ログインSementara itu, di koridor. Ting! Momo tiba-tiba muncul, membuat Elloist menoleh, menatapnya heran karena tidak merasa memanggil. Namun, belum sempat gadis itu bertanya, Momo telah lebih dulu bersuara, [Selamat Tuan Rumah! Tingkat kebencian Tabib Anand telah menurun drastis, dari -50% menjadi -0% dan tingkat rasa sukanya sekarang 5%!] "Hah! Kok bisa? Aku 'kan belum melakukan apa-apa?" tanya Elloist heran, kembali menatap ke arah depan dan meneruskan perjalanan. Momo melayang mendekat, melewati Elloist, lalu berhenti tepat di depan gadis itu, membuatnya ikut berhenti dan menatap sang peri sistem dengan kening berkerut. [Oh, soal itu, Tuan Rumah tidak perlu risau!] "Maksudnya? Aku tidak mengerti!" Elloist menuntut jawaban. [Bukan apa-apa, Tuan Rumah!] sahut Momo sambil mengeluarkan cengiran lebar. "Dasar sistem aneh!" gerutu Elloist, kembali meneruskan langkah. Wajahnya sedikit cemberu
"Bagaimana keadaannya?" tanya Elloist sambil menatap cemas pada Tabib Anand yang kini tengah berbaring di ranjang, sedang diobati seorang Tetua kepercayaannya. Mereka sedang berada di dalam kamar Elloist. Gadis itu terus meremas kedua tangannya bergantian guna menyalurkan semua rasa cemas yang ada. Ia bahkan tidak memperdulikan penampilannya yang masih mengenakan pakaian yang sama. Sementara itu, Sang Tetua yang baru saja selesai menyalurkan energi penyembuhan pada sang tabib, lantas menurunkan kedua tangannya, lalu bangkit berdiri, dan bergerak menghadap ke arah Elloist. Ia sedikit membungkuk hormat sebelum menjawab, "Yang Mulia, luka Tabib Anand sangatlah parah. Hanya kekuatan spritual tingkat SSS yang bisa menyembuhkannya seutuhnya. Sementara Hamba—" Sang Tetua menggeleng lemah sembari menundukkan kepala, merasa tidak berguna dan tidak berdaya. Wajahnya terlihat sedih, terlebih Tabib Anand adalah salah satu dari Serikat Tetua Penyembuh sekaligus Murid kesayangannya.
'Apa aku benar-benar tidak bisa menyelamatkan suamiku sendiri?' Elloist semakin frustrasi. Ia tanpa ssadar mengacak-acak rambutnya. Sementara itu, Nyonya Celeste justru berjalan ke arah Tabib Anand, meraih ujung rantai yang terhubung pada lehernya, lalu menariknya sedikit kuat hingga pria itu terdorong ke depan, menimbulkan bunyi gedebuk nyaring. Hal itu membuat Elloist terkejut dan bergegas mengalihkan perhatiannya. "Jangan sakiti Dia!" pekik Elloist marah. Telunjuk kanannya teracung ke depan, memperingati. Akan tetapi, bukannya takut, Nyonya Celeste justru tertawa terbahak-bahak hingga kepalanya mendongak ke atas memperlihatkan dagu runcing miliknya. Lalu, kembali menatap ke arah Elloist sambil mengubah mimik wajah menjadi datar. "Bagaimana jika Hamba menolak, Yang Mulia?" ejeknya sambil menarik rantai hingga membuat Tabib Anand mengerang kesakitan. Sayangnya, suara yang keluar justru seperti suara seseorang tengah dicekik hingga membuat Elloist semakin menggeram
Nyonya Celeste terpana sebentar, sebelum menyunggingkan senyum culas. "Well! Well! Well! Aku pikir siapa yang datang mengganggu—" Ia perlahan menoleh ke samping, membuat seorang pelayan wanita mendekat dan memberikan sebuah sapu tangan. "Ternyata sang putri buangan," hinanya pedas. Nyonya Celeste menerima benda tersebut dan melilitkan nya pada tangannya yang terluka. Darah seketika berhenti. Elloist merasa geram, harga dirinya kini dipertaruhkan. "Tutup mulutmu!" Bukannya gentar, Nyonya Celeste justru menyeringai. "Benar, bukan, yang Hamba katakan, Yang Mulia?" ujarnya berpura-pura hormat. Namun, sebenarnya memberikan hinaan terselubung. Ia lantas menoleh ke arah sang pelayan yang bergegas memberikan kipas tangan miliknya. Nyonya Celeste menerimanya, membuka benda tersebut hingga seluruh bagian terlihat, memperlihatkan kain putih bermotif bunga plum merah, lalu mengipasi wajahnya seolah-olah tengah mengusir sesuatu atau menghina seseorang. Elloist mengeratka
"Apa?!" pekik Elloist keras. "Benar, Yang Mulia," sahut pengawal itu terbata-bata sambil menatap ke arah Elloist dengan sorot takut. Ia bahkan berusaha keras menahan tangis. Bagaimanapun juga ia merasa berhutang budi pada sang tabib yang telah menyelamatkan nyawa putrinya di masa lalu. "Kok bisa?" tanya Elloist dengan bibir bergetar, tidak percaya dengan apa yang ia dengar. Matanya bergerak liar, berusaha mengingat alasan kenapa hal ini bisa terjadi, dan tatkala ia teringat penyebab kenapa sang suami berada di sana, yang tak lain dan tak bukan adalah ulah sang pemilik tubuh asli yang menjual pria itu berkat hasutan dari Ivander, dirinya tercekat dengan mata terbelalak lebar. Elloist bergegas kembali menatap sang pengawal dengan sorot tajam, membuat pria itu semakin gemetar. Elloist memang betina level terendah, tapi kekuatan yang mendukung semua tingkahnya adalah level tertinggi sehingga tidak ada yang berani melawannya. "Pengawal! Segera siapkan kereta kuda milikku! E
Elloist menangis tersedu-sedu. Penampakan yang ia pikir sebelumnya adalah hantu, ternyata wajahnya sendiri. Bertepatan dengan itu, Momo kembali muncul, terbang berputar-putar mengelilingi kepala Elloist hingga debu perak sekilas terlihat berterbangan mengikutinya. [Tuan rumah jangan bersedih! Ini semua efek dari racun yang selama ini Tuan rumah minum.] Elloist pun menghentikan tangisnya, terkejut mendengar info barusan. Meskipun penampakannya kini terlihat begitu mengenaskan dengan lelehan ingus di hidungnya yang memerah, juga mata yang sembab. "Apa maksudmu?" Momo bergegas terbang ke arah depan, berhenti dan berbalik cepat dengan jarak sejengkal tangan. [Tuan rumah diracuni oleh Ivander melalui semua makanan dan minuman yang Tuan rumah konsumsi setiap hari dan itu atas suruhan Putri Ariesta.] Elloist terperanjat. Ia lantas teringat kembali akhir kisah dari drama KARMA SANG PUTRI JAHAT, yang bakal mati di tangan pria yang ia cinta karena membuang para suaminya yang se
Elloist Ellianore, putri tunggal dari Raja Edward Ellianore, adalah sosok betina bangsawan di kerajaan antar binatang di planet Moon. Planet Moon adalah sebuah planet binatang, di mana semua wanita memiliki kedudukan yang tinggi karena dianggap sebagai jelmaan para Dewi karena memiliki kekuatan me
"Ugh ... sakit sekali kepalaku." Sambil memegangi kepalanya yang terus berdenyut, Ellyn membuka matanya perlahan. Tadi, karena terlalu kesal melihat Putri Elloist, tokoh protagonis di drama yang ia tonton, mati begitu saja di tangan pangeran Ivander karena kebodohannya sendiri, Ellyn melempar gel







