เข้าสู่ระบบ
“Kapten, target telah menjauhi jangkauan sniper Sera. Aku menyarankanmu untuk tetap melanjutkan pengejaran.”
Suara seorang wanita terdengar melalui perangkat komunikasi yang menempel di telinga sang kapten.
Di bawah langit malam, seorang wanita berambut putih melesat di antara gedung-gedung pencakar langit. Cahaya neon dari papan holografik memantul di rambutnya, sementara berbagai kendaraan memenuhi jalur udara di bawah, tampak seperti aliran cahaya yang tak pernah berhenti.
“Roger. Teruskan instruksi yang sama kepada seluruh kapten.”
“Baik, kapten.”
Wanita itu mempercepat langkahnya.
Aura berwarna kebiruan mulai menyelimuti kedua kakinya. Otot, persendian, hingga tulang-tulangnya diperkuat secara instan oleh energi biologis yang mengalir ke seluruh tubuh.
BRAK!
Atap gedung retak di bawah pijakannya.
Tubuhnya melesat bagaikan peluru, melompati celah antargedung selebar puluhan meter. Angin malam menerpa wajahnya saat ia terbang melintasi jalan raya yang dipenuhi kendaraan.
Dari kejauhan, siluet seorang pria berjubah hitam masih terus berlari.
Belum cukup dekat. Namun belum juga cukup jauh untuk lolos darinya.
Wanita itu mendarat dengan satu lutut menghantam beton.
BOOM!
Gelombang udara menyapu antena dan papan reklame di sekitarnya.
Bekas pijakan sepatu khusus Enforcer tertinggal jelas di atas permukaan atap.
Bekas pijakan sepatu khusus Enforcer tertinggal di beton. Sepatu itu bahkan mampu menahan tekanan lompatan yang seharusnya menghancurkan sepatu biasa.
Tatapan wanita itu tak pernah lepas dari targetnya.
Sudah sebulan villain ini membuat kekacauan di ibu kota. Pembobolan fasilitas berkeamanan tinggi, penyusupan, hingga pencurian.
Namun anehnya, tak pernah ada korban jiwa.
Hancur sudah harga dirinya dan para Enforcer yang harus terus mengejarnya.
“Berhenti kau! Villain!”
Suara teriakan wanita itu memecah suara angin malam.
Pria berjubah hitam di kejauhan itu bahkan tidak menoleh ke asal
Sang Kapten lalu menghunus longsword berwarna keperakan. Cahaya rembulan memantul di sepanjang bilahnya.
Dengan sebuah tarikan napas kecil, ia melempar pedangnya ke arah sebuah bayangan yang tak jauh di depannya.
WUSSH!
Pedang itu melesat seperti tombak. Kecepatanya memecah udara dan menghasilkan suara siulan tajam sebelum menghantam sasaran.
TRANG!
Namun...
Pedang itu hanya berhasil menyayat sebagian kecil dari bagian belakang jubah hitam villain itu dan bilah pedang itu menancap ke lantai atap gedung.
Tsk.
Suara decakan lidah terdengar dari bayangan itu, atau lebih tepatnya seseorang dengan pakaian yang serba hitam.
Pria berjubah hitam itu akhirnya menghentikan langkahnya.
Perlahan ia menoleh ke belakang.
Wajahnya tertutup sebuah topeng putih polos.
Permukaannya yang berwarna putih gading tampak begitu bersih hingga menyerupai selembar kertas kosong. Hanya sepasang lubang mata berwarna hitam pekat yang memperlihatkan tatapan malas dari pemakainya.
“Oi!”
Ia mengangkat ujung kain yang robek itu.
“Jubah ini mahal! Kau benar-benar merusaknya bagian belakangnya!”
Ia menatap wanita berambut putih itu selama beberapa detik lalu berkata dengan nada datar.
“Dasar nenek tua!”
...
Hening.
Sejenak hanya angin malamlah yang berani memecah suasana hening yang terasa keras itu.
Seluruh anggota Enforcer di saluran komunikasi spontan mendadak diam.
Seorang operator bahkan tanpa sadar melepas headset-nya.
"...Dia..."
"...Barusan...?"
Kelopak mata sang komandan berkedut hebat.
Senyumnya perlahan muncul.
Senyum yang sama sekali tidak menandakan sesuatu yang baik.
"K-kau..."
Suaranya bergetar.
“S-sudah berapa kali kau memanggilku tua?!”
“Sulit untuk dikatakan. Kau adalah satu-satunya Enforcer yang selalu mengejarku sejak awal aku menjadi villain.”
Dengan marah wanita itu mulai mengambil langkah.
“...kapten... a-aku pikir ini sudah yang ke...sebelas?”
Suara operator lain yang menjawab itu langsung membuat seluruh agent memikirkan hal yang sama..
‘Kenapa kau katakan itu?!’
BOOOM!!
Ledakan Aura tiba-tiba meledak dari tubuhnya.
“A-aku...”
Dan langkah berikutnya membuat lantai atap menjadi retak.
“AKU BARU TIGA PULUHAN!!”
Dengan terlihat tenang, ia langsung menghindar dengan memiringkan kepalanya.
“Tsk.” Sang kapten kembali melayangkan pukulan. Villain itu menunduk dan menghindarinya, lalu mengarahkan revolver ke kakinya dan... DOOOM! Tembakan itu berhasil dihindari oleh sang kapten dan hanya bisa menggores pelindung kakinya. Dia pun mundur untuk memperlebar jarak, tetapi wanita itu terus menekan dengan pukulan dan tendangan yang terkoordinasi.Tanpa disadarinya, Villain itu telah digiring ke ujung gedung.
Benar saja, ia telah diarahkan ke ujung gedung agar ia tidak bisa lari lagi.“Argent!”
Tiba-tiba sang kapten memanggil sesuatu dan menarik tangan kanannya ke belakang.
Pedang yang tadinya tertancap di lantai kemudian bergetar dan meluncur dengan cepat ke arah tangan sang kapten.
Melihat itu, sang Villain langsung menarik dagger dari balik jubahnya.
Pedang yang sudah berada di tangan kapten langsung mendapat ledakan aura yang besar.
Aura yang terlihat keperakan terlihat seperti cahaya bintang di atas sebuah gedung.
Dengan ayunan tajam yang mengarah dari atas, serangan itu terlihat akan memotong apapun termasuk villain yang ada di hadapannya.
Disaat yang sama, villain itu juga mengalirkan auranya ke dagger di tangan kirinya.
Sebuah aura berwarna hitam pucat menyelimuti dagger itu dengan cepat dan...
TANG!
Sebuah benturan antara dua aura membuat lantai atap gedung itu retak atau lebih tepatnya...
Tepat berada di bawah kaki sang Villain itu, hingga akhirnya lututnya menyentuh lantai yang rusak.
Aura sang kapten yang lebih kuat memaksa Villain itu harus menggunakan kedua tangan untuk menahan pedangnya.
Bilah itu perlahan semakin mendekati bahu kirinya..
“Menyerahlah! John Trickster!”
“Kau sepertinya terkena demensia, nenek Bianca.”
“K-kau...”
‘G-gawat, dia menambah kekuatannya. Kalau begitu...’
John Trickster menarik tangan kanannya yang memegang revolver.
Dagger milik John Trickster yang tadinya cukup kuat menahan Pedang milik Bianca menjadi melemah dan mengenai bahunya.
John menjentikkan silinder revolvernya.
Klik. Ia memutar posisi chamber berikutnya.Dan ia mengarahkannya ke bilah pedang yang terselimuti aura.
DOOOM! PANG!
Tembakan yang lebih kuat dari tembakan pertama membuat arah pedang sang kapten berubah ke sebelah kiri John Trickster.
KRAAK!
Lantai beton tempat pedang itu menuju menjadi terbelah dan retak.
John Trickster pun kembali memutar silinder revolvernya dan mengarahkannya ke tubuh kapten Bianca.
Melihat itu, Bianca dengan cepat menggunakan bilah pedangnya sebagai perisai.
Sebuah tembakan yang lebih kuat dari sebelumnya mengenai bilah pedang milik sang kapten.
Tembakan ini membuat tubuhnya terpental sejauh beberapa meter.
Melihat kesempatan itu, John Trickster melemparkan dagger di tangan kirinya ke sebuah penangkal petir di pojok atap.
Dagger yang ia lemparkan memiliki tali baja yang setipis benang berhasil melilit penangkal petir.
Lalu ia bersiap melompat ke bawah.
“AISHA! Lakukan!”
“Baik, Initiated Hacking...”
Suara Artificial Intelegence dari earphone milik sang Villain menjawab sebuah instruksi darinya.
“Three...”
Tepat saat John Trickster terjun dari gedung ia melihat kapten Bianca kembali melempar pedangnya ke arahnya.
Pedang yang sang kapten lempar itu menuju target dengan kecepatan kilat seakan tak mau melewatkan kesempatan saat sang Villain tak punya pijakan untuk menghindar.
“Two...”
John Trickster kemudian menembak revolvernya ke arah atas.
DOOM!
Kuatnya rekoil dari revolver itu membuat tubuhnya mendapat dorongan untuk menghindari pedang yang dilempar ke arahnya.
TRANG!
Pedang yang gagal mengenai targetnya malah menghancurkan billboard yang ada di hadapannya.
“One... Null Wave activate”
Seluruh pencahayaan di sekitar mereka mendadak mati. Lampu gedung, penerangan jalan, bahkan kendaraan yang melaju ikut kehilangan daya.
Lima detik kemudian, semuanya kembali menyala seperti biasanya.
“Sial.”
Pang!
Kapten Bianca mengungkapkan kekesalannya dengan menendang penangkal petir yang terlilit belati.
Dia melihat ke bawah gedung dan sekitar untuk
“Haah...kapten... Gaji kita akan ikut terpotong lagi karena kerusakan yang sengaja kau buat.”
“Ah...m-maaf.”
“Bagaimana situasinya Kapten?”
“Tsk, dia kabur lagi saat semua pencahayaan padam.”
“Dari skalanya, kemungkinan Null Wave level tiga. Hampir semua drone kita terjatuh”
“Sadie, perintahkan agent lain untuk menyisir wilayah distrik selatan ini.”
“Roger.”
Sang kapten yang melihat keadaan di bawah gedung mengambil dagger yang tergeletak di lantai.
Dia memegang erat dagger itu seolah ingin menghancurkannya.
“John Trickster!”
Sementara itu, sang Villain yang berhasil lolos dari maut sedang berjalan di sebuah gang sempit.
Langkahnya akhirnya berhenti.
“Huff...”
Ia menyandarkan punggungnya ke dinding gang.
“Huff... hampir saja...”
Tangannya terangkat ke wajah.
Klik.
Topeng putih itu akhirnya ia lepaskan.
Wajah seorang pemuda berambut hitam muncul di balik topeng itu. Keringat membasahi dahinya, sementara napasnya masih belum beraturan.
Ash Doyle menatap topeng di tangannya.
“...ini harusnya cuma pencurian biasa.”
Ia mengusap wajahnya.
“Gawat.”
Tatapan kosongnya mengarah ke langit.
“Kenapa jadi begini?!”
Di depanku berdiri seorang wanita berusia awal empat puluhan dengan rambut hitam panjang yang diikat sederhana ke belakang. Wajahnya masih cantik seperti yang kuingat, hanya saja kini beberapa helai rambut putih mulai muncul di dekat pelipisnya.Mengenakan celemek bunga di atas pakaian rumah yang sederhana, tak ada seorang pun yang akan menyangka kalau wanita yang terlihat seperti ibu rumah tangga biasa ini mampu membuat kepalaku hampir terlepas dengan satu pukulan Aura.Inilah ibuku, Irene Doyle.“Anak kurang ajar! Masih hidup kau rupanya?!”“Eerrghh... huff... tentu saja aku...masih hidup.”Tapi sepertinya aku akan benar-benar mati barusan.Pukulan ibu membuatku terpelanting sampai wajahku mencium tanah.Arghhh...Aku mencoba mengangkat tubuhku, namun kepalaku yang berputar memaksaku dalam posisi setengah berbaring.Untung saja kepalaku masih terpasang, aku masih membutuhkan otak geniusku.“Ibu... suara apa itu? Apa yang kau lakukan?”Dari belakang Ibu muncul seorang gadis berambut
Meski kubilang aku akan memecahkan penemuan milik ayahku, aku cuma menemukan sedikit petunjuk tentang kartu ini.Sejauh yang aku tahu, Ayahku memang adalah pengoleksi kartu-kartu. Aku pernah melihat ia menyimpan koleksi kartunya dalam sebuah Card Album yang seperti buku.Masalahnya adalah benda itu kalau tidak salah jumlahnya ada puluhan dan ada di rumahku di kota Mesarthim, jadi aku harus pulang ke rumahku untuk melihatnya.Mungkin saja aku bisa menemukan petunjuk dengan benda itu.Yap.Semua ini juga agar aku menjadi Villain rank B dan agar aku tidak terbunuh oleh perusahaan yang entah apa namanya itu.Dan karena itulah sekarang aku sedang duduk terpaku melihat jendela kereta levitasi di samping kananku.Kota kelahiranku, Mesarthim memiliki jarak yang cukup jauh dari ibukota Hamal tempatku mencari kerja.Di republik Arcion ini, kebanyakan orang menggunakan kereta sebagai transportasi umum. Ya, sebenarnya ada 2 jenis kereta yang biasa digunakan oleh orang-orang.Pertama adalah kereta
Kartu Tarot...Dari buku-buku arkeologi masa Old Calendar yang pernah aku baca dulu di Altaris, kartu Tarot adalah kumpulan kartu yang memiliki berbagai simbol unik.Simbol-simbol di kartu ini memiliki makna spesifik yang biasanya digunakan untuk refleksi diri dan pembacaan nasib orang.“Bolehkah aku mengambilnya?”“Ambillah”Aku lalu mengambil kartu Tarot itu dan mencoba merasakannya di tanganku.Permukaan kartu ini terasa dingin, hampir seperti logam. Tapi mungkin saja sensasi ini lebih mirip kristal mana yang baru selesai diproses.“Berat kartu ini mungkin sekitar dua kali lipat kartu identitasku?”Sambil membandingkan kartu itu dengan kartu identitas di dompetku, aku kemudian mencoba meraba kembali kartu itu dan mencoba menjentiknya.TingBunyi yang agak nyaring terdengar berasal dari kartu itu.Sebagai lulusan dari Akademi Altaris, aku cukup mengenali sebagian besar material yang umum digunakan dalam pembuatan Armament maupun Magic Device.Dan benar saja...Lapisan luarnya kemung
NoNymus : [Hei sudah lihat beritanya?]John_Chatter : [Berita yang mana?]Bonafide^^ : [Penemuan dungeon baru? Mana vein? Atau ada Villain lepas lagi?]Nonymus : [Bukan bodoh! John Trickster beraksi lagi!]Bonafide^^ : [Apalah... kukira berita besar.]John_Chatter : [Berita besarnya, kali ini targetnya gubernur Hamal]Bonafide^^ : [Ahaha... mampus dia]NeckCynder : [Well... itu memang berita besar tapi beritanya seperti ditutup-tutupi]NoNymus : [Ya benar, aku malah menemukan beritanya kurang detail]John_Chatter : [Itu tidak mengherankan, video bersin Silver Star sedang viral akhir-akhir ini]Bonafide^^ : [Apa? Oi seseorang tolong share link-nya!]NeckCynder : [DM aku]Cow_F*cker : [Permisi, aku izin menawarkan komik John Trickster X Silver Star Part 3.]John_Chatter : [Cek DM-mu]NoNymus : [Bro...]Bonafide^^ : [Itu AI-generated man...]John_Chatter : [Aku tak peduli.]Krak!“Uwaaa! Kapten! Tolong jangan hancurkan smartphone-ku! Itu versi terbaru!”Bianca memegang smartphone Sera d
Ckring.Sebuah bunyi bel yang cukup familiar.Bunyi bel itu membuat Maria membuka matanya.Perlahan dia mengangkat kepalanya dan melihat sekitar.‘Ah ketiduran lagi.’Maria lalu memijat lehernya yang agak pegal karena tidur di meja pelanggan yang sama.Dia melihat ada selimut yang meyelimuti dirinya.Matanya kemudian melihat seseorang yang sedang berjalan menuju dapur.“Maaf, aku tak sengaja membangunkanmu. Aku sebenarnya ingin memindahkanmu ke kasur lantai tapi aku takut itu akan membangunkanmu. Jadi aku tak melakukannya.”“Tidak apa-apa.”Maria lalu meregangkan tangannya ke atas dan ke samping.Jas kerja yang ia gunakan terlihat memiliki banyak lekukan karena tidur di meja.Kemudian melipat selimut yang dia gunakan.Dia memperhatikan bahwa pemuda itu baru saja membawa dua tas belanjaan yang cukup besar di kedua tangannya.“Sebentar lagi toko akan buka, aku perlu menyiapkan semua persediaan dulu.”“Baiklah, aku akan segera pulang. Boleh aku ikut cuci muka disini?.”“Ya silahkan.”Mar
Hari itu aku merasa seperti terkena prank, untung saja uangnya nyata.“AISHA, bawa perlengkapanku ke markas.”“Baik, Master.”Sebuah suara datang dari drone yang berbentuk elang besar di sampingku.“Aku akan kesulitan jika kau tidak membawaku tadi, terima kasih.”“Sama-sama, apa kau perlu bantuan lain?”“Cukup, itu saja.”Aku lalu melepas jubah dan sepatu yang kukenakan.Setelah itu, aku meletakkan semuanya ke dalam koper kecil yang ada di bawah kaki drone.“Ini.”Drone itu menerima koper dengan kakinya dan kemudian terbang dengan sayapnya.“Sial, aku hampir mati kali ini.”Aku masih bisa merasakan bilah pedang tadi di pundakku.Kalau aku terlambat menarik pelatuk, mungkin sekarang aku sudah kehilangan lengan.Aku menuangkan healing potion ke luka di pundakku.“Tsk... hampir saja tanganku terpotong.”Aku lalu menyeka darah dan cairan potion dengan kain dari saku celanaku“Wanita itu benar-benar akan membunuhku.”Kemudian, aku segera mengenakan pakaian biasa dan berjalan menuju jalan







