Compartir

Bab.6

Autor: Addarayuli
last update Fecha de publicación: 2026-09-01 17:02:47

"E-enggak kok, Mbak... cuma dikit lagi selesai," jawab Raka terbata-bata.

Muka Raka makin memerah menahan malu. Tak sanggup berlama-lama menatap Mbak Sri, Raka segera meletakkan kuncinya dan berdiri terburu-buru.

"Raka ke dapur sebentar ya, Mbak, mau cuci tangan!" seru Raka cepat, melangkah lebar meninggalkan area samping rumah.

Mbak Sri hanya tersenyum kecil melihat tingkah pemuda itu, lalu menyusulnya ke dapur. Ia meletakkan es teh yang sudah mulai mencair, lalu memutuskan untuk membuatkan segelas teh hangat manis yang baru agar perut Raka yang sedang kepanasan tidak kaget.

Suara denting sendok yang mengaduk teh memecah keheningan dapur. Raka, yang baru selesai membasuh muka di wastafel, masih berusaha menetralkan debar jantungnya.

"Ini, Ka, diminum dulu teh hangatnya biar mendingan," kata Mbak Sri sambil menyodorkan gelas.

"Ah, iya Mbak, terima kasih banyak," jawab Raka gugup.

Karena terburu-buru ingin mengambil gelas itu, jemari Raka tanpa sengaja menyambar dan menggenggam erat jemari Mbak Sri yang masih memegang badan gelas. Tak hanya itu, gerakan Raka yang tergesa-gesa membuat otot lengannya yang basah oleh keringat menyenggol bahu Mbak Sri.

Untuk sepersekian detik, dada tegap Raka menempel rapat di tubuh Mbak Sri.

"A-ah..." Mbak Sri terperanjat pelan. Sentuhan hangat dan desakan tubuh Raka yang mendadak membuat napasnya tertahan.

Sensasi itu menjalar cepat, membuat rona merah kini berpindah membasahi kedua pipi Mbak Sri. Suasana di dapur sempit itu mendadak terasa sangat intens dan hening.

Raka dengan cepat menarik tangannya setelah mengambil gelas, mukanya makin membara. "M-maaf, Mbak Sri! Raka nggak sengaja..."

Mbak Sri buru-buru merapikan bagian depan dasternya, berusaha menutupi canggung dan rasa gugup yang tiba-tiba menyerang. Matanya tak berani lagi menatap Raka secara langsung.

"I-iya, nggak apa-apa, Ka..." bisik Mbak Sri dengan suara yang agak bergetar. Ia berdeham pelan mencoba menguasai diri. "Ya sudah, Mbak... Mbak ke depan dulu ya. Diminum tehnya."

Tanpa menunggu jawaban Raka, Mbak Sri memutar badan dan melangkah cepat keluar dari dapur, meninggalkan Raka yang masih berdiri mematung sambil memegang gelas teh hangat dengan jantung yang berdegup kencang.

Tatapan Raka tertuju pada segelas teh yang kini di genggaman tanganya, sudut bibirnya terangkat kecil membentuk lengkungan senyum manis.

***

Matahari sore mulai meredup, memancarkan warna keemasan di halaman rumah. Mas Bayu berjalan mendekati teras sambil membawa gulungan meteran kain dan selembar kertas sketsa tebal.

"Mbak Sri," panggil Bayu pelan, tersenyum hangat. "Yuk, ikut sebentar ke garasi tua. Kita ukur dulu lokasinya supaya pas buat calon 'Dapur Mbak Sri'."

Mbak Sri mengangguk setuju. Mereka berdua berjalan menuju garasi tua di samping rumah, mengukur beberapa sudut ruang yang berdebu namun berpotensi besar untuk disulap menjadi dapur impian Mbak Sri.

Setelah selesai mengukur, mereka kembali ke teras. Bayu membentangkan kertas sketsa di atas meja kayu teras.

"Nah, kalau pintunya di sebelah sini, meja olahannya bisa ditaruh melintang di tengah, Mbak," kata Bayu.

Tiba-tiba Bayu bergeser, berdiri rapat tepat di belakang Mbak Sri untuk menunjukkan detail denah. Dada bidang Bayu menempel ringan di punggung Mbak Sri. Tangan kanan Bayu yang hangat melingkar, memegang jemari Mbak Sri yang sedang memegang pensil, lalu mengarahkannya untuk menarik garis di atas kertas.

Mbak Sri seketika menahan napas. Hatinya berdesir hebat saat merasakan hembusan napas hangat Bayu berhembus begitu dekat di leher belakangnya. Sentuhan yang lembut namun intim itu membuat fokus Sri buyar seketika.

"Garisnya... diikutkan dari sini ke sini, Mbak Sri..." bisik Bayu lembut, suaranya terdengar makin serak dan dekat.

Di saat yang bersamaan, suasana tenang di area dalam rumah terusik oleh langkah terburu-buru Rehan. Ia sedang kebingungan mencari data dan nomor plat motor tua milik almarhum bapak Mbak Sri yang dibawa oleh Teguh.

“Mas Rehan, ada apa?” tanya Mbak Sri.

Menyadari kedatangan Rehan, membuat Bayu melepaskan genggaman tanganya dari tangan Mbak Sri, pria itu menggeser tubuhnya sedikit menjauh sambil berdehem pelan.

Rehan menatap Bayu sebentar, sedetik kemudian tatapannya Kembali tertuju pada Mbak Sri. “Ini Mbak, saya mau tanya nomor plat motor yang di bawa kabur suami Mbak Sri,” jawab Rehan. “Saya mau kasih ke Gavin suapaya di bantu mencari keberadaan motornya,” sambung Rehan.

Mbak Sri mengangguk, “Ada, kalau begitu ayo ke kamar Gavin,” ajak Mbak Sri yang di balas anggukan oleh Mas Bayu dan Rehan.

Rehan berjalan menuju lorong belakang dan berhenti tepat di depan kamar nomor lima. Tanpa ragu, ia menggetok pintu kayu itu lumayan keras.

Tok! Tok! Tok!

"Vin? Gavin? Ini Mas Rehan. Cuma mau minta tolong sebentar," panggil Rehan dengan nada agak mendesak tapi berusaha santai.

Pintu kamar nomor lima terbuka perlahan, hanya menyisakan celah sekitar sepuluh sentimeter. Gavin berdiri di balik celah itu, memakai kacamata dengan rambut yang sedikit berantakan. Wajah khas n-nya tampak agak cemas melihat ada tiga orang sekaligus di depan kamarnya.

"Kenapa, Mas?" bisik Gavin singkat.

"Gini, Vin. Motor CB tua almarhum bapak Mbak Sri yang dibawa Teguh sampai sekarang belum balik. Mas butuh data atau jejak si Teguh ini, tapi nomor lamanya udah gak aktif. Ini ada nomor HP baru Teguh yang sempat dicatat teman Mas, kamu bisa tolong lacak gak?" Rehan menyodorkan secarik kertas.

Tangan Gavin keluar sedikit dari celah pintu, mengambil kertas itu secepat kilat.

Mbak Sri yang berdiri di belakang Rehan ikut memajukan badannya. "Iya, Vin. Kalo bisa dilacak dari nomornya, tolong bantu ya. Teguh itu makin hari makin aneh kelakuannya."

"Pake tools yang biasa kamu pamerin itu, Vin," tambah Mas Bayu sambil tersenyum tipis. "Siapa tahu nemu jejak digitalnya."

Gavin meringis pelan, matanya tidak berani menatap langsung ke tiga orang di depannya. "Emm..iya... taruh sini aja kertasnya... eh, udah ya. Nanti... nanti tak kabarin di grup WA kosan aja. Tunggu sebentar."

Cklek.

Belum sempat Rehan menimpali, pintu kamar nomor lima sudah ditutup rapat kembali.

"Lah, cepat amat ditutupnya," gumam Mas Bayu sambil terkekeh pelan. "Tipikal Gavin banget."

"Ya udah, kita tunggu di ruang tengah aja," kata Mbak Sri sambil menghela napas.

Suasana di ruang tengah lumayan hening, sampai suara notifikasi W******p dari ponsel Rehan, Bayu, dan Mbak Sri berbunyi hampir bersamaan.

Di ruang tengah, Rehan dan Bayu saling pandang, sementara Mbak Sri mengelus dada menahan emosi membaca tulisan Teguh di F******k. Di saat yang sama, mereka bertiga merasa lega sekaligus kagum dengan keahlian Gavin yang berhasil membongkar semuanya hanya dari dalam kamar.

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Gadis Desa di Antara Pria Perkasa   Bab.89

    Pagi itu, sinar matahari baru saja menerobos celah-celah pepohonan di area proyek pembangunan. Suasana di lapangan yang biasanya bising oleh suara mesin, pagi ini terasa agak sunyi dan dibalut canggung.Di depan proyek, Mas Bayu, Pak Doni dan Mas Rehan sedang duduk Bersama. Hingga tak lama kemudia, tak jauh dari tempat mereka duduk, di balik gerbang berhenti sebuah motor membuat ketiganya menoleh.Sesosok wanita anggun dengan pakaian rapi bertandang ke lokasi. Ia adalah Mbak Sri, yang datang tepat waktu sesuai dengan janji yang telah ia buat sebelumnya. Mbak Sri hadir untuk menemui Mas Bayu.Namun, kehadiran Mbak Sri yang tak disangka-sangka oleh Pak Doni dan Mas Rehan membuat suasana seketika menegang.Mas Rehan dan Pak Doni menghentikan pembicaraan mereka begitu melihat kedatangan Mbak Sri. Wajah mereka menunjukkan terkejut yang luar biasa.Mas Rehan terperanjat, "Mbak Sri? Anda... bagaimana bisa ada di sini pagi-pagi begini?"Pak Doni s

  • Gadis Desa di Antara Pria Perkasa   Bab.88

    Suasana di Kos Wisma Asri menjelang pukul sembilan pagi mulai berangsur sepi. Kebisingan khas pagi hari seperti suara deru motor, celoteh penghuni kos yang berebut kamar mandi, hingga denting alat masak kini telah mereda. Mayoritas penghuninya sudah berangkat menembus kemacetan kota untuk bekerja dan berkuliah. Hanya tersisa keheningan yang dibalut sepoi angin pagi dan suara jangkrik liar di sudut halaman.Di dalam kamarnya, Mbak Sri berdiri mengamati penampilannya. Ia meraih tas selempang kulit warna cokelat pastel lalu memakainya serong di bahu. Matanya menatap lekat pantulan dirinya di cermin rias berukuran sedang. Dress bunga-bunga kecil berwarna lembut yang melekat di tubuhnya tampak begitu rapi, membalut sosoknya yang biasanya hanya mengenakan daster atau kaos santai sehari-hari. Sebuah senyum tipis yang hampir tak terlihat, namun penuh arti mengembang di bibirnya.Dengan jemari yang sedikit gemetar, Mbak Sri meraih botol parfum kaca berdesain elegan dari atas me

  • Gadis Desa di Antara Pria Perkasa   Bab.87

    Suara tumisan bumbu halus di atas wajan besar beradu dengan keheningan pagi yang masih samar. Jarum jam dinding di dapur umum menunjukkan pukul 04.15 WIB. Asap tipis beraroma bawang merah, terasi, dan daun jeruk membumbung tinggi, memenuhi ruangan berubin putih tersebut.Setelah tiga hari tutup total demi mengurus berkas perceraiannya di Pengadilan Agama, Mbak Sri akhirnya kembali ke tempat yang paling membuatnya merasa hidup: dapur katering milik pribadinya. Hari ini, ia harus menyelesaikan 50 kotak nasi tumpeng mini dan 100 porsi prasmanan untuk acara syukuran kantor.Dengan cekatan, Mbak Sri mengaduk sambal goreng ati dengan sutil kayu besar. Keringat tipis mulai menetes di pelipisnya. Tangannya yang sigap dan terlatih melangkah dari satu kompor ke kompor lain.Ting!Suara denting notifikasi ponsel terdengar dari balik saku apron kain motif kotak-kotak biru yang ia kenakan.Mbak Sri mengecilkan api kompor terlebih dahulu. Ia me

  • Gadis Desa di Antara Pria Perkasa   Bab.86

    Angin malam berembus dingin, membawa aroma tanah basah yang kian pekat. Langit di atas sana gulita, tertutup awan mendung yang menggantung rendah, seolah menyimpan beban yang siap ditumpahkan kapan saja.Mbak Sri duduk sendirian di kursi kayu teras rumahnya. Matanya menatap lurus ke arah langit malam yang hampa. Sebuah helaan napas berat terdengar beberapa kali dari bibirnya, terlepas bersama rasa sesak yang tak kunjung mereda. Malam ini seharusnya terasa begitu berharga—sebuah garis akhir dari drama panjang yang menguras emosi dan air mata. Namun, bukannya lega, hatinya justru terasa ganjil, gundah, dan tidak tenang. Seperti ada sesuatu yang mengganjal di relung dadanya yang paling dalam."Mas Bayu..." lirih Mbak Sri sangat pelan, hampir tak terdengar, mengucap nama seseorang yang kini jauh darinya.Tiba-tiba, sebuah sentuhan lembut mendarat di atas kepalanya. Sebuah elusan hangat pada pucuk kepala yang seketika menghentikan lamunannya.Mbak Sri te

  • Gadis Desa di Antara Pria Perkasa   Bab.85

    Suara dentang halus koin dan kunci di dalam saku celana mengiringi langkah Mas Bayu saat ia melangkah masuk ke dalam ruang kerjanya. Suasana ruangan terasa sunyi, hanya derak halus kipas angin yang membelah udara panas sore itu.Mas Bayu melepas topi rimba kesayangannya, meletakkannya dengan layu di atas meja kayu yang dipenuhi tumpukan berkas. Matanya yang tampak lelah tertuju pada segelas air putih dingin yang berdiri anggun di sudut meja. Tanpa ragu, ia meraih gelas itu, menempelkan pinggirannya ke bibir, dan meminumnya hingga tandas tanpa henti.Glek... glek... glek."Haaah..."Terdengar suara helaan napas panjang yang sarat akan beban keluar dari mulut Mas Bayu. Ia menurunkan gelas kosong itu, lalu perlahan menjatuhkan punggungnya, menyandarkan tubuhnya yang letih ke sandaran kursi busa. Mas Bayu mendongak, menatap kosong ke arah langit-langit plafon ruangan yang putih bersih.Tatapannya benar-benar kosong. Sudah hampir satu bulan dia

  • Gadis Desa di Antara Pria Perkasa   Bab.84

    Ketukan palu hakim tiga kali menggema di ruang sidang Pengadilan Agama, menandai akhir dari perjalanan panjang rumah tangga Mbak Sri dan Teguh."Memutuskan, mengabulkan gugatan penggugat untuk seluruhnya. Menjatuhkan talak satu ba'in sughra tergugat, Teguh bin Sastro, terhadap penggugat, Sri Wahyuni binti Sukirno," ucap Ketua Majelis Hakim lantang dari balik meja hijau.Mbak Sri, yang duduk didampingi kuasa hukumnya di sisi kiri ruang sidang, menghembuskan napas panjang. Kedua tangannya yang bertaut di atas pangkuan perlahan mengendur.Hakim melanjutkan pembacaan amar putusan, masuk ke poin rekonvensi atau gugatan balik yang diajukan oleh pihak Teguh mengenai sengketa harta bersama dan tuduhan perselingkuhan."Menimbang, bahwa mengenai gugatan rekonvensi tergugat terkait tuntutan pembagian harta bersama berupa rumah kos dan tuduhan pelanggaran kesusilaan oleh penggugat..." Hakim melepaskan kacamata bacanya sejenak, lalu menatap tajam ke arah Teguh yang duduk gelisah di sisi kanan. "Ma

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status