แชร์

183. Suami?

ผู้เขียน: MyMelody
last update วันที่เผยแพร่: 2026-07-23 03:53:07

Sementara di luar sana, di bawah naungan malam yang kian larut, pria bertopeng yang baru saja melompati tembok beton itu berlari menyusuri gang-gang sempit pemukiman elite. Ia melepaskan topengnya yang telah basah oleh darah dari hidungnya yang patah akibat sundulan Gabriel, lalu membuangnya ke dalam tong sampah besi bersama belati yang tersisa.

Sambil menahan sakit yang membakar, jemarinya yang gemetar meraba saku celana hitamnya, menarik sebuah burn-phone—ponsel sekali pakai yang khusus ia gu
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Cinta dalam Rahim Sang Madu   186. Teror yang Mulai Berjalan

    Natalia berdiri di ruang tamu. Rumah mewah itu tampak sepi dan sunyi, hanya diterangi lampu temaram di sudut ruangan. Tampaknya para asisten rumah tangganya sudah berada di alam mimpi.Dibukanya lagi pesan yang sudah terkirim ke nomor Grace. Walaupun belum pernah hamil, Natalia tahu betul bagaimana kondisi psikologis wanita berbadan dua. Satu saja benih ketakutan yang ditanam di saat yang tepat akan berkembang menjadi kepanikan hebat.Ketakutan itu akan berubah menjadi paranoia, memicu stres berat, meningkatkan tekanan darah, dan pada akhirnya ... rahim Grace melemah dan tidak akan sanggup menahan beban guncangan emosional tersebut."Kamu ingin menjadi pahlawan untuknya malam ini, Gabriel?" bisik Natalia lirih pada bayangan suaminya di dalam benaknya. "Lakukanlah. Peluk dia sesuka hatimu malam ini. Tapi kamu tidak akan bisa berada di sampingnya setiap jam, setiap menit, dan setiap detik.".Natalia melangkah melintasi aula utama yang megah. Tanpa kehadiran Gabriel, rumah ini terasa beg

  • Cinta dalam Rahim Sang Madu   185. Sandiwara yang Sempurna

    "Hmm, pesan itu akan menjadi teror tak kasat mata," bisik Natalia dingin. Setiap kali Grace melihat ponselnya, atau ada suara asing di luar jendela, Grace akan teringat pada ancaman itu sampai stres tinggi mengguncang kesehatannya dan memicu kontraksi fatal.'Aku akan lihat sampai seberapa kuat dia bertahan terhadap teror yang aku siapkan.'Natalia duduk beberapa saat sebelum akhirnya mengambil keputusan lain. Untuk memastikan Gabriel tidak mencurigainya sama sekali, Natalia menyimpan ponsel sekali pakai itu ke tempat paling dalam di tas kecilnya, lalu membuka ponsel pribadinya. Ia mendial nomor Gabriel.Sambil menunggu sambungan diangkat, Natalia mengubah raut wajah dan nada suaranya secara drastis, dari sosok wanita berdarah dingin menjadi seorang istri manis, manja, dan sama sekali tidak tahu apa-apa.Nada dering ketiga baru disambungkan."Halo, Natalia?" suara Gabriel terdengar di seberang sana. Suaranya serak, terengah-engah, dan ada jeda kecanggungan yang sangat jelas."Sayang .

  • Cinta dalam Rahim Sang Madu   184. Teror

    "S-suami? Maksud kamu?""Nyonya pernah bilang sama aku kalau dia single, bukan?"Pertanyaan itu meluncur dingin, memutus seluruh rentetan amarah Natalia seketika. Ruangan privat itu mendadak hening mencengkeram, hanya menyisakan deru napas Natalia yang tertahan di tenggorokan."Siapa yang bersama dia saat itu?" tanya Natalia gugup."Aku tak tahu, tapi dia memanggil pria itu dengan nama 'Gabriel.'"Mata Natalia melebar sempurna. Bibirnya yang beroleskan lipstik merah menyala sedikit terbuka, tapi tidak ada satu kata pun yang sanggup keluar dari mulutnya.Rasa tidak percaya, kecemburuan yang membakar, dan kenyataan pahit bahwa suaminya, Gabriel, ternyata menginap dan masih terus memberikan nafkan batin pada wanita sewaan itu, menghantam batin Natalia jauh lebih menyakitkan daripada kegagalan rencana pembunuhan itu sendiri."Gabriel ... ada di sana?" gumam Natalia pelan, hampir seperti bisikan tak percaya. Wajahnya yang tegar mendadak runtuh, menyisakan kekosongan yang memyedihkan di bal

  • Cinta dalam Rahim Sang Madu   183. Suami?

    Sementara di luar sana, di bawah naungan malam yang kian larut, pria bertopeng yang baru saja melompati tembok beton itu berlari menyusuri gang-gang sempit pemukiman elite. Ia melepaskan topengnya yang telah basah oleh darah dari hidungnya yang patah akibat sundulan Gabriel, lalu membuangnya ke dalam tong sampah besi bersama belati yang tersisa.Sambil menahan sakit yang membakar, jemarinya yang gemetar meraba saku celana hitamnya, menarik sebuah burn-phone—ponsel sekali pakai yang khusus ia gunakan untuk pekerjaan kotor ini.Ia mendial satu-satunya nomor yang tersimpan di memori gawai tersebut. Dan hanya dua kali nada dering bergema, suara seorang wanita yang anggun, dingin, dan tanpa celah menyapa dari seberang sambungan."Bagaimana?""Saya perlu bertemu sekarang," jawab pria itu dengan suara serak, terengah-engah menahan rasa sakit di dadanya. "Di kafe biasa. Di ruang privat bagian belakang."Ada jeda sejenak di seberang sana. Suara helaan napas yang tidak sabar dan sarat akan tek

  • Cinta dalam Rahim Sang Madu   182. Aku Akan Menjagamu

    Gabriel melompat melewati jendela yang terbuka dan menutupnya dari luar. Apa pun yang terjadi, dia harus mengejar pria yang telah menyerang Grace dan anak-anaknya.Di luar kamar, angin malam menyengat kulit Gabriel yang bertelanjang dada dan bersimbah peluh. Tanpa memedulikan perih di lengan kirinya yang terus mengucurkan darah, Gabriel memburu bayangan hitam yang berlari kencang menembus deretan pohon palem di taman samping."Tolong! Ada penyusup! Tutup semua akses keluar!" teriak Gabriel memecah kesunyian malam, suaranya menggema tegas.Dua orang satpam penjaga rumah yang menyadari keributan itu langsung berlari keluar dari pos dengan sorot lampu senter berdaya tinggi. Cahaya putih membelah kegelapan, menangkap siluet pria serba hitam yang sedang berlari menuju dinding pembatas bagian barat."Pak Gabriel! Lewat kanan, Pak! Kita jebak dia di sudut benteng!" teriak salah satu satpam sambil memotong jalur menuju lorong gazebo."Aku cuma butuh satu orang saja, salah satu dari kalian har

  • Cinta dalam Rahim Sang Madu   181. Jendela

    Sisa kehangatan pasca-gairah yang baru saja mereda masih tertinggal di kulitku, memberikan rasa aman semu yang teramat nyaman. Aku menyandarkan kepala di dada bidang Gabriel, mendengarkan detak jantungnya yang berdegup teratur di bawah kulitnya yang hangat.Jemari pria itu bergerak lambat, menyusuri helai rambutku dengan kelembutan yang membuatku sempat lupa pada statusku yang hanya seorang wanita yang rahimnya dijadikan mesin pencetak anak. Di bawah temaram lampu tidur yang kuning redup, kamar di rumah pemberian Ibu Ariani ini terasa seperti tempat persembunyian yang aman dari kejamnya dunia luar.Gabriel menunduk, mengecup keningku pelan sebelum tangannya berpindah mengelus perut buncitku. "Kamu lagi mikir apa, Sayang?" bisiknya parau.Aku menghela napas pendek, masih terasa asing bagiku mendengar Gabriel memanggilku dengan sebutan 'Sayang.' Aku lalu menaruh telapak tanganku di atas punggung tangannya."Aku hanya takut. Bagaimana kalau dunia luar akan menghinaku saat rahasia kita di

  • Cinta dalam Rahim Sang Madu   147. Pucat

    “Loh, Non. Biar Bibik saja yang masak,” protes Bik Mirna yang baru saja selesai melakukan rutinitas seperti biasanya, yaitu menyiram bunga di taman.“Tidak apa-apa, Bik. Santai saja. Aku juga mau masak untuk mama kok.”“Tapi kan biar saya saja yang masakin, Non. Nanti tinggal Nona Grace bilang, kalau

  • Cinta dalam Rahim Sang Madu   146. Hampa

    “Ingat, siapa pun yang kamu pilih nantinya, aku sudah tidak peduli lagi, tapi apa pun yang terjadi, aku akan mempertahankan apa yang sudah menjadi milikku.”Tanpa menunggu jawaban, Natalia memutar tubuhnya dan melangkah pergi, meninggalkan Gabriel yang duduk terpaku di tempat, dengan wajah yang kini

  • Cinta dalam Rahim Sang Madu   144. Pilih Siapa?

    “Mama memintaku untuk ….”“Untuk apa, Gabriel?”Natalia sebenarnya sudah tahu apa yang diminta oleh mama mertuanya lewat rekaman yang dikirim Angga. Ternyata, sepanjang hari ini, Angga, paparazzi sewaannya, malah sibuk dengan mengikuti Gabriel yang mengunjungi mamanya. Jujur, Ibu Ariani selalu berpena

  • Cinta dalam Rahim Sang Madu   142. Loh?

    “Apa pun yang terjadi, kamu harus mengambil keputusan dan mengatakan semua ini kepada istrimu," terdengar ketegasan dalam nada bicara wanita itu. Angga menahan napas, menunggu jawaban dari Gabriel untuk wanita itu.“Baiklah, aku akan mengatakannya hari ini.”“Janji loh, ya. Jangan ditunda-tunda lagi.

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status