เข้าสู่ระบบCelah di bawah pintu kayu ruang 403 itu mendadak menjelma menjadi jurang ketakutan yang teramat pekat bagi Bima.Belum sempat logikanya menimbang apakah keberadaan dua pasang tungkai kaki asing di luar sana murni ancaman nyata atau sekadar halusinasi trauma, Bima memaksa otaknya bekerja kilat.Insting bertahan hidup yang terasah dalam bertahun-tahun marabahaya berteriak nyaring bahwasanya bahaya nyata tengah mengintip di balik kayu tebal itu.Secara refleks, Bima memutar tubuhnya, menempelkan dada dan kedua telapak tangannya sekuat tenaga ke permukaan pintu, berupaya keras menahan engsel tua tersebut dari ancaman pendorongan luar."Dokter Aris! Bantu saya menahan pintu ini! Cepat!" Teriak Bima dengan intonasi memburu, dadanya kembang kempis dirayapi kepanikan yang teramat hebat.Dokter Aris terperanjat dari kursi kerjanya, raut wajahnya menyuarakan kebingungan mendalam atas aksi mendadak pasiennya."Pak Bima, tenanglah! Apa yang Anda—"DUG! DUG! DUG!Ucapan sang psikiater terhent
Pagi menjelang, tatkala sang surya mulai menampakkan dirinya secara perlahan di balik cakrawala kota.Saifanny duduk membisu di tepi ranjang dengan tatapan mata yang kosong. Jemarinya mencengkeram ponsel pintar yang meredup.Benaknya masih dipenuhi oleh kecemburuan dan rasa takut yang bersinggungan—sebuah pergolakan batin bahwasanya posisinya sebagai seorang ibu akan terabaikan.Grep!Secara mendadak, sebuah lengan kekar berotot terulur melingkari pinggang Saifanny dari belakang, menarik tubuh wanita itu dalam dekapan yang erat.Sentuhan hangat itu membuat Saifanny terperanjat kecil, mendapati Adrian telah memeluknya secara intim dari arah belakang."Selamat pagi, Fanny," sapa Adrian dengan intonasi suara yang serak dan berat khas seorang pria yang baru terbangun dari tidurnya."Selamat pagi," sahut Saifanny datar, tanpa menoleh sedikit pun.Saifanny sanggup merasakan bibir Adrian yang mulai mendaratkan ciuman-ciuman ringan menyusuri kulit pinggangnya.Sentuhan itu memicu sensa
Begitu Syahdan menghilang di balik pintu kamarnya, Adrian melepas jas mewahnya, menyandarkannya di sandaran kursi meja makan, lalu menggulung kedua lengan kemejanya hingga sebatas siku. Pria itu dengan sigap membereskan semua peralatan makan yang telah mereka gunakan, lalu membawanya untuk dicuci bersih di wastafel. Sementara itu, Saifanny masih terduduk membisu di sandaran kursinya, dirayapi oleh pusaran pemikiran yang kian menggelap. Ia tentu sama sekali tidak keberatan jikalau Syahdan tumbuh akrab dengan Adrian, sebab bagaimanapun juga, pria itu adalah ayah kandung yang memiliki ikatan darah utuh dengan putranya. Namun, ketakutan di dalam dadanya tetap bergejolak. Saifanny berjanji pada batinnya sendiri bahwa ia tidak akan pernah membiarkan posisinya sebagai seorang ibu tergeser oleh Adrian—sosok yang baru dikenal oleh putranya selama kurun waktu satu tahun belakangan ini. Saifanny menghembuskan napas panjang. Ia perlahan bangkit dari duduknya, meraih jas milik Adrian de
Sore hari yang tenang membingkai sebuah ruang VIP di kafe bernuansa klasik kawasan J-City. Ornamen kayu hangat dan pencahayaan redup menciptakan suasana privat yang begitu kental.Adrian duduk tenang di kursinya, memancarkan aura kendali penuh saat menunggu kedatangan Tyas Astaguna—sosok penguasa Astaguna Pharmacy yang sebelumnya telah ia hubungi secara pribadi.Ckrekkk...Pintu geser kayu berornamen klasik itu terbuka perlahan, menampilkan sosok Tyas Astaguna yang melangkah masuk ke dalam ruang VIP."Selamat sore, Pak Adrian," sapa Tyas anggun seraya memburu jarak dan mendudukkan dirinya di kursi tepat di seberang Adrian.Adrian mengangguk pelan, membalas sapaan formal tersebut tanpa banyak mengumbar basa-basi.Tanpa mengulur waktu, Adrian meraih ponsel pintar miliknya dari atas meja, lantas dengan gerakan jemari yang gesit mengirimkan deretan berkas foto dan rekaman video makam Dewi Astaguna yang kosong melompong langsung ke nomor pribadi Tyas.Ting! Ting! Ting!Ponsel di dal
Malam di kediaman Marcus terasa dingin menyiksa, seolah dinding-dinding batu di ruangan itu ikut membeku bersama kecemasan yang terus menggerogoti pemiliknya. Marcus merebahkan dirinya di sofa berbalut kulit. Kepalanya menengadah pasrah ke langit-langit ruangan, sementara jemarinya sesekali bergerak memijat pelipisnya yang berdenyut kencang. Ia menolak keras untuk memenuhi tuntutan Ririn yang meminta imbalan sebesar 50 miliar rupiah hanya demi melacak keberadaan Dewi. Bukan karena ia kekurangan dana, melainkan lantaran nalurinya menegaskan bahwasanya jikalau ia kembali mengalah pada wanita itu, maka Ririn akan terus-menerus mempermainkan, memeras, dan menipunya tanpa henti. Dan Marcus tidak akan pernah sudi diperalat oleh siapa pun. Tap! Tap! Tap! Suara langkah kaki yang teratur menghampiri posisinya. Di sana berdiri seorang pria berbusana serba hitam—sosok yang memimpin tim keamanan Manggala Tech. Pria itu membungkuk hormat, lalu perlahan mendongakkan kepala, bersiap menyampa
Di dalam ruang kerja Marcus yang kini telah disulap sepenuhnya menjadi kamar pribadi Ririn yang serba merah muda, atmosfer ruangan terasa tegang menyeluruh.Ririn duduk dengan gestur anggun di tepi ranjang berukuran besar, siap menerima laporan berkala dari Doni—ketua pengawal kepercayaannya.Doni berdiri kaku di hadapan wanita itu usai menyampaikan seluruh poin laporannya. Sudah berhari-hari pergerakan timnya terhambat luar biasa lantaran di sekitar area pedesaan tempat tinggal Bima dijaga amat ketat oleh barisan aparat kepolisian."Maaf, Non. Saya sudah merekrut beberapa orang tambahan, tapi kami tidak bisa bergerak maju. Berhadapan langsung dengan polisi hanya akan mendatangkan masalah besar baru untuk kita," ucap Doni dengan suara berat dan sarat akan kecemasan.Ririn melipat kedua tangannya di dada. Tatapan matanya yang sedingin es menghujam lurus pada paras Doni."Jadi... Mas Bima tidak pernah keluar dari desa itu setelah aksi kejar-kejaran kalian hari itu?" Tanya Ririn ding
Saifanny menjalankan sepeda motornya menuju kantor Zain. Ia ingin melihat dengan mata kepalanya sendiri wujud dari wanita itu. Dengan perasaan campur aduk, ia memarkirkan motornya. Sudah lama ia tidak menginjakkan kaki di kantor ini, mungkin sejak ia mengumumkan akan mengundurkan diri untuk menikah
Lantai 3 Hotel Anggrek. Aroma pengharum ruangan khas hotel terasa menyengat di hidung Saifanny. Ia berdiri di depan kamar 308, menggenggam sebuah kunci yang didapatkannya setelah mengelabui seorang resepsionis dengan alasan telah kehilangan kuncinya. Begitu memasuki kamar, Saifanny membeku. Suamin
Saifanny sebenarnya tidak peduli jika Adrian tahu ia datang ke kantor secara diam-diam. Ia menyadari dirinya memang terlihat seperti pencuri saat itu, mengendap-ngendap dan mengintai suaminya sendiri. Namun bagi Saifanny, mencari kebenaran bukanlah sebuah kejahatan. Adrian mengirim pesan lagi. Pri
Kini Saifanny berdiri di depan kantor suaminya sambil menenteng kotak makan bertingkat berwarna biru. "Rasanya aneh kembali ke sini secara terang-terangan" Batinnya. Tujuannya kali ini adalah untuk mengajak wanita itu berkenalan, demi mewujudkan rencana berikutnya: mencari lebih banyak informasi te







