เข้าสู่ระบบEntah berapa perempuan telah ia jamah sejak bertemu dengan Nirmala dulu, sebab dengan kekuatan yang diberikan Nirmala ia menjadi jauh lebih muda. Rambutnya yang kusut dan beruban telah berubah menjadi hitam kelam, kulitnya yang kendur dan panuan sudah kencang seperti pria berusia 25 tahun, begitu juga dengan bau badannya yang tak enak lenyap seketika. "Dirga, kenapa bengong?" tanya Mira. "E---enggak apa-apa," ujar Dirga saat tersadar dari lamunannya. Penampilannya yang kembali muda mempengaruhi hormon di tubuhnya, gairah itu nyata terlebih perempuan cantik di depannya sangat menggoda dan tak bisa dilewatkan begitu saja. Mira mengusap dada Dirga, wajahnya mendongak dengan bagian dadanya menempel pada perut Dirga. "Apa ini enggak akan jadi masalah?" Dirga terlihat ragu. "Masalah kenapa?" Mira balik bertanya. "Bagaimana kalau kamu hamil, aku takut---""Kalau begitu kamu bisa pakai pengaman dulu, atau cabut pas mau keluar," bisik Mira dengan suara genit menggoda. Dirga terdiam, ia
Tubuhnya gemetar, langkahnya terhuyung. Mira masih memegang gagang vas berujung runcing yang meneteskan darah, para security terpaku tanpa berani masuk lebih dalam. Beberapa pria tergeletak dengan suara kesakitan. "Ma--maaf, kami lalai!" seorang satpam membungkuk sebanyak dua kali karena merasa malu atas lolosnya orang-orang asing ke kamar tersebut. "Kalian takut sama mereka? Lihat, kalian sangat ceroboh!" umpat Mira kesal. "Kami janji tak akan terjadi lagi," kata kepala keamanan. Para penyelinap langsung masuk menggotong mereka, sementara di luar sana ada polisi yang datang untuk penanganan tambahan. "Permisi, saya brigadir Lita, saya sudah menerima laporan tentang peristiwa yang terjadi di sini dan untuk sekarang kami mendalami rekaman cctv," perempuan berjaket kulit dan berambut pendek memperkenalkan diri. "Bu polisi, silakan interogasi mereka. Kami di sini cuma tamu," Mira merasa kesal. "Kami hanya ingin tahu, apakah kalian terlibat dengan jaringan kejahatan yang menjadi mus
Mereka tidak saling kenal, hanya berada di tempat dan waktu yang sama untuk dua kepentingan yang berbeda. Setelah Mira berganti baju, dia duduk di sofa di samping Dirga. Sebuah majalah keluaran tahun 90-an dia ambil dan baca sekilas, sementara Dirga berbaring setengah bersandar. "Aku sudah mengantuk, mau sampai kapan kamu membaca majalah itu?"'tanya Dirga. "Kalau mau tidur ya tidur saja, nggak ada hubungannya antara apa yang aku baca dengan kamu yang mau tidur," balas Mira. "Lampunya membuatku silau, nggak bisa tidur kalau begini," keluh Dirga, sampai di situ baru Mira paham. Dia meletakkan majalah itu kembali ke meja, lalu matikan lampu. "Malam ini kita tidur di kamar yang sama, Bagaimana aku bisa yakin jika kamu tidak berbuat macam-macam benar?" Mira memicingkan mata. "Tenang saja, kita berada di jarak yang aman. Aku bisa tidur di sana," Dirga menunjuk ke arah sofa. "Bukannya aku mau curiga sama kamu, tapi entahlah. Baru kali ini aku tidur dengan seorang pria, maksudku satu kamar
Malam hari bukan waktu yang tepat untuk bepergian, namun di saat seperti ini tidak ada jalan keluar selain pergi dari desa itu sebelum para preman kampung datang mengepung. Tindakan Antoni mungkin telah diketahui oleh pihak keamanan, meski tidak sepenuhnya ada tindakan untuk mencarinya. Mereka berjalan menuju ke arah jalan raya yang berjarak sekitar dua kilometer, Dirga membawa dua tas besar berisi pakaian sedangkan di belakangnya ada Antoni dan adik sepupunya. "Sebenarnya kita ini mau ke mana, Bang? Kenapa tidak menunggu esok?" tanya Mira."Kalau besok pagi mungkin agak terlambat karena jemputan baru datang malam ini. Sudahlah, kita harus pergi dari Desa secepat mungkin," ujar Antoni. Begitu tiba di jalan raya, mereka tahu tidak ada bus yang lewat pada jam seperti itu namun Antoni yakin ada anak buahnya yang akan menjemput. Mereka harus menunggu di sana selama kurang lebih dua jam, Mira terlihat bosan sampai sorot mobil terlihat dari kejauhan. Bukan sebuah bus, melainkan mobil pri
Kecantikan Mira emang diakui banyak orang, semua orang tua menginginkan dia jadi menantunya dan semua pria normal ingin Mira jadi istrinya, tak heran jika para preman kampung itu mengganggu. Mendengar adik sepupunya hampir dilecehkan, Antoni merasa geram. Namun dia masih bersikap dingin tanpa menunjukkan amarah yang berlebih-lebihan di hadapan Dirga. "Biar nanti aku yang urus," kata Antoni, ia lalu masuk ke dalam kamar. Semula Dirga tak menganggap serius ucapan Antoni, namun sekitar jam delapan malam Antoni tampak menyiapkan sesuatu di kamarnya. Dia mengisi pistol dengan beberapa butir peluru, mengenakan topeng dari kain dan keluar rumah secara diam-diam, Dirga tau jika Antoni tak ada di kamar sehingga ia mengikuti Antoni dari kejauhan. Di warung tempat biasanya para preman kampung itu nongkrong, suara musik dangdut terdengar mengalun merdu. Beberapa pemuda berjoget, menuang tuak ke dalam gelas dan berkelakar. "Mira itu sangat cantik, jika waktunya tiba aku akan menidurinya. Kala
Dirga tau arah pembicaraan Antoni, namun dia hanya pura-pura. "Apakah yang kamu tawarkan sepadan dengan apa yang aku dapat nanti? Aku cuma orang desa, kebetulan memiliki ilmu diri yang jarang dipelajari orang-orang di kota. Sedangkan di desaku hal semacam ini sudah biasa," jawab Dirga dengan tetap rendah hati. "Hahaha! Sudah kelihatan kalau kamu itu dari desa, tapi kemampuanmu itu sangat jarang dimiliki orang kota seperti kami. Aku memiliki usaha yang berkaitan dengan distribusi barang, terkadang harus berurusan dengan preman, mafia dan oknum penegak hukum. Jadi aku tidak membutuhkan seseorang yang mampu bergerak cepat, berpikir taktis dan bisa melindungiku kapan saja. Aku menawarkan gaji sepuluh juta sebulan," lanjut Antoni percaya diri, dia yakin uang itu akan membuat Dirga bersedia bekerja padanya. Siang hari, Antoni pergi ke bidan desa untuk melihat perkembangan lukanya. Dia tetap berbohong pada orang-orang jika ada luka itu disebabkan oleh peluru. Di rumah, Dirga menghabiska







