LOGINMarla terpilih sebagai pelayan di keluarga Austin. Tak pernah dia duga kalau itu hanya sebuah alasan dari Margaret untuk menjodohkannya dengan Richard cucu tertua keluarga tersebut. Sosok Richard Branson Austin adalah pria dingin dan jarang sekali berbicara. Berbanding terbalik dengan Ascar Branson Austin yang pembangkang dan pengacau. Dua sisi yang berbeda, akankah Marla bertahan di rumah tersebut atau malah melarikan diri dari perjodohan yang sudah direncanakan sejak pertama kali.
View MoreMalam itu, langit Kota Sentralis mendung tanpa bintang. Bulan purnama bersembunyi di balik awan tebal, menciptakan suasana yang mencekam.
Di Taman Melati, sebuah taman kota yang biasanya ramai, kini sepi dan sunyi.
Tiba-tiba, langit meledak.
JEDER!
Sebuah kilat raksasa menyambar tepat di tengah taman dengan kekuatan yang mengguncang tanah. Cahaya ungu kebiruan memenuhi seluruh area, begitu terang hingga membuat semua lampu taman meledak bersamaan. Tanah di titik sambaran retak membentuk pola seperti jaring laba-laba, dan asap hitam mengepul ke udara.
Ketika cahaya menyilaukan itu memudar, sosok seorang pria berdiri tegak di tengah kawah kecil yang baru terbentuk.
Ryan Hartono.
Pakaiannya compang-camping, robek di berbagai bagian, memperlihatkan luka-luka yang sudah mengering. Rambut hitamnya acak-acakan, wajahnya tertutup debu serta noda darah kering. Namun matanya memancarkan cahaya tajam yang tidak sesuai dengan kondisi fisiknya.
Ryan menghirup udara dalam-dalam. Udara Kota Sentralis yang penuh polusi ini terasa asing namun familiar.
Dia menatap sekeliling. Taman Melati. Pohon-pohon yang sama. Bangku-bangku tua. Bahkan ayunan berkarat di sudut taman masih ada.
Senyum tipis muncul di wajahnya. "Akhirnya... aku kembali."
Saat berjalan keluar dari kawah, matanya tertangkap oleh tumpukan koran bekas di bangku taman. Dia meraih salah satu lembar dan membaca tanggal di pojok kanan atas.
06 Januari 2026
Tubuh Ryan menegang.
"Lima tahun!"
Tidak ada yang bisa memahami perasaannya saat ini.
Lima tahun yang lalu, dia diikat tangan dan kakinya lalu dilemparkan ke Sungai Deepwater. Dia mengira pasti akan mati, tetapi siapa sangka di dasar sungai, tangannya menyentuh sebuah batu giok yang bercahaya hijau misterius.
Begitu jari-jarinya menyentuh batu giok itu, cahaya hijau meledak dan tubuhnya menyatu dengan batu giok tersebut.
Ketika terbangun, Ryan mendapati dirinya dipindahkan ke dunia kultivasi yang dipenuhi iblis dan makhluk abadi.
Di dunia itu, Ryan belajar tentang kultivator, manusia yang melatih diri melampaui batas fana untuk mencapai keabadian. Dia memulai perjalanan kultivasi yang brutal, bertarung melawan iblis dan kultivator dari berbagai sekte.
Setelah lima ribu tahun, dia mencapai puncak. Kaisar Iblis Gila, gelar yang ditakuti di seluruh Dunia Zhentian.
Tapi keabadian tanpa tujuan adalah kutukan. Yang dia inginkan hanya pulang.
Setelah mencoba berbagai cara dan dikhianati oleh orang kepercayaannya, dia terlempar ke dalam retakan dimensi. Dan retakan itu membawanya kembali ke Bumi.
**
Ryan meremas koran itu sebelum membuangnya ke tanah.
'Ibu... Ayah... maafkan aku.'
Dia memiliki orang tua di dunia ini, dan bahkan seorang pacar dengan kecantikan yang tak tertandingi.
Dia bertanya-tanya bagaimana kabar orang tuanya.
Dan Elena! Lima tahun telah berlalu, apakah dia masih menunggunya?
Ryan menarik napas dalam-dalam. Setelah menenangkan hatinya yang bergejolak, dia melangkah keluar dari Taman Melati, menyusuri jalan yang sudah lama tidak dilaluinya.
**
Matahari mulai terbit ketika Ryan tiba di kompleks perumahan Graha Sentosa. Lingkungan itu sama seperti dalam ingatannya, rumah-rumah sederhana dengan cat yang mulai memudar, jalanan sempit dengan pot-pot tanaman di setiap teras.
Ryan berjalan perlahan, mengikuti ingatan yang tertanam dalam di benaknya. Setiap sudut, setiap belokan, semua terasa begitu akrab.
Ketika dia membelok di ujung gang, matanya menangkap sebuah rumah dengan pagar besi rendah. Rumahnya.
Di halaman depan, seorang wanita paruh baya berambut putih dengan punggung sedikit bungkuk sedang menyapu dedaunan yang berserakan.
Ryan berhenti di tempatnya, kurang dari sepuluh meter dari wanita itu. Dadanya terasa sesak. Tenggorokannya tercekat.
"Ibu..." suaranya keluar sangat serak, hampir seperti bisikan.
Wanita paruh baya itu secara naluriah mendongak. Awalnya terkejut, lalu sapunya terlepas dari tangannya dan jatuh ke tanah dengan bunyi keras. Dia menggosok matanya seolah tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Ryan... Ryanku?"
Itu adalah ibu Ryan, Wulan.
GEDEBUK!
Ryan berlutut dengan berat di tanah yang masih basah oleh embun pagi, lalu merangkak selangkah demi selangkah menuju Wulan. Hidungnya terasa perih, matanya memanas.
"Ibu, putramu telah durhaka, membuatmu khawatir selama lima tahun!"
"Ryanku, kenapa kau baru pulang sekarang!" Wulan berlari kecil menghampirinya, suaranya bergetar.
Ibu dan anak itu berpelukan sambil menangis tersedu-sedu. Lima tahun penantian, lima tahun kekhawatiran, semua tumpah dalam pelukan itu.
"Anakku, ke mana kau pergi tanpa menelepon? Tak ada tanda-tanda kau masih hidup, tak ada mayat kalau kau meninggal. Tahukah kau betapa sedihnya ayah dan ibu selama bertahun-tahun ini..." Wulan mengusap kepala Ryan dengan tangan gemetar.
"Bu, putramu pergi ke tempat yang sangat jauh dan tidak bisa menghubungi Ibu. Tidak ada satu hari pun aku tidak merindukanmu," kata Ryan, matanya memerah.
"Senang kau kembali, senang kau kembali. Jangan bicarakan masa lalu lagi!" Wulan menyeka air matanya, lalu menarik Ryan berdiri. "Ayo, kita masuk. Aku akan menelepon ayahmu sekarang, dia pasti akan sangat senang!"
Wulan menggandeng tangan Ryan yang kotor dan berdebu, membimbingnya masuk ke rumah. Sambil berjalan, dia tidak berhenti menatap wajah putranya, seolah takut Ryan akan menghilang lagi jika dia berkedip.
Sesampainya di dalam, Wulan langsung meraih telepon dan menghubungi ayah Ryan dengan suara bergetar penuh kegembiraan.
Ryan diam-diam melihat sekeliling rumah. Semuanya masih sama. Sofa lusuh di ruang tamu, televisi kecil di sudut ruangan, foto-foto keluarga di dinding. Tapi ada sesuatu yang berbeda, sekarang ada mainan anak-anak berserakan di lantai, sepatu kecil di rak sepatu.
Tepat saat Ryan sedang memperhatikan mainan-mainan itu, terdengar suara tangisan dari arah pintu.
"Nenek! Nenek!"
Seorang gadis kecil berusia empat atau lima tahun berlari masuk dari luar sambil menangis meraung-raung, pipinya basah oleh air mata.
"Nenek, tetangga sebelah rumah menggangguku lagi!"
Gadis kecil itu memiliki dua kepang yang diikat tinggi, memperlihatkan lengannya yang putih seperti akar teratai. Bulu matanya yang panjang terus berkedip, membuatnya tampak seperti boneka porselen yang lembut. Namun, wajah kecilnya saat ini tampak cemberut, penuh kesedihan.
Ryan terpaku menatap gadis kecil itu. Nenek? Dia memanggil ibunya "nenek"?
Pertanyaan besar muncul di benak Ryan, siapa anak ini?
Marla jadi salah tingkah dan tidak memberikan jawaban.“Jui, mau tambah lagi nggak?” sedikit kesempatan saat melihat piring anaknya sudah kosong.“Mmm, Aku mau yang itu, Ma!” tunjuk Jui menunjuk ayam goreng. Marla segera mengambilkan dan gadis kecil itu memakannya dengan lahap.Mereka pun mulai larut dengan makannya.Richard terus menatapnya. Marla makan tidak bersemangat. Dia hanya makan beberapa suap. Beberapa kali saat dia ingin mengambilkan makanan untuk Jui, Richard seolah dengan sengaja mengambil makanan yang sama.Kakaknya sedang meminta perhatian.Namun, Marla memang masih belum nyaman dengan pertemuan yang dianggapnya mendadak.Ascar harus memberikan momen berdua. Setelah makan, dia segera mengajak Jui untuk bermain bersama mereka. Membiarkan meja kotor dan berantakan untuk dibersihkan oleh kakaknya juga Marla.Mau tidak mau Marla dan Richard merapikan bersama.Richard terus memepet kemanapun gadis nya pergi. Apalagi dia sudah merasa ada lampu hijau yang diberikan Jui. Pa
“Kau benar—benar tidak mengingatku?” Sebastian tidak sabar dia langsung mengeluarkan suaranya.Marla menggeleng perlahan.“Aku, Sebastian Bernard, pengantin kecilnya Erika. Bukankah kamu dulu sering meledek ku,” ucapnya. Dia sedang berusaha mengingatkan Marla.Namun, wajahnya masih kebingungan.“Hah, benar—benar ya. ternyata Aku orang yang mudah dilupakan,” Sebastian merasa kecewa karena Marla juga tidak mengingatnya.Sebastian melipat kedua tangannya di dada. Sementara Marla melirik Erika meminta bantuannya.“Ah, maafkan Aku, Aku benar—benar lupa. Bagaimana kabarmu?” meski belum sepenuhnya mengingat, Marla tidak ingin membuatnya kecewa lagi. Dia mengulurkan tangan untuk meminta maaf.Tapi, Sebastian malah menariknya ke dalam pelukan.“Kamu benar—benar nggak berubah. Masih saja pelupa seperti dulu,” ejek Sebastian, mengendurkan pelukannya, mencium kening dan mengusap rambut Marla.“Maaf, tadi Aku beneran lupa. Sedang apa kau disini? Ah atau jangan bilang kamu beneran datang untuk me
“Aku rasa, sejak dia kembali dari perjalanan kami waktu itu. Sikapnya mulai berubah. Aku mendengar lagi dia mengoceh kalau dia sudah lelah dan ingin kembali bersama Jodhy.”“Padahal aku benar—benar yakin, dia sudah lama sekali semenjak bertemu Jui, dia nggak pernah mengatakan hal tersebut.” Suara Erika bergetar. Mengeluarkan semua uneg—uneg yang mengganggunya.Richard langsung mengerti dengan pembicaraan tersebut. Dia merasa bersalah. Dia merasa perubahannya kali ini penyebabnya adalah karena dirinya.Guntur besar berbunyi dan dari kamar Jui terdengar tangisan juga panggilannya untuk Marla. Pelayan berlari ke kamar untuk menenangkannya.Namun, suara bantingan pintu pun terdengar keras. Dia melihat Marla keluar kamar. Tatapan matanya kosong. Dia terlihat mondar—mandir di ruangan seperti mencari sesuatu.Lalu, setelah mendapatkan apa yang dia cari, dia berlari keluar rumah.“Marla, kamu mau kemana? Diluar masih hujan!” teriak Erika panik. Dia ikutan berlari dan menarik tangannya.“Kamu
Jeep Ascar berhenti di sebuah rumah mungil bercat putih. Pemandangan menyejukan mata sudah menyapa mereka. Pagar kayu berwarna putih dengan pekarangan bunga mini sudah menyambut mereka.“Kak Chard, kami tinggal dulu. Hubungi Aku kalau kau memang sudah selesai,” ucap Ascar.Namun, sang kakak masih terhanyut dengan lamunan.Ascar tahu, ini momen penting untuk kakaknya. Dia tidak ingin mengganggu. Sudah sangat jelas, kakaknya menantikan ini dari lima tahun lalu.Kakaknya hanya mengangguk. Dan setelah persetujuan itu, Ascar baru membawa Erika dan Jui pergi bersamanya.Dia sudah mendengar cerita dari Erika. Kalau suasana hatinya sedang kalut seperti itu, Erika akan membawa Jui ke panti. Membiarkannya tenang dulu.Telinga Richard mendengar alunan piano yang sedang dimainkan. Kakinya mulai melangkah jalan setapak yang dibuat dengan batu kecil terhampar menuju pintu rumahnya.Dia hampir saja melupakan alunan indah itu. Dia membencinya karena tidak ingin mengingat hal yang menyakitkan. Terny
Samar terdengar suara ketukan pintu. Gadis bersurai gelombang itu menggeliat, telinganya mulai mencari suara. Marla melompat turun dari ranjang dan menghampiri pintu. Diambang pintu, terlihat Ester sudah berdiri dan tatapannya langsung beralih pada gadis bersurai gelombang itu.“Apa kau melupakan p
Gadis bersurai gelombang itu hanya bisa memandangi jalan yang tidak dikenalnya. Hingga mobil tadi memasuki sebuah gerbang dengan pagar yang menjulang tinggi. Perlahan mobil tadi mulai memasuki sebuah pekarangan yang sangat luas.Deru nafasnya mungkin saja terdengar jelas di telinga wanita disamping
"Marla!" Teriak seorang gadis dengan surai panjang berlari tergesa menghampiri gadis bersurai gelombang. Gadis itu sedang asik bermain ayunan di taman belakang.“Ada apa, Erika?” gadis itu berkata dengan kedua tangannya menggerakan ayunan. Tetap tidak mengubah posisinya, terus bermain dengan ayun
"Nyonya, saya mohon jangan bakar, Nyonya!” gadis itu merengek, berlutut dan memegang kakinya. Tetap saja tidak ada reaksi darinya, nyonya besar seolah tidak peduli dengan rengekan Marla.“Saya benar-benar minta maaf, Nyonya. Saya berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Saya mohon maafkan saya, Nyon
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.