Share

Bab 2

Author: Liam
Kami berempat membeli satu gerbong kelas ranjang, aku dan sahabatku di ranjang bawah, dua pria di ranjang atas.

Suamiku datang lebih dulu, sementara aku berangkat langsung dari kantor.

Di jalan macet, sampai di stasiun sudah agak terlambat. Aku tidak sempat ganti baju dan buru-buru berlari kecil.

Rok kerja yang kupakai sangat pendek hingga hanya menutupi paha dengan stoking jaring hitam di kaki, serta sepatu hak tinggi merah sepuluh senti yang membuatku memancarkan aura dewi yang menggoda.

Sepanjang jalan, tatapan para laki-laki tak lepas dariku. Mereka memandangi lekuk tubuhku yang kencang dengan tatapan penuh gairah yang membuatku merasa tegang sekaligus bergairah.

Aku tahu aku cantik dan merupakan wanita idaman para laki-laki. Setiap kali diperhatikan dengan tatapan membara seperti itu aku merasa sangat bersemangat.

Di kepalaku bahkan muncul khayalan, seolah aku akan ditindih kasar oleh seorang pria, lalu telapak tangannya yang lebar menjelajah tubuhku ....

Karena berjalan terlalu cepat, tiba-tiba kakiku terpeleset dan aku nyaris jatuh, sampai lengan seorang pria bertubuh kekar meraihku dan mendekapku ke dalam dadanya.

"Kamu nggak apa-apa?"

Suara laki-laki yang berat dan serak terdengar dari atas kepalaku.

Tubuhnya sangat tinggi besar dengan lengan penuh otot yang kencang. Dia mengenakan kaus putih pendek yang tampak ketat di badannya sementara kulitnya yang gelap makin memancarkan kesan kuat.

Kulitnya terasa panas. Kemeja tipis itu sama sekali tidak bisa menahan hawa panas yang terus mengalir dari tubuhnya.

Kerah kausku cukup rendah. Saat ini tatapan membara laki-laki itu tertuju pada dadaku hingga sulit untuk diabaikan.

Aku bergumam pelan, "Aku, aku nggak apa-apa ...."

Otot laki-laki itu sekeras batu. Anggota tubuhku sudah terasa lemas, bahkan aku tidak berdaya untuk mendorongnya menjauh.

Bagian bawahku sudah mulai basah kuyup sekarang.

Dengan wajah memerah karena panik, aku berkata, "Yoga, lepasin aku ...."

Laki-laki bertubuh 190 cm dengan otot di sekujur tubuh ini bernama Yoga. Dia adalah pacar sahabatku saat ini.

Sekarang dia mengelola sebuah gym.

Orang-orang di stasiun berlalu-lalang, posisi kami yang berpelukan erat ini sudah mulai menarik perhatian banyak pejalan kaki.

Aku takut sahabatku melihat lalu salah paham, jadi aku cepat-cepat menyuruhnya melepaskan.

Yoga tampak masih belum puas. Entah sengaja atau tidak, dia malah menggesek pantatku dengan keras.

Aku malu sekaligus kesal. Aku melotot padanya sekali, lalu langsung berjalan menuju kereta.

Yoga mengikuti di belakang, santai saja menatap punggungku yang bergoyang-goyang, sudut bibirnya terangkat tipis.

Begitu sampai di gerbong, aku baru menyadari kalau sahabatku dan suamiku sudah sampai lebih dulu.

Sahabatku duduk di tepi ranjang. Mereka berdua saling merapat, menatap layar ponsel entah sedang menertawakan apa.

Hatiku merasa sedikit tidak nyaman, tapi sahabatku tidak menunjukkan ekspresi canggung sama sekali saat melihatku. Dia justru maju menyambutku.

"Jessy, kok lama banget sih? Kita nungguin dari tadi!"

Saat itu suamiku juga mendongak menatapku dengan wajah penuh perhatian. "Kamu nggak apa-apa?"

Melihat ekspresi mereka yang normal, hatiku sedikit lega lalu aku mengangguk dan tidak mau berpikir macam-macam lagi.

Yoga masuk tepat di belakangku dan langsung duduk dengan santai di tepi ranjang sisi satunya.

Perjalanan kami berempat pun dimulai ....

Saat ini sahabatku pamit sebentar untuk pergi ke toilet.

Tiba-tiba suamiku menerima telepon dari rumah sakit dan beranjak keluar dari bilik gerbong.

Saat ini, hanya ada aku dan Yoga yang duduk berhadapan di ranjang bawah sambil saling menatap dengan canggung.

Rok yang kupakai memang sudah pendek. Saat aku duduk, kainnya tersingkap hingga ke pangkal paha.

Kakiku yang dibalut stoking jaring hitam benar-benar terekspos sepenuhnya di bawah tatapan Yoga.

Tatapan Yoga terlihat sangat dalam. Gairah bergejolak di dalamnya sambil memperhatikanku dari atas ke bawah.

Sebelumnya aku hanya pernah bertemu dengannya sekali, kami tidak terlalu akrab.

Namun, dalam perjalanan kali ini perilaku Yoga terasa sangat berani.

Aku merasa gerah karena terus diperhatikan. Alhasil, aku secara tidak sadar merapatkan kedua kakiku. Padahal di balik rok ini aku memakai thong yang membuatku merasa seolah sudah ditelanjangi di depannya ....

Tubuhku yang sudah lama tidak mendapat belaian laki-laki menjadi makin sensitif. Saat ini diawasi dengan lapar oleh pacar sahabatku, membuat separuh tubuhku terasa lemas serta bagian bawahku makin basah ....

Aku ingin berdiri, tetapi di dalam hati muncul keinginan misterius, sampai kakiku terasa lemah.

Suasana di dalam bilik kereta yang tertutup ini menjadi semakin menggoda dan Yoga tetap diam, tapi tatapannya menjadi makin liar saat melihatku diam saja.

Seketika, ruangan itu hanya dipenuhi oleh suara napas berat Yoga.

Tiba-tiba pintu gerbong terbuka dari luar.

Suamiku akhirnya kembali.

Suasana yang nyaris liar itu pun seketika pecah.

Aku cepat-cepat bangkit. Aku mengambil baju ganti dari koper, lalu pergi ke kamar kecil.

Di kereta tidak ada banyak hiburan. Setelah makan malam, kami semua cepat-cepat naik ke ranjang untuk beristirahat.

Peredam suara gerbong tidak bagus, tidak lama kemudian terdengar keributan dari sebelah. Sahabatku pun terbangun dan bertukar tempat dengan Yoga.

Katanya ranjang atas lebih tenang. Dia pun memasang kembali penutup mata dan penyumbat telinga, lalu tertidur lagi.

Aku berbaring memejamkan mata, tetapi tatapan Yoga yang liar dan panas terus berputar di pikiranku. Hasrat yang lama tertahan mengalir deras ke tubuhku di tengah malam ....

Sampai akhirnya aku tidak sanggup menahan diri dan membuka video di balik selimut.

Karena menggunakan earphone, aku merasa aman untuk mengeraskan volume suara. Kemudian, aku menyelinapkan jemariku yang lembut ke bagian bawah untuk memuaskan diri sendiri.

Tiba-tiba, sebuah embusan napas panas terasa di dekat telingaku.

Di tengah erangan wanita dari earphone, suara Yoga yang serak terdengar jelas.

"Kak Jessy, earphone kamu suaranya bocor."

!!!

Aku tersentak kaget. Aku buru-buru melepas earphone, lalu saat mendongak aku mendapati Yoga sedang membungkuk menatapku.

Cahaya bulan dari celah tirai menyelinap masuk menyinari mata Yoga. Tatapannya terlihat sangat gelap tampak mengerikan dan berkilat penuh nafsu saat menatap lurus ke arahku.

Aku terkejut sampai hampir menjerit, tetapi Yoga langsung menutup mulutku dengan satu tangan.

"Kalau Kak Jessy kesepian, aku bisa bantu."

Aku menggelengkan kepala dengan panik. Meskipun aku sudah lama tidak menyentuh laki-laki, Yoga adalah pacar sahabatku. Bagaimana mungkin aku mengkhianatinya?

Apalagi aku sudah menikah, melakukan hal seperti itu jelas tidak benar ....

Dalam hati aku menolak keras, tetapi dorongan tanganku makin lemah. Tubuhku yang ditekan di bawahnya gemetar halus. Hanya dengan mencium aroma pria itu saja sudah cukup membuatku mabuk.

"Jangan ... ah ...."

"Nggak apa-apa, Kak. Aku pelan aja, mereka nggak bakal bangun."

Yoga perlahan menindihku. Telapak tangannya yang panas menyelinap ke dalam selimut. Dia mulai meremas pantatku yang kencang tanpa henti.

Aku sudah melepas pakaian dalam agar tidur lebih nyaman. Sekarang aku hanya memakai gaun tidur yang sangat tipis.

Tubuh Yoga yang besar dan kekar menekan tubuhku dengan erat. Hanya ada selimut tipis di antara kami. Otot-ototnya yang keras membuat tubuhku terasa sedikit nyeri.

Satu tangannya mencengkeram bokongku dengan kuat. Dia memaksa bagian bawah kami untuk saling menempel rapat.

Besar sekali ....

Aku bahkan bisa merasakan aliran hawa panas yang memburu dari kelamin miliknya.

Keras sekali ....

Seandainya dia suamiku, aku pasti sudah merasakan kenikmatan yang luar biasa, 'kan?

Pandanganku mulai kabur karena terbuai. Yoga melihat ekspresiku lalu dia tersenyum tipis. Dia memberikan satu hentakan pelan yang membuat pikiranku seolah meledak.

Aliran panas langsung menyembur keluar dari bawah sana.

Aku baru saja dibuat orgasme hebat sampai banjir oleh pacar sahabatku sendiri!
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Asmara Terlarang di Kereta Api   Bab 5

    Yoga melihatku tidak menghentikan tindakannya, wajahnya pun tampak sangat gembira. Dia segera menggendongku kembali ke kamar.Seperti serigala lapar menerkam mangsa, dia menekanku keras ke ranjang.Kedua tangannya merobek pakaianku dengan kasar, terus menarikku agar melekat rapat padanya.Sepanjang malam itu, aku merasa seperti perahu kecil di tengah lautan. Aku terus terombang-ambing sambil berpegangan erat pada tubuh Yoga.Hasrat yang sudah lama terpendam akhirnya terpuaskan. Dahaga di padang pasir telah diselamatkan oleh hujan. Yoga memang sekuat yang kubayangkan.Suamiku memiliki tubuh yang agak kurus. Dia tidak terlalu antusias dengan urusan ranjang. Setiap kali di tempat tidur, dia hanya melakukannya sekadarnya saja.Setelah setengah tahun menjalani semuanya, gairahnya sudah jauh berkurang.Yoga-lah yang membuatku kembali merasakan puncak kenikmatan.Setelah satu malam gila, akhirnya aku kelelahan dan langsung tertidur pulas.Saat aku membuka mata kembali, hari sudah berganti eso

  • Asmara Terlarang di Kereta Api   Bab 4

    Aku dan sahabatku berjalan menyusuri pantai. Tatapan orang-orang di sekitar langsung tertuju pada kami berdua.Terutama para laki-laki. Mereka memandangi seluruh tubuhku dengan berani. Seolah sedetik kemudian mereka akan menerjangku. Gairah yang terang-terangan itu membuatku takut sekaligus berdebar ....Tatapan pria-pria itu seperti pemicu bagiku, membuat tubuhku ikut bereaksi.Kami sampai di titik pertemuan. Ternyata suamiku sudah tidak sabar dan sudah turun untuk berenang.Hanya Yoga yang masih berbaring di kursi pantai sambil berjemur.Aku dan Anita datang menghampirinya. Aku pun merasakan tatapan Yoga tertuju padaku, seperti pria lain, matanya penuh dengan rasa takjub dan gairah.Sahabatku tidak memperhatikan tatapan Yoga. Dia sudah sangat lama ingin ke pantai, jadi begitu sampai, dia segera melepas sepatu dan lari ke laut untuk berenang.Seketika, di area itu hanya tersisa aku dan Yoga berduaan saja.Aku tidak terlalu pandai berenang. Aku tidak berniat turun ke laut, jadi aku dud

  • Asmara Terlarang di Kereta Api   Bab 3

    Bagian bawahku terasa panas. Tanpa sadar aku ingin merapatkan kedua kakiku dengan erat.Tiba-tiba lutut Yoga menekuk. Dia mengganjal gerakanku agar kakiku tetap terbuka.Yoga melihatku yang sedang kehilangan kesadaran. Dia langsung menyibak selimutku, lalu seluruh tubuhnya yang panas menindihku dengan sangat kuat.Tangannya membuat gerakan melingkar di punggungku. Dia menunduk dan berbisik lembut di telingaku, "Kak Jessy, aku pelan ya. Jangan bersuara."Aku merasa panik. Aku memang menginginkan laki-laki, tapi suamiku ada di ranjang atas, sahabatku juga ada tepat di samping kami.Jika mereka bangun, semuanya tidak bisa disembunyikan lagi.Aku buru-buru mendorong lengannya. "Kamu ... kamu jangan macam-macam ... cepat bangun, kalau mereka bangun habis kita ....""Nggak apa-apa, aku pelan kok."Yoga sama sekali tidak berniat berhenti. Gerakan tangannya justru makin bertenaga."Jangan, nggak bisa ... terlalu kuat ... ah, nggak bisa ...."Awalnya aku ingin menghentikannya. Namun. tangan Yog

  • Asmara Terlarang di Kereta Api   Bab 2

    Kami berempat membeli satu gerbong kelas ranjang, aku dan sahabatku di ranjang bawah, dua pria di ranjang atas.Suamiku datang lebih dulu, sementara aku berangkat langsung dari kantor.Di jalan macet, sampai di stasiun sudah agak terlambat. Aku tidak sempat ganti baju dan buru-buru berlari kecil.Rok kerja yang kupakai sangat pendek hingga hanya menutupi paha dengan stoking jaring hitam di kaki, serta sepatu hak tinggi merah sepuluh senti yang membuatku memancarkan aura dewi yang menggoda.Sepanjang jalan, tatapan para laki-laki tak lepas dariku. Mereka memandangi lekuk tubuhku yang kencang dengan tatapan penuh gairah yang membuatku merasa tegang sekaligus bergairah.Aku tahu aku cantik dan merupakan wanita idaman para laki-laki. Setiap kali diperhatikan dengan tatapan membara seperti itu aku merasa sangat bersemangat.Di kepalaku bahkan muncul khayalan, seolah aku akan ditindih kasar oleh seorang pria, lalu telapak tangannya yang lebar menjelajah tubuhku ....Karena berjalan terlalu c

  • Asmara Terlarang di Kereta Api   Bab 1

    Namaku Jessy, seorang eksekutif perusahaan.Di mata orang lain, aku adalah sosok yang dingin namun memikat dengan tinggi badan 170 cm serta lekuk tubuh yang menggoda dan sangat seksi.Namun, yang mereka tidak tahu adalah sejak kecil gairah seksualku memang sangat kuat.Setiap kali melihat laki-laki yang tinggi dan gagah, atau sekadar mencium aroma tubuh mereka, bagian bawahku secara otomatis akan mulai basah.Setelah menikah selama setengah tahun dengan suamiku, setiap kali kami selesai berhubungan intim di malam hari, sprei ranjang pasti akan basah kuyup di mana-mana.Suamiku memujiku sebagai wanita yang terbuat dari air karena cairan itu terus mengalir tanpa bisa dihentikan.Suamiku adalah seorang dokter yang sangat sibuk. Terkadang saat sampai di rumah dia sudah sangat lelah hingga langsung tertidur.Kami sudah lebih dari setengah bulan tidak melakukannya.Setiap larut malam, keinginan di dalam diriku selalu naik. Rasanya seperti ada ribuan semut merayap di bawah sana, gatalnya memb

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status