เข้าสู่ระบบ
Aroma maskulin yang tajam bercampur wangi tembakau mahal tiba-tiba menyeruak, menelan aroma antiseptik dari pembersih tangan yang baru saja Alexa gunakan. Alexa, dengan kacamata bingkai hitam tebal yang terus merosot di hidungnya, menunduk dalam-dalam. Ia berusaha menenggelamkan wajahnya di balik novel klasik tebal yang ia pegang.
Ia hanya ingin pulang. Setelah beasiswa singkatnya di London berakhir, yang ia inginkan hanyalah duduk tenang di kelas ekonomi, terbang kembali ke Jakarta, dan melanjutkan hidupnya yang membosankan sebagai "si kutu buku" di kampus. Namun, sebuah kesalahan sistem overbooked membuatnya dipindahkan secara cuma-cuma ke kelas First Class. Bukannya senang, Alexa justru merasa seperti ikan yang keluar dari air. Apalagi saat ia melihat siapa yang duduk di kursi sebelah kanan lorongnya. Pria itu adalah Matthew Vascov. Dia duduk santai menikmati suasana luar dari kaca jendela pesawat. sesekali dia melirik dan mengamati setiap gerak yang dilakukan wanita disebelahnya. Dengan wajah gugup, berulang kali Alexa mengangguk dengan senyum manis yang menggoda Sang iblis. Dia tidak tahu, kalau pria yang saat ini duduk didekatnya itu adalah sosok mengerikan, lebih menakutkan dari setan. Bagi dunia luar, dia adalah pengusaha real estate sukses dengan garis rahang yang bisa memotong baja. Namun, di dunia bawah tanah yang gelap, Matthew Mascov adalah sang iblis pemimpin sindikat mafia yang menguasai jalur perdagangan di Asia Tenggara. Tatapannya bagai Predator yang siap memangsa siapapun yang mengganggunya. Matthew tidak pernah tertarik pada wanita yang "mudah". Baginya, model-model yang mengejarnya hanyalah dekorasi yang membosankan. Namun, sejak kaki jenjang yang dibalut celana kain longgar itu melangkah masuk ke kabin, mata elangnya tidak bisa berpaling. Gadis itu—Alexa—tampak sangat berantakan namun murni. Rambutnya diikat asal-asalan, sweter kebesarannya menyembunyikan lekuk tubuhnya, dan kacamata itu ... Matthew sangat ingin melepas kacamatanya untuk melihat apa yang disembunyikan di baliknya. "Kau membalik halamannya terlalu cepat. Apa kau benar-benar membacanya, atau hanya gugup karena duduk di sebelahku?" suara Matthew berat dan rendah, bergetar di udara kabin yang sunyi. Alexa tersentak. Tangannya gemetar, membuat novelnya hampir jatuh. "M-maaf?" Matthew terkekeh sambil menggelengkan kepalanya."Jangan minta maaf. Itu membuatmu terlihat semakin ... menggoda," gumam Matthew, meski kata terakhir hanya terdengar seperti bisikan tajam bagi Alexa. Alexa memberanikan diri menoleh. Saat matanya bertemu dengan mata biru safir Matthew yang dingin, jantungnya seolah berhenti berdetak. "Pria ini berbahaya." batin Alexa yang kembali berpaling dari tatapan Sang mafia. "Saya hanya ingin membaca dengan tenang, Tuan," suara Alexa mencicit. Matthew menyeringai. Sebuah senyuman yang tidak pernah ia tunjukkan pada musuh-musuhnya. senyum tajam seorang pemburu yang baru saja menemukan mangsa paling berharga dalam hidupnya. Sepertinya, sang mafia tengah terobsesi dengan wanita cupu yang ada di sampingnya. Selama sepuluh jam penerbangan, Matthew tidak memejamkan mata sedetik pun. Ia mengabaikan tablet kerjanya yang berisi laporan transaksi jutaan dolar. Perhatiannya terfokus sepenuhnya pada gadis di sampingnya. Ia memperhatikan bagaimana Alexa menyesap tehnya dengan hati-hati, bagaimana ia mengerutkan kening saat bagian sedih di bukunya terbaca, dan bagaimana bulu mata lentiknya bergerak-gerak saat ia akhirnya tertidur karena kelelahan. Matthew mengulurkan tangan, jemarinya yang penuh bekas luka perkelahian hampir menyentuh pipi Alexa yang halus, namun ia berhe5nt. "Belum sekarang," batinnya. Ia memanggil asisten pribadinya, yang berdiri sigap di area galley pesawat. "Cari tahu segalanya. Nama, alamat, ukuran sepatu, hingga warna kesukaannya. Aku ingin datanya ada di mejaku sebelum pesawat ini mendarat di Jakarta," perintah Matthew tanpa mengalihkan pandangan dari Alexa. "Tapi Tuan, kita punya pertemuan dengan keluarga Arfa besok pagi—" "Batalkan," potong Matthew dingin. "Ada sesuatu yang jauh lebih penting yang harus aku taklukkan." Tepat pukul lima sore, roda pesawat menyentuh aspal Bandara Soekarno-Hatta, Alexa menghela napas lega. Ia berpikir setelah keluar dari burung besi ini, ia tidak akan pernah bertemu lagi dengan pria tampan mengerikan itu. Namun, ia salah besar. Saat Alexa sedang menunggu kopernya di conveyor belt, sebuah tangan kokoh tiba-tiba mengambil alih koper tua miliknya yang mulai mengelupas. "Tuan! Itu koper saya," seru Alexa, berusaha mengejar langkah lebar Matthew. Matthew berhenti tiba-tiba, membuat Alexa menabrak dada bidangnya yang sekeras beton. Matthew menunduk, menyejajarkan wajahnya dengan Alexa hingga napas hangatnya menerpa wajah gadis itu. "Mulai hari ini, kamu adalah milikku, Alexa Rahardja, mahasiswi tingkat akhir sastra, yang tinggal di kos kecil di Jakarta Barat." Mata Alexa membelalak. "Bagaimana ... Anda tahu?" Matthew menyelipkan selembar kartu hitam dengan ukiran emas ke dalam saku sweter Alexa. "Karena mulai detik ini, duniamu adalah duniaku. Kau bisa lari, Alexa. Tapi kau tidak akan pernah bisa bersembunyi dariku." bisik pria gagah itu. Matthew pergi begitu saja, meninggalkan Alexa yang mematung di tengah keramaian bandara. Gadis cupu itu tidak menyadari bahwa hidupnya yang tenang baru saja berakhir. Sang Mafia telah menjatuhkan vonisnya, yaitu Alexa harus menjadi miliknya, bagaimanapun caranya. Di dalam mobil limusin yang menjemputnya, Matthew melihat foto Alexa yang diambil secara sembunyi-sembunyi oleh anak buahnya. Di foto itu, kacamata Alexa sedikit melorot, memperlihatkan mata hazel yang sangat indah. "Kau sangat murni, Alexa," gumam Matthew sambil menyesap wine-nya. "Dan aku? Aku akan menjadi pria yang menghancurkan kemurnian itu, lalu membangunnya kembali hanya untukku sendiri." Matthew tahu ia harus berjuang mati-matian. Alexa bukan wanita yang tertarik pada uang atau kekuasaan. Dia adalah gadis yang memegang prinsip. Dan Matthew? Dia akan meruntuhkan setiap prinsip itu sampai yang tersisa di pikiran Alexa hanyalah namanya. "Permainan ini baru saja dimulai." gumam Matthew dengan seringai yang mengerikan.Lima tahun kemudian, suasana di halaman belakang kediaman Vascov tidak lagi menyerupai markas militer yang kaku. Memang, para penjaga masih berdiri di titik-titik strategis, namun kini mereka lebih sering terlihat membantu mengambilkan bola plastik yang terlempar ke semak-semak daripada memegang senjata laras panjang.Alexa duduk di kursi rotan di bawah pohon rindang, menyesap teh melati hangatnya. Wajahnya tampak jauh lebih tenang, gurat kecemasan yang dulu selalu menghiasi matanya kini telah hilang, digantikan oleh binar kebahagiaan yang tulus. Di pangkuannya, sebuah buku sketsa terbuka, namun ia tidak sedang menggambar; matanya sibuk mengawasi pemandangan di depannya."Papa! Jangan lari! Tangkap aku!"Seorang bocah laki-laki berusia empat tahun dengan rambut hitam legam dan mata biru yang persis seperti Matthew, sedang berlari kencang di atas rumput hijau. Di belakangnya, Matthew—pria yang dulunya dianggap sebagai iblis paling kejam di dunia bawah tanah—sedang berlari kecil dengan
Pesawat jet pribadi itu membelah awan dengan tenang, namun di dalamnya, ketegangan yang berbeda merayapi Matthew. Ia duduk di kursi kulitnya, jemarinya berulang kali mengetuk sandaran tangan. Matanya sesekali melirik ke arah jendela, lalu kembali ke arah Alexa yang sedang asyik membaca majalah perjalanan."Kau terlihat seperti bom waktu yang siap meledak, Matthew," ucap Alexa tanpa mengalihkan pandangan. "Rilekslah. Marco tidak akan mati hanya karena kau meninggalkannya selama beberapa jam.""Ini bukan tentang Marco," gumam Matthew, suaranya rendah. "Ini tentang tidak adanya senjata di jangkauanku dan fakta bahwa aku tidak tahu siapa pilotnya."Alexa meletakkan majalahnya, lalu berpindah duduk ke pangkuan Matthew. Ia memegang wajah pria itu, memaksa mata biru yang gelisah itu menatapnya. "Pilotnya adalah orang pilihanku. Dan senjata? Kau tidak butuh itu di Maladewa. Jika ada yang mencoba melukaimu, mereka harus melewati aku dulu."Matthew terkekeh, tangannya secara refleks melingkari
Aroma lavender dan kayu cendana memenuhi lorong utama.Matthew melangkah menuju ruang tengah dan terpaku. Tirai-tirai berat berwarna beludru merah yang selama ini membuat rumah itu terasa seperti makam kuno, kini telah diganti dengan kain linen tipis berwarna krem yang membiarkan cahaya matahari menari bebas di atas lantai marmer. Vas-vas kristal besar yang biasanya kosong, kini diisi dengan bunga-bunga liar dan lili putih."Marco, apa yang terjadi dengan rumahku? Siapa yang berani mengubah dekorasi tanpa seizinku?" suara Matthew menggelegar, namun tidak ada amarah di sana, hanya kebingungan yang murni.Marco, yang sedang berdiri di dekat tangga, hanya bisa mengedikkan bahu dengan senyum tertahan. "Bukan saya, Tuan. Tapi sepertinya 'otoritas tertinggi' baru saja mengeluarkan perintah pagi ini."Tepat saat itu, Alexa muncul dari arah taman belakang. Ia tidak lagi mengenakan gaun hitam yang kelam. Ia memakai gaun musim panas berwarna kuning pucat yang membuat kulitnya tampak bercahaya.
Pagi itu, Mansion Vascov tidak dibangunkan oleh suara teriakan atau derap langkah sepatu bot yang terburu-buru. Sinar matahari masuk melalui celah gorden sutra yang sengaja dibiarkan terbuka sedikit, menyinari lantai marmer dengan warna emas yang lembut. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, Alexa terbangun tanpa rasa sesak di dadanya.Ia merasakan berat yang nyaman di pinggangnya. Lengan kokoh Matthew melingkar di sana, posesif bahkan dalam tidurnya. Alexa membalikkan tubuhnya perlahan, mencoba tidak mengusik pria yang akhirnya tampak begitu tenang itu. Wajah Matthew saat tidur kehilangan semua garis keras dan kejamnya; ia terlihat sepuluh tahun lebih muda, seorang pria yang akhirnya menemukan tempat tidurnya setelah peperangan yang panjang.Alexa mengulurkan tangan, jemarinya yang lentik menyisir helai rambut Matthew yang jatuh di dahi. Siapa yang menyangka? pikirnya. Pria ini menculiknya, mengurungnya, dan menghancurkan dunianya, namun di sinilah ia sekarang—memperhat
Malam itu, kebisingan kota Jakarta terasa begitu jauh, teredam oleh dinding-dinding kedap suara di lantai teratas Mansion Vascov. Matthew tidak lagi berada di ruang bawah tanah, tidak juga di ruang rapat yang penuh dengan asap cerutu. Ia berada di kamar utama, berdiri di ambang pintu balkon, menatap punggung Alexa yang sedang menyisir rambutnya di depan cermin besar.Suasana di antara mereka telah berubah. Bukan lagi tentang siapa yang memegang senjata, melainkan tentang keheningan yang menyesakkan—sebuah perang dingin antara dua jiwa yang terlalu hancur untuk saling melepaskan, namun terlalu terluka untuk saling memeluk."Sampai kapan kau akan terus menjaga jarak seperti ini, Alexa?" suara Matthew rendah, hampir pecah.Tangan Alexa yang sedang memegang sisir berhenti sejenak. Ia melihat pantulan Matthew di cermin—pria yang tampak begitu perkasa namun terlihat sangat rapuh di matanya sekarang. "Jarak adalah satu-satunya hal yang membuatku tetap waras, Matthew. Jika aku membiarkanmu te
Jakarta menyambut kepulangan sang penguasa dengan hujan badai yang seolah mencuci noda darah dari pegunungan Alpen. Mansion Vascov berdiri tegak, lebih sunyi dan lebih mencekam dari sebelumnya. Namun, ada satu hal yang telah bergeser secara fundamental. Di koridor-koridor yang biasanya didominasi oleh langkah kaki berat para penjaga, kini terasa aura yang berbeda.Alexa tidak lagi kembali sebagai tawanan yang meringkuk. Ia berjalan di samping Matthew melewati aula utama dengan gaun hitam yang menyapu lantai, dagunya terangkat tinggi, dan tatapannya sedingin es yang menyelimuti Zurich. Matthew tidak lagi menyeretnya; ia berjalan setengah langkah di belakangnya, seolah-olah ia adalah pengawal pribadi dari ratu yang baru saja ia jemput dari kematian."Kau terlihat lelah, Alexa. Istirahatlah. Aku harus mengurus sisa-sisa pengkhianat di ruang bawah tanah," ucap Matthew sambil mencoba menyentuh bahu Alexa.Alexa berhenti melangkah, namun ia tidak menoleh. "Jangan sentuh aku, Matthew. Dan ja







