MasukDi usianya yang baru menginjak 28 tahun, Meidina Azzahra sudah menjadi janda karena suaminya meninggal dunia karena kecelakaan lalu lintas, ditabrak pemuda mabuk saat tengah menyebrang jalan. Meidina yang tengah hamil 8 bulan harus berjuang sendiri menghadapi kerasnya hidup bersama kedua anaknya yang masih kecil-kecil. Perempuan itu berusaha untuk meneladani kesabaran dan ketegaran Siti Hajar saat di tinggalkan oleh Nabi Ibrahim di gurun tandus dan gersang hanya berdua dengan bayinya Ismail. Hanya untaian doa dan yang selalu menguatkan dirinya di saat rapuh dan mendapatkan banyak ujian. Sementara itu ada sosok Radeva Adyatama, putra pengusaha ternama yang terbiasa hidup dimanja dan bergelimang kemewahan tersadarkan setelah mengalami musibah kecelakaan. Sebelum mengalami kecelakaan tunggal menabrak pembatas jalan, Radeva yang mengendarai mobil dalam keadaan mabuk menabrak seorang pengendara sepeda motor yang adalah suami dari Meidina hingga tewas. Setelah tersadar dari komanya, Radeva yang mengalami peristiwa spiritual berusaha hijrah memperbaiki dirinya serta bertobat dari dosa. Ia mencari keluarga korban tabrak lari untuk menebus dosa dan kesalahannya.
Lihat lebih banyakSeraphina Vellaro – POV
There are cages made of iron.
And there are those made of silence.
Mine is both.
I was born without sight.
'A punishment', my father once said, for being born to a queen who dared believe she could rule over men, over him.
He said those words to me the first time he struck me. I was five.
And he’s been reminding me ever since.
To the world outside, Danta Vellaro is a reclusive businessman, a grieving widower, a man who lost everything to betrayal. But to me, he is a monster. Not because he shouts, or hits, or starves me—though he does all those things. No, he is a monster because he believes I deserve it.
Because I was born blind.
“It’s weakness,” he spat once, grabbing my face so hard my jaw cracked. “You’re broken. A curse. If it weren’t for your mother, I’d have drowned you at birth you filty bitch!.”
That day, he held my face in one hand and the fireplace poker in the other.
I don’t remember how long I screamed.
When mother was alive, he never touched me.
Apart from the incident when I was five he never did again because of mother.
Celeste Vellaro was a storm wrapped in silk, and he feared her—though he never said it. He played the loyal husband well.
To outsiders, they were untouchable. But I heard the fights behind closed doors. Her fury was sharp and cold; his anger, loud and clumsy.
And yet, in her arms, I was safe.
She would brush my hair at night and whisper stories of the stars, even though I couldn’t see them. She called me her falcon, said my blindness was a gift. “You see deeper than most, Seraphina. You see with your soul.”
I didn’t believe her.
Not until she died.
The official story was an electrical fire in the west wing. But I remember the smoke. The screaming. The way she’d shouted my name.
And I remember the silence that followed.
No one found her body. Only ashes.
Danta held a closed-casket funeral with glassy tears and cameras, pretending to mourn. That night, he shattered the last of my mother’s music boxes and forced me to sleep on the cold floor.
“She’s gone now,” he hissed. “No one’s left to protect you.”
He was right.
The days bled into one another after that.
I stopped counting birthdays.
He let the staff go, one by one. The guards remained, but they never looked my way.
To them, I was a ghost, cursed and unwanted. Meals came late, if at all. My clothes grew tight, then loose. My body ached from sleeping on wood.
He only ever called me by my name when he wanted to hurt me, curse me, break me.
“Get up, Seraphina.”
“Shut up, Seraphina.”
“Speak again, and I’ll sew that mouth shut, Seraphina.”
Some days, he’d take me down to the cellar, where his collection of old relics and weapons lay hidden. He’d make me touch them—cold metal, sharp points—and tell me how useless I was to inherit any of it.
“Your mother thought you could lead,” he’d sneer. “She thought this”—he’d knock my cane out from under me—“was strength.”
And every time, I’d hear her voice in my head, faint but stubborn.
'You see with your soul.'
Now the only one I had was Gloria.
She had served my mother since before I was born, a quiet, strong woman with hands that never trembled.
She brushed my hair like my mother once had. Hid food beneath my bed when the kitchen was locked. Whispered prayers in Sicilian when she thought I was asleep.
She was the only reason I had survived this long.
The only thread I had left to the woman who’d loved me.
But then… she left.
I woke one morning, two weeks ago, to silence. No footsteps in the hall. No smell of porridge or mint tea. Her room was empty. Her scent gone.
I called for her. Again. And again.
No answer.
I searched every room I could reach, stumbling through corridors like a child. I even braved the east wing—the one Father forbade me from entering. Still, no sign. No whisper. No warmth.
And then I discovered something worse.
The small chest that had belonged to my mother—the one Gloria kept hidden under her floorboards—was gone. I used to run my fingers over its lock while she wasn't looking. Inside was something sacred, something I had never been allowed to touch.
A journal.
Or perhaps more.
My mother’s relic. Her legacy. Her secrets.
Gone.
And so was Gloria.
For three days, I told myself she would come back. That she had gone to find help. That maybe she had found someone who still remembered my mother’s name with reverence, not fear.
But by the fourth night, doubt set in.
And by the fifth... I was certain Danta had found her.
Killed her. Buried her. Just like he did to Mother.
He hasn’t spoken about her disappearance. Not once. But I hear the change in his voice—slower, calculating. He thinks I know where she went. Thinks I’m hiding something.
Every day since, I’ve wondered when he’ll come into my room and decide I’m no longer worth keeping.
That I’m more valuable dead than alive.
Maybe I already am.
I lie awake every night now, staring at nothing.
The darkness doesn’t scare me.
It’s always been here.
But the silence does. Because it’s the sound of forgetting. Of being erased. Of living so long in a cage that you forget how it felt to breathe.
Sometimes I press my hand against the window frame. The glass is thick and cold. I don’t know what season it is anymore. I don’t know if the garden is still alive, or if the grass has overgrown the stones.
I imagine what it would feel like to walk barefoot across a field. To eat something warm from a bakery. To speak to someone who doesn’t call me weak or worthless.
I want to run. To scream. To be something other than a history left behind.
I want to be free.
Not just from this house, or my father.
From the fear that I am nothing.
From the belief that my mother died in vain.
From the thought that Gloria abandoned me.
From the silence.
I don’t know how long I’ll last.
But I swear this:
If I ever get out…
If I ever feel the sun again…
I will never let him take it away from me.
Bab 39 Lingerie (Tamat)Sepulang dari Pantai Kuta menjelang Maghrib, Meidina ingin segera membersihkan diri. Ia pun lalu membuka koper untuk mengambil baju ganti dan terkejut saat menemukan sebuah kain tipis berenda berada di antara tumpukan pakaian dalamnya."Ini apa? Ini bukan punyaku," gumam Meidina mengernyitkan dahinya. Ditariknya kain tipis berwarna hitam dari dalam koper dan dijembrengnya di depan matanya.Radeva yang duduk di sofa melirik sesuatu yang dipegang istrinya sekilas dan ikut tercengang. Otaknya yang berpikiran kotor langsung traveling membayangkan sepotong kain tipis berenda itu melekat di tubuh sintal istrinya."Nggak mungkin juga itu punyaku," celetuk Radeva sambil menahan tawa melihat betapa polos istrinya. Bisa-bisanya Meidina tidak tahu benda apa yang ada di genggaman tangannya, padahal sudah memiliki tiga anak. Bagi Radeva itu rasanya lucu dan bikin gemas. Meidina menoleh ke arah suaminya yang tertawa pelan. Apanya yang lucu, pikirnya bingung.Melihat ekspres
Bab 38 Honeymoon Dengan perasaan tak menentu dan berat hati meninggalkan ketiga buah hatinya, Meidina memantapkan diri pergi hanya berdua dengan Radeva untuk honeymoon ke Bali. Meskipun hanya dengan membayangkan saja sudah membuatnya merasa malu. Ia bukan gadis perawan yang baru melepas lajang. Sebagai janda tiga anak, Meidina merasa bulan madu justru membuatnya jengah. Namun, bagaimanapun juga ia sekarang adalah seorang istri yang harus berbakti dan patuh kepada suaminya. Dengan diantar oleh Arfa, sepasang pengantin baru itu berangkat menuju Bandara Soekarno Hatta pagi itu setelah selesai menyantap sarapan.Melihat raut wajah gelisah istrinya, Radeva mencoba untuk menghibur dan menenangkan perempuan yang duduk di sebelahnya. Perempuan yang sudah halal untuk disentuhnya."Nggak perlu khawatir, Din. Anak-anak akan baik-baik saja dalam pengasuh Papa dan Mama," ucap Radeva sambil mengelus punggung tangan istrinya.Seketika Meidina membeku dengan keagresifan Radeva yang tiba-tiba, bera
Bab 37 Apa Cemburu Tanda Cinta?"Itu keponakan lo, Dev?" tanya gadis bertubuh tinggi semampai dan langsing itu mengalihkan pandangannya ke arah bocah lelaki berusia lima tahun yang tengah berjalan menuju ke mobil Pajero warna hitam doff yang terparkir di depan minimarket.Radeva ikut melihat ke arah pandangan mata gadis cantik itu dan menganggukkan kepalanya sedikit ragu. Bimo memang keponakannya dan kini statusnya menjadi anak tirinya. Meski bocah itu keponakannya juga, entah kenapa Radeva seolah ingin menutupi status pernikahannya dari gadis berpenampilan modis yang berdiri di hadapannya. Perempuan dari masa lalunya, cinta pertamanya."Dev, ini kartu nama gue. Mampirlah ke kantor gue kalo senggang," ucap gadis yang mengenakan blouse bermotif floral dan rok span selutut itu seraya memberikan selembar kartu nama.Radeva menerima dan membaca sekilas sebuah kartu berukuran kecil dengan nama Gita Anindya dengan keterangan notaris disertai alamat kantor dan nomor telepon yang bisa dihubun
Bab 36 Mengenali Perasaan SendiriPukul lima lewat dua puluh lima menit Waktu Indonesia Barat, Radeva masih sibuk berkutat dengan setumpuk berkas yang masih diperiksanya saat Pak Adyatama memasuki ruangan kerjanya.Lelaki paruh baya itu melangkah masuk menghampiri putranya yang tengah serius bekerja di belakang meja. "Belum selesai kerjanya, Dev?" tanyanya penuh perhatian."Iya, Pa," sahut Radeva sambil lalu dengan tatapan mata masih fokus tertuju pada tumpukan kertas yang ada di atas meja kerjanya.Pak Adyatama menghentikan langkahnya di sebelah kursi yang diduduki Radeva, lalu menepuk pelan bahu sang putra. "Kerjanya lanjutin besok aja. Itu kerjaan nggak harus kelar hari ini juga. Pulang sana. Jangan lupa sekalian jemput istrimu di toko!" Radeva sempat ngeleg selama beberapa detik sebelum menyadari bahwa kini ia sudah memiliki seorang istri. Ia hampir lupa dengan statusnya yang sudah tidak lagi lajang. Biasanya ia pulang saat langit sudah gelap. Mulai hari ini kebiasaannya akan ber
Bab 4 Tegar di Tengah BadaiHari ini Meidina terpikirkan untuk memulung saja. Pekerjaan yang tidak membutuhkan modal uang, hanya tenaga saja. Almarhum suaminya dulu, sering memulung jika sedang tidak ada pekerjaan di proyek. Meidina juga sudah kenal dengan juragan pengepul barang bekas. Dulu ia pu
Bab 3 Kelaparan Meidina lelah. Sepanjang malam bayinya yang baru berusia dua bulan itu rewel terus. Baby Zavia demam. Semalaman ia menggendong putri bungsunya itu hingga menjelang waktu Subuh.Di samping letih, Meidina juga kelaparan. Dari kemarin perutnya belum diisi makanan. Terakhir sarapan han
Bab 2 Sumbangan RT "Kenapa bayinya, Mbak?"Meidina terkesiap saat ada seseorang menepuk pundaknya pelan. Spontan perempuan muda itu mendongak. dan mendapati seorang perempuan paruh baya menatapnya sambil tersenyum. Meidina ingat, perempuan itu adalah Bu Maharani, orang tua dari pemuda yang sudah
Bab 1 Ditolak Rumah Sakit "Bu, ini sepertinya bayinya kuning. Lihat ini kulit dan matanya tampak kuning. Apa Ibu jarang menyusuinya?" tanya seorang Bidan di sebuah klinik bersalin usai memeriksa tubuh seorang bayi.Meidina, sang Ibu bayi tampak syok. "Betul, Bu Bidan. Bayi saya tidur terus jadi ja






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan