LOGINKeheningan menggantung di antara mereka, terasa begitu berat hingga seolah mampu menghambat aliran napas.Sang Tetua berdiri tegak di depan pintu, sementara Aldrick tidak bergeming sedikit pun di hadapannya. Tatapan mata tua Marcus yang tajam perlahan bergeser, menyapu meja kerja Aldrick yang dipenuhi tumpukan dokumen sebelum akhirnya kembali terkunci pada wajah sang Beta."Aku mendengar laporan bahwa kamu baru saja membawa sebuah koper hitam mencurigakan ke dalam kamar ini," ujar Marcus.Suaranya tenang, terlalu tenang, namun justru ketenangan itulah yang membuat kalimatnya terdengar lebih menyerupai tuduhan daripada sekadar pertanyaan.Aldrick tidak berkedip. "Saya memang membawanya masuk, Tetua. Apakah ada aturan baru yang melarang saya membawa barang pribadi ke dalam ruangan saya sendiri?"Marcus tersenyum tipis. "Aturan lama atau baru tidaklah penting, Aldrick. Yang penting adalah apa yang kamu sembunyikan di dalamnya. Kamu tampak gugup saat aku mengetuk pintu tadi.""Saya h
Tatapannya terkunci pada sebuah foto yang diambil dari sudut tersembunyi. Di sana, agak jauh di belakang sosok Hendra yang sedang berjalan, berdiri seorang pria dengan postur tubuh tegap dan tinggi.Meskipun fotonya sedikit buram karena jarak, Aldrick bisa mengenali gestur dan postur itu dengan sangat jelas.Itu adalah seseorang yang sama sekali tidak asing baginya. Seseorang yang selama ini dicurigai menjadi dalang dari beberapa insiden berdarah di masa lalu, yang selalu muncul di berbagai kasus mencurigakan, namun selalu berhasil lolos tanpa jejak.Pria yang sampai sekarang belum pernah bisa mereka sentuh karena kurangnya bukti fisik.Pria bermantel hitam.Mata Aldrick berubah menjadi sedingin es.Perlahan ia menutup map tersebut. Pikirannya berputar cepat, menghubungkan semua titik merah yang kini terpampang nyata.Kini ia mengerti mengapa semua jejak ini terasa begitu bersih dan rapi.Mengapa seluruh kehidupan Hendra tampak seperti hasil rekayasa.Dan mengapa Lucien mencium se
Jam dinding di ruang kerja Aldrick telah melewati pukul empat sore. Namun, Sang Beta belum beranjak dari kursinya.Keheningan menyelimuti seluruh ruangan.Sementara di atas meja, riwayat hidup seorang manusia bernama Hendra telah terpecah menjadi dua bagian yang sangat jelas.Sebelum menghilang, dan sesudah menghilang.Aldrick menatap kedua kelompok dokumen itu bergantian. Semakin lama ia menganalisis lembar demi lembar, naluri serigalanya semakin berontak. Ada sesuatu yang sangat mengganggu di sana. Bukan karena perbedaannya, melainkan karena peralihannya."Tidak ada manusia yang bisa merangkak dari titik kehancuran total menuju kehidupan yang sempurna hanya dalam hitungan bulan," gumam Aldrick pada diri sendiri. Suaranya berat, memecah kesunyian kamar. "Setidaknya, tidak tanpa bantuan dari tangan yang sangat berkuasa."Bantuan yang dibutuhkan untuk menciptakan perubahan sebesar itu tidak mungkin berasal dari manusia biasa. Insting predator dalam diri Aldrick berbisik pelan, meng
Aldrick menegakkan punggungnya, membaca ulang nama pemilik saham yang tertera di sana."Hendra," gumamnya, matanya langsung menyipit tajam. "Ternyata seperti ini dirimu yang asli."Sudut bibir Aldrick terangkat, membentuk seringai dingin.Ia segera menyambar dokumen berikutnya dari dalam map yang sama. Itu adalah laporan utang piutang, disusul oleh surat teguran hukum dari lembaga keuangan, dan laporan penyitaan aset. Semuanya mengarah pada satu nama yang sama.Hendra.Realitas yang bertolak belakang dari apa yang ia baca satu jam lalu.Namun, sosok yang tergambar di lembaran-lembaran kumal ini sama sekali bukan Hendra yang dikenal publik saat ini. Ini adalah Hendra yang hidup belasan tahun lalu, seorang pria malang yang terlilit utang dalam jumlah yang luar biasa besar, seorang pengusaha gagal yang hidupnya hancur, dan seorang buronan yang diburu oleh para penagih utang berdarah dingin."Pria malang yang hancur," gumam Aldrick pada dirinya sendiri, matanya terus membaca baris dem
Beberapa jam kemudian, mobil milik Aldrick tampak memasuki kawasan hutan yang menjadi pembatas wilayah manusia dengan teritori utama pack. Mobil itu berhenti tepat di depan gedung batu megah yang berfungsi sebagai markas utama klan.Aldrick melangkah cepat melintasi koridor, mengabaikan beberapa prajurit penjaga yang memberikan hormat. Bahkan ia tidak membalas sapaan mereka dengan anggukan seperti biasanya. Jemarinya mencengkeram erat pegangan koper hitam di tangan kanan. Logam dinginnya seolah menyerap kehangatan tubuhnya.Sepanjang perjalanan tadi, benaknya tidak sedetik pun bisa tenang. Kalimat yang diucapkan Direktur William terus terngiang, berputar-putar di kepalanya seperti kutukan yang berbisik."Seolah seseorang dengan kekuasaan besar dan akses tanpa batas, pernah membersihkan seluruh jejak hidup pria itu secara profesional," bisik William saat itu.Kalimat itu bukan sekadar teka-teki, melainkan sebuah ancaman tersembunyi yang mengusik naluri serigalanya. Ada sesuatu yang
Langit pagi masih diselimuti awan kelabu ketika sebuah sedan hitam meluncur pelan, lalu berbelok memasuki area parkir bawah tanah sebuah gedung pemerintahan.Jam kerja belum dimulai, membuat tempat itu tampak sepi. Terlalu sepi untuk ukuran fasilitas negara. Hanya ada beberapa lampu putih yang menyala redup di sepanjang lorong, memantulkan bayangan panjang di lantai yang dingin.Pintu mobil terbuka. Aldrick turun dengan langkah tenang. Setelan hitam yang dikenakannya tampak melekat sempurna tanpa satu lipatan pun. Sorot matanya datar, namun ada ketajaman predator yang tersembunyi di balik manik gelap itu. Tatapan yang cukup untuk membuat siapa pun yang berhadapan dengannya merasa telanjang, seolah sedang diukur dan dinilai kelayakannya untuk tetap bernapas.Di ujung lorong, dekat pilar beton besar, seorang pria paruh baya sudah berdiri menunggu sejak tadi.Direktur William.Meski secara hierarki pemerintahan manusia pria itu menduduki jabatan tinggi yang dihormati banyak orang, sik
"Aku nggak akan gagal," ucap Hendra dingin.Pria bermantel hitam itu memperhatikannya selama beberapa saat, seolah sedang menakar kadar keyakinan di mata Hendra, sebelum akhirnya terkekeh pelan."Aku sangat berharap begitu, demi keselamatan nyawamu sendiri."Ia berbalik perlahan, mantel hitamnya
Malam turun dengan perlahan, membawa keheningan yang menyesakkan ke dalam ruang kerja Aaron. Cahaya senja yang tadi sempat menyapa, kini telah lama padam, menyisakan pantulan remang lampu kota yang menembus jendela kaca setinggi langit-langit. Jam dinding di sudut ruangan berdetak pelan, seolah se
Pagi tadi seharusnya berjalan biasa. Aku bangun, meregangkan otot, membantu nenek di dapur, lalu bersiap menjalani hari tanpa memikirkan apa pun yang aneh. Namun sejak membuka mata, ada perasaan ganjil yang tidak bisa kujelaskan. Seperti sisa mimpi buruk yang enggan pergi meski aku sudah sepenuhnya
Beberapa jam setelah matahari naik....Lorong rumah sakit mulai jauh lebih sepi dibanding pagi tadi. Langkah kaki perawat hanya terdengar sesekali, samar dan cepat, lalu kembali tenggelam dalam kesunyian bangunan yang dipenuhi aroma obat-obatan.Di dalam kamar rawat itu, Jessi masih duduk di atas r







