แชร์

Bab 2

ผู้เขียน: Anonima
Saat membicarakan pernikahan yang ke-13, Bu Ratih sang perencana acara, menatapku dengan penuh rasa iba.

"Bu Cynthia, saat pertama kali Anda dan Pak Andrew datang menemuiku untuk mengurus pernikahan, Anda terlihat begitu ceria dan bahagia. Benar-benar jauh berbeda dengan Anda yang sekarang …."

Ya, aku dan Andrew memang pernah memiliki kenangan indah.

Kenangan itulah yang menopangku melewati sakit hati yang datang bertubi-tubi.

Di depan jendela besar itu, tergantung sebuah gaun pengantin yang kupesan khusus saat pernikahan pertamaku dengan Andrew.

Saat memesan gaun itu, aku begitu gembira. Hatiku dipenuhi impian akan kehidupan yang bahagia di masa depan.

Namun, gaun yang dirancang dengan seluruh kerja keras dan perasaanku ini, bahkan tidak sempat melewati satu saja upacara pernikahan yang utuh.

Di rumah yang begitu sunyi ini, meski didekorasi dengan begitu hati-hati, semuanya tetap terasa hampa, sama persis seperti hatiku yang juga terasa kosong.

Setelah selesai membersihkan diri seadanya, aku membuka kembali arsip karyaku yang sudah lama kusimpan.

Melihat karya-karya yang indah dan luar biasa itu satu per satu, hatiku perlahan mulai kembali terasa hangat.

Sebelum menikah dengan Andrew, aku adalah seorang desainer perhiasan yang cukup terkenal di bidang ini.

Namun, sejak menikah dengannya, Andrew bilang tidak suka wanita yang terlalu sibuk. Jadi, aku pun melepaskan karierku dan mencurahkan seluruh hatiku hanya untuknya.

Sekarang, jika dipikir-pikir lagi, ternyata selama bertahun-tahun ini, yang hilang dariku bukan hanya karier, tetapi juga jati diriku sendiri.

Aku ini orang yang tegas. Hanya karena mencintai Andrew, aku berubah menjadi hati-hati dan ragu-ragu.

Dengan penuh kerinduan, aku membelai gaun pengantin yang sudah menemaniku melewati 12 kali rasa sakit hati ini, lalu menghubungi nomor yang sudah sangat kukenal.

"Aku sudah putuskan, aku akan pergi."

Orang di ujung telepon terdiam sejenak. Lalu, dia bicara dengan kegembiraan yang tidak bisa disembunyikan, "Oke. Aku akan segera pesankan tiket untukmu."

Sekitar pukul tiga pagi, aku terbangun oleh rentetan suara notifikasi pesan yang masuk secara terus-menerus.

Baru saja aku mengambil ponsel, belasan hingga puluhan pesan dari Kayra bermunculan. Semuanya berisi foto-foto mesra, video dirinya bersama Andrew, serta sebuah rekaman suara.

Dengan ragu, aku mengeklik dan membuka rekaman suara itu.

"Andrew, ini sudah berapa kali? Kamu benar-benar mau menikah dengan Cynthia?"

"Bicaralah, kenapa? Jangan-jangan kamu sudah jatuh cinta padanya?"

Setelah tidak ada suara selama sesaat, terdengar suara Andrew yang dalam dan serak. "Nggak mungkin."

Andrew menggunakan kata-kata itu untuk menyenangkan Kayra. Dengan kata-kata itu pula, Andrew merangkum segala sesuatu tentang kami.

Meski sudah memutuskan untuk pergi, aku masih begitu terluka oleh kata-kata Andrew itu.

Aku pun mematikan rekaman itu, memutus suara-suara yang makin tidak pantas untuk didengar.

Lagi pula, aku sudah tidak bisa tidur lagi. Jadi, aku langsung bangun dan mulai mengemasi barang-barangku.

Di rumah ini, tidak banyak yang bisa kubawa. Setelah tinggal selama tujuh tahun, ternyata semua barangku cukup dimasukkan ke dalam satu koper saja.

Selesai berkemas, hari sudah hampir fajar.

Saat Andrew pulang, aku baru saja tertidur sebentar di sofa.

Dahulu, tidak peduli kapan pun Andrew pulang, atau apakah dia akan pulang atau tidak, aku akan selalu menunggunya di rumah. Begitu Andrew sampai di depan pintu, aku sudah membuka pintu terlebih dahulu untuk menyambutnya.

Mungkin karena sudah terlalu lama, atau mungkin karena sudah terbiasa.

Kali ini, setelah aku tidak menunggunya, Andrew mengetuk pintu cukup lama.

Begitu aku membuka pintu, langsung terdengar keluhan Andrew. "Apa yang sedang kamu lakukan? Kenapa nggak bukain pintu?"

"Aku baru saja tertidur, sebenarnya kamu juga …." Punya sidik jari rumah ini. Namun, sebelum aku bisa menyelesaikan kata-kataku, Andrew sudah terlebih dahulu memotongnya, "Sudahlah, apa pun yang kamu lakukan …. Untuk apa kamu mengepak barang-barang ini?"

Andrew sedikit tertegun saat melihat berbagai barang pemberiannya untukku berserakan di ruang tamu.

"Oh, hari ini aku mau mengunjungi Nenek di rumah lama. Ada beberapa barang yang sudah nggak muat lagi di rumah ini. Jadi, aku mau bawa sebagian ke sana." Dengan tenang, aku memindahkan barang-barang itu ke samping untuk memberinya jalan.

"Hmm, sampaikan salamku untuk Nenek. Oh ya, Nenek sudah tua. Jangan bicara macam-macam padanya." Nada bicara Andrew tiba-tiba menjadi lembut.

Melihatku mengangguk, Andrew tampak sedikit lega, lalu berjalan menuju ruang kerjanya.

Aku tidak lagi memedulikannya, sibuk membereskan hadiah-hadiah yang dahulu begitu kusayangi itu.

Tak lama kemudian, Andrew keluar sambil membawa dua kotak kado.

Aku mengenali kedua kotak kado itu. Itu adalah dua set perhiasan yang dahulu diberikan Nenek kepadaku. Nenek bilang, perhiasan itu hanya akan diwariskan kepada calon cucu menantunya saja.

Hanya saja, benda itu kemudian diminta kembali oleh Andrew.

Sekarang jika dipikir-pikir, sepertinya benda itu akan diberikan kepada Kayra.

Melihat pandanganku tertuju pada kotak kado itu, Andrew pun menjelaskan kepadaku. Padahal, dia jarang sekali menjelaskan apa pun kepadaku. "Ini, beberapa hari lagi Kayra dan aku ada perjamuan penting. Kayra ingin meminjamnya untuk jaga gengsi. Dia akan mengembalikannya setelah perjamuan selesai."

Aku mengangguk dan menyahut pelan, "Terserah kamu saja." Lagi pula, barang-barang itu memang akan kembali ke pemiliknya.

"Kamu …." Andrew tertegun sejenak. Melihatku yang begitu acuh tak acuh, tiba-tiba saja Andrew merasa sedikit gelisah.

Jika hal ini terjadi sebelumnya, aku pasti akan membuat keributan besar, melarangnya berhubungan dengan Kayra, bahkan membawa-bawa nama Nenek untuk menekannya.

Namun, dua kali ini, aku bersikap begitu tenang dan dingin.

Andrew samar-samar merasa ada yang tidak beres. Namun, dia tidak bisa memastikan apa yang tidak beres itu.

"Besok, setelah menikah, kamu mau pergi ke mana pun, aku akan menemanimu." Sebelum melangkah keluar, Andrew melirik hadiah-hadiah yang dia berikan padaku, lalu mengucapkan kata-kata itu dengan kaku, sebelum bergegas menutup pintu dan pergi.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Cintaku Habis di Resepsi ke-13   Bab 9

    Namaku Andrew Bramastya.Aku pernah punya istri, namanya Cynthia Varischa.Cynthia orang yang sangat baik dan luar biasa. Aku begitu mencintainya.Waktu pertama kali mengenalnya, aku berumur 17 tahun dan dia 16 tahun.Waktu itu, Cynthia tampak seperti baru saja menangis. Matanya merah dan hidungnya juga merah.Sebenarnya, aku tidak suka ada orang asing di rumah. Namun, Varischa sungguh cantik. Aku pun merasa punya adik seperti dia juga tidak buruk.Akan tetapi, Cynthia sering melamun. Dia terlihat sangat sedih.Nenek bilang, Cynthia merindukan ibunya.Jadi, aku mulai mengajaknya bermain dan bersenda gurau, agar dia bisa menjadi lebih ceria dan terbuka.Cynthia benar-benar menjadi seperti yang kuharapkan. Bahkan, dia menjadi makin dekat denganku.Sampai saat aku berusia 23 tahun, Kayra putus denganku demi seorang pria asing dan pergi ke luar negeri.Aku mulai terpuruk dan mabuk-mabukan sepanjang hari. Aku merasa sedih atas kepergiannya, sekaligus tidak rela dicampakkan.Sampai akhirnya,

  • Cintaku Habis di Resepsi ke-13   Bab 8

    Kupikir, seiring berjalannya waktu, Andrew akan merelakannya.Namun, tak kusangka, setelah kembali ke tanah air, Andrew perlahan-lahan mengembangkan bisnisnya hingga ke Negara Winola. Bahkan, saat aku mulai kembali mendesain untuk berkarya, Andrew-lah orang pertama yang membeli karya desain terbaruku. Setiap bulan, Andrew selalu menungguku seharian penuh di depan rumahku, dengan membawa bunga dan berbagai hadiah.Setelah berkali-kali membujuknya, tetapi gagal, aku pun tidak peduli lagi. Aku menganggapnya tidak ada.Namun, tak disangka, meski aku tidak peduli, ada orang lain yang peduli.Selama tinggal di Negara Winola, hubunganku dengan Arya menjadi makin akrab. Arya pun makin tidak senang melihat perilaku pantang menyerah yang ditunjukkan oleh Andrew.Hingga akhirnya, pada suatu hari, Arya tidak tahan lagi. Dia segera mengemasi kopernya dan membawaku pergi jalan-jalan ke berbagai tempat.Musim semi pergi ke Negara Tacita yang romantis, musim panas ke Negara Barsha dan saat musim gugur

  • Cintaku Habis di Resepsi ke-13   Bab 7

    "Nggak, nggak, Cynthia. Kasih aku satu kesempatan lagi, ya? Sekali saja." Andrew sepertinya tidak bisa menerima kenyataan. Dia melangkah maju dengan emosional dan mencoba menarikku."Butuh bantuan?"Tepat di saat aku masih tertegun, Arya sudah berdiri di depanku dan melindungiku sepenuhnya di balik punggungnya.Mungkin karena suara Arya yang begitu lembut, aku pun berpikir untuk sesaat, lalu menganggukkan kepala."Pak Andrew, kurasa Cynthia sudah menolaknya dengan sangat jelas. Ada banyak cara untuk membuktikan ketulusan hati. Terus mengejar dan mengganggu, itu cara yang paling buruk."Meski sikap Arya masih terbilang sopan, dari sorot matanya terlihat jelas bahwa dia begitu membenci Andrew."Siapa kamu? Ini urusanku dengan Cynthia. Kamu nggak perlu ikut campur." Andrew menatap Arya lekat-lekat, sementara rasa gelisah yang kuat mulai muncul di dalam hatinya."Aku Arya Prasetya Kusuma. Aku diminta Bibi Alina untuk menjaga Cynthia, agar dia nggak diganggu orang-orang yang nggak jelas." K

  • Cintaku Habis di Resepsi ke-13   Bab 6

    "Sayang, Ibu kenalin ya. Ini anak teman baik Ibu. Masih muda, punya masa depan cerah, ganteng lagi. Pokoknya ratusan kali lebih oke dibanding si Andrew itu. Kita nggak butuh dia, kita bisa dapat yang lebih baik." Ibu menarik pria tampan yang begitu mencuri perhatian di sampingnya itu untuk dikenalkan kepadaku."Halo, aku Arya Prasetya Kusuma.""Halo, aku Cynthia Varischa."Setelah perkenalan singkat, Ibu mencari-cari alasan untuk pergi duluan dan meminta Arya untuk mengantarku pulang.Di perjalanan pulang, aku tidak bisa menahan diri untuk tidak berkali-kali mencuri pandang ke arah Arya.Melihat profil wajah Arya yang hampir sempurna itu, aku pun menghela napas kagum di dalam hati.Ternyata setelah meninggalkan Andrew, masih banyak orang di dunia ini yang jauh lebih hebat darinya.Aku merasa nyaman saat bersama Arya. Jadi, ketika dia mengajakku makan bersama keesokan harinya, aku pun menyetujuinya.Namun, hal yang tidak terduga terjadi. Saat aku sudah siap memenuhi janji untuk bertemu

  • Cintaku Habis di Resepsi ke-13   Bab 5

    Semalam, dia sebenarnya punya kesempatan. Namun, apa yang dia lakukan?Dia malah marah pada Cynthia, bahkan tidak pulang ke rumah demi menemani Kayra.Tidak, bukan hanya tadi malam.Sejak Kayra kembali, dia hampir selalu berada di sisi wanita itu.Setelah Nenek pergi, Andrew menggeledah seluruh rumah. Akan tetapi, dia hanya berhasil menemukan selembar foto yang ada aku di dalamnya.Bahkan, foto itu pun diambil dari akta nikah, satu-satunya fotoku yang tersisa.Andrew memegang foto itu, lalu duduk terpaku di sudut ruangan sepanjang malam.Sepanjang malam itu, banyak sekali kenangan yang melintas di benak Andrew.Saat aku berusia 16 tahun, saat kami pertama kalinya bertemu di kediaman Keluarga Bramastya.Saat itu, aku orang yang pendiam dan tertutup, tenggelam dalam kesedihan.Sementara itu, Andrew begitu ceria dan penuh semangat, seperti matahari kecil yang menerobos masuk ke dalam hidupku.Di awal-awal tahun, Andrew sebenarnya sangat menyukai Cynthia. Dengan adanya adik perempuan yang

  • Cintaku Habis di Resepsi ke-13   Bab 4

    Di lokasi pernikahan.Saat Andrew tiba dengan tergesa-gesa, aku sudah pergi. Hanya ada Bu Ratih dan timnya yang sedang membereskan lokasi."Pak Andrew, pernikahannya sudah selesai. Untuk apa Anda datang ke sini?" Mungkin karena merasa kasihan padaku, Bu Ratih tidak bersikap ramah kepada Andrew."Mana Cynthia? Bukankah dia …." Andrew mengedarkan pandangan ke sekeliling, tetapi tidak menemukan keberadaanku. Hatinya pun makin merasa cemas.Ucapan Andrew terputus oleh notifikasi pesan dariku."Nggak … nggak mungkin. Aku sudah janji akan datang, aku jelas-jelas sudah janji."Andrew menatap isi pesan di ponselnya dan terus menyangkalnya. Dia tidak percaya bahwa semua ini benar-benar terjadi.[Cynthia, aku sudah datang! Trik apa lagi yang sedang kamu mainkan?!] Tangan Andrew gemetar saat mengirimkan pesan itu kepadaku. Namun, kali ini, pesan yang dia kirimkan tidak segera dibalas seperti biasanya dan malah centang satu.Andrew menatap tanda centang satu itu dengan tatapan kosong untuk waktu y

  • Cintaku Habis di Resepsi ke-13   Bab 3

    Aku memandangi hadiah-hadiah yang ada di hadapanku, lalu memungut sebuah boneka yang terjatuh akibat hantaman pintu yang ditutup Andrew. Aku pun terdiam untuk waktu yang lama.Ibuku adalah seorang penganut paham anti menikah. Akan tetapi, dia sangat meyakini bahwa seorang wanita harus punya anak sen

  • Cintaku Habis di Resepsi ke-13   Bab 1

    "Bu Cynthia, Anda yakin semua prosesi dan dekorasi pernikahannya mau dibikin sesederhana mungkin? Benaran, nggak perlu diskusi lagi sama Pak Andrew?"Direktur perencanaan pernikahan itu, berkali-kali mengonfirmasi ulang kepadaku. Dialah yang bertanggung jawab atas 12 rencana pernikahanku sebelumnya

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status