เข้าสู่ระบบWaktu bergulir dengan cepat. Sudah masuk tiga bulan lamanya Dinara menjalani kehidupan baru di dusun nelayan Pantura ini, dan selama itu pula, Elang Adikara benar-benar seolah lenyap dari buminya. Bastian sempat kembali ke Jakarta untuk mengurus beberapa hal termasuk menyerahkan kotak titipan Dinara untuk Elang Adikara namun setelah itu, dunia kota yang sibuk seakan tertutup rapat bagi Dinara.Rutinitas harian menjadi satu-satunya pelarian Dinara agar tidak gila karena rindu dan ketidakpastian. Setiap pagi, dengan perutnya yang kini sudah makin membuncit memasuki usia kehamilan tiga bulan, Dinara memaksakan diri untuk bergerak. Membereskan rumah sederhana milik Bastian, menyapu halaman, lalu berjalan perlahan menuju pasar dekat dermaga untuk membeli ikan segar tangkapan nelayan, sebelum akhirnya pulang untuk memasak.Namun, sekadar berjalan ke pasar pun kini terasa berat bagi Dinara. Dusun yang awalnya terasa damai, perlahan mulai terasa dingin. Kehadiran seorang wanita asing yang sed
“Maksud Pak Bas, saya bisa tinggal di sini sementara waktu?” tanya Dinara memastikan lagi. Bastian mengangguk, sambil membawa tas milik Dinara. “Iya, Mbak. Bukan hanya sementara, tapi terserah Mbak Dinara mau sampai kapan.” Dinara tersenyum kecil. Perasaan hangat perlahan merayap di dadanya yang selama sebulan ini terasa beku. “Terima kasih banyak, Pak.” Bastian melangkah lebih dulu, membuka pintu kayu rumah sederhana itu yang mengeluarkan bunyi derit halus. Begitu masuk, aroma kayu yang khas dan kebersihan rumah yang terawat langsung menyambut mereka. Rumah ini tidak besar, sangat jauh berbeda jika dibandingkan dengan mansion megah milik Elang Adikara di Jakarta. Namun, di mata Dinara saat ini, kesederhanaan rumah di tepi pantai ini terasa seribu kali lebih menenangkan. Tidak ada kamera wartawan, tidak ada kilatan gosip televisi, dan yang terpenting tidak ada tekanan masalah. Bastian meletakkan tas pakaian Dinara di kursi tamu yang terlihat bersih. “Rumah ini memang jarang saya t
Untuk terakhir kalinya Julia menjenguk Dinara di kamarnya saat hendak ke kantor. Kala itu terasa sekali menjadi pelukan mereka yang terakhir kalinya.“Lo harus janji sama gue, Din...” bisik Julia parau, suaranya bergetar di dekat telinga Dinara. “Di mana pun lo berada nanti, lo harus makan yang banyak. Jangan mikirin apa-apa lagi selain kesehatan lo dan keponakan gue. Lo udah terlalu sering ngalah buat orang lain, sekarang giliran lo yang harus bahagia.”Dinara tidak menjawab lewat kata-kata. Ia hanya mampu mempererat pelukannya, memejamkan mata rapat-rapat demi menahan air mata yang sudah mendesak ingin keluar. Dadanya terasa ngilu. Kehadiran Julia di rumah ini adalah satu-satunya penghibur di tengah dinginnya pengabaian Elang selama sebulan ini. Dan kini, ia juga harus merelakan satu-satunya sandaran yang ia punya itu demi menjauh sejauh-jauhnya.Perlahan, Dinara mengurai pelukan mereka. Sebuah senyuman pasrah terlihat darinya begitu menyayat hati Julia.“Makasih ya, Jule... buat se
Beberapa hari setelah tayangan televisi yang menghancurkan hatinya itu, Bastian sebenarnya sempat datang membawa secercah harapan. Ponsel lama Dinara berhasil dinyalakan kembali, lengkap dengan seluruh data dan bukti perselingkuhan busuk antara Karin dan Paman Johan.Namun, alih-alih menggunakan bukti itu untuk menyerang balik, Dinara memilih membungkus ponsel tersebut rapat-rapat dalam sebuah kotak kecil. Ia menitipkannya pada Bastian untuk diserahkan langsung kepada Elang pada saat yang tepat. “Pak Bas, saya titip ini... serahkan pada Pak Elang di saat yang tepat,” ujar Dinara sambil menyerahkan kotak kecil itu.Dinara tahu, itu adalah kartu pamungkas untuk masalah suaminya, dan ia memercayakan benda itu disimpan oleh Bastian.Kini, waktu telah bergulir. Sudah satu bulan berlalu sejak Elang memutuskan hubungan secara sepihak tanpa kabar.Suatu malam di dalam kamar, keheningan kembali merayap di antara Dinara dan Julia. Dinara menatap ke sekeliling kamar luas yang mewah itu dengan p
Hari-hari berikutnya berlalu seperti siksaan yang lambat bagi Dinara. Sejak malam panggilan telepon itu, Elang benar-benar tidak kembali ke rumah. Pria itu seolah ditelan oleh badai masalah yang mencuat ke media.Julia yang tinggal bersamanya pun ikut didera rasa resah yang mendalam. Setiap malam pulang dari kantor, hatinya selalu mencelos melihat sahabatnya itu dirundung rindu yang begitu pekat. Wajah Dinara selalu tampak sendu, matanya sering kali menatap kosong ke arah jendela kamar, menantikan kepulangan sang suami yang tak kunjung tiba. Padahal, Julia sendiri hampir setiap hari melihat sosok Elang Adikara di kantor.“Pak Elang itu beneran super sibuk sekarang, Din. Dia nyaris nggak pernah keluar dari ruang rapat,” ujar Julia suatu malam, mencoba memberikan pengertian saat mereka sedang duduk bersama di ruang tengah.Dinara hanya mengangguk pelan tanpa suara.“Tapi lo tahu nggak yang bikin anak-anak kantor makin merinding?” lanjut Julia lagi, berusaha memancing perhatian Dinara. “
Dinara menarik nafas dalam-dalam, perlahan menghapus sisa air mata di pipinya. Menangis dan meratapi nasib tidak akan mengubah keadaan. Naluri sebagai mantan sekretaris pribadi andalan Elang Adikara seketika bangkit di dalam dirinya. Ia yakin, gosip murahan ini disebar oleh Karin Wicaksana dan ini pasti memiliki tujuan lain. Ia tidak boleh tinggal diam melihat nama baik suaminya dihancurkan.Dinara teringat sesuatu. Bukti penting.Ia segera turun dari ranjang perlahan dan melangkah menuju lemari pakaian besar milik Elang. Dengan cekatan namun hati-hati, jemarinya membuka laci demi laci di dalam sana, mencari ponsel lamanya yang rusak dan masih disimpan suaminya. Setelah memeriksa beberapa sudut, netra Dinara berbinar saat menemukan benda persegi itu tersimpan di salah satu laci bagian dalam.Tanpa membuang waktu, Dinara langsung menghubungi Bastian, orang kepercayaan Elang Adikara yang selalu bisa ia andalkan.Begitu Bastian tiba di rumah atas permintaannya, Dinara langsung menyerahka
Ciuman itu, ciuman yang menuntut. Seakan Elang ingin melahap bibir Dinara. Hingga ia merasa gelagapan. Aksi itu terlalu tiba-tiba, Dinara tak bisa menolak bahkan sulit mendorong tubuh Elang untuk menjauh.Elang menggigit pelan bibir bawah Dinara sebelum menghentikan ciuman itu. Gerakan selanjutnya
Tangan Dinara terasa beku di dalam mobil yang dingin, tambah dingin dengan sikap Elang yang tetap diam menatap jalanan dari balik kaca jendelanya. Ia pun melakukan hal yang sama menatap keluar jendela, upaya menetralkan keresahan hatinya yang tak kunjung stabil. Tak berapa lama, mobil berbelok di
Jam weker di meja nakas berbunyi, Dinara mendesah. Tangannya meraba meraih jam itu dan menekannya agar mati. Matanya masih terlalu berat untuk dibuka. Namun cahaya masuk dari celah-celah gorden, dan ventilasi membuatnya sadar hari sudah berganti pagi.Mata Dinara akhirnya terbuka, ia bingung karena
“Dinara…” suara Elang penuh tekanan. Dinara menoleh pada bos-nya, “M-maaf, Pak… filenya salah kirim ke…” lalu ia menoleh pada Andaliman, “... Pak Andaliman.” Semua terkejut, bisik-bisik terdengar samar. “Kamu…” geram Elang. “Maaf, Pak…” Andaliman membuka email-nya, ia tersenyum kecil. “Oh, e







