แชร์

Bidak Catur Sang Adik
Bidak Catur Sang Adik
ผู้แต่ง: Bear

Bab 1

ผู้เขียน: Bear
Namaku Ketrin, tahun ini berusia 25 tahun.

Akhir-akhir ini, aku dan pacarku, si Jason berencana untuk menikah. Penghasilan Jason cukup bagus dan dia juga sangat baik padaku.

Namun, ada satu hal yang membuatku ragu.

Yaitu dalam urusan itu, dia benar-benar terlalu kasar.

Sering kali hanya memikirkan kepuasaannya sendiri, selalu bersikap kasar dan terburu-buru padaku.

Hal itu sering kali membuatku merasa seolah-olah diriku hanyalah sebuah objek yang digunakan khusus untuk pelampiasan.

Meski sudah berkali-kali memprotesnya, Jason tetap tak memedulikannya.

“Sayang, ini karena aku mencintaimu, makanya setiap melihatmu aku jadi nggak bisa menahan diri.”

Sama seperti hari ini, aku baru saja membuka pintu apartemen Jason, dia yang mendengar suara langsung tak sabar menghampiriku.

Dia mendaratkan kecupan yang kuat di pipiku.

Tepat pada saat itulah, tiba-tiba aku mendengar sebuah suara yang berat dan agak serak.

“Kak, ini kakak ipar?”

Aku segera mendorong Jason, lalu mendongak dan melihat seorang pria muda yang tampan.

Pria itu tampaknya baru saja selesai mandi, dia hanya memakai celana olahraga hitam yang longgar, sementara tubuh bagian atasnya dibalut kaos tanpa lengan yang santai, sambil bersandar di tepi meja.

Garis ototnya memancarkan ketegasan khas pria muda. Di bahu kirinya yang dekat dengan tulang selangka, terdapat sebuah tahi lalat hitam yang terlihat sangat mencolok di atas kulitnya yang putih pucat.

“Ini Jeff, adikku. Kebetulan kampusnya lagi libur, jadi dia menginap di sini beberapa hari.”

Setelah memperkenalkan adiknya, Jason langsung merangkul pinggangku dan membawaku menuju kamar tidur.

“Aku benar-benar kangen setengah mati denganmu….”

Aku hanya sempat melambaikan tangan sekilas pada Jeff, lalu tubuhku sudah digendong oleh Jason.

“Kamu sudah gila?! Adikmu masih ada di luar!”

Aku berbisik pelan dengan nada kesal, sekaligus malu sambil meronta, wajahku terasa sangat panas.

“Apain takut? Dia juga bakal main game sebentar lagi.”

Sambil berbicara, Jason menutup pintu kamar dengan kuat.

Brak!

Namun, karena terlalu terburu-buru, pintunya tidak benar-benar mengunci, melainkan memantul terbuka dan menyisakan celah kecil seukuran dua jari.

Belum sempat aku mengingatkannya, tubuhku sudah ditekan kuat oleh Jason ke dinding di balik pintu.

Ciumannya mulai menghujani tubuhku, sementara tangan kasarnya yang besar tanpa sungkan mulai merayap naik ke balik rokku.

Jason memang selalu blak-blakan. Terjebak di antara rasa dingin dinding di punggungku dan hawa panas dari tubuh di depanku, aku tak bisa menahan desahan pelan sambil memalingkan kepala.

Namun, detik berikutnya, seluruh darahku seakan membeku!

Melalui celah pintu yang sempit itu, di bawah remang-remang lampu ruang tamu, aku bertatapan dengan sepasang mata!

Itu Jeff.

Entah sejak kapan dia sudah berjalan keluar pintu, berdiri kurang dari dua meter dari kamar tidur.

Dia tak menghindar, apalagi merasa canggung karena memergoki kami.

Sepasang matanya bagaikan seekor binatang buas yang sedang mengintai, memancarkan hasrat untuk menguasai terang-terangan.

Melalui celah tersebut, tatapannya seolah menjilati bagian demi bagian kulitku yang terpampang, menyaksikanku dengan tenang saat dipojokkan dan pasrah di tangan kakak kandungnya sendiri.

Gila.

Seketika, rasa malu yang luar biasa menenggelamkanku bagaikan tsunami. Aku reflek ingin mendorong Jason dan menjerit histeris.

Namun tepat pada saat itu, tangan besar Jason meremas dengan kuat, hingga yang keluar dari tenggorokanku malah sebuah desahan manja yang terdengar semakin manis.

Perasaan berdosa dan terlarang karena diintip secara terang-terangan oleh adik pacarku sendiri dari tempat tersembunyi, justru seperti kobaran api paling dahsyat yang memancing hasrat tersembunyi di dalam tubuhku.

Di bawah tatapan Jeff, tubuhku yang tadinya menolak, entah mengapa malah melemas seperti tak bertulang.

Bahkan di bagian terdalam tubuhku muncul getaran dan kelembapan yang tak bisa dikendalikan.

“Ketrin?”

Jason menyadari keanehanku, lalu menghentikan gerakannya.

Matanya berbinar penuh kejutan melihat wajahku yang memerah karena ketegangan yang ekstrim, sambil merasakan tubuhku yang gemetar di dalam pelukannya.

“Kok kamu… sensitif sekali hari ini?”

Dia terkekeh puas, sementara gerakan tangannya menjadi semakin berani dan merasuk lebih dalam.

“Jangan-jangan karena terlalu kangen denganku? Makanya sampai basah begini….”

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Bidak Catur Sang Adik   Bab 10

    Aku tak berani menimbulkan suara gesekan kain sekecil apapun. Dengan kaki telanjang yang menginjak karpet tebal, aku melangkah mundur setapak demi setapak, sangat lambat dan penuh perjuangan menuju pintu utama kamar suite itu.“Ketrin?”Baru lewat setengah menit, Jeff yang berada di atas ranjang tampaknya mulai menyadari keheningan yang mematikan di sekitarnya. Suhu tubuh dan deru napasku sudah tidak ada lagi di udara.Dia agak mengerutkan kening, lalu meraba-raba sisi kasur di sampingnya dengan mata tertutup.“Ketrin, kamu lagi apain?”Suaranya memberat, membawa nada curiga yang berbahaya. Sejenak kemudian, dia mengulurkan tangan untuk melepaskan penutup mata wajahnya.Tepat di detik saat dia berhasil melepas ikat pinggang tersebut….Aku langsung menarik paksa pintu kayu kamar suite yang tebal itu, lalu berlari keluar dengan mengerahkan seluruh sisa tenaga yang kupunya!“Brak!”Setelah pintu tertutup rapat di belakangku, aku sempat mendengar suara raungan marah Jeff yang tertahan dari

  • Bidak Catur Sang Adik   Bab 9

    “Harus merangsang Jason di tempat-tempat yang bisa terekam CCTV, seperti pintu masuk atau ruang tamu.”Tanganku gemetar hebat sampai-sampai hampir tak bisa memegang ponsel, lalu dengan kaku menekan tombol kembali untuk keluar dari ruang obrolan itu.Namun, di bagian paling atas pesan yang di pin pada halaman utama Whatsapp, aku melihat sebuah nama [Pak Oman - Tukang Listrik Apartemen].“Jam dua belas malam ini, gunting kabel di dalam kotak sekring gedung utama, buat seolah-olah terjadi insiden mati lampu yang nggak disengaja. Uang transferan yang kemarin sudah diterima, ‘kan?”Ponsel itu jatuh keras ke selimut.Aku menutup mulut kuat-kuat. Air mata karena rasa ngeri dan takut yang luar biasa mengalir deras, sementara perutku terasa diaduk-aduk hingga rasanya hampir mau muntah.Ternyata… tidak ada yang namanya kebetulan!Mulai dari pintu kamar tidur di siang hari yang sengaja tak ditutup rapat untuk memperlihatkan kondisiku yang memalukan.Lalu mati lampu di tengah malam yang terjadi di

  • Bidak Catur Sang Adik   Bab 8

    Melihat pesan itu, aku menggigit bibir bawahku kuat-kuat, sementara jantungku berdetak sangat liar di dalam rongga dada.Karena Jason sudah menginjak-injak hubungan kami… lalu untuk apa lagi aku mempertahankan batasan yang konyol ini dan berpura-pura menjadi korban yang malang?Sensasi kepuasan untuk membalas dendam, berpadu dengan harapan tersembunyi di dalam lubuk hati, benar-benar memutuskan jalinan saraf akal sehatku.Dengan jari yang gemetar, aku mengetikkan beberapa patah kata di atas layar.[Waktu dan tempat.]….Begitu pintu kamar suite di lantai teratas hotel dibuka, aroma terapi mawar yang pekat dan cahaya lampu kuning yang hangat langsung menyatu menyambutku.Jeff yang memakai jubah mandi sedang bersandar di depan jendela besar setinggi langit-langit, sambil menggoyang-goyangkan gelas berisi anggur merah di tangannya.Begitu melihatku, senyuman di sudut bibirnya perlahan melebar.Jeff meletakkan gelas anggurnya, lalu berjalan menghampiriku tanpa tergesa-gesa, layaknya seekor

  • Bidak Catur Sang Adik   Bab 7

    Sesaat kemudian, keduanya mengeluarkan suara-suara rayuan yang memuakkan, sambil saling mendekap dan berjalan terhuyung-huyung masuk ke dalam kamar tidur.Pintu kamar itu dibiarkan agak terbuka dan apa yang terjadi selanjutnya sudah tak perlu dipertanyakan lagi.Sekujur tubuhku gemetar hebat di luar kendali, langsung membuat asam lambungku naik hingga terasa sangat mual.Rasa muak, penghinaan dan amarah bercampur aduk menjadi satu, layaknya sebuah tamparan keras yang menghantam kata ‘cinta sempurna’ yang kubangga-banggakan selama tiga tahun ini.“Kakak ipar, sudah lihat?”Jeff perlahan menarik kembali ponselnya, lalu menatap wajahku dari posisinya yang lebih tinggi dengan tatapan matanya yang tajam.Dia agak menundukkan kepalanya, sementara suaranya terdengar membawa hasutan seperti iblis.“Dia itu hanya pria brengsek yang memikirkan nafsu, sama sekali nggak tahu cara menyayangimu.”Ujung jari Jeff mengusap lembut sudut bibirku yang gemetar karena amarah.“Mau balas dendam padanya? Iku

  • Bidak Catur Sang Adik   Bab 6

    Jeff memunculkan tubuhnya dari dalam kegelapan. Bukannya menyudahi aksinya, dia malah merendahkan tubuhnya, lalu dengan sangat kurang ajar menggigit tulang selangkaku dengan keras!“Ssst… kamu sudah gila?!”Aku tersentak dan menarik napas dalam-dalam karena rasa sakit!“Kakak ipar….”Suara Jeff di dalam kegelapan berbisik menyusup ke telingaku, membawa nada tawa yang tenang, tapi berbahaya layaknya seorang pemburu.“Perjalanan kita… masih panjang.”Di luar kamar tidur terdengar suara Jason yang sedang menerima telepon.Kemudian, Jeff keluar dari kamar dan mengambil ponselnya untuk menelepon Jason.Suara lantang Jason pun terdengar.“Halo? Jeff? Kamu juga belum tidur? Oh… kamu tanya posisi kotak sekring? Ya sudah, jangan asal pegang, biar aku keluar untuk periksa saja.”Mendengar percakapan di luar, sekujur tubuhku langsung dibanjiri keringat dingin.Saat bersembunyi di bawah selimut tadi, Jeff benar-benar sudah memperhitungkan waktu dengan tepat untuk menelepon kakaknya. Dia dengan san

  • Bidak Catur Sang Adik   Bab 5

    Namun, Jeff yang sedang menindihku sama sekali tak menghentikan aksinya. Sebaliknya, malah memanfaatkan momen di saat tubuhku menegang, dia mendongak dan menciumku dengan agresif.“Ketrin? Sayang, kamu sudah bangun?”Suara langkah kaki Jason terdengar di ruang tamu, selangkah demi selangkah berjalan menuju kamar tidur.Bunyi gesekan sandal di atas lantai kayu saat ini benar-benar terdengar bagaikan lonceng kematian dari neraka.“Hmm!”Aku membelalak ketakutan. Tubuhku menegang hingga ke titik maksimal karena tingkah Jeff yang sangat kurang ajar, berpadu dengan suara langkah kaki di luar pintu.Sebuah sensasi yang sulit dilukiskan dengan kata-kata melesat dari tulang belakang langsung menuju otak. Di bawah kedua rangsangan ini, aku hampir menjerit sampai mencapai puncak gairah.Terdengar suara ‘krek’.Gagang pintu kamar tidur diputar dari luar.Seketika, otakku menjadi kosong, sementara tubuhku masih gemetar hebat tanpa bisa ditahan.Sedangkan Jeff tetap mempertahankan posisinya yang me

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status