เข้าสู่ระบบAku masih menatap Aaron ketika senyum di wajahku perlahan memudar.Beberapa saat lalu, kata-katanya terasa begitu indah."Dia anakku. Dan kamu Luna-ku.""Aku punya kalian berdua."Kalimat-kalimat itu seharusnya membuatku bahagia. Dan memang, hatiku menghangat melihat betapa tulusnya Aaron membicarakan putra kami, tentang keinginannya untuk segera bertemu, membayangkan wajahnya, bahkan menjadi ayah yang selalu ada untuknya.Ia berbicara tentang masa depan kami dengan begitu mudah.Tentang anak kami.Tentang keluarga kami.Namun, ada satu hal yang tidak pernah ia sebutkan.Pernikahan.Tidak sekali pun.Aku menundukkan pandangan pada tangan kami yang masih bertaut di atas seprai. Perlahan, kebahagiaan yang tadi memenuhi dadaku bercampur dengan kegelisahan yang selama ini berusaha kuabaikan.Jika kami benar-benar akan menjadi sebuah keluarga, lalu siapa aku di dalamnya?Aku ingin menjadi lebih dari sekadar perempuan yang melahirkan anak Aaron. Aku ingin menjadi istrinya, seseorang yang di
Aaron mengernyit. "Seberapa cepat?""Saya tidak bisa menentukan tanggal pastinya. Namun, melihat perkembangan janin yang sangat aktif dan kekuatan yang saya rasakan selama mendampingi pemeriksaan Luna, ada kemungkinan kelahirannya terjadi lebih awal."Aku menoleh kepada Aaron.Wajahnya langsung terlihat serius. Ia masih duduk di kursi dekat kepalaku, sementara jemarinya menggenggam tanganku di atas seprai."Jadi kami harus bersiap mulai sekarang?" tanyaku."Lebih baik begitu, Luna.""Apa saja yang harus kami persiapkan?""Perlengkapan bayi, tempat untuk sang pewaris, kebutuhan Luna selama masa pemulihan, dan tentu saja orang-orang yang akan membantu setelah kelahiran."Aaron langsung menyela sebelum aku sempat bertanya lebih jauh."Semua sudah disiapkan."Aku menoleh cepat. "Sudah?"Dokter Reynard hanya tersenyum kecil, seolah jawaban Aaron sama sekali tidak mengejutkannya."Saya tidak terkejut, Alpha."Aku mengerutkan kening lalu memandang Aaron. "Kamu sudah menyiapkan semuanya?""Se
Sejak aku pindah ke mansion Aaron, seluruh pemeriksaan kehamilanku dilakukan di sini. Dokter Reynard bahkan beberapa kali datang langsung ke kamar kami agar aku tidak perlu bepergian hanya untuk menjalani pemeriksaan.Aaron memang tidak suka melihatku terlalu sering keluar rumah, terlebih usia kandunganku sekarang sudah semakin besar. Gerakan bayi di dalam perutku pun semakin aktif dari hari ke hari.Seperti pagi ini.Begitu mengetahui jadwal pemeriksaanku sudah tiba, Aaron langsung membatalkan semua agenda yang seharusnya ia hadiri di kantor.Aku bahkan sempat mengira aku salah dengar ketika ia mengatakan tidak akan pergi ke mana pun hari ini."Semua rapat dibatalkan?" tanyaku sambil menatapnya.Aaron hanya mengangguk santai. Ia menggulung lengan kemejanya hingga batas siku, memperlihatkan lengannya yang kokoh dan berotot. Gerakannya sederhana, tetapi entah kenapa aku malah terpaku beberapa detik.Aku buru-buru mengalihkan pandangan ketika menyadari bahwa diam-diam aku sedang terpeso
Sudah lebih dari seminggu Elena tinggal di rumah ibunya yang berada di pinggir hutan pinus. Selama itu pula, kehidupan yang sempat terasa begitu jauh dari ingatannya perlahan kembali terasa akrab.Tidak ada kemewahan. Tidak ada kesibukan kota. Hanya rumah sederhana yang dikelilingi pepohonan pinus, udara sejuk, dan suara alam yang menemani setiap pagi hingga malam.Elena dan ibunya melakukan hampir semuanya bersama.Mereka saling membantu memasak, mencuci pakaian, memotong rumput, hingga membersihkan rumah. Hal-hal sederhana yang dahulu terasa biasa, kini justru menjadi sesuatu yang sangat berharga bagi Elena.Mereka juga banyak bercerita. Tentang kehidupan Elena selama bertahun-tahun. Tentang hal-hal kecil yang terjadi di rumah. Tentang masa lalu yang perlahan mereka buka kembali.Bahkan beberapa kali, mereka tertawa hanya karena mengingat tingkah Elena ketika masih kecil.Tentang bagaimana gadis kecil itu dulu sering berlari tanpa alas kaki di halaman. Tentang bagaimana ia pernah me
Jessi tidak langsung menjawab. Ruangan itu kembali sunyi. Hanya suara napas pelan dari seberang telepon yang terdengar samar di telinganya."Karena sekarang ... adalah saat yang paling tepat untuk membalas dendammu."Kalimat Damian terus berputar di benaknya. Namun bersamaan dengan itu, suara lain ikut melintas dalam ingatannya."Untuk sementara waktu, kita harus berhenti." Suara ayahnya terdengar begitu jelas. "Saat ini Aaron sedang berada di puncak kekuatannya. Dia baru mendapatkan kontrak besar. Menyerangnya sekarang adalah tindakan bodoh."Jessi mengepalkan jemarinya kuat-kuat. Ia masih mengingat setiap kata yang diucapkan sang ayah malam itu.Aaron baru memperoleh kontrak besar. Proyek Utara berkembang pesat. Seluruh klan sedang mengagungkannya, dan menyerang Alpha itu secara terbuka sama saja dengan menyodorkan leher ke meja pembantaian."Kita menunggu," lanjut bayangan suara Stanley. "Ketika perang besar antara Aaron dan Tetua Marcus pecah ... pada waktu itulah celah itu akan t
Sudah beberapa hari berlalu sejak pertarungan itu. Namun, luka di dada Damian belum juga menunjukkan tanda-tanda pulih sepenuhnya.Bekas tusukan cakar Aaron masih meninggalkan rasa nyeri yang seolah terus menggerogoti tubuhnya dari dalam. Setiap kali menarik napas terlalu dalam, rasa sakit itu kembali menusuk, memaksanya menunda banyak hal, termasuk menggunakan kekuatannya secara berlebihan.Untuk sementara waktu, ia harus menjalani masa pemulihan dan beristirahat total.Damian tidak menyukai keadaan itu. Ia terbiasa bergerak di balik bayang-bayang, mengatur setiap bidak dengan tangannya sendiri.Namun kali ini ... ia harus meminjam tangan orang lain.Perlahan, senyum tipis muncul di sudut bibirnya."Kalau begitu ... biarkan pionku yang bergerak lebih dulu."Sebuah nama langsung muncul di benaknya.Jessi.Beberapa jam kemudian, seorang bawahan kepercayaan Damian diam-diam meninggalkan tempat tersembunyi itu.Ia sengaja mengintai dan menunggu hingga Stanley terlihat keluar meninggalkan
Aku masih bisa merasakan sisa-sisa nyeri di tubuhku saat Aaron duduk di kursi, persis di samping ranjangku. Tangannya belum berpindah dari perutku, seolah ia takut rasa sakit itu akan kembali menyerang begitu saja jika ia melepaskannya.Dan anehnya ... kehangatan itu benar-benar menenangkan.Janin
"Aku nggak akan gagal," ucap Hendra dingin.Pria bermantel hitam itu memperhatikannya selama beberapa saat, seolah sedang menakar kadar keyakinan di mata Hendra, sebelum akhirnya terkekeh pelan."Aku sangat berharap begitu, demi keselamatan nyawamu sendiri."Ia berbalik perlahan, mantel hitamnya
Pagi tadi seharusnya berjalan biasa. Aku bangun, meregangkan otot, membantu nenek di dapur, lalu bersiap menjalani hari tanpa memikirkan apa pun yang aneh. Namun sejak membuka mata, ada perasaan ganjil yang tidak bisa kujelaskan. Seperti sisa mimpi buruk yang enggan pergi meski aku sudah sepenuhnya
"Tuan."Suara Aldrick memecah keheningan ruang kerja itu.Aaron mengangkat pandangan perlahan. “Ada perkembangan?”“Ya.” Aldrick melangkah mendekat. “Orang bermantel hitam itu kembali bergerak.”Tatapan Aaron langsung berubah tajam. “Lanjutkan.”Aldrick mengangguk singkat. “Setelah pengamanan kit







