Masuk“Bagaimana?” tanya Marta pada Dika yang ada di sampingnya.“Kamu pasti tahu jawabannya. Dia sangat cuek seperti tak takut jika sahamnya diambil oleh mereka semua.” Dika tampak bingung.“Ya, tahu. Memang tuan tak pernah takut kehilangan bahkan untuk saham yang dimiliki di perusahaan ini. Dia bertahan hanya karena banyak karyawan senior yang juga harus dipertahankan.”Mereka berdua duduk dan berbincang memikirkan solusi yang mungkin bisa mereka diskusikan dengan yang lain kali ini.“Pak Nando sudah membeli beberapa saham dari pemilik yang lain, baik dengan cara sukarela maupun dengan paksa. Kamu ingat pak Darma?” tanya Marta padanya.“Ya, sampai anak dan istrinya ikut diancam oleh mereka semua. Sekarang pindah ke Singapura. Entah entah, mereka akan bertemu dengan tuan Felix, nanti,” jawab Dika.“Ya, semoga saja. Dan nanti mereka akan mengobrol tentang semuanya. Aku berharap begitu. Sayang sekali jika Lesmana Group yang besar ini harus hancur di tangan Gundik dan keturunannya.”“Hey, mer
“Apa? Coba katakan sekali lagi?” pinta Julia dengan tawanya yang renyah dan terasa bahagianya.“Julia Agnia. Will You Marrie Me? Ayolah, aku suda seserius ini dan sudah mencoba yang terbaik dengan versiku.” Felix merengek kali ini, dan terlihat imut sekali.Julia jadi terharu dari yang tadi tertawa. Ia raih wajah Felix yang tertunduk itu, terlihat malu-malu. Padahal selama ini ia tak pernah takut dengan apapun. Sepertinya, takut jika ditolak oleh Julia.Ketika Felix mengangkat kepala dan menatapnya, Julia ulurkan tangan dan menyodorkan jari manis.Felix terlihat menarik napas lega dan terlihat sangat bahagia ketika Julia menerimanya. Tapi, apakah ada kesempatan Julia menolak ketika hubungan keduanya juga sudah sedalam itu.Felix raih Julia, kemudian ia dekap wanita itu dengan begitu eratnya. “Kakak menangis?” tanya Julia, mendengar isakan dari kekasihnya.“Tidak, aku tak bisa menangis. Bahkan ketika aku berusaha untuk menangis, airmata itu tak mau keluar lagi seolah sudah habis.” Feli
Hari ini Felix libur sesuai dengan janjinya pada Julia. Ia akan bawa kesayangannya itu pergi ke suatu tempat yang sempat Julia tulis dalam list perjalanan mereka kali ini.“St. Andrew's Cathedral!” ucap Julia.“Hmm.” Felix membalasnya dengan tenang sembari tunggu Julia pasangkan dasinya saat itu.“Aku fikir, kamu mau ke tempat yang lain yang lebih indah.” Felix menambahi kata-katanya.“Yang lebih indah? Sudah ada,” balas Julia lagi.“Tapi, tempat ini lebih indah dari apapun,” balas Julia padanya.Julia memiliki keinginannya sendiri ketika berkunjung ke Gereja terbesar dan iconic di Singapore itu. Ia ingin duduk dan berdoa dengan tenang di sana, untuk dirinya dan untuk mereka berdua.“Apa yang kamu inginkan?” tanya Felix pada Julia yang kemudian diam dan seperti merenung.“Tidak ada. Kakak tahu apa yang Julia inginkan, dan tak perlu Lia katakan lagi.” Suaranya mendadak pelan dan tak sesemangat tadi.Felix hanya meraih kepala Julia dan mengusuknya, setelah itu ia pergi karena mobil yang
Yose tahu jika ibunya baru saja mendapat transfer dari sang adik. Saat itu juga, ia jadikan itu laporan pada Nando agar tahu perkembangan dari Julia.“Kapan?” tanya Nando padanya dengan begitu penasaran.Kemarin memang sempat ia matikan debit otomatis pada ibu Julia, berharap Julia tertekan, bingung dan memohon padanya. Tapi ternyata tidak mempan juga.“Tadi, baru sekitar satu jam lalu dan dia kirim sepuluh juta.”“Apa!” Nando kaget mendengarnya. Yose juga tak mungkin bohong karena ia ingin Julia kembali pada Nando agar tetap bisa dimanfaatkan setelah ini.“Kau memberinya gono gini? Atau, kau masih menafkahinya setelah perceraian sebagai kompensasi?” Yose cukup penasaran dengan ini. Jika iya, maka akan jadi keuntungan baginya.“I-ya, lah. Aku harus tetap memberi kompensasi, karena biar bagaimanapun, dia sudah menemaniku selama lima tahun ini,” bohong Nando yang tak mau kehilangan harga diri sama sekali.“Oh, baguslah jika seperti itu. Tandanya, orang tua kami masih bisa tercukupi mesk
Julia pagi itu mendengar Hpnya berdering, dan ia segera membuka mata untuk melihat siapa yang memanggilnya. Tapi napas panjang ia hela ketika lihat nomor siapa yang tertera di sana, dan rasanya ia malas sekali untuk jawab itu semua.Ibunya. Wanita yang seharusnya memberi dukungan moral untuk Julia itu akhirnya memanggil lebih dulu tanpa Julia pancing. Tapi, entah kenapa Julia kali ini terlihat kurang senang dan merasa hanya akan ada sesuatu.Panggilan pertama akhirnya mati sendiri. Julia tatap Felix sejenak dan perhatikan dirinya yang tidur sangat nyenyak.“Haish!” Julia mendengkus kesal ketika panggilan kedua muncul, dan mau tak mau kali ini ia harus menjawabnya.“Ya, Bu. Ada apa?” tanya Julia.“Sayang. Kamu sekarang di mana?” tanya sang ibu, bahkan tak tanya tentang keadaannya setelah kemarin itu.“Ada apa?” balas Julia, tanpa menjawab pertanyaan ibunya.“Ayah, butuh uang untuk ambil obat hari ini. Uang bulanan ibu yang terakhir dikirim oleh Nando dari kantor, juga sudah habis, nak.
“Ohh!” Julia melenguh ketika tubuhnya dipenuhi oleh Felix saat itu.Felix juga merasakan hal yang sama, ketika miliknya dijepit dengan erat di dalam sana hingga ia harus begitu perlahan untuk lanjutkan pergerakannya.“Kenapa masih begitu rapat?” tanya Felix.“Dan kenapa juga Nando tidak bisa menikmatinya selama ini. Apakah dia begitu bodoh hingga lebih memilih wanita yang sudah dipakai sana sini daripada wanita yang benar-benar hanya untuknya.” Felix membatin atas kebodohan sang adik.Salah satunya memang Nando bodoh, tapi salah satunya lagi adalah Nando yang lemah dan tak sabaran hingga terus memaksa kehendak dan menyakiti Julia.Pelan pelan Felix menggerakkan miliknya masuk sambil memperhatikan wajah Julia yang sangat cantik itu. Mudah sekali membuat Julia berada di bawah kendalinya.“Kak Felix,” lirih Julia, memanggil.“Ya, Sayang? Apa?” tanya Felix padanya. Kepala meneleng dan ia perhatikan Julia yang seolah tak bisa berkata-kata.“Lebih… cepat!”“Hey, tidak sabaran sekali. Tapi,







