LOGINKupikir aku sudah cukup bijak dan berhati luas untuk membiarkan dia menikah lagi. kupikir hidupku akan tenang karena sekarang aku akan punya teman untuk berbagi tugas mengurus suamiku. Ternyata, aku jadi babu, kambing hitam dan korban yang selalu disalahkan. Kukira wanita itu akan sama seperti hatiku, tulus dan ikhlas ternyata dia ular berbisa yang nyaris mencabut nyawa ini.
View More“What’s your name?” The woman asked smiling, Kiara knew the woman. Well, everyone knew the woman, Iris Brooks, the woman was married to the richest man in England, Adrian Brooks. The woman’s blue eyes met Kiara’s green ones.
“Kiara, Kiara Adams” Kiara said looking down at her feet. The woman’s friends were all looking at Kiara who cowered. She feared losing her job and being called by to the table by the woman, she was frightened “Mrs. Iris, if I did anything wrong, I apologize, but please…”
“Mrs. Iris is very much pleased with your work, Kiara” my manager said stopping the worried girl who frowned in confusion looking at him. The manager had hired her after she begged him to, having lost three jobs already, the girl couldn’t afford losing the forth. She had a sister to take care of, as well as rent to pay. That is at least until her sister got her first pay check.
“Yes, I spoke to Mr. Gustave and was wondering if you were interested in working as a waitress in the Brooks company. My husband has a strict diet and I need someone to tend to his needs when I’m not with him and you know, when he’s at work. Well, I can’t really be sure what he is or he’s not eating and I don’t want him getting ill” Mrs. Iris said casually. Her friends looked at her with envy, everyone who knew the woman was impressed by her, the way she walked, talked, dressed. The woman was always the center of attention wherever she went.
“Me? But…”
“I am willing to offer you triple what you’re being paid here. Whatever the job is, and you’ll also be my concierge during my events during the weekends, and I’ll be paying you a hundred pounds per hour for the job” Mrs. Iris said stopping Kiara from questioning anything, she wanted to be sure that the girl accepted the job. But she didn’t want her questioning her, she simply wanted her to accept, and by making such offers, she knew that there was no way that the girl would reject her offer.
“Of course, I’d love to work for you Mrs. Iris, but what if you don’t like my work? or your husband? You know, I have never been inside a company let alone worked in one” Kiara said looking at the woman with frightened eyes, she didn’t want to lose the offer. But she wasn’t going to lie about her abilities, the girl hadn’t even entered college, the chance that she had escaped her fingers when her mother sent her and her sister to London. The two were to find a way to survive and Kiara wanted her sister to complete her studies, to go to college and get a degree. Therefore, she made the choice to work double and sometimes triple shifts to be able to get enough income to pay for her sister’s university fees, rent, water and electricity, and of course, for them to be able to survive the tough, expensive life of London.
“A training will be offered by my maid Maria, don’t worry about that. She will let you know how everything goes, she’ll show you what to do and what not to do, the job should be easy for a smart girl like yourself” Mrs. Iris was a sweet talker, everyone knew that. Even Kiara, magazines were always filled with her pictures and different comments from her. She loved being in the spotlight, at least that is what Kiara saw “this is my driver’s number, if you’re interested, call him and he’ll pick you up wherever you are and bring you over. Maria will explain everything to you and you can start with your first job as my concierge. I’ll see how you are and we’ll discuss further details”
“And if you don’t like the job, your place is always open in the restaurant whenever you wish to return. I already spoke to Mr. Gustave and he’s agreed to my terms, you don’t need to worry” Mrs. Iris said smiling.
“We all know that she’s the best in her job, otherwise you wouldn’t have chosen her Iris” A woman, Mrs. Iris’s friend, Kylie, said smiling at me. Her brown eyes met Kiara’s green ones as she moved her hand in front of the women while she spoke, clearly showing off the ring and watch she had on. Another thing that Mrs. Iris didn’t do, the woman never showed off what she wore. At least not in front of media, but everyone spoke of her beauty.
“It would be an honor working for you Mrs. Iris, thank you so much for this opportunity. I won’t let you down” Kiara said and the women looked at one another, both of them smiling as they watched the girl who was about to jump from excitement. The amount was larger than any that she’s ever earned. Hell, the job that she was working offered one of the highest minimum wages she’s ever earned.
“Well then, I should be expecting you tomorrow” Mrs. Iris said smiling and Kiara nodded at her. Mr. Gustave smiled at Kiara and put his hand on thee woman’s shoulder, he squeezed it gently and Kiara looked at him.
“Kiara, go out the door without telling anyone of anything. Pick up your things and just go” Mr. Gustave said lowly, he obviously didn’t want the other workers to know of this, they would be jealous and might cause an issue that he didn’t want in front of the costumers.
“Alright, I’ll see you tomorrow Mrs. Iris”
“Until tomorrow, Kiara darling”
Ah, kenapa jadi begini lagi. Hmm, kalau aku diam saja, maka kisah lama akan terulang kembali. Sebenarnya secara tidak langsung Mas Albi juga menyimak percakapan kami, hanya saja ia pura pura tidak mendengar dan tidak peduli."Oh, hehe, benarkah? Uhm ... kurasa kau akan punya kehidupan lebih baik setelah ini. Kau tumbuh jadi wanita yang terbuka dan mendewasa sekarang.""Aku menyesal tidak bersikap baik seperti ini dari dulu.""Sudahlah, jangan ungkit masa lalu, karena dari sana kita membuat kesalahan dan belajar untuk tidak mengulanginya lagi. Ayo makan" ucapku sambil meraih sendok saji.Di meja kaca, terhidang aneka lauk dan sayur yang dia letakkan dalam mangkuk kaca dengan sisi keemasan, piring dan gelas terlihat mewah dan ditata cantik di meja, ada gulai ayam, tumis brokoli wortel, ikan sambal dan aneka makanan lain. Aku benar benar terkejut bahwa wanita ini akhirnya bisa mengurus rumah dan menyambut tamu dengan baik."Kelihatannya enak," gumamku sambil duduk dan mencicipi makanan i
"Kalau kau ragu untuk memulai percakapan maka aku yang akan menghubungi filsa untukmu," ucapku lembut."Ya, tolong lakukan itu," jawabnya dengan binar mata penuh harap."Kuharap dia merespon baik dan kita bisa bertemu dengan damai, tanpa air mata dan luka lagi.""Semoga saja," desah Mas Albi sambil menganggukkan kepala.*Setelah Mas Albi ke kantor, tugas tugas rumah sudah beres, aku segera mengambil inisiatif untuk menghubungi mantan maduku yang kini tinggal dengan kedua orang tuanya.Kupencet nomor ponselnya dan berharap bahwa itu masih nomor yang sama namun ternyata sudah tidak aktif. Untungnya aku menyimpan nomor telepon rumah ibunya Filza jadi aku segera menghubunginya."Halo, Assalamualaikum Bu," sapaku berhati hati."Halo, walaikum salam, Nak Aini, apa kabar Nak? kok tumben baru menelpon sekarang ya?""Begini Bu, Mas Albi ingin menjumpai Gibran," jawabku."Oh tentu saja, kalian bisa mendatanginya ke rumah," jawab Ibunya Filza."Apakah itu akan baik Bu?""Tentu saja, tak ada ma
"Kau yakin dengan ini? Jika kau merasa tidak baik-baik saja, Gibran boleh kau titipkan dulu pada kami?""Tidak usah, aku sudah rindu anakku dan ingin membawanya pulang.""Tapi Filza ....""Tolong kemasi barang Gibran!" Wanita itu memberi penekanan dengan perintahnya yang terdengar sangat tegas."Baiklah," gumamku lirih. "... Kami memang tidak berhak menahan anakmu tetap di sini Jadi kau tidak perlu terlalu tegang dan marah.""Aku akan berterima kasih jika kau melakukannya dengan cepat Mbak," jawabnya."Iya, baiklah." Aku beranjak ke kamar sambil memperhatikan wajah Mas Albi sementara pria itu hanya terlihat bingung dan tercenung.Kukemasi barang barang Gibran, pakaian selimut, batal, botol susu hingga buku edukasi dini yang setiap malam kubacakan untuknya. Entah kenapa, hatiku merasa sangat berat dan sedih, ada rasa sulit melepaskan dan tidak rela, juga rasa sesak yang menghimpit hati. Aku tahu Gibran bukan anakku, tapi kehadirannya membawa cahaya baru dalam hidupku. Ya Tuhan ... kena
Dua Minggu berlalu setelah percakapan terakhir Mas Albi dengan fIlza, sudah berhari hari wanita itu tak pernah menghubungi lagi, tak memberi kabar atau biasanya meminta Mas Albi untuk mendatanginya.Entah dia sudah berubah pikiran atau hanya sedang sibuk dengan pengobatan, aku tak tahu. Fokusku sekarang adalah mengurus anak dan suami, malah aku beruntung sekali kalau Mas Albi tidak diganggu ganggu lagi.*"Sedang apa Um?" Tanya suamiku yang mendekat di teras belakang."Menjahit," jawabku sambil memperlihatkan kain di tangan dan jarum."Kau tampak ceria, apa ada hal yang membuatku senang.""Lebih tepatnya hal yang membuat kita senang," balas Mas Albi."Apa itu aku penasaran sekali," jawabku antuasias."Lihatlah ini," ucapnya sambil menyodorkan brosur padaku. Brosur itu adalah informasi sebuah perumahan dengan gambar hunian berlantai dua yang terlihat modern dan mewah."Apa ini?""Kupikir rumah kita terlalu kecil untuk 3 orang anak, dan anggota keluarga boleh jadi akan bertambah lagi, j
Sekarang beginilah aku, terjebak dalam poligami yang kian hari kian menggerus keyakinanku akan janji janji yang diucapkan Mas Albi. Mungkin baginya, dia sudah berusaha adil dengan maksimal, tapi di mataku ... tidak ada yang maksimal, semuanya minimal dan keterpaksaan. Dia lebih bahagia dengan filza
Sekarang dia minta aku tidak menempatkan akal dan pikiranku setara dengan ak dan pikiran anak anak. Subhanallah, kalimat yang benar-benar menyinggung perasaanku. Hampir, hampir 10 tahun Kami bersama, tapi belum pernah dia menyakitiku selain ketika dia telah bersama dengan filza. Aku terkejut dan ti
Malam ini langit tidak menunjukkan bintang-bintangnya, aku kesepian, putriku tidur memeluk kedua putriku dan memperhatikan wajah mereka yang nampak begitu pulas dan damai. Sejujurnya aku sangat gelisah karena di seberang sana Mas Albi sedang bersama Filza, mereka pasti sedang menghabiskan waktu ber
Poligami memang diperbolehkan, tapi jujur, aku muak sekali. Bukannya mau jadi pendosa, tapi aku adalah korban yang sangat tersakiti dalam hal ini.**"Hari ini giliran Abi ke rumah Ummi Gibran," ucap suamiku dengan entengnya. Suami keren yang menganggap dirinya keren karena punya dua rumah, dua ra






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews