Teilen

Bab 3

Anonima
Aku memandangi hadiah-hadiah yang ada di hadapanku, lalu memungut sebuah boneka yang terjatuh akibat hantaman pintu yang ditutup Andrew. Aku pun terdiam untuk waktu yang lama.

Ibuku adalah seorang penganut paham anti menikah. Akan tetapi, dia sangat meyakini bahwa seorang wanita harus punya anak sendiri. Itulah sebabnya aku lahir.

Saat aku berusia 16 tahun, Ibu pindah ke luar negeri demi mengejar karier dan cintanya, sementara aku dititipkan kepada nenek Keluarga Bramastya.

Saat pertama kali tiba di kediaman Keluarga Bramastya, aku tenggelam dalam kesedihan karena merasa dibuang. Pada saat itulah, Andrew mendekatiku sambil membawa boneka ini dan menemaniku mengobrol.

Boneka itu melambangkan awal mula hubunganku dengan Andrew.

Aku mengemas boneka itu beserta barang-barang lainnya ke dalam kotak. Saat melangkah keluar rumah, aku membuang semuanya ke tempat sampah, bersama dengan seluruh rasa tidak rela yang ada di hatiku.

"Cynthia, kamu benar-benar sudah yakin dengan keputusanmu?" Nenek menatap surat cerai di atas meja, lalu menggenggam tanganku lebih erat.

"Aku sudah yakin, Nek. Lagian, sejak awal aku cuma menempati posisi yang bukan milikku. Yang kulakukan sekarang cuma mengembalikan semuanya ke jalurnya. Selain itu, selama bertahun-tahun ini, Andrew juga menyimpan dendam padaku di dalam hatinya." Aku menatap Nenek yang matanya mulai berkaca-kaca. Ada rasa bersalah yang menyelinap di hatiku.

Nenek memang begitu menyayangiku.

"Jelas-jelas empat tahun yang lalu Andrew sudah mulai tergerak olehmu. Tapi, tepat di saat itu, Kayra malah kembali. Ini …. Huh, Neneklah yang bersalah kepadamu. Selama bertahun-tahun ini, Nenek sudah membuatmu menderita."

Itu benar. Dahulu, aku berusaha keras selama tiga tahun, hingga akhirnya berhasil meluluhkan hati Andrew. Aku pun sempat mencicipi kehidupan pernikahan bahagia yang singkat bersamanya.

Namun, tepat di saat aku mengira semuanya mulai membaik, Kayra kembali. Semuanya langsung berakhir. Sikap Andrew kepadaku juga menjadi makin dingin.

Setelah berkali-kali meyakinkan Nenek bahwa aku pasti akan kembali menjenguknya, barulah aku bisa meninggalkan kediaman lama itu, diiringi tatapan Nenek yang begitu berat melepasku.

Tidak lama setelah aku meninggalkan kediaman lama, aku melihat Andrew.

"Besok hari pernikahan. Jadi, malam ini aku akan pulang, sekalian menjemputmu." Belum sempat aku bicara, Andrew sudah terlebih dahulu memberikan penjelasan.

Aku mengangguk tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Di sepanjang perjalanan pulang, hanya ada keheningan. Andrew sepertinya tidak tahan dengan suasana seperti itu dan terlihat agak gusar.

Tiba-tiba saja, Andrew angkat bicara. "Gimana keadaan Nenek?"

"Nenek baik-baik aja. Kalau ada waktu, sering-seringlah pulang untuk menjenguknya."

Setelah percakapan singkat itu, suasana kembali hening. Kali ini, Andrew tidak lagi berbicara.

Setibanya di rumah, Andrew langsung ke ruang kerja dan menutup rapat pintunya.

Entah ini hanya perasaanku saja atau bukan, tetapi sepertinya Andrew sedang marah.

Namun, pikiran itu hanya berlangsung sebentar. Lagi pula, Andrew memang tidak pernah bersikap ramah kepadaku.

Setelah selesai mandi, aku keluar dan ingin berpamitan kepada Andrew. Namun, malah dia yang terlebih dahulu mencariku.

"Kayra kayaknya demam. Tubuhnya agak lemah beberapa hari ini. Mungkin, dia nggak bisa menanganinya …. Aku ke sana sebentar. Nanti aku kembali."

Entah mengapa, saat Andrew mengatakan hal itu, untuk pertama kalinya terdengar nada bersalah dan keinginan untuk meminta izin dariku.

Aku menelan kembali kata-kata yang ingin kuucapkan, lalu memaksakan diri untuk tersenyum sambil menganggukkan kepala. "Oke, hati-hati di jalan."

Ucapanku itu jelas membuat Andrew merasa sangat lega.

"Tenang saja, aku akan segera kembali. Karena aku sudah janji akan datang tepat waktu di pernikahan besok, aku pasti akan datang." Sambil berkata seperti itu, Andrew dengan cepat menyambar jaketnya dan mengenakan sepatunya. Kata-katanya bergema tepat saat pintu tertutup rapat.

Aku hanya bisa tersenyum pahit. Malam ini, dia tidak akan kembali lagi.

Padahal aku ingin berpamitan langsung kepadanya. Namun, sepertinya kesempatan itu sudah tidak ada lagi.

...

Keesokan harinya.

Aku tiba di lokasi pernikahan lebih awal dan mengenakan gaun pengantin. Wajahku sudah dirias dan rambutku juga sudah ditata.

Setelah menunggu cukup lama dan waktunya sudah hampir tiba, Andrew masih belum juga terlihat.

"Bu Cynthia, bagaimana kalau Anda mencoba menelepon Pak Andrew?" Kali ini, yang menemaniku masih tetap Bu Ratih.

Melihat raut cemas di mata Bu Ratih, aku tidak tega untuk menolaknya.

Baru saja aku mengambil ponsel untuk menghubungi Andrew, tiba-tiba pesan dari Kayra muncul di layar.

Ini adalah pemberitahuan unggahan di media sosial, yang sengaja menandai akunku.

Di foto itu, Kayra mengenakan perhiasan yang melambangkan status menantu Keluarga Bramastya. Sementara, Andrew tampak tertidur di sofa di belakangnya.

Di bawah foto tersebut terdapat keterangan: [Hari terbaik, orang yang paling kucintai, dan aku yang paling bahagia!]

Meskipun aku sudah memilih untuk merelakannya, hatiku tetap terasa perih dan sakit saat melihat unggahan itu.

Bagaimanapun, aku benar-benar mencintai Andrew selama bertahun-tahun.

Aku menyimpan ponselku, memaksakan diri untuk tersenyum dan berkata kepada Bu Ratih, "Nggak apa-apa. Nggak perlu lagi menunggunya. Aku bisa melakukannya sendiri."

"Bu Cynthia …." Bu Ratih menatapku dengan iba.

"Nggak apa-apa, ayo pergi." Aku menarik napas dalam-dalam, mengangkat gaun pengantinku dan berjalan menuju tempat acara.

Sepanjang perjalanan singkat selama beberapa menit dari ruang rias menuju tempat acara, terlintas kembali di benakku semua kenangan yang kulalui bersama Andrew selama bertahun-tahun ini.

Kupikir akan sangat sulit untuk meninggalkan Andrew. Namun, setelah benar-benar melangkah pergi, aku menyadari bahwa sebenarnya tidak ada orang yang tidak bisa hidup hanya karena ditinggalkan oleh orang lain.

Seorang diri, aku menyelesaikan seluruh prosesi pernikahan dengan anggun dan bermartabat.

Hingga acara berakhir, Andrew tetap tidak menampakkan batang hidungnya.

Benar saja, di pernikahan yang ke-13 ini, dia kembali ingkar janji.

Setelah acara pernikahan berakhir, aku langsung naik taksi menuju bandara.

Sekalian, aku mengirimkan pesan yang sudah lama kusiapkan kepada Andrew: [Surat perjanjian cerai sudah kuserahkan pada Nenek. Setelah hari ini, semuanya akan kembali ke jalurnya. Semoga kamu bahagia, selamat tinggal selamanya.]

Tanpa menunggu balasan dari Andrew, aku langsung menghapus kontaknya dan memblokirnya.

Sebelum naik pesawat, aku menghubungi layanan pelanggan untuk menonaktifkan kartu ponselku.

Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen

Aktuellstes Kapitel

  • Cintaku Habis di Resepsi ke-13   Bab 9

    Namaku Andrew Bramastya.Aku pernah punya istri, namanya Cynthia Varischa.Cynthia orang yang sangat baik dan luar biasa. Aku begitu mencintainya.Waktu pertama kali mengenalnya, aku berumur 17 tahun dan dia 16 tahun.Waktu itu, Cynthia tampak seperti baru saja menangis. Matanya merah dan hidungnya juga merah.Sebenarnya, aku tidak suka ada orang asing di rumah. Namun, Varischa sungguh cantik. Aku pun merasa punya adik seperti dia juga tidak buruk.Akan tetapi, Cynthia sering melamun. Dia terlihat sangat sedih.Nenek bilang, Cynthia merindukan ibunya.Jadi, aku mulai mengajaknya bermain dan bersenda gurau, agar dia bisa menjadi lebih ceria dan terbuka.Cynthia benar-benar menjadi seperti yang kuharapkan. Bahkan, dia menjadi makin dekat denganku.Sampai saat aku berusia 23 tahun, Kayra putus denganku demi seorang pria asing dan pergi ke luar negeri.Aku mulai terpuruk dan mabuk-mabukan sepanjang hari. Aku merasa sedih atas kepergiannya, sekaligus tidak rela dicampakkan.Sampai akhirnya,

  • Cintaku Habis di Resepsi ke-13   Bab 8

    Kupikir, seiring berjalannya waktu, Andrew akan merelakannya.Namun, tak kusangka, setelah kembali ke tanah air, Andrew perlahan-lahan mengembangkan bisnisnya hingga ke Negara Winola. Bahkan, saat aku mulai kembali mendesain untuk berkarya, Andrew-lah orang pertama yang membeli karya desain terbaruku. Setiap bulan, Andrew selalu menungguku seharian penuh di depan rumahku, dengan membawa bunga dan berbagai hadiah.Setelah berkali-kali membujuknya, tetapi gagal, aku pun tidak peduli lagi. Aku menganggapnya tidak ada.Namun, tak disangka, meski aku tidak peduli, ada orang lain yang peduli.Selama tinggal di Negara Winola, hubunganku dengan Arya menjadi makin akrab. Arya pun makin tidak senang melihat perilaku pantang menyerah yang ditunjukkan oleh Andrew.Hingga akhirnya, pada suatu hari, Arya tidak tahan lagi. Dia segera mengemasi kopernya dan membawaku pergi jalan-jalan ke berbagai tempat.Musim semi pergi ke Negara Tacita yang romantis, musim panas ke Negara Barsha dan saat musim gugur

  • Cintaku Habis di Resepsi ke-13   Bab 7

    "Nggak, nggak, Cynthia. Kasih aku satu kesempatan lagi, ya? Sekali saja." Andrew sepertinya tidak bisa menerima kenyataan. Dia melangkah maju dengan emosional dan mencoba menarikku."Butuh bantuan?"Tepat di saat aku masih tertegun, Arya sudah berdiri di depanku dan melindungiku sepenuhnya di balik punggungnya.Mungkin karena suara Arya yang begitu lembut, aku pun berpikir untuk sesaat, lalu menganggukkan kepala."Pak Andrew, kurasa Cynthia sudah menolaknya dengan sangat jelas. Ada banyak cara untuk membuktikan ketulusan hati. Terus mengejar dan mengganggu, itu cara yang paling buruk."Meski sikap Arya masih terbilang sopan, dari sorot matanya terlihat jelas bahwa dia begitu membenci Andrew."Siapa kamu? Ini urusanku dengan Cynthia. Kamu nggak perlu ikut campur." Andrew menatap Arya lekat-lekat, sementara rasa gelisah yang kuat mulai muncul di dalam hatinya."Aku Arya Prasetya Kusuma. Aku diminta Bibi Alina untuk menjaga Cynthia, agar dia nggak diganggu orang-orang yang nggak jelas." K

  • Cintaku Habis di Resepsi ke-13   Bab 6

    "Sayang, Ibu kenalin ya. Ini anak teman baik Ibu. Masih muda, punya masa depan cerah, ganteng lagi. Pokoknya ratusan kali lebih oke dibanding si Andrew itu. Kita nggak butuh dia, kita bisa dapat yang lebih baik." Ibu menarik pria tampan yang begitu mencuri perhatian di sampingnya itu untuk dikenalkan kepadaku."Halo, aku Arya Prasetya Kusuma.""Halo, aku Cynthia Varischa."Setelah perkenalan singkat, Ibu mencari-cari alasan untuk pergi duluan dan meminta Arya untuk mengantarku pulang.Di perjalanan pulang, aku tidak bisa menahan diri untuk tidak berkali-kali mencuri pandang ke arah Arya.Melihat profil wajah Arya yang hampir sempurna itu, aku pun menghela napas kagum di dalam hati.Ternyata setelah meninggalkan Andrew, masih banyak orang di dunia ini yang jauh lebih hebat darinya.Aku merasa nyaman saat bersama Arya. Jadi, ketika dia mengajakku makan bersama keesokan harinya, aku pun menyetujuinya.Namun, hal yang tidak terduga terjadi. Saat aku sudah siap memenuhi janji untuk bertemu

  • Cintaku Habis di Resepsi ke-13   Bab 5

    Semalam, dia sebenarnya punya kesempatan. Namun, apa yang dia lakukan?Dia malah marah pada Cynthia, bahkan tidak pulang ke rumah demi menemani Kayra.Tidak, bukan hanya tadi malam.Sejak Kayra kembali, dia hampir selalu berada di sisi wanita itu.Setelah Nenek pergi, Andrew menggeledah seluruh rumah. Akan tetapi, dia hanya berhasil menemukan selembar foto yang ada aku di dalamnya.Bahkan, foto itu pun diambil dari akta nikah, satu-satunya fotoku yang tersisa.Andrew memegang foto itu, lalu duduk terpaku di sudut ruangan sepanjang malam.Sepanjang malam itu, banyak sekali kenangan yang melintas di benak Andrew.Saat aku berusia 16 tahun, saat kami pertama kalinya bertemu di kediaman Keluarga Bramastya.Saat itu, aku orang yang pendiam dan tertutup, tenggelam dalam kesedihan.Sementara itu, Andrew begitu ceria dan penuh semangat, seperti matahari kecil yang menerobos masuk ke dalam hidupku.Di awal-awal tahun, Andrew sebenarnya sangat menyukai Cynthia. Dengan adanya adik perempuan yang

  • Cintaku Habis di Resepsi ke-13   Bab 4

    Di lokasi pernikahan.Saat Andrew tiba dengan tergesa-gesa, aku sudah pergi. Hanya ada Bu Ratih dan timnya yang sedang membereskan lokasi."Pak Andrew, pernikahannya sudah selesai. Untuk apa Anda datang ke sini?" Mungkin karena merasa kasihan padaku, Bu Ratih tidak bersikap ramah kepada Andrew."Mana Cynthia? Bukankah dia …." Andrew mengedarkan pandangan ke sekeliling, tetapi tidak menemukan keberadaanku. Hatinya pun makin merasa cemas.Ucapan Andrew terputus oleh notifikasi pesan dariku."Nggak … nggak mungkin. Aku sudah janji akan datang, aku jelas-jelas sudah janji."Andrew menatap isi pesan di ponselnya dan terus menyangkalnya. Dia tidak percaya bahwa semua ini benar-benar terjadi.[Cynthia, aku sudah datang! Trik apa lagi yang sedang kamu mainkan?!] Tangan Andrew gemetar saat mengirimkan pesan itu kepadaku. Namun, kali ini, pesan yang dia kirimkan tidak segera dibalas seperti biasanya dan malah centang satu.Andrew menatap tanda centang satu itu dengan tatapan kosong untuk waktu y

  • Cintaku Habis di Resepsi ke-13   Bab 1

    "Bu Cynthia, Anda yakin semua prosesi dan dekorasi pernikahannya mau dibikin sesederhana mungkin? Benaran, nggak perlu diskusi lagi sama Pak Andrew?"Direktur perencanaan pernikahan itu, berkali-kali mengonfirmasi ulang kepadaku. Dialah yang bertanggung jawab atas 12 rencana pernikahanku sebelumnya

  • Cintaku Habis di Resepsi ke-13   Bab 2

    Saat membicarakan pernikahan yang ke-13, Bu Ratih sang perencana acara, menatapku dengan penuh rasa iba."Bu Cynthia, saat pertama kali Anda dan Pak Andrew datang menemuiku untuk mengurus pernikahan, Anda terlihat begitu ceria dan bahagia. Benar-benar jauh berbeda dengan Anda yang sekarang …."Ya, a

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status