مشاركة

Bab 123

مؤلف: _PenaKaisar
last update تاريخ النشر: 2026-07-10 08:55:23

‎Xiao Fan membungkuk hormat. "Terima kasih, Tetua. Aku tidak akan menyia-nyiakan ini."

‎Tetua Bai Mei mengangguk. "Aku tahu kau tidak akan menyia-nyiakannya. Itu sebabnya aku memberikannya padamu." Ia menepuk bahu Xiao Fan dengan ringan, lalu berbalik dan berjalan keluar dari ruangan. Suara langkah kakinya perlahan menghilang di koridor marmer.

‎Begitu Tetua Bai Mei pergi, Lei kembali berguling-guling di lantai. "Tuan, aku bosan. Dan lapar. Dan bosan lagi. Apakah di istana ini tidak ada mak
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • Bangkitnya Warisan Dewa Iblis Terkuat   Bab 169

    Keheningan yang menyelimuti lembah setelah kekalahan Feng Bao tidak berlangsung lama. Dari tengah pasukan Xiyuan, seorang pria berjubah hitam yang merupakan wakil komandan melayang naik ke udara. Wajahnya pucat, tapi suaranya lantang dan penuh otoritas.‎‎"SELURUH PASUKAN! FORMASI MUNDUR TERORGANISIR!" teriaknya. "BARISAN BELAKANG TAHAN GEMPURAN MUSUH! BARISAN DEPAN DAN TENGAH MUNDUR BERTAHAP KE BENTENG PASIR HITAM! JANGAN PECAH FORMASI!"‎‎Dan pasukan Xiyuan melakukannya. Mereka tidak berlari kocar-kacir seperti yang diperkirakan. Mereka mundur dengan disiplin yang mengesankan dengan menggunakan barisan belakang sebagai pertahanan, mereka menahan gempuran pasukan Tianyu yang mencoba mengejar, sementara barisan depan dan tengah mundur secara bertahap ke arah barat. Korban terus berjatuhan di kedua belah pihak, tapi pasukan Xiyuan tetap mempertahankan formasinya. Walaupun mereka kalah. Tapi mereka tidak hancur.‎‎Wei Zheng, yang melihat ini dari atas bukit, mengangguk pelan. "Mereka

  • Bangkitnya Warisan Dewa Iblis Terkuat   Bab 168

    Feng Bao menatap pusaran Yin-Yang yang berputar di tangan Xiao Fan ketika matanya melebar tak percaya. Seorang bocah yang baru saja mencapai Nascent Soul, yang seharusnya masih canggung mengendalikan kekuatannya, kini berdiri di hadapannya dengan dua api primordial dan teknik yang tidak bisa ia pahami.‎‎"Ini belum berakhir, bocah!" teriaknya, suaranya masih menggelegar meskipun ada getaran yang tidak bisa ia sembunyikan. "Aku adalah Jenderal Feng Bao! Aku sudah membunuh puluhan kultivator sepertimu! Kau pikir serangan kecil seperti ini bisa menghentikanku?!"‎‎Ia mengangkat Tombak Anginnya tinggi-tinggi. Angin di sekelilingnya seketika berputar sangat kencang ketika seluruh tubuhnya bersinar dengan aura merah darah yang membara. Dan dari bilah tombaknya, satu tornado raksasa mulai terbentuk yang jauh lebih besar, tinggi, dan mengerikan. Tornado itu membentang dari tanah hingga langit, menyedot segala sesuatu yang ada di dekatnya, menciptakan badai yang membuat seluruh medan perang

  • Bangkitnya Warisan Dewa Iblis Terkuat   Bab 167

    ‎"Aku sudah bilang. Level bukanlah segalanya."‎‎Feng Bao menatap Xiao Fan dengan mata terbelalak selama beberapa detik. Lalu ia tertawa keras, penuh ejekan, dan sama sekali tidak lucu. "Kau pikir menghancurkan tiga tornadoku sudah cukup untuk membuatku takut, bocah? Itu baru pemanasan! Aku belum serius sama sekali!"‎‎Ia menghilang dari tempatnya berdiri.‎‎Xiao Fan hanya sempat melihat bayangan merah bergerak cepat di udara sebelum tusukan tombak datang dari arah yang tidak ia duga. Ia memiringkan tubuhnya, tapi Tombak Angin itu tetap mengenai bahunya. Sebelum ia bisa membalas, Feng Bao sudah berada di tempat lain, gerakannya begitu cepat dan anggun hingga sulit diikuti oleh mata.‎‎"KAU TERLALU LAMBAT, BOCAH!" Feng Bao muncul di belakang Xiao Fan, tombaknya menusuk lagi. Kali ini ke paha kiri. ‎‎Tusukan demi tusukan datang. Xiao Fan mencoba menghindar, tapi Feng Bao selalu satu langkah lebih cepat. Bahunya, pahanya, lengannya semuanya kini berlumuran darah. Jubah peraknya rob

  • Bangkitnya Warisan Dewa Iblis Terkuat   Bab 166

    ‎Xiao Fan melayang naik dari perkemahan Tianyu. Tubuhnya yang kini bisa berjalan di udara bergerak dengan anggun meskipun ia masih sedikit kaku, karena ini adalah pertama kalinya ia terbang dalam pertarungan sesungguhnya. Di belakangnya, Wei Zheng, Wei Lian, Mo Cheng, Xuan'er, dan Lei menatapnya dengan campuran kecemasan dan harapan.‎‎"Percayakan pada Tuan," kata Lei, suaranya lebih pelan dari biasanya. "Dia sudah melewati banyak hal yang lebih gila dari ini."‎‎Di seberang lembah, Feng Bao melayang naik dengan aura yang jauh lebih kuat. Jubah merah darahnya berkibar-kibar. Tombak Angin di tangannya berputar-putar dengan energi yang siap dilepaskan.‎‎"AKHIRNYA KAU DATANG JUGA, BOCAH!" teriaknya. "AKU PIKIR KAU AKAN KABUR DI TENGAH MALAM!"‎‎"Aku tidak akan kabur." Xiao Fan menghentikan langkahnya di udara sekitar dua puluh meter dari Feng Bao. "Aku sudah berjanji. Dan aku selalu menepati janjiku."‎‎"BAGUS! KALAU BEGITU, KITA MULAI SAJA!"‎‎Feng Bao tidak menunggu. Ia mengayun

  • Bangkitnya Warisan Dewa Iblis Terkuat   Bab 165

    ‎"Hari ini akan menjadi berbeda."‎‎Xiao Fan masih berdiri di depan tendanya ketika suara gemuruh terdengar dari arah perkemahan Xiyuan. Gemuruh itu berasal dari suara seseorang yang sengaja diperkuat dengan Qi agar terdengar hingga ke seluruh lembah.‎‎"XIAO FAN!"‎‎Tanah di bawahnya bergetar. Angin di sekitarnya berputar kencang. Para prajurit Tianyu yang sedang bersiap untuk pertempuran hari mendongak, wajah mereka pucat. Bahkan Wei Zheng menyipitkan matanya dengan ekspresi waspada.‎‎Dari atas perkemahan Xiyuan, sesosok pria melayang naik ke udara. Tubuhnya seperti raksasa setidaknya dua kepala lebih tinggi dari Wei Zheng, orang itu mengenakan jubah merah darah yang berkibar meskipun tidak ada angin. Di wajahnya, sebuah bekas luka panjang membentang dari dahi hingga dagu, melewati mata kirinya yang kini buta dan berwarna putih susu. Di tangannya, sebilah tombak raksasa berkilau dengan energi angin, itu adalah senjata pusaka yang konon bisa menciptakan tornado hanya dengan satu

  • Bangkitnya Warisan Dewa Iblis Terkuat   Bab 164

    Xiao Fan menatap ketiga batu roh surgawi yang melayang di hadapannya. Cahaya keemasannya begitu murni dan kuat. Ia mengulurkan tangannya dan menggenggam dua batu itu, sementara yang ketiga ia kembalikan pada Lei.‎‎"Simpan untuk jaga-jaga," katanya.‎‎Lei mengangguk dan memasukkan batu itu kembali ke dimensi penyimpanannya. "Tuan, kau yakin ingin melakukannya malam ini? Tubuhmu sudah lelah. Lukamu belum sembuh sepenuhnya. Menerobos dalam kondisi seperti ini..."‎‎"Aku tahu resikonya." Xiao Fan menatap batu-batu di tangannya. "Tapi aku tidak punya pilihan. Perang ini tidak bisa berlangsung lebih lama lagi. Setiap hari kita bertahan, lebih banyak nyawa melayang. Kalau aku bisa menerobos ke Nascent Soul, setidaknya, aku bisa memberi kita keunggulan yang cukup untuk memaksa Xiyuan mundur."‎‎"Kalau begitu, biarkan aku berjaga di luar. Tidak ada yang boleh mengganggu Tuan malam ini, baik itu kawan maupun lawan. Aku akan pastikan itu."‎‎Xiao Fan menatap Qilin kecil itu. "Terima kasih,

  • Bangkitnya Warisan Dewa Iblis Terkuat   Bab 4: Tarian Pedang di Bawah Bulan

    Malam telah larut ketika Xiao Fan akhirnya meninggalkan aula utama. Saat itu ia baru saja menghadiri pertemuan dengan para tetua untuk membahas demonstrasi esok hari—semua orang ingin memberi wejangan terakhir, semua orang ingin mengingatkannya tentang betapa pentingnya demonstrasi besok. "Kau pa

  • Bangkitnya Warisan Dewa Iblis Terkuat   Bab 3: Secangkir Teh Beracun

    Ruangan kerja Elder Pertama—Xiao Ba—terletak di sayap timur kompleks Klan Xiao, jauh dari bangunan utama tempat para tetua biasanya berkumpul. Ini adalah pilihan yang disengaja; semakin sedikit orang yang tahu tentang urusannya, maka semakin baik. Sore itu, Xiao Ren masuk ke ruangan ayahnya dengan

  • Bangkitnya Warisan Dewa Iblis Terkuat   Bab 2: Bunga Es di Taman Plum

    Keesokan paginya.Di taman belakang, jauh dari hiruk-pikuk persiapan, Lin Yue duduk di bangku batu di bawah pohon plum yang mulai berbunga. Kelopak-kelopak putihnya berguguran tertiup angin pagi, menciptakan pemandangan seperti salju di musim semi. Di tangannya, sebuah teko porselen putih mengepulk

  • Bangkitnya Warisan Dewa Iblis Terkuat   Bab 1 Jenius Seribu Tahun

    Angin senja berembus pelan di puncak Menara Naga, menerbangkan rambut hitam legam Xiao Fan yang tidak diikat. Pemuda berusia tujuh belas tahun itu berdiri tegak di tepi balkon tertinggi, kedua tangannya bertumpu pada pagar batu giok yang sudah berusia ratusan tahun. Di punggungnya, tersarung Pedang

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status