เข้าสู่ระบบ"Aku tahu, Grace. Aku tahu aku adalah pria paling berdosa di dunia ini karena menginginkan dua wanita sekaligus di dalam hidupku," sahut Gabriel dengan nada suara yang bergetar rapuh.Aku menghapus air mataku yang tak berhenti mengalir. Kenapa harus sesakit ini Tuhan?Gabriel mencondongkan wajahnya, menyatukan kening kami hingga aku bisa merasakan kehangatan fisiknya yang memabukkan."Tapi saat aku bersamamu ... melihat anak-anak kita tumbuh di dalam tubuhmu ... aku tidak bisa menahan diriku untuk tidak mencintaimu."Sebelum aku sempat mencerna arti dari kalimat terakhirnya, Gabriel telah menyatukan bibir kami dalam sebuah ciuman yang lembut, dalam, dan sarat akan keputusasaan yang teramat sangat.Aku melenguh pelan, meremas kemeja kerjanya dengan erat seiring dengan gelombang gairah terlarang yang kembali mengambil alih kesadaranku sepenuhnya. Hormon dalam tubuhku melonjak naik, meraung haus akan sentuhan pria itu.Di dalam keremangan malam yang mulai merayap, kami kembali saling mem
Gabriel menatapku dengan intensitas emosi yang teramat dalam. Binar matanya yang dulu selalu berusaha menyembunyikan perasaannya di balik topeng profesionalisme perjanjian kami, kini hilang total.Ia bangkit dari posisinya yang berlutut, lalu dengan gerakan cepat yang tidak bisa kubantah, duduk di sampingku dan merengkuh bahu ringkihku erat-erat ke dalam pelukannya yang kokoh."Lepaskan aku, Gabriel! Lepaskan!" aku memberontak, memukul dada bidangnya berulang kali dengan sisa kekuatanku. Namun, dekapan Gabriel justru semakin mengunci tubuhku, seolah ia tidak akan membiarkanku pergi sejengkal pun dari hidupnya."Aku tidak akan pernah menganggapmu seperti itu, Grace! Demi Tuhan, hentikan kata-kata kejam itu!" bisik Gabriel parau tepat di telingaku, suaranya bergetar hebat menahan luapan emosi yang akhirnya pecah."Semua ini hanya menyiksaku, Gabriel.""Kamu pikir aku tidak tersiksa? Kamu kira aku bisa dengan mudah melihatmu menanggung ini semua sendirian di bawah bayang-bayang rahasia i
Panas terik sisa kemarau panjang masih menyengat Jakarta sore itu saat aki tiba di rumah.“Mau makan malam apa untuk hari ini, Nona Grace?” tanya asisten rumah tangga saat aku hendak mengambil air dingin dari kulkas.“Aku pengen ayam goreng mentega, Bik.”“Baik, Nona. Saya siapkan dulu.Aku hanya mengangguk singkat dan berlalu.Udara terasa begitu kering dan lengket, meninggalkan rasa gerah yang mengimpit dada bahkan di dalam ruangan berpendingin sekalipun. Ayunan kakiku membawaku ke ruang tamu. Cahaya matahari senja yang berwarna oranye menerobos masuk melalui celah-celah gorden yang setengah terbuka, menciptakan garis-garis bayangan panjang yang menyerupai jeruji besi di atas lantai. Sengaja tak kunyalakan lampu.Aku duduk meringkuk di atas sofa beludru kelabu, memeluk kedua lututku erat-erat. Di balik kain blus tipis yang kupakai, ada detak kehidupan ganda yang bergerak halus. Bayi-bayi kembar yang bertumbuh, kuat dan sehat.“Aku sayang kalian,” bisikku pelan, tanganku membelai
"Nit, aku sedang lelah. Bisakah kita bicara lain kali saja? Aku harus segera pulang.""Grace, aku sahabatmu. Kenapa kamu harus menghindar seperti ini?"Aku berdiri gelisah di depan Anita. Jujur, dia adalah satu-satunya sahabat yang masih terus mencariku sejak aku menghilang dari peredaran dunia karena aib yang sedang aku tanggung."Kenapa kamu menghilang begitu saja, Grace? Kamu tidak tahu bagaimana aku seperti orang gilamencarimu ke sana ke mari?""Aku bukan menghindar, Anita. Tapi keadaan yang memaksaku seperti ini. Sekarang, biarkan aku pulang.""Pulang ke mana, Grace? Ke rumah mewah di kawasan elit yang kudengar dari desas-desus teman-teman yang lain? Atau pulang ke pelukan pria yang sudah membuatmu seperti ini?" Anita menjatuhkan pandangannya tepat ke arah perutku yang kini terlihat jelas tanpa penghalang."Teman-teman yang mana yang kamu maksud?" tanyaku dengan nada tajam. Perasaan selama ini, aku tidak pernah berhubungan dengan siapa pun. Semua aku tutupi sendiri. Bahkan aku b
Mataku membelalak melihat siapa yang gerangan wanita itu. Langkah kakinya yang tadinya bersemangat mendadak membeku di ambang pintu. Senyuman hangat yang sempat terbit di bibirnya berangsur pias saat matanya menangkap siluet tubuhku yang duduk di samping Mama, dengan sisa-sisa air mata yang masih membasahi pipi."Grace? Kamu benaran Grace, kan?"Suara itu memecah keheningan yang mencekam. Bukan Natalia. Suara ini milik Anita, sahabat karibku sejak masa kuliah yang berbulan-bulan ini pesannya hanya kubaca lewat baris notifikasi gawai tanpa pernah sekalipun kubalas."Anita?" tanyaku tak percaya. Masih hangat di pikiranku saat bertemu Anita di lobby rumah sakit. Aku janji padanya untuk mengirim pesan atau bertemu hanya sekedar untuk makan siang, tapi tidak pernah aku lakukan karena aku terlalu malu dengan kondisiku saat ini.Aku sengaja memutus kontak, menghilang bak ditelan bumi demi menenggelamkan diri dalam pusaran kontrak rahim yang tabu ini. Namun, takdir rupanya memiliki selera hum
Aku mendongak perlahan, dan pemandangan di depanku seketika meremukkan hatiku. Mama tidak marah. Beliau justru terduduk lemas di lantai, menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan yang kurus, menangis sejadi-jadinya hingga bahunya terguncang hebat. Suara tangisan Mama terdengar begitu sarat akan penyesalan, penderitaan, dan rasa bersalah yang teramat dalam."Ya Tuhan ... Maafkan kami, Grace ... Maafkan Mama dan Papa," ratap Mama di sela-sela isak tangisnya yang memilukan. Beliau memukul dadanya sendiri berulang kali, seolah mencoba meredakan rasa sesak yang menghantamnya. "Kami orang tua yang tidak berguna, sudah buat anak perempuan kami satu-satunya harus mengorbankan tubuh dan masa depannya seperti ini.""Mama, tidak, please, jangan bilang seperti itu, Ma," sahutku panik, ikut menjatuhkan diri di atas lantai dingin."Bagaimana bisa Mama tidak meratap, Nak?!" seru Mama, menatapku dengan mata yang sembab dan penuh dengan air mata penyesalan. "Ma, aku rela lakuin apa saja untuk Ma
Pintu rumah terbuka bahkan sebelum Gabriel sempat memasukkan kunci.Natalia berdiri di ambang pintu dengan wajah kesal dan terlihat sudah menahan emosi selama beberapa waktu. Rambutnya sedikit berantakan, cardigan tipis melingkari tubuhnya, dan matanya langsung mencari sesuatu di wajah Gabriel.“Ka
Suara langkah kaki berderap menggema di lorong sempit itu. Denting logam beradu, disusul instruksi tegas yang dilontarkan dengan nada terburu-buru."Kita harus menemukan posisi Grace sebelum terlambat."Suara Gabriel bergetar menahan emosi yang bergejolak dalam dada. Kesabarannya sudah menipis."He
Aku menahan napas saat layar yang tadinya terkunci, kini terbuka. Dengan tergesa-gesa aku mengetik nomor ponsel Gabriel dan menunggu agar pria itu segera menjawab panggilanku.“Please, angkat panggilanku, Gabriel,” ucapku penuh harap sambil menggigit bibir bawahku dengan kuat. Namun, sampai nada sa
Klik, terdengar bunyi kunci diputar dengan pelan dari arah pintu. Aku berdiri tegang dan menunggu dengan waspada, siapa pun yang masuk lewat pintu tersebut.'Apa yang harus aku lakukan?' pikirku panik. Mataku dengan cepat menjelajahi ruangan yang cukup luas itu, lalu pandanganku tertumpu pada sebua







