หน้าหลัก / Mafia / Belenggu Cinta Sang Don Juan / Bab 10 Di Rumah Ini Kamu tidak membutuhkan Siapa Pun Kecuali Aku

แชร์

Bab 10 Di Rumah Ini Kamu tidak membutuhkan Siapa Pun Kecuali Aku

ผู้เขียน: Silentia
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2025-10-09 13:25:47

Dari balik jendela besar ruang kerjanya, Drazhan menatap lampu-lampu kota yang berkelip di kejauhan seperti ribuan mata yang mengintainya. Hujan baru saja reda, menyisakan genangan air di jalanan dan udara dingin yang menusuk. Di tangannya, segelas bourbon belum tersentuh. Es di dalamnya sudah mencair, tapi pikirannya masih sama, panas, bergejolak, dan tak bisa dijinakkan.

Suara langkah kaki mendekat. Rafael masuk dengan hormat, membungkuk tipis. “Anda memanggil saya, Tuan?”

Drazhan tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap kaca besar di depannya, pantulan wajahnya terlihat samar, berdampingan dengan bayangan Rafael di belakang. “Kamu sudah lama di rumah ini,” katanya pelan, nada suaranya berat dan dalam. “Kamu tahu setiap sudut, setiap rahasia. Aku menghargainya.”

Rafael diam, menunggu.

Drazhan berbalik. Tatapannya tajam, seperti pisau yang baru diasah. “Aku punya misi untukmu.”

Rafael mengangguk. “Perintah apa, Tuan?”

“Pergilah ke Odessa. Ada pengiriman senjata yang harus diamankan. Seseorang mencoba mengambil alih jalur distribusi kita di pelabuhan timur.” Drazhan mendekat, matanya menatap lurus ke arah bawahannya itu. “Kamu orang yang paling kupercaya.”

Rafael sedikit ragu. “Perjalanan itu akan memakan waktu lama, Tuan. Apakah tidak ada orang lain yang bisa....”

“Tidak,” potong Drazhan tajam. “Aku ingin kamu sendiri yang menanganinya.”

Rafael menunduk. Ia tahu, dalam dunia ini, terlalu banyak alasan yang tidak diucapkan secara langsung tapi dari tatapan Drazhan, ia bisa membaca sesuatu yang berbeda, bukan sekadar perintah bisnis, melainkan keinginan untuk menjauhkan seseorang.

“Baik, Tuan. Saya akan berangkat besok pagi.”

Drazhan tidak menjawab. Ia berjalan menuju meja kerjanya, menyalakan cerutu dan menarik napas panjang. Asap pekat memenuhi udara, bercampur aroma bourbon dan kayu mahoni. “Pastikan tidak ada yang tahu kamu pergi atas perintahku. Katakan ini hanya urusan pribadi.”

Rafael menatap Drazhan sejenak sebelum membungkuk lagi. “Saya mengerti.”

Saat Rafael melangkah keluar, Drazhan berdiri diam. Tatapannya mengikuti bayangan pria itu hingga menghilang di balik pintu. Ia menarik napas dalam, menahan gelombang perasaan yang semakin sulit dikendalikan.

Ia tahu apa yang ia lakukan. Ia tahu mengapa ia melakukannya.

Ia ingin Alessia sendiri.

Ia ingin tahu, apakah jika kesepian, gadis itu akan datang padanya, akan mencarinya, atau sekadar menyebut namanya?

Tapi di sudut hatinya yang gelap, ia juga tahu bahwa semua itu hanya alasan untuk menutupi kenyataan lain, ia takut pada perasaannya sendiri.

***

Keesokan paginya, rumah terasa berbeda. Udara yang biasanya tenang kini kental dengan kesunyian. Rafael sudah pergi sejak fajar. Alessia baru tahu saat pelayan membawakan sarapan dengan ekspresi kaku.

“Rafael ke Odessa?” tanyanya pelan. “Kenapa tidak pamit padaku?”

Pelayan itu menunduk. “Maaf, Nyonya. Tuan Drazhan yang memberi perintah langsung.”

Alessia menatap ke luar jendela. Embun masih menempel di kaca, tapi udara pagi ini terasa aneh, lebih dingin, lebih menyesakkan. Ia menggenggam sendok, tapi tangannya bergetar tanpa alasan yang jelas.

Sejak malam sebelumnya, ia belum bertemu Drazhan, tidak juga mendengar langkah-langkah berat pria itu di lorong. Namun, entah mengapa, kehadirannya terasa di setiap sudut rumah, menyelinap seperti bayangan yang mengintai dari balik tirai.

"Jika Anda sudah selesai makan, pencet bel saja, Nyonya. Saya akan bereskan semuanya."

"Bereskan sekarang."

"Sarapan Anda belum habis."

"Aku sudah tidak lapar, aku ke ruang baca dulu."

"Baik." Pelayan itu hanya menundukkan kepala dan tidak berani membantah sedikit pun.

Alessia tidak nafsu makan, ia memilih duduk di ruang baca, mengenakan sweater tipis, matanya menatap jendela berkabut. Ia membuka buku, tapi pikirannya melayang. Rumah rasanya terlalu sepi tanpa Rafael. Tak ada lagi suara langkah yang tenang, tak ada percakapan ringan yang menenangkan.

Tiba-tiba, suara langkah berat terdengar dari arah pintu. Alessia menegakkan tubuhnya spontan.

Drazhan berdiri di ambang pintu.

Dia tampak baru pulang, mantel hitamnya basah oleh hujan, rambutnya sedikit berantakan, dan aura dingin memancar dari seluruh tubuhnya. Ia menatap Alessia lama, seolah memastikan sesuatu yang tak bisa diucapkan.

“Kenapa kamu duduk di sini sendirian?” tanyanya datar.

Alessia berusaha tenang. “Hanya membaca. Rumah ini terlalu sepi tanpa Rafael.”

Seketika mata Drazhan berubah. “Rafael?” nada suaranya menegang, seperti tali yang siap putus. “Apa dia begitu penting bagimu sampai kamu merasa kesepian hanya karena dia tidak ada?”

Alessia terdiam. “Bukan begitu, aku hanya....”

“Sudahlah.” Drazhan melangkah masuk, suaranya dingin. “Kamu tidak perlu menjelaskan apa pun padaku.”

Ia berjalan melewati Alessia, tapi langkahnya melambat, seolah tubuhnya menolak meninggalkan gadis itu. Ia berhenti di belakangnya, menatap bahu rapuh yang dibungkus kain lembut itu. “Tapi aku ingin kamu ingat satu hal, Alessia,” katanya perlahan, suaranya nyaris seperti desisan. “Di rumah ini, kamu tidak membutuhkan siapa pun kecuali aku.”

Alessia menoleh pelan, matanya membulat oleh ketakutan dan kebingungan. “Apa maksudmu?”

Drazhan menatapnya lama, lalu menghela napas, menunduk pelan. “Tidak ada, lupakan.” Ia menatap buku di pangkuan Alessia. “Apa yang kamu baca?”

“Puisi,” jawab Alessia pelan. “Tentang seseorang yang menunggu tapi tidak pernah benar-benar dicintai.”

Drazhan menatap bibir gadis itu bergerak dan entah kenapa, kata “tidak pernah dicintai” menampar sesuatu dalam dirinya.

Ia mundur setapak, menahan napas. “Jangan terlalu dalam membaca hal-hal seperti itu,” ujarnya dingin, menutupi kegelisahan yang tiba-tiba menyeruak. “Puisi bisa membuatmu bodoh.”

Alessia menunduk. “Mungkin memang aku sudah bodoh sejak awal.”

Drazhan membeku. Kalimat itu sederhana tapi suaranya menggetarkan udara di antara mereka.

Ia ingin mendekat. Ingin menangkup wajah gadis itu, menatap matanya lebih dalam, mencari tahu apa yang tersembunyi di balik ketakutannya tapi bayangan Seraphine melintas di kepalanya, tatapan tajam wanita itu, kata-katanya yang dingin saat malam kesepakatan dibuat.

“Kau boleh memiliki tubuhnya tapi jangan sentuh hatinya. Itu bagian dari rencanaku.”

Drazhan untuk pertama kalinya, takut pada godaan yang datang dari hatinya sendiri.

Ia menatap Alessia, jemarinya hampir terulur ke pipinya tapi pada detik terakhir, ia menarik tangannya dan memalingkan wajah.

“Pergilah berjalan-jalan,” katanya cepat. “Kamu harus terlihat sempurna.”

Ia berbalik, melangkah ke luar ruangan tanpa menatap lagi tapi begitu pintu tertutup di belakangnya, Drazhan bersandar pada dinding, memejamkan mata, napasnya berat dan kacau.

“Apa yang kamu lakukan padaku, Alessia?” bisiknya lagi, sama seperti malam sebelumnya. “Jika kesepian membuatmu datang padaku,” ujarnya lirih, “maka aku akan membiarkan dunia ini hancur demi melihatmu memintaku untuk tetap tinggal.”

Dan di luar sana, petir menyambar.

Lampu redup dan bergetar, seperti menandai awal dari sesuatu yang tak bisa lagi dihentikan.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Belenggu Cinta Sang Don Juan   Bab 112 Dia Tidak Menampakkan Diri

    Mikhail bertahan di posisinya sejak ia melihat Katerina di balik tirai lantai dua. Ia tidak bergerak atau pergi kemana pun. Baginya, waktu bukan sesuatu yang harus dikejar. Waktu adalah senjata.Teropong masih menempel di mata. Dari jarak ini, Mikhail bisa melihat cukup jelas, gerakan kecil tirai, bayangan kepala yang sesekali mendekat ke jendela lalu menjauh dengan cepat, seperti hewan liar yang mencium bau pemburu. Mikhail tidak akan mendekat, ia hanya memastikan Katerina masih hidup dan itu sudah cukup baginya. Mikhail mencatat setiap detail tanpa emosi. Ada dua penjaga di dalam apartemen, bayangan mereka bergerak tidak teratur, terlalu sering berpindah posisi. Itu bukan disiplin militer, itu kegelisahan. Di luar, satu penjaga berjaga di tangga darurat, rokok menyala mati setiap beberapa menit. Tidak ada rotasi, tidak ada pola tetap, dan orang-orang Sergei terlihat mulai lelah. Semua itu sudah masuk sebagai kesalahan ketiga.Mikhail tidak melakukan apa pun. Ia tidak menembak, tid

  • Belenggu Cinta Sang Don Juan   Bab 111 Jadi Kamu

    Bangunan beton berdiri seperti warga yang patuh, lalu lintas bergerak teratur, dan orang-orang berpura-pura hidup normal. Namun di bawahnya, di lorong-lorong basah, gudang kosong, stasiun tua yang sudah dihapus dari peta, terdapat beberapa darah yang masih hangat. Masih banyak pergerakan yang tak terlihat. Mikhail bergerak di antara dua dunia itu tanpa meninggalkan jejak.Luka di bahunya sudah dibersihkan sendiri, dijahit kasar tanpa anestesi. Rasa sakit tidak pernah menjadi alasan untuk berhenti. Ia mengganti pakaian, membakar yang lama, lalu menghilang dari jaringan Alexei selama dua puluh empat jam pertama, cukup lama untuk membuat semua orang berpikir ia sedang menjalankan perintah, cukup singkat untuk tidak dianggap membelot.Apa pun pemikiran orang lain, Mikhail tak peduli, ia hanya mengikuti perintah Alexei untuk mengikuti Katerina dan ia yakin, Katerina tidak akan bisa pergi jauh.Katerina masih terluka dan dia tidak mengetahui Balkan dengan baik, kecuali dia di bantu oleh or

  • Belenggu Cinta Sang Don Juan   Bab 110 Pergi Sebelum Aku Berubah Pikiran

    Kediaman Alexei masih berbau asap dan besi. Api sudah dipadamkan, mayat-mayat telah diseret ke lorong servis, dan darah di lantai marmer ditutup sementara dengan karpet gelap. Dunia hitam tidak mengenal pemakaman. Ia hanya mengenal pembersihan.Alexei berdiri di ruang kendali bawah tanah, jaketnya terbuka, pistol masih tergantung di tangannya meski magasin sudah kosong. Layar-layar di hadapannya menampilkan potongan kamera yang mati satu per satu, mulai terowongan runtuh, jalur lama hilang, jejak yang sengaja dihapus.Ia tidak marah. Kemarahan adalah kemewahan bagi orang bodoh. Ia hanya diam, terlalu diam, dan itu membuat semua orang di ruangan itu menahan napas.“Putar ulang segmen timur,” katanya akhirnya.Operator menelan ludah, jarinya bergerak cepat. Gambar buram muncul kemudian kabut asap, siluet orang-orang Korolev yang bergerak cepat, lalu satu sosok yang tidak salah lagi.Mikhail. Dia berdiri di persimpangan terowongan, bahunya menghalangi jalur, tubuhnya menjadi dinding hidu

  • Belenggu Cinta Sang Don Juan   Bab 109 Keluargamu Sudah Mati

    Terowongan tua itu menelan mereka seperti kerongkongan binatang purba, sempit, lembap, dan berbau besi tua bercampur darah yang belum kering. Lampu darurat berkelip malas, memantulkan bayangan patah-patah pada dinding batu. Katerina bergerak di tengah barisan, langkahnya cepat tapi terukur. Satu tangan menggenggam pistol, tangan lain menahan nyeri di rusuknya. Setiap tarikan napas mengingatkannya pada harga yang baru saja dibayar untuk kebebasan.“Cepat,” bisik salah satu pria di depan. “Gerbang sekunder lima puluh meter.”Mereka hampir berhasil. Alexei tidak bisa mengejar karena reruntuhan menutup jalur utama. Anak buah Korolev yang tersisa bergerak dalam formasi rapat, menutup tubuh Katerina dengan disiplin yang lahir dari tahun-tahun hidup dalam pengkhianatan. Mereka tidak berbicara. Dunia hitam selalu mengutamakan diam dan bertahan.Katerina menelan ludah. Kepalanya berdenyut. Wajah-wajah mati menumpuk di benaknya, ayahnya, pamannya, nama-nama yang kini hanya tinggal ukiran di ba

  • Belenggu Cinta Sang Don Juan   Bab 108 Membunuh Sebanyak Mungkin Sebelum Mereka Pergi

    Di sisi kota yang lain, hampir pada detik yang sama ketika darah Ivan Korolev mengering di lantai beton milik Drazhan, kediaman Alexei berubah menjadi medan perang.Tidak ada ledakan besar. Mereka langsung menyerang tanpa aba-aba. Serangan itu senyap, presisi, dan kejam.Lampu halaman padam satu per satu, bukan karena listrik mati, melainkan karena leher para penjaga dipatahkan dalam gelap. Gerbang besi terbuka tanpa suara, kode lama yang seharusnya sudah mati ikut hidup kembali. Orang-orang Korolev bergerak seperti bayangan, tidak berteriak, tidak panik. Mereka datang untuk satu tujuan, menebus kegagalan dengan darah Alexei dan menyelamatkan Katerina.Alexei terbangun bukan oleh suara tembakan, melainkan oleh insting. Ia sudah berdiri saat peluru pertama menghantam kaca jendela kamar kerjanya. Tubuhnya bergerak cepat, mengambil pistol dari laci rahasia, lalu menyelinap ke balik dinding baja.“Kontak,” ucapnya datar ke alat komunikasi di telinganya. “Jumlah besar. Mereka tahu denah ru

  • Belenggu Cinta Sang Don Juan   Bab 107 Mahkota Kekuasaan Itu Selalu Haus Darah

    Dinding batu di penjara bawah tanah sebelah timur terbelah seperti luka lama yang dipaksa terbuka kembali. Api menyembur, asap hitam menjilat langit fajar, dan suara alarm manual akhirnya meraung, bukan karena sistem, melainkan karena darah pertama telah tumpah.Drazhan sudah bergerak sebelum gema ledakan mereda. Ia menarik Alessia ke balik dinding baja, menekan bahunya ke sudut aman yang hanya diketahui tiga orang di dunia ini. “Tetap di sini. Apa pun yang kamu dengar, jangan keluar,” perintahnya dingin dan mutlak.“Apa yang terjadi?” tanya Alessia, matanya tajam meski jantungnya berdegup keras.“Kesalahan lama,” jawab Drazhan singkat. “Anak buah Korolev bangkit lagi.” Ia berbalik, meraih senapan otomatis dari rak tersembunyi. Wajahnya kini sepenuhnya berubah, tidak ada sisa pria yang semalam berjanji perlindungan dengan bisikan. Yang berdiri saat ini adalah Raja Mafia Balkan, pemilik tanah, darah, dan ketakutan.Rafael muncul dari koridor dengan wajah berlumur darah orang lain. “Mer

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status