Mag-log inDiusir tanpa belas kasihan oleh suami, dan datang kembali dengan kekuatan yang tak terduga. Demi melunasi hutang bapaknya, Lina dipaksa menikah dengan Reynaldi Setyawan. Seorang CEO tampan yang dingin dan kejam. Seorang pria tampan yang sudah memiliki istri. Pernikahan tanpa cinta itu hanya bertujuan untuk melahirkan anak untuk istri pertama nya Fanny. Namun ketika Fanny melihat ada sesuatu yang berbeda dari suaminya kepada Lina. Akhirnya Fanny menggunakan tipu muslihat nya membuat skandar jahat, sehingga Lina diusir dengan kejam oleh Reynaldi. Lina harus berjuang bertahan hidup di kota asing. Terutama setelah dia mengetahui kalau dirinya hamil anak dari Reynaldi. Dalam kesendirian dia bertekad, membesarkan anaknya tanpa bantuan siapa pun. Enam tahun kemudian takdir berkata lain, Lina yang sudah berubah menjadi seorang single parents yang sukses, yang mempunyai karir cemerlang. Yang lebih mengejutkan lagi mereka dipertemukan dalam satu perusahaan. Yaitu perusahaan milik Reynaldi. Mereka mulai sering bertemu, satu demi satu semua mulai terungkap. Akankah Lina akan.membalas semua luka yang diberikan oleh Reynaldi. Apakah Lina akan terjebak kembali dalam permainan cinta dan pengkhianatan. Bagaimana sikap Reynaldi nanti saat mengetahui kalau Lina mempunyai anak dengan perkawinan nya dulu bersama dirinya.
view moreJantung Nayara berdegup tak beraturan, berdetak seperti genderang perang yang tak pernah reda. Tiket dalam genggamannya terasa dingin, namun sensasi dingin itu tak sebanding dengan kekalutan yang membanjiri benaknya. Faint, dengan tenang, merangkul bahunya, seolah mencoba menyalurkan sebagian ketenangan dirinya ke dalam tubuh Nayara yang gemetar. Pesawat menuju Jakarta baru saja mengudara, membawa mereka melintasi batas-batas benua, menjauhi hingar-bingar kota tempat mereka hidup, menuju sebuah realita yang tak pasti.“Kamu sudah minum obat penenang yang kuberi?” Faint bertanya, suaranya lembut, namun penuh perhatian. Matanya menatap Nayara, mencoba membaca setiap gejolak di balik iris mata Nayara yang tampak berkaca-kaca.Nayara menggeleng pelan. “Tidak perlu. Bukan tentang menenangkan diri, Faint. Ini tentang menghadapi. Aku harus menghadapi semua sekarang.” Kata-katanya keluar dengan nada yang lebih tegas dari yang dia duga, seolah meyakinkan dirinya sendiri leb
Jantung Nayara berdegup tak beraturan, berdetak seperti genderang perang yang tak pernah reda. Tiket dalam genggamannya terasa dingin, namun sensasi dingin itu tak sebanding dengan kekalutan yang membanjiri benaknya. Faint, dengan tenang, merangkul bahunya, seolah mencoba menyalurkan sebagian ketenangan dirinya ke dalam tubuh Nayara yang gemetar. Pesawat menuju Jakarta baru saja mengudara, membawa mereka melintasi batas-batas benua, menjauhi hingar-bingar kota tempat mereka hidup, menuju sebuah realita yang tak pasti.“Kamu sudah minum obat penenang yang kuberi?” Faint bertanya, suaranya lembut, namun penuh perhatian. Matanya menatap Nayara, mencoba membaca setiap gejolak di balik iris mata Nayara yang tampak berkaca-kaca.Nayara menggeleng pelan. “Tidak perlu. Bukan tentang menenangkan diri, Faint. Ini tentang menghadapi. Aku harus menghadapi semua sekarang.” Kata-katanya keluar dengan nada yang lebih tegas dari yang dia duga, seolah meyakinkan dirinya sendiri lebih dari Faint.Faint
Kelegaan terasa menusuk hingga relung terdalam jiwanya, memecah kepompong ketidakpastian yang selama berbulan-bulan melilit. Nayara membiarkan kuasnya menari di atas kanvas, setiap sapuan warna menjadi refleksi dari gejolak batin yang akhirnya menemukan ketenangan. Lukisan potret seorang wanita dengan senyum samar dan mata penuh rindu tercipta di sana, bersanding dengan untaian kata dalam surat yang menyuarakan pengakuan. Udara dingin Paris malam itu seolah menghangat oleh keputusan yang teguh.“Aku akan kembali ke Jakarta, aku juga akan kembali pada Mama dan Papa. Akan aku hadapi semuanya. Aku tahu sekarang, aku harus apa.” Gumam Nayara, suaranya pelan namun mantap, seolah setiap kata adalah janji yang ia ukir untuk dirinya sendiri. Hatinya yang sempat retak kini berangsur utuh, kepingan-kepingan realitas telah ia susun menjadi sebuah peta jalan. Esok adalah hari baru, sebuah lembaran yang akan ia isi dengan keberanian.*Sore merayap perlahan, mewarnai langit Paris dengan gradasi ji
Setelah berperang dengan pikiran dan perasaan nya, akhirnya Nayara memutuskan untuk kembali ke Jakarta, meskipun waktu untuk magangnya di Paris belum selesai. “Aku akan kembali ke Jakarta, aku.juga akan kembali pada Mama dan Papa. Akan aku hadapi semuanya. Aku tahu sekarang, aku harus apa.” gumam nya malam itu setelah melukis dan menulis surat buat Emely ibu kandungnya.***Sore menjelang gelap, Nayara menunggu, Emily Nayara di sebuah cafe kecil, Tidak terlalu lama Nayara menunggu, akhirnya wanita paruh baya itu pun datang, dari kejauhan Nayara melihat senyum itu. Wanita dengan kulit seputih susu, rambut ikal berwarna terang, digelung asal. Penampilan nya yang sangat sederhana tapi tetap cantik dan berkelas. Sesaat Nayara berpikir dan bicara dalam hatinya,” Kulitnya sama persis seperti ku, bola matanya itu milikku, tapi senyum nya tidak seperti ku. Apa senyumku mirip dengan suaminya. Papa kandung ku.” “Sudah lama kamu menunggu, sayang?”sapanya dengan hangat.Nayara bangun dari du
Siang itu usai makan siang d kantin kantor, Elsa bergegas kembali ke ruangannya. Sampai di ruangannya dia bingung, mendapati satu amplop coklat sudah ada di mejanya.Diambilnya amplop coklat itu, dia berjalan keluar ruangan kepalanya melihat kekanan, dan kekiri, berharap ada seseorang yang dia temu
Nasha tidak percaya, saat dia membuka ponselnya dan mendapatkan berita terhot minggu ini, yaitu tentang CEO muda dan wanita rahasianya di sebuah cafe di luar kota.Awalnya Nasha hanya mengabaikannya, dia berpikir itu hanya pertemuan bisnis, urusan kantor, bahkan hanya keperluan pekerjaan saja.Tapi
Beberapa bulan setelah Kezia ditahan. Langkah kaki sepasang suami istri itu terdengar berirama di lorong sel. Wajah tua dan lelah menahan rasa sedih, marah dan gagal sebagai orang tua. Dan ternyata harta dan kekuasaan tidak bisa membeli harga diri, nama baik dan kebahagiaan. Rumah sakit di dalam
Di dalam ruang kecil rumah sakit jiwa, Kezia duduk menatap dengan tatapan kosong ke jendela. Rambutnya sudah tak serapi dulu, dan sorot matanya hilang tidak ada cahaya. Tapi satu hal tak pernah padam yaitu obsesi. Masih terlihat jelas di matanya“Nayara...” gumamnya sambil menatap koran lama yang






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
RebyuMore