LOGINMaya selalu diperlakukan seperti Upik Abu oleh suami dan keluarganya. Meski sulit, Maya menerima karena dia pikir mereka akan berubah. Terlebih, posisinya yang tidak berdaya untuk melawan karena keluarga Maya pun melakukan hal yang sama, seakan Maya adalah anak tiri. Ketika seorang pria dari masa lalunya hadir dan kembali mengembalikan senyum Maya, dia menahan diri untuk tak berharap apa pun. Meski demikian, pria itu terus saja mendukungnya. Latas bagaimana nasib Maya? Akankah Maya mendapatkan kehidupan seperti pelangi, penuh warna dan ceria setelah keluar dari sangkar mertua dan ... keluarganya? Lalu, bagaimana nasib pernikahannya?
View MoreCELESTE
"Your husband is having an affair with my wife." The water in my mouth splashed out before I could stop it. I stared at Dominic Ford across the table, certain I had heard him wrong. I had to have heard him wrong. Because what he just said was impossible. Julian would never cheat on me. "Mr. Ford." I set my glass down carefully, the way you do when your hands are shaking and you don't want anyone to notice. "Is this a joke? Because it's not funny." "Do I look like I'm joking?" He didn't. Dominic Ford never looked like anything except serious. But that didn't mean he was right. "Julian loves me," I said firmly. "He would never do something like this." "I know." His voice was quiet and tired. "I said the same thing about Sera a month ago." Sera. Just her name made my chest do something strange. Seraphine Ford. My best friend since forever. The woman who cried at my wedding. The woman who called me every single day and told me how lucky I was to have a man like Julian. We were practically sisters. "This isn't possible," I said again, but my voice came out smaller this time. Dominic looked at me the way people look at someone they feel sorry for. I hated it. "Did you never see the signs?" he asked. "There were no signs." "Six months, Celeste." I flinched at the number. "No." "Six months and you never once suspected anything?" "I said no." I got to my feet, my chair scraping back loudly. "I trust my husband completely. Whatever you think you know, you're wrong." "Sit down." "I'm leaving." "Sit. Down." Something in his voice stopped me. Not loud. Not aggressive. Just absolute. I sat down. He leaned forward, resting his arms on the table. "Six months ago, did anything change between you and Julian?" I opened my mouth to speak, but closed it. Six months. The memories came without permission. The way Sera had suddenly started visiting more. Two, three, four times a week, always when Julian was home. I had been so happy about it. I thought our friendship was growing deeper. I thought she just missed me. And Julian. Still loving. Still perfect. Still sending flowers every morning and texting me love notes throughout the day and kissing me like I was something precious each time he walked through the door. But our sex life. Three months since he had last touched me. Three long months of 'I'm exhausted baby' and 'once this project is done, I'll make it up to you" and 'just one more year and we'll have everything we've ever wanted.' I had believed every word. Stop it. I shook the thoughts away. You're doing exactly what he wants you to do. "Even if things changed between me and Julian," I said carefully, "that doesn't prove anything." Dominic pulled out his phone without a word. He turned the screen toward me. It took me three full seconds to understand what I was seeing. A luxury club. A private booth. Dark, expensive, intimate. Julian and Sera. Together. My stomach dropped so fast I thought I was going to be sick right there at the table. "That was taken last week," Dominic said flatly. "No." I pushed the phone away. "No, that's not possible. Julian was out of the country last week. He was on a business trip. He video called me every single night until I fell asleep." Dominic didn't argue. He just looked at me. "He called me," I repeated, my voice cracking slightly. "Every night." "I know." He took his phone back. "He's very thorough." The word 'thorough' hit me somewhere tender. Like a bruise being pressed. "You can see the truth for yourself if you still have doubts," he said. I wiped the corner of my eye quickly, angry at myself. "What do you mean?" "Julian probably told you this morning that he's traveling tomorrow. Four days. Business trip, right?" I went very still. "How do you know that?" "Because my wife already told me she's visiting her mother for four days." A dry smile crossed his face. It didn't reach his eyes. "They're not going anywhere, Celeste. He booked the entire East Wing of Rosewood Resort. Four days, just the two of them." The room tilted slightly. Julian had told me that morning. Before he left for work, still warm from sleep, kissing my forehead. 'I'll miss you every second, baby.' Those were his exact words. "Come with me tomorrow evening," Dominic said. "If I'm wrong, you'll know. And if I'm right..." He didn't finish the sentence. He didn't need to. I didn't remember agreeing. But somehow I nodded. And somehow, I drove myself home. --- I don't know how I managed it. The whole drive back, my chest felt like something was sitting on it. Heavy and immovable. I kept telling myself it wasn't real. The video was fabricated. Dominic was jealous of what Julian and I had. People did crazy things out of jealousy. Julian loves me. When he came home that evening, flowers in hand, eyes soft and warm the way they always were when he looked at me, something in my chest cracked. See? Look at him. This man is not cheating on you. He kissed me slow and deep in the kitchen and I kissed him back just as hard, searching for something. A lie. A tell. Anything that would make Dominic's words make sense. I found nothing. He asked about my day and I lied through my teeth, smiling up at him like my world hadn't shifted on its axis that afternoon. That night, I tried again. I pressed myself against him in bed, my fingers trailing across his chest, and he caught my hand gently. "Baby." His voice sounded soft, exhausted and genuine. "I'm so tired. The moment this contract is done, every single night is yours. I promise." "Okay," I whispered. "I love you so much, baby." "I know." I replied. He kissed my forehead and rolled over. I lay in the dark and listened to him breathe and wondered how a man could lie so beautifully. Maybe he wasn't lying. Maybe Dominic was. I held onto that thought like a lifeline and waited for morning. --- Julian kissed my cheek in the morning, while I pretended to sleep. "I'll miss you every second. I love you." I kept my eyes closed until the front door clicked shut behind him. I didn't move until noon.Acara di ballroom hotel berlangsung dengan meriah. Banyak kerabat, tetangga, relasi dan rekan bisnis Rangga yang datang memenuhi undangan itu.Maya sempat merasa minder berada diantara mereka semua. Dia baru menyadari jika sang suami adalah orang yang diperhitungkan dalam bisnis interiornya. Rata-rata mereka yang datang dari kalangan atas, terlihat dari penampilan mereka yang berbeda.Rangga tak membiarkan istrinya merasa sendiri, dia tak pernah melepas tangan Maya, bahkan dia selalu melibatkan Maya di saat berbaur bersama teman-temannya.Saat tengah asyik mengobrol, Maya melihat seseorang yang dikenalnya. Beberapa kali dia meyakinkan pandangannya bahwa apa yang dilihatnya itu benar adalah Kinan.Kinan dan Radit memang sengaja datang ke pesta pernikahan itu. Mereka ingin memberikan kado spesial untuk Maya dan Rangga."Maya, selamat ya. Akhirnya kalian bisa bersama." Kinan memberikan selamat seraya memeluk Maya."Terima kasih, Mbak sudah menyempatkan datang ke sini jauh-jauh," sahut Ma
"Yaa ... aku terlambat!" sahut Hesti dengan rona wajah kecewa dan pasrah."Busyet ... ini bocah baru bangun langsung liat acara nikahan! Mandi sono, gih! Masih ileran gitu," Bi Ijah negur Hesti yang masih memakai baju tidur s*ksi."Syirik aja jadi orang, terserah dong aku mau ngapain," jawab Hesti ketus, perempuan itu lalu kembali ke kamarnya."Astaghfirullah ...." Bi Ijah beristighfar sambil mengelus dada setelah kepergian Hesti.Setelah acara akad nikah selesai, Penghulu menutupnya dengan acara doa bersama dan setelahnya mereka semua pun merayakannya dengan menikmati hidangan yang sudah disediakan.Sementara Maya dan Rangga mendapat banyak ucapan selamat dari orang-orang di sekitarnya. Mereka juga sudah mengabadikan momen spesial itu dengan berfoto ria bersama. Beberapa saat lamanya mereka berinteraksi dengan semua tamu yang hadir, hingga Rangga berniat untuk mengajak Maya istirahat sebentar di kamar karena nanti malam acara akan dilanjutkan di ballroom sebuah hotel bintang 5."Saya
"Lah, gimana sih Mbak. Semua harus minta ijin dan nurut sama kamu. Iya, aku dan Aldo memutuskan untuk tinggal di sini, rumah ini besar, fasilitasnya lengkap, jadi aku juga pingin tinggal nyaman di sini," tutur Hesti ringan."Jangan ngaco kamu, Hes! Ini rumah Mas Rangga, kamu gak bisa seenaknya tinggal di sini tanpa ijin darinya," sahut Maya geram.Hesti melotot, sementara Aldo malah asyik bermain ponsel di ranjang, tak peduli dengan kemarahan Maya."Mas Rangga pasti ngijinin aku tinggal di sini! Jangan khawatir besok aku akan bilang sendiri sama orangnya," sahut Hesti menatap Maya tajam.Hesti lalu mendorong tubuh Maya untuk mundur sedikit, lalu dia menarik tangan kakaknya untuk menjauh dari kamarnya, tak ingin Aldo mendengar ucapannya."Apaan sih, Hes?!" tandas Maya seraya melepaskan cekalan tangan Hesti."Mbak, asal kamu tahu aja ya. Kamu itu cuma beruntung karena kamu lah orang pertama yang bertemu dengan Mas Rangga, seandainya dia ketemu aku duluan, yakin deh dia bakalan jatuh cin
Sebelum maghrib Bu Lina, Andika, dan Lia sudah datang ke tempat Maya. Mereka ikut pengajian yang diselenggarakan di rumah itu, mengingat itu juga adalah rumah Bu Lina dan para tetangga sudah mengenalnya. Mereka datang diantarkan oleh orang suruhan Rangga, setelah itu orang itu pun pergi dan akan datang lagi nanti saat acara selesai.Setelah maghrib, Bu Indah dan Arya juga datang atas permintaan Maya. Kedatangan Arya ke situ untuk membantu Maya menyiapkan segala keperluan dari pihak keluarga perempuan karena Maya tak mempunyai saudara laki-laki.Saat bertemu dengan Lia, Arya terlihat begitu bersemangat. Dia mulai sering mencuri pandang dan kadangkala mereka kedapatan mengobrol berdua.Hal itu tentu saja tak lepas dari pengamatan Bu Indah dan Bu Lina, selaku ibu dari Lia.Rangga tak ikut serta karena Bu Lina tak mengijinkannya datang sebelum akad nikah besok pagi. Maya keluar dengan balutan gamis putih yang lembut dan elegan, pemberian dari Rangga. Dengan riassan modern dan natural, di
"Maaf aku harus jujur. Aku sangat mengenal Mas Rangga, jika dia mencintai seseorang maka orang itu akan menjadi pusat perhatiannya dan aku melihat bagaimana Mas Rangga memperlakukanmu. Jangan kecewakan dia, Maya. Dia akan memberikan kebahagiaan yang kamu mau," pesan Kinan untuk Maya.Maya tertegun, b
Arya hendak menghampiri mereka dan bertanya namun Maya mencekal tangannya dan menghentikannya."Mas, jangan! Tolong antarkan aku segera pergi meninggalkan tempat ini." Maya memohon dengan mata sayu."Baiklah," sahut Arya seraya mengambil tas berat itu dari tangan Maya.Mereka berdua naik ke mobil. Sete
Diana mencoba menahan emosi di dadanya, tangannya mengepal kuat mendengar penuturan Arya apalagi mereka berbicara tentang adiknya.Rangga masih mengamati mereka, dia merasa tak perlu bergabung dan beramah tamah dengan siapapun yang ada dalam pusara keluarga Raharjo kecuali Maya."Sakit sekali, Kak. De
"Tenanglah Maya, dia hanya masa lalu Rangga sedangkan kamu masa depannya," bisik Bu Romlah di telinga putrinya."Permisi," ucap Galih di depan pintu rumah Bu Romlah.Galih bersama Dewi tampak berdiri di depan pintu. Keadaan Dewi yang lemah membuat Galih merengkuh perempuan itu. Hati Maya mencelos meli
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews