แชร์

Chapter 2

ผู้เขียน: Kang Hafidz
last update วันที่เผยแพร่: 2026-07-14 22:26:25

Semua ini dimulai dari satu bulan yang lalu.

Hari itu, aku merasa mendapat pelajaran baru.

Salah satunya adalah kenyataan bahwa hujan gerimis ternyata sudah cukup untuk membuat jas murah yang kupakai terasa dua kali lebih berat.

Berdiri di bawah kanopi Stasiun Distrik Selatan, aku memandang gedung pencakar langit yang menjulang di seberang jalan.

Seluruh permukaannya dilapisi kaca hitam yang memantulkan cahaya kota malam. Logo berwarna biru keperakan bersinar di puncaknya.

Ark-Seer Company.

Salah satu perusahaan Magic Engineering terbesar di bawah Federasi FALCON.

Dulu, saat masih menjadi murid Akademi Altaris, aku selalu membayangkan diriku akan bekerja di tempat seperti itu.

Aku bahkan pernah membayangkan meja kerjaku sendiri.

Sebuah ruangan dengan komputer canggih, beberapa kristal mana di atas meja, dan mungkin satu atau dua asisten yang akan membantuku mengerjakan penelitian.

Saat itu, masa depanku terlihat begitu jelas.

Cukup lulus lalu menjadi Magic Engineer dan sukses.

...Setidaknya begitulah yang kupikirkan sebelum benar-benar lulus.

Sekarang?

Aku memang berhasil masuk ke gedung itu.

Sayangnya...

Cuma sebagai pelamar.

"...Haaah."

Smartphone di tanganku bergetar pelan.

Notifikasi yang kutunggu sejak siang akhirnya muncul.

Ark-Seer Company Recruitment Result

Aku menelan ludah sebelum membukanya.

Daftar nama pelamar yang gagal mulai memenuhi layar.

Kubaca sambil berharap namaku tidak terpampang di sana.

"...Gagal lagi."

Aku menatap layar selama beberapa detik.

Kalau dihitung, ini sudah menjadi penolakan ketujuh bulan ini.

Kalau dihitung sejak aku lulus...

Mungkin sudah hampir tiga digit.

Hebat. Hebat sekali.

Kalau setiap surat penolakan bisa ditukar dengan poin hadiah, mungkin sekarang aku sudah bisa membawa pulang kulkas baru.

Sayangnya perusahaan lebih suka memberiku kalimat,

"Kami menghargai minat Anda."

Kalimat yang terdengar sopan itu sebenarnya bisa diterjemahkan menjadi,

"Silakan coba lagi di tempat lain."

Aku memasukkan ponsel ke dalam saku sambil tertawa kecil.

"Setidaknya mereka masih menghargai minatku."

Walaupun tidak pernah menghargai kemampuanku.

Sudah hampir satu tahun sejak aku lulus dari Akademi Altaris.

Aku mengambil jurusan Magic Engineering, bidang yang mempelajari bagaimana sihir dan teknologi digabungkan menjadi berbagai perangkat modern.

Kereta levitasi, drone berbasis mana, generator kristal, hingga senjata anti-monster.

Aku menyukai semuanya.

Bahkan nilai praktikku tidak pernah buruk.

Sayangnya...

Perusahaan rupanya tidak merekrut berdasarkan nilai akademikku.

Mereka merekrut berdasarkan pengalaman.

Masalahnya, bagaimana seseorang bisa memiliki pengalaman kalau bahkan tidak pernah diberi kesempatan bekerja?

Kalau kupikir-pikir, sistem ini benar-benar diciptakan oleh orang yang ingin membuat para fresh graduate menderita.

Aku berjalan menyusuri trotoar sambil menatap lalu lintas kota.

Mobil-mobil bertenaga kristal mana melintas tanpa suara.

Beberapa drone pengantar terbang rendah di antara gedung.

Di langit, rel levitasi yang menghubungkan distrik-distrik FALCON terlihat seperti garis cahaya biru yang membelah malam.

Semuanya tampak begitu maju dan begitu modern.

Damn.

Aku mulai paham kenapa beberapa orang bilang masa SMA adalah masa terbaik dalam hidup.

Ternyata mereka tidak bercanda, bahkan aku mulai merindukannya.

Sepertinya aku perlu istirahat sebentar di taman.

Dengan langkah lesu aku memasuki taman kota yang berada tidak jauh dari stasiun.

Malam sudah cukup larut.

Di sekitarku ada beberapa pasangan yang masih berjalan santai.

Seorang petugas kebersihan mengendalikan robot pembersih.

Di sudut lain, seorang penyihir tua sedang menyalakan lampu taman menggunakan sihir sederhana.

Sebuah pemandangan yang biasa.

Dunia tempat sihir dan sains hidup berdampingan memang selalu seperti ini.

Aku menjatuhkan tubuhku di sebuah bangku.

"Lelah sekali..."

Malam yang semakin larut membuat taman perlahan sepi. Hanya beberapa orang yang masih berlalu-lalang.

Seharusnya memang begini. Sudah waktunya orang-orang unutuk beristirahat, bukan berkeliaran di luar pada jam seperti ini.

Sebuah papan holografik di seberang taman menampilkan berita malam.

“PENINGKATAN AKTIVITAS ORGANISASI ILEGAL DI IBUKOTA HAMAL.”

Ash hanya meliriknya sekilas.

Lagi-lagi berita kriminal.

Beberapa nama organisasi bahkan muncul bergantian di bawah judul utama. Penyelundupan, pembobolan fasilitas, perdagangan armament ilegal.

Masalah demi masalah selalu muncul.

Sepertinya belakangan ini FALCON memang sedang sibuk.

“Untung aku cuma pengangguran.”

Setidaknya aku tidak punya waktu untuk melakukan kejahatan.

Mungkin memang salah negara ini. Aku sudah mengasah berbagai skill yang diperlukan, tapi tetap saja tidak ada perusahaan yang mau menerimaku.

Aku mendongakkan kepala.

Langit malam tertutup awan gelap yang disertai gerimis secara perlahan. Seolah ikut mengejek keberuntunganku.

Tak.

Tak.

Tak.

Bunyi sepatu berhak tinggi terdengar di tengah malam.

Aku menoleh dan melihat seorang wanita dewasa berambut hitam panjang berjalan ke arahku dengan mengenakan business suit.

Mungkin hanya perasaanku saja, jadi aku tidak terlalu memedulikannya. Karena memang ada beberapa orang yang baru pulang di waktu ini.

Aku yang sedang duduk di bangku taman kembali mendongakkan kepalaku ke atas untuk melihat langit sambil meratapi nasib.

Namun... ternyata suara langkah itu berhenti tepat di depanku.

Aku perlahan melihat wanita di depanku.

Setelah kuperhatikan lagi, terdapat sebuah pin berwarna silver yang terpasang rapi di dada kirinya. Entah kenapa, melihat pin itu saja sudah membuatku tahu bahwa dia bukan orang biasa.

“Ada yang bisa kubantu?”

Wanita itu menatap jam tangannya beberapa detik sebelum berbicara.

“Ash Doyle, benar?”

 “... Ya, aku Ash Doyle. Dan Anda?”

Otakku langsung bekerja, mencoba menebak alasan dia menemuiku.

Dengan pakaian resmi seperti itu, dia sepertinya berasal dari perusahaan yang cukup besar.

Apa dia perekrut perusahaan?

Atau mungkin HRD dari perusahaan lain?

Tunggu. Jangan bilang...

Mereka baru sadar telah melewatkan seorang jenius di sini?

Aku hampir tersenyum-senyum sendiri.

Akhirnya ada perusahaan yang ingin menerimaku menjadi Magic Engineer.

Wahahaha...

Sudah kuduga.

Orang-orang hebat sepertiku ini memang selalu terlambat dihargai.

Akhirnya...

Akhirnya ada yang telah mengakui kejeniusanku dalam bidang Magic Engineer.

Akhirnya ada yang menyesal karena belum merekrutku.

Aku bahkan sampai tersenyum lebar karena membayangkan perusahaan beruntung mana yang ingin aku menjadi sosok terbesar di era ini.

Mungkin besok akan ada yang menemuiku lagi dari perusahaan lain.

“Tuan Ash, kami mohon maaf telah menggagalkan Anda.”

“Tolong, Tuan Ash, masuklah ke perusahaan kami.”

“Tidak, Tuan Ash! Pilih perusahaan kami saja. Kami akan menggajimu dua kali lipat!”

“K-kami akan membayarmu tiga kali lipat.”

“B-berapapun yang kau inginkan tuan Ash.”

“Kami menawarkan posisi direktur riset kepadamu, tuan Ash. Perusahaan kami merasa posisi itu cocok untukmu.”

Aku hampir tertawa.

Heh.

Memang sulit menjadi orang jenius.

Dunia selalu terlambat menyadari orang sepertiku.

 “Tuan Ash...aku yakin kau masih bersamaku?”

Aku langsung berdiri dengan spontan dan menundukkan kepala.

“A-aku minta maaf telah menunjukkan sikap yang tidak semestinya, nona...?”

Wanita di hadapanku kemudian mengeluarkan sebuah kartu nama berwarna hitam.

Sambil menyerahkan kartu itu, ia melanjutkan perkataannya.

"Aku hanya ingin menanyakan satu hal..."

Sebelum sempat aku melihat nama di kartu itu, entah kenapa aku seperti tertarik dengan kata-kata dari bibirnya.

"Apakah kau..."

"...tertarik menjadi seorang villain?"

...

Eh?

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Dibutuhkan Segera : Penjahat?   Chapter 9

    Di depanku berdiri seorang wanita berusia awal empat puluhan dengan rambut hitam panjang yang diikat sederhana ke belakang. Wajahnya masih cantik seperti yang kuingat, hanya saja kini beberapa helai rambut putih mulai muncul di dekat pelipisnya.Mengenakan celemek bunga di atas pakaian rumah yang sederhana, tak ada seorang pun yang akan menyangka kalau wanita yang terlihat seperti ibu rumah tangga biasa ini mampu membuat kepalaku hampir terlepas dengan satu pukulan Aura.Inilah ibuku, Irene Doyle.“Anak kurang ajar! Masih hidup kau rupanya?!”“Eerrghh... huff... tentu saja aku...masih hidup.”Tapi sepertinya aku akan benar-benar mati barusan.Pukulan ibu membuatku terpelanting sampai wajahku mencium tanah.Arghhh...Aku mencoba mengangkat tubuhku, namun kepalaku yang berputar memaksaku dalam posisi setengah berbaring.Untung saja kepalaku masih terpasang, aku masih membutuhkan otak geniusku.“Ibu... suara apa itu? Apa yang kau lakukan?”Dari belakang Ibu muncul seorang gadis berambut

  • Dibutuhkan Segera : Penjahat?   Chapter 8

    Meski kubilang aku akan memecahkan penemuan milik ayahku, aku cuma menemukan sedikit petunjuk tentang kartu ini.Sejauh yang aku tahu, Ayahku memang adalah pengoleksi kartu-kartu. Aku pernah melihat ia menyimpan koleksi kartunya dalam sebuah Card Album yang seperti buku.Masalahnya adalah benda itu kalau tidak salah jumlahnya ada puluhan dan ada di rumahku di kota Mesarthim, jadi aku harus pulang ke rumahku untuk melihatnya.Mungkin saja aku bisa menemukan petunjuk dengan benda itu.Yap.Semua ini juga agar aku menjadi Villain rank B dan agar aku tidak terbunuh oleh perusahaan yang entah apa namanya itu.Dan karena itulah sekarang aku sedang duduk terpaku melihat jendela kereta levitasi di samping kananku.Kota kelahiranku, Mesarthim memiliki jarak yang cukup jauh dari ibukota Hamal tempatku mencari kerja.Di republik Arcion ini, kebanyakan orang menggunakan kereta sebagai transportasi umum. Ya, sebenarnya ada 2 jenis kereta yang biasa digunakan oleh orang-orang.Pertama adalah kereta

  • Dibutuhkan Segera : Penjahat?   Chapter 7

    Kartu Tarot...Dari buku-buku arkeologi masa Old Calendar yang pernah aku baca dulu di Altaris, kartu Tarot adalah kumpulan kartu yang memiliki berbagai simbol unik.Simbol-simbol di kartu ini memiliki makna spesifik yang biasanya digunakan untuk refleksi diri dan pembacaan nasib orang.“Bolehkah aku mengambilnya?”“Ambillah”Aku lalu mengambil kartu Tarot itu dan mencoba merasakannya di tanganku.Permukaan kartu ini terasa dingin, hampir seperti logam. Tapi mungkin saja sensasi ini lebih mirip kristal mana yang baru selesai diproses.“Berat kartu ini mungkin sekitar dua kali lipat kartu identitasku?”Sambil membandingkan kartu itu dengan kartu identitas di dompetku, aku kemudian mencoba meraba kembali kartu itu dan mencoba menjentiknya.TingBunyi yang agak nyaring terdengar berasal dari kartu itu.Sebagai lulusan dari Akademi Altaris, aku cukup mengenali sebagian besar material yang umum digunakan dalam pembuatan Armament maupun Magic Device.Dan benar saja...Lapisan luarnya kemung

  • Dibutuhkan Segera : Penjahat?   Chapter 6

    NoNymus : [Hei sudah lihat beritanya?]John_Chatter : [Berita yang mana?]Bonafide^^ : [Penemuan dungeon baru? Mana vein? Atau ada Villain lepas lagi?]Nonymus : [Bukan bodoh! John Trickster beraksi lagi!]Bonafide^^ : [Apalah... kukira berita besar.]John_Chatter : [Berita besarnya, kali ini targetnya gubernur Hamal]Bonafide^^ : [Ahaha... mampus dia]NeckCynder : [Well... itu memang berita besar tapi beritanya seperti ditutup-tutupi]NoNymus : [Ya benar, aku malah menemukan beritanya kurang detail]John_Chatter : [Itu tidak mengherankan, video bersin Silver Star sedang viral akhir-akhir ini]Bonafide^^ : [Apa? Oi seseorang tolong share link-nya!]NeckCynder : [DM aku]Cow_F*cker : [Permisi, aku izin menawarkan komik John Trickster X Silver Star Part 3.]John_Chatter : [Cek DM-mu]NoNymus : [Bro...]Bonafide^^ : [Itu AI-generated man...]John_Chatter : [Aku tak peduli.]Krak!“Uwaaa! Kapten! Tolong jangan hancurkan smartphone-ku! Itu versi terbaru!”Bianca memegang smartphone Sera d

  • Dibutuhkan Segera : Penjahat?   Chapter 5

    Ckring.Sebuah bunyi bel yang cukup familiar.Bunyi bel itu membuat Maria membuka matanya.Perlahan dia mengangkat kepalanya dan melihat sekitar.‘Ah ketiduran lagi.’Maria lalu memijat lehernya yang agak pegal karena tidur di meja pelanggan yang sama.Dia melihat ada selimut yang meyelimuti dirinya.Matanya kemudian melihat seseorang yang sedang berjalan menuju dapur.“Maaf, aku tak sengaja membangunkanmu. Aku sebenarnya ingin memindahkanmu ke kasur lantai tapi aku takut itu akan membangunkanmu. Jadi aku tak melakukannya.”“Tidak apa-apa.”Maria lalu meregangkan tangannya ke atas dan ke samping.Jas kerja yang ia gunakan terlihat memiliki banyak lekukan karena tidur di meja.Kemudian melipat selimut yang dia gunakan.Dia memperhatikan bahwa pemuda itu baru saja membawa dua tas belanjaan yang cukup besar di kedua tangannya.“Sebentar lagi toko akan buka, aku perlu menyiapkan semua persediaan dulu.”“Baiklah, aku akan segera pulang. Boleh aku ikut cuci muka disini?.”“Ya silahkan.”Mar

  • Dibutuhkan Segera : Penjahat?   Chapter 4

    Hari itu aku merasa seperti terkena prank, untung saja uangnya nyata.“AISHA, bawa perlengkapanku ke markas.”“Baik, Master.”Sebuah suara datang dari drone yang berbentuk elang besar di sampingku.“Aku akan kesulitan jika kau tidak membawaku tadi, terima kasih.”“Sama-sama, apa kau perlu bantuan lain?”“Cukup, itu saja.”Aku lalu melepas jubah dan sepatu yang kukenakan.Setelah itu, aku meletakkan semuanya ke dalam koper kecil yang ada di bawah kaki drone.“Ini.”Drone itu menerima koper dengan kakinya dan kemudian terbang dengan sayapnya.“Sial, aku hampir mati kali ini.”Aku masih bisa merasakan bilah pedang tadi di pundakku.Kalau aku terlambat menarik pelatuk, mungkin sekarang aku sudah kehilangan lengan.Aku menuangkan healing potion ke luka di pundakku.“Tsk... hampir saja tanganku terpotong.”Aku lalu menyeka darah dan cairan potion dengan kain dari saku celanaku“Wanita itu benar-benar akan membunuhku.”Kemudian, aku segera mengenakan pakaian biasa dan berjalan menuju jalan

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status