapa temannya mengajak untuk mencoba minuman “mushroom” . Beberapa saat kemudian, ia merasa semua yang dilihat terbalik. Ia ingat bagaimana dirinya tertawa terpingkal-pingkal karena semua yang dilihat terbalik, akibat dari minuman yang dicoba bersama teman-teman. “Sialan sekali minuman itu,” umpat Tara setelah tahu penyebab dari sakit kepalanya adalah minuman itu. Tak lama kemudian masuklah seorang wanita paruh baya ke kamar Tara. “Apa yang terjadi dengan dirimu, Nak,” ucap wanita paruh baya bernama Andini. Yang bisa Tara lakukan hanya mendengarkan Andini berbicara padanya. Tapi ia tidak bisa memicingkan mata barang sekejap, apalagi berbicara. Andini adalah seorang wanita tegar yang selalu menyayangi dan selalu memberikan kata maaf, ketika Tara melakukan kesalahan apapun. Tara sangat mengerti sekali dengan sifat dan watak mamanya yang tidak bisa marah, separah apapun ia membuat kesal hatinya. “Sayang ... Ayoo bangun dulu, kamu harus makan,” ajak Andini menepuk-nepuk pipi gadis belia tersebut. “Nanti saja Mama ... masih berat ini kepala Tara,’ sahutnya menjawab ajakan mamanya. Setelah mendengarkan jawaban dari putri semata wayangnya, Andini meninggalkan kamar dan berlalu dari kamar tersebut. Sering kali Tara merasa kasian pada mamanya, karena harus menghadapi kenakalan dirinya. Sudah sering kali juga, Tara berjanji pada dirinya untuk memperbaiki diri dan mencoba meninggalkan kebiasaan buruknya. Tetapi, semakin lama ia ingin menghindari dan mencoba meninggalkan kebiasaan buruknya, semakin keras juga ia mengarah ke arah yang berlawanan dengan niatnya. Sekitar pukul empat, Tara yang merasa kondisinya telah pulih dari pengaruh minuman, beranjak dari tempat tidur dan melangkah keluar kamar menuju meja makan. Karena, ia merasakan kelaparan telah menggerogoti lambungnya. Sesampai di meja makan, dilihat mamanya sedang duduk dengan segelas kopi. “Sore mama," sapa Tara memberikan salam pada mamanya. Tara lalu duduk di ruang makan dan mulai mengambil makanan dan menikmatinya. Sedangkan sang mama tampak menikmati kopi yang ada dihadapannya. Selesai makan ia beranjak dari tempat duduknya. Namun, Andini menahan Tara untuk tetap duduk di ruang makan. “Tara ... Cobalah untuk menghindari beberapa teman yang memberikan dampak negatif pada dirimu,” ucap Andini menasehatinya. Tara hanya menganggukkan kepala seraya merapikan ikatan rambutnya. “Kamu sudah cukup dewasa untuk bisa memilah hal yang baik dan buruk untuk hidupmu,” lanjut Andini meneruskan ucapannya. "Ya, Ma," jawabnya singkat. “Sebentar lagi kamu akan menghadapi ujian akhir. Jadi, mama harap kamu bisa lulus Tara,” imbuhnya kembali. Andini mengingatkan Tara akan tugas dan kewajibannya sebagai siswa sekolah menengah atas kelas akhir. Karena setelah ini, diharapkan Tara mampu masuk ke perguruan tinggi negeri. Itu adalah harapan besar bagi mamanya Tara. Setidaknya jika Tara bisa masuk ke perguruan tinggi negeri, mamanya tidak perlu mengeluarkan biaya yang cukup besar. Setelah kebangkrutan yang di alami oleh usaha papanya, Tara diajarkan oleh Andini untuk belajar hidup prihatin. Andini juga mengajarkan Tara untuk bisa menghargai uang dan waktu. Mungkin Andini terlambat memberikan pelajaran itu. Akan tetapi, setidaknya dengan berjalannya waktu serta melihat kenyataan yang ada saat ini, diharapkan Tara mampu merubah sikap dan kebiasaannya menjadi lebih baik. Papanya bernama Wisnu, kini mendekam di Rumah Tahanan karena tersangkut kasus penipuan yang menjadi penyebab perusahaannya pailit. Memang, terkadang hidup tidak bisa diprediksi. Kita hanya bisa berencana, tapi segala sesuatu mengikuti apa yang menjadi takdir diri kita masing-masing. Kehidupan Tara yang awalnya bak seorang putri, kini berubah drastis, saat musibah menimpa papanya. Sejak papanya masuk ke Rumah Tahanan, beberapa aset diambil oleh pihak Pengadilan. Keadaan ekonomi keluarga Tara menjadi morat-marit. “Mama ... Boleh aku bekerja part time?” tanyaTara mengemukakan keinginannya. “Untuk saat ini lebih baik kamu focus untuk belajar karena ujian kelulusanmu sudah dekat,” jawab Andini menolak keinginan putrinya. Beberapa saat kemudian, terdengar ketukan dari pintu rumahnya. Mereka pun bergegas ke ruang tamu dan membukakan pintu. Dilihat seorang lelaki, sahabat Wisnu, papanya Tara bertandang ke rumah. Setelah mempersilakan masuk, mereka pun duduk di ruang tamu dan berbincang-bincang. “Maaf ibu, maksud kedatangan saya kemari ingin memberitahukan pada Ibu. Kalau, rumah yang ibu tempati ini sudah dijadikan jaminan oleh pak Wisnu." Seketika Tara dan mamanya terdiam mendengar penjelasan dari sahabat papanya. Lelaki itu pun, memperlihatkan surat perjanjian yang telah di tanda tanggani didepan notaris antara Wisnu dan lelaki yang bertamu ke rumahnya. “Maaf pak ... Kalau bisa kami minta waktu untuk mengosongkan rumah ini, sampai kami mendapatkan tempat tinggal yang lain.” Andini menyampaikan persetujuan nya untuk mengosongkan rumah itu sampai mereka mendapatkan rumah yang baru. Lalu, sahabat Wisnu menyetujui apa yang diminta oleh Andini. Setelah itu, tamu tersebut berpamitan. Setelah tamu itu pergi, terlihat Andini masuk ke kamar dan mengunci diri dikamarnya.Terlihat kesedihan yang teramat sangat di wajahnya. Kesedihan itu tidak dapat disembunyikan dari Tara. “Mama ... Tolong buka pintunya,” pinta Tara mengetuk pintu kamar. Namun, Tara tidak mendapatkan jawaban apa pun. Ia hanya mendengar isak tanggis mamanya di balik pintu yang di ketuk berulang kali. Hal itu, jelas membuat Tara semakin kuatir atas kondisi mamanya. “Mama, tolong buka pintunya.,” Pinta Tara untuk kedua kalinya mengetuk pintu. Akhirnya Andini membukakan pintu dan mengizinkan Tara masuk. Andini kembali duduk disisi tempat tidur. Lalu, Tara memegang tangan mamanya dan berkata. “Maaa ... Besok kita akan mencari rumah kontrakan bersama ya," tutur Tara dan memeluk tubuh mamanya. Kini mereka menangis bersama sambil berpelukan. Terkadang Tara terlihat lebih dewasa ketika sedang menghadapi sebuah masalah. Tetapi, kadang ia juga masih seperti seorang remaja putri yang manja dan sulit diatur. Rasa cinta Tara pada Andini, membuat gadis muda itu melindungi dan memberikan rasa nyaman, saat Andini sudah tidak mampu menahan kesedihan dalam hatinya. Ketika dilihat Andini telah tertidur karena terlalu lelah memikirkan kehidupan mereka. Tara mencoba menghubungi temannya yang memberitahukan perihal kerja part time. Tara ingin bekerja part time, keadaannya saat ini sudah terasa sangat sulit. Memang Andini tidak memberikan izin untuk hal ini. Tetapi jalan ini adalah jalan terbaik untuk kelangsungan hidup mereka. Setelah temannya, memberikan alamat dan nomor telpon perusahaan yang membutuhkan tenaga part time, Tara pun menghubungi perusahaan tersebut dan berjanji untuk bisa kesana esok hari. *** Keesokan pagi, Tara bangun lebih awal dari mamanya. Ia telah pula menyiapkan sarapan pagi untuk mereka. Tara membuat nasi goreng untuk mereka Andini sangat terkejut melihat Tara telah bangun dan telah menyiapkan nasi goreng untuk sarapan mereka. “Pagi ma," sapa Tara ketika mamanya menghampirinya di dapur.” “WOW...! Putri kesayangan mama sudah berubah drastis. Terima ya Allah," ucapnya kala melihat perubahan putrinya. “Ayoo kita makan Ma, “ ajak Tara tersenyum manis mendengar pujian mamanya. Mereka pun, sarapan pagi bersama. Andini sangat bersyukur atas perubahan yang terjadi pada Tara. Dirinya terus mengucapkan rasa syukur atas perubahan tersebut. Setidaknya Tara bisa menerima kenyataan hidup saat ini dan lebih dewasa dalam segala tindakannya, sesuai dengan doanya selama ini. Selesai mereka sarapan, Tara berpamitan untuk ke sekolah. Andini pun, berpesan padanya, "Tara, selepas pulang sekolah, kamu langsung pulang, ya. Kita akan cari kontrakan." "Ok! Siap Maa," jawab Tara. Sepeninggalan Tara, Andini mengemasi barang-barang yang harus disiapkan untuk kepindahan mereka ke rumah kontrakan yang nanti sore akan mereka cari. Ada beberapa barang yang harus dijual, karena tidak semua barang akan cukup diletakan pada rumah kontrakan mereka. Pikir Andini, saat mengemas barang-barang yang akan mereka bawa. Oleh karena itu Andini memphoto beberapa barang yang sekiranya bisa dijual olehnya. Setidaknya selain bisa menjadi penghasilan bagi mereka, juga akan lebih mudah saat mereka pindah ke rumah kontrakan yang lebih kecil dari rumah mereka saat ini. Setelah Andini memphoto beberapa barang yang harus dijual lewat online, dirinya langsung memposting beberapa barang tersebut dengan harga yang tidak terlalu mahal. Yang terpenting, barang-barang itu cepat terjual. Sehingga mereka akan lebih cepat keluar dari rumah yang saat ini sudah bukan miliknya lagi. Sesaat teringat beberapa peristiwa, Andini kembali bersedih. Tetapi, wanita itu segera menghalau kesedihan dalam hati dan pikirannya. “Maaa.... ,” Tara sudah pulang.” Suara Tara membuat kaget Andini. Karena tidak terasa sudah hampir jam dua siang. Tara pun melihat mamanya sedang merapihkan barang-barang yang akan mereka bawa Lalu, Andini menjelaskan pada Tara, bahwa ada beberapa barang yang sudah ia iklankan secara online untuk dijual. Tara hanya menganggukkan kepalanya, saat Andini bercerita atas barang-barang yang akan dijual. Setelah makan siang mereka keluar untuk mencari kontrakan yang sesuai dengan sisa dari simpanan yang mereka punya saat ini. Setelah dua jam berada di luar, ada beberapa rumah kontrakan yang mereka kunjungi. Tetapi, tidak sesuai dengan budget yang mereka punya. Ada pula rumah kontrakan yang lebih murah. Tetapi, untuk lingkungan dan rumahnya tidak sesuai dengan harga yang seharusnya. Setelah beberapa rumah mereka jumpai, akhirnya mereka mendapat rumah kontrakan yang cukup bersih dengan lingkungan lebih nyaman serta harga yang cocok dengan budget yang mereka punya. Usai membayar tanda jadi dari rumah kontrakan itu, mereka berpamitan dan meminta pada pemilik rumah untuk mengecat ulang rumah serta membersihkannya. Sehingga pada saat mereka pindah rumah tersebut telah rapih. Sesampai di rumah jam telah menunjukan pukul tujuh malam. Andini langsung pergi kekamar mandi dan Tara juga melakukan hal yang sama. Selesai mereka membersihkan diri akhirnya mereka bertemu diruang makan. Andini menanyakan perihal sekolahnya dan menanyakan perihal kapan ujian akhir sekolah. Ia juga kembali menasehati Tara untuk lebih rajin belajar. Ia hanya bisa mendoakan, agar Tara bisa lulus dengan nilai terbaik serta diterima di Perguruan Tinggi Negeri. Selesai mereka makan malam dan berbincang-bincang, Tara pun pergi ke kamarnya begitu juga dengan Andini. Ketika di dalam kamar, Tara menerima panggilan telpon dari perusahaan yang menawarkan pekerjaan part time padanya. Hari ini, Tara lupa untuk ke perusahaan tersebut. Ia pun berjanji untuk ke perusahaan tersebut esok hari. Ketika pagi tiba, kebiasaan bermalas-malasan Tara yang dulu sering ia lakukan kini telah berubah total, sejak kedatangan sahabat Wisnu, papanya. Saat ini Tara telah menjadi seorang anak perempuan yang mengerti keadaan keluarganya. Dirinya kini telah sepenuhnya menyadari hal yang seharusnya ia lakukan. Apalagi sejak melihat Andini menangis, karena rumah yang mereka tempati ternyata sudah menjadi milik orang lain. Tara berjanji dalam hatinya, suatu hari nanti ia bisa membelikan rumah mamanya. Maka, ia pun berusaha untuk merubah kebiasaan buruknya untuk menjadi lebih baik. Diawali dengan bangun pagi untuk membantu Andini di dapur ataupun membersihkan rumah. Selesai sarapan bersama mamanya, Tara berpamitan untuk pergi kesekolah, tetapi sesampai di sekolah Tara meminta izin kepada wali kelas nya untuk tidak mengikuti pelajaran hari ini. Karena seluruh materi pelajaran di masa pembelajaran kelas akhir telah habis, maka wali kelasnya pun memberikan izin pada Tara untuk tidak mengikuti pengulangan pelajaran. Tara mengganti pakaian sekolah yang ia kenakan di kamar ganti sekolah dengan pakaian casual. Sebuah Kaos berwarna biru muda dan celana Jins serta sepasang sepatu kets. Rencananya, hari ini ia akan ke perusahaan yang akan memberikan pekerjaan part time, sesuai janjinya. Tara memoleskan sedikit lipstik dengan warna soft pada bibirnya dan menambah sedikit bedak pada wajahnya. Saat ini wajah Tara terlihat lebih dewasa dari usianya yang baru menginjak delapan belas tahun. Dengan postur tubuh yang tinggi, langsing dan berisi penampilan Tara saat ini sudah seperti seorang wanita dewasa. Ia terlihat cantik dengan kulit yang kuning langsat, bibir yang sedikit tebal, bentuk hidung yang mancung dan rambut hitam bergelombang serta lesung pipi yang membuat dirinya semakin terlihat cantik ketika tersenyum. Tara ke tempat perusahaan itu dengan menggunakan taxi, karena ia belum pernah ketempat tersebut. Sesampai di perusahaan itu, Tara diterima bagian recepsionis. Setelah itu ia di antar untuk menghadap ke bagian HRD (bagian penerimaan karyawan). Sesampai di bagian penerimaan pegawai, Tara pun, diberitahu tentang pekerjaannya. Ia baru tahu kalau pekerjaannya adalah sebagai sales/marketing yang menawarkan produk dari sebuah showroom. Ia tidak bekerja di kantor itu. Tetapi, di tempatkan pada beberapa Mal atau ditempatkan pada beberapa event untuk memamerkan mobil di tempat yang berbeda. Melihat hasil yang didapatnya cukup lumayan dan jam kerja sesuai dengan jadwal pulang sekolah, maka Tara menyetujui pekerjaan itu. Walaupun, ia belum berbicara pada mamanya perihal ini. Tetapi, ia yakin Andini akan setuju dengan keputusan dirinya. Setelah itu, Tara izin pulang dan minta waktu dua hari lagi untuk bisa bekerja di sana pada bagian HRD dengan alasan yang masuk akal."Bagaimana, Sayang? Kamu mau, diintimidasi seperti ini? Dipaksa-paksa, dibuat malu? Kalau aku sih ogah, bikin malu," ucapku pada suamiku. "Jika Mbak Bunga tidak mau, juga tidak masalah. Masalah Mbak Bunga dan Mas Aksa, akan saya serahkan ke kantor polisi. Biar nanti polisi saja yang akan menangani. Mbak Luna juga katanya sudah siap untuk mengajukan laporan ke kantor polisi. Bagaimana, kalian memilih opsi yang mana?"Lagi-lagi, para warga pun bersorak sorai, menyoraki kami."Baiklah, saya memilih membersihkan komplek saja," jawab Aksa dengan lirih, sambil menunduk. Aku menyikut lengan suamiku. "Kenapa tidak memilih diselesaikan di kantor polisi, kita bisa menyewa pengacara. Kalau membersihkan komplek, kita bakalan malu seumur hidup. Kamu jadi laki-laki, kenapa bodoh sekali?!"Aku berbicara dengan sangat kesal. Bagaimana mungkin, Aksa yang memiliki karir yang cemerlang, tapi bisa sebodoh ini? "Pak Rt, kami memilih untuk diselesaikan di kantor polisi saja. Kami akan menyewa pengacara
Dan tiba-tiba saja, mamanya Aksa keluar dari rumah, menghampiri anak lelakinya. "Aksa, benarkah apa yang telah diucapkan oleh perempuan tidak beradab itu? Kamu sudah menikahinya? Kamu berani menikah, tanpa ijin, dan tanpa restu dari orangtuamu? Pernikahan macam apa, itu? Kalian kira, menikah itu adalah sebuah permainan?""Kamu itu! Entah bagaimana aku akan mengataimu. Apa kurangnya Luna, sampai kamu tega berbuat seperti itu. Luna itu baik, jika kamu tidak menyakitinya!""Sepertinya kamu memang sudah dibuat gila, oleh perempuan rendahan itu, sampai-sampai kamu tega membawanya ke rumah ini!""Perilaku apa itu namanya, jika bukan perilaku binatang!""Perempuan rendahan yang hanya bermodal sel*kangan, kamu bawa pulang. Kamu ajak tidur di kamarmu. Bodoh sekali kamu!"Dan tiba-tiba saja, telapak tangan mamanya itu, sudah melayang menampar pipi anak lelakinya. Dan kemudian beralih menamparku. Lagi-lagi, semua warga pun menyoraki kami. "Diam ... diam ... Mohon semuanya harap tenang, ya? K
Kini bahkan tubuh Aksa sudah ambruk ke lantai. Ayahnya masih tetap berdiri, dengan nafas yang tersengal. Kemudian, papanya Aksa keluar begitu saja, dari kamar ini.Aku melirik mamanya Aksa, sekilas. Namun naas. Ternyata, dia juga sedang menatapku. Hingga tatapan mata kami pun bertemu. Dan tiba-tiba, di luar dugaanku, mamanya Aksa segera naik ke atas ranjang. Dia semakin mendekatiku. Ditariknya, rambutku. "Ini dia, perempuan yang berhasil merubah anakku menjadi bejat seperti ini. Dulu, sebelum bertemu dengan kamu, Aksa itu adalah anak yang baik. Dia juga suami yang baik dan bertanggungjawab. Tapi kamu telah meracuni pikirannya. Kamu manfaatkan selgkaanmu, untuk menjerat anakku. Dan dengan tidak tahu malu, kamu telanjang di kamar tidur anakku. Sudah miskin, masih tidak tahu malu. Entah sebutan apa, yang cocok disematkan untuk perempuan murahan seperti kamu itu. Sepertinya, sebutan jal*ng pun, terlalu baik untukmu!"Rambutku ditarik dengan lebih keras lagi. Sehingga menimbulkan rasa sa
POV. Aksa"Aku sudah tidak peduli. Kamu mau menikahi dia, kamu mau menceraikan dia. Bukan urusanku. Justru sekarang juga, aku yang akan meminta cerai. Ceraikan aku sekarang juga! Aku tidak mau lagi bersuamikan laki-laki yang kelakuannya bahkan melebihi kelakuan binatang!"Lagi-lagi, Luna berbicara dengan sangat lantang. Perempuan itu. Sudah kuperlakukan dengan baik, tetap saja bersikap angkuh. Lama-lama, aku pun kesal juga. Apalagi, semenjak dia mengetahui perselingkuhanku dengan Bunga, akhir-akhir ini, dia entah sudah berapa kali mengataiku sebagai binatang. Aku juga heran. Dia yang notebenya sebagai bisnis woman, sebagai seorang putri pejabat, namun mulutnya tidak bisa terkontrol. Tingkahnya juga cenderung arogan. "Luna! Kamu dengar tidak. Nyalakan airnya sekarang juga. Kamu jadi perempuan terlalu angkuh. Selalu ingin menjadi yang paling dominan, di setiap keadaan. Laki-laki mana pun, tidak akan tahan, hidup bersama dengan perempuan sepertimu. Kamu itu sudah berani kurang ajar.
POV. Bara"Tapi akhir-akhir ini, aku merasa labil. Aku sering gagal mengontrol emosiku. Aku bahkan takut, jika suatu hari nanti, aku akan depresi, kemudian menjadi gila. Kasihan nanti orang tuaku ...."Kini bahkan Luna sudah menangis. Entah ini tangisannya yang ke berapa kali. "Makanya itu, sebaiknya
POV. AksaTerus terang, aku ingin membalas sakit hatiku terlebih dahulu. Akan kubuat dia menjadi bucin kepadaku. Bahkan lebih bucin lagi dari sebelum-sebelumnya. Saat dia sedang merasa begitu gila karena mencintaiku, maka saat itulah, aku akan menceraikannya. Aku bahkan heran dengan perempuan yang s
POV. Aksa"Sayang, kamu yakin, mau tinggal di rumah Papa?" tanyaku.Luna hanya menatapku sekilas. Kemudian dia kembali sibuk dengan memasukkan baju-baju itu ke dalam koper. Benar-benar perempuan yang angkuh."Luna, kamu dengar tidak, aku bertanya apa?" Nada suaraku mulai meninggi. "Tidak usah teriak-te
POV. LunaGundik itu, bahkan terlihat memakai rok tipis di atas lutut, yang memperlihatkan separuh pahanya. Sementara, suamiku hanya memakai celana pendek. Aku hafal dengan celana yang dipakai oleh suamiku itu. Karena, celana itu, kadang aku yang mencucinya, aku yang menjemurnya, aku yang menggosokny












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews