เข้าสู่ระบบKaisar tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya berdiri diam dengan wajah yang sulit dibaca, tanpa bantahan ataupun teriakan.Keheningan itu membuat seluruh aula ikut membeku.Ketua Dewan akhirnya mengalihkan pandangan kepada Dior. Ia tampak ragu sebelum akhirnya bertanya, "Yang Mulia... apakah Anda akan membawa perkara mengenai kematian Grand Duke Luca ke dalam pemeriksaan ini juga?"Dior menoleh kepadanya."Ini akan menjadi urusanku."Jawabannya singkat.Ketua Dewan memahami maksud Dior. Perkara kematian Grand Duke Luca tidak akan lagi diperiksa oleh Dewan. Dior akan menanganinya sendiri sebagai urusan keluarga Rurich dan sebagai putra yang berkepentingan atas kematian ayahnya.Tidak ada yang membantah. Dior kembali menatap Kaisar yang masih terdiam.Dior memandanginya beberapa saat, lalu berkata, "Kalau begitu, katakan padaku."Kaisar perlahan mengangkat wajah."Apa alasan paling masuk akal atas semua hal yang kau lakukan?"Kaisar tidak menjawab.Dior melanjutkan, "Kau mengirim pasukan k
Kaisar membuka mulut, tetapi tidak ada suara yang keluar. Ia hanya menatap Dior dengan napas berat, seolah pertanyaan itu menyentuh sesuatu yang selama ini ia sembunyikan.Seluruh aula menunggu jawabannya dalam diam. Dior tetap berdiri tenang di hadapannya, hanya menunggu jawaban."Kenapa?" tanyanya sekali lagi. "Kenapa kau membunuhnya?"Kaisar mengangkat wajah. Matanya memerah karena kelelahan dan amarah yang telah ditahannya selama berjam-jam. Ia tampak seperti seseorang yang berdiri di ujung jurang, tetapi masih berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa tanah di bawah kakinya belum runtuh."Kalau memang bukan kau, katakan siapa."Dior tidak mengalihkan pandangan."Kalau aku salah, bantah."Kaisar mengepalkan tangannya."Kalau ada orang lain yang melakukannya..." Dior berhenti sejenak, lalu suaranya terdengar semakin rendah, "...sebutkan namanya."Kaisar tetap diam.Dior mengamatinya beberapa saat sebelum berkata, "Tapi kenyataannya..."Ia berhenti."Memang kau yang membunuh ayahku.
Tidak ada yang berbicara lagi. Para raja yang sebelumnya masih membela diri kini hanya diam dengan kepala tertunduk, sementara para prajurit tetap berjaga di belakang mereka.Aula yang semula dipenuhi perdebatan kini sunyi. Pemeriksaan berlangsung hingga pagi. Hampir semua orang terlihat kelelahan, tetapi tidak ada yang berani meninggalkan tempat mereka karena perintah Dior masih berlaku.Ketua Dewan akhirnya menutup dokumen di hadapannya dan menatap Kaisar."Yang Mulia."Kaisar mengangkat wajah."Apakah tidak ada yang ingin Anda katakan?"Kaisar tidak langsung menjawab. Ia menatap anggota Dewan itu sejenak sebelum perlahan mengalihkan pandangan kepada Dior.Tatapan mereka bertemu. Kaisar tampak jauh lebih lelah dari sebelumnya. Matanya memerah karena kemarahan dan malam panjang tanpa tidur."Kau ingin bertindak sejauh ini?"Dior hanya mengangkat satu tangan, seolah mempersilakan Kaisar mengatakan apa yang ingin ia katakan.Ketua Dewan kembali bertanya, "Kalau begitu, apa alasan Anda
Tatapan Ratu berubah. Ia tahu betul apa arti perkataan Kaisar. Ayahnya bukan orang yang akan bergerak tanpa alasan, apalagi tanpa keuntungan. Jika Kaisar sampai menjanjikan sesuatu kepadanya, berarti keadaan benar-benar sudah berada di ujung tanduk.Namun yang paling membuat Ratu gelisah adalah kepada siapa Kaisar meminta bantuan, itu adalah ayahnya sendiri, seorang pria yang selama ini berada jauh dari pusat kekuasaan tetapi memiliki pengaruh besar.Ratu kembali menatap ke depan. Dior masih duduk di kursi utama, sementara Dewan terus memeriksa bukti dan kesaksian. Para prajurit mulai menunjukkan sikap mereka, dan bahkan Duke Arhad semakin kesulitan membela Kaisar.Ratu kemudian kembali menatap Kaisar."Dan jika ayahku meminta sesuatu yang tidak bisa kau berikan?"Kaisar tidak ragu."Aku akan memberikannya.""Bagaimana jika itu menyangkut kekuasaan?""Akan kuberikan.""Jika menyangkut wilayah?""Berikan."Ratu terdiam. Kaisar menggenggam tangannya sendiri dengan kuat."Yang penting ak
Tidak ada seorang pun yang menurut ketika Kaisar meninggikan suara, para prajurit tidak lagi menundukkan kepala. Mereka tetap berdiri, tetapi rasa takut yang selama ini mengikat mereka perlahan menghilang.Salah seorang prajurit akhirnya maju beberapa langkah. Ia masih mengenakan seragam lengkap Pasukan Kekaisaran dengan pedang di pinggang. Sikapnya tetap tegap, tetapi wajahnya menunjukkan kelelahan. Meski masih muda, sorot matanya menunjukkan bahwa ia telah melihat terlalu banyak kematian."Yang Mulia."Kaisar menatapnya tajam. Ada peringatan dalam tatapannya, seolah ia masih berharap satu panggilan saja cukup untuk membuat prajurit itu kembali mengingat siapa yang sedang berdiri di hadapannya.Namun prajurit tersebut tidak mundur."Saya tidak tahu apa yang akan diputuskan Dewan malam ini," katanya perlahan. Suaranya sempat terdengar berat, tetapi semakin ia berbicara, semakin mantap pula nadanya. "Saya juga tidak tahu apakah kami akan dianggap bersalah karena menjalankan perintah yan
Duke Arhad yang sejak tadi menundukkan kepala perlahan mengangkat wajahnya. Ia berusaha menahan ketakutan yang mulai muncul. Setelah mendengar ancaman Dior, ia sadar bahwa diam pun tidak akan menyelamatkan keluarganya.Jika pemeriksaan terus berlanjut tanpa ada yang melawan, bukan hanya Kaisar yang akan jatuh, tetapi semua orang yang selama ini berada di belakangnya juga bisa ikut terseret.Duke Arhad menarik napas panjang lalu akhirnya berkata,"Yang Mulia."Dior mengangkat pandangan kepadanya.Duke Arhad berusaha mempertahankan suaranya agar tetap terdengar tegas meskipun jelas ada ketegangan di dalamnya."Semua saksi itu bisa saja merupakan orang-orang yang sudah Anda bayar."Aula kembali sunyi. Beberapa bangsawan menahan napas karena tahu Duke Arhad baru saja mengambil langkah berbahaya. Menuduh Grand Duke Rurich memanipulasi saksi di hadapan Dewan bukanlah tuduhan kecil, terlebih Dior kini telah resmi menjadi Kaisar sementara.Namun Arhad tidak mundur. Ia tahu jika dirinya diam,
Siera tahu bukan hanya Erick, Dregory, dan semua orang yang berada di ruangan itu tertegun mendengar ucapan Siera yang tiba-tiba.“Apa… yang kau katakan?” suara Erick terdengar tertahan, seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Ia bahkan bangkit dari posisinya.Siera sempat menoleh
Suara ketukan pintu membuat Siera tersentak. Ia menoleh ke arah pintu ketika daun pintu terbuka perlahan, dan seorang gadis masuk dengan langkah hati-hati.“Nona…”Siera menatapnya.“Mia…”Wajah Mia terlihat lega, bahkan sedikit senang. “Yang Mulia Duke benar… Anda sudah bangun.”Siera menatap gadis
Siera membuka mulut, tetapi kata-kata terasa sulit keluar. Tenggorokannya kering, pikirannya masih kacau oleh apa yang baru saja ia alami.“A-aku…”“Apa karena Putra Mahkota Erick?” potong Dregory tiba-tiba.Nada suaranya rendah, namun justru terasa lebih menekan. Tidak ada kemarahan yang meledak, t
“Hah… hah…”Napas Siera memburu setelah berlari tanpa henti. Keringat mengalir di pelipisnya, sementara tangannya mencengkeram pinggir pintu balkon untuk menahan tubuhnya tetap berdiri.Sang ratu kekaisaran itu berusaha memahami apa yang baru saja terjadi. Semuanya terasa begitu cepat… begitu kacau







