LOGIN"E-enggak kok, Mbak... cuma dikit lagi selesai," jawab Raka terbata-bata.
Muka Raka makin memerah menahan malu. Tak sanggup berlama-lama menatap Mbak Sri, Raka segera meletakkan kuncinya dan berdiri terburu-buru.
"Raka ke dapur sebentar ya, Mbak, mau cuci tangan!" seru Raka cepat, melangkah lebar meninggalkan area samping rumah.
Mbak Sri hanya tersenyum kecil melihat tingkah pemuda itu, lalu menyusulnya ke dapur. Ia meletakkan es teh yang sudah mulai mencair, lalu memutuskan untuk membuatkan segelas teh hangat manis yang baru agar perut Raka yang sedang kepanasan tidak kaget.
Suara denting sendok yang mengaduk teh memecah keheningan dapur. Raka, yang baru selesai membasuh muka di wastafel, masih berusaha menetralkan debar jantungnya.
"Ini, Ka, diminum dulu teh hangatnya biar mendingan," kata Mbak Sri sambil menyodorkan gelas.
"Ah, iya Mbak, terima kasih banyak," jawab Raka gugup.
Karena terburu-buru ingin mengambil gelas itu, jemari Raka tanpa sengaja menyambar dan menggenggam erat jemari Mbak Sri yang masih memegang badan gelas. Tak hanya itu, gerakan Raka yang tergesa-gesa membuat otot lengannya yang basah oleh keringat menyenggol bahu Mbak Sri.
Untuk sepersekian detik, dada tegap Raka menempel rapat di tubuh Mbak Sri.
"A-ah..." Mbak Sri terperanjat pelan. Sentuhan hangat dan desakan tubuh Raka yang mendadak membuat napasnya tertahan.
Sensasi itu menjalar cepat, membuat rona merah kini berpindah membasahi kedua pipi Mbak Sri. Suasana di dapur sempit itu mendadak terasa sangat intens dan hening.
Raka dengan cepat menarik tangannya setelah mengambil gelas, mukanya makin membara. "M-maaf, Mbak Sri! Raka nggak sengaja..."
Mbak Sri buru-buru merapikan bagian depan dasternya, berusaha menutupi canggung dan rasa gugup yang tiba-tiba menyerang. Matanya tak berani lagi menatap Raka secara langsung.
"I-iya, nggak apa-apa, Ka..." bisik Mbak Sri dengan suara yang agak bergetar. Ia berdeham pelan mencoba menguasai diri. "Ya sudah, Mbak... Mbak ke depan dulu ya. Diminum tehnya."
Tanpa menunggu jawaban Raka, Mbak Sri memutar badan dan melangkah cepat keluar dari dapur, meninggalkan Raka yang masih berdiri mematung sambil memegang gelas teh hangat dengan jantung yang berdegup kencang.
Tatapan Raka tertuju pada segelas teh yang kini di genggaman tanganya, sudut bibirnya terangkat kecil membentuk lengkungan senyum manis.
***
Matahari sore mulai meredup, memancarkan warna keemasan di halaman rumah. Mas Bayu berjalan mendekati teras sambil membawa gulungan meteran kain dan selembar kertas sketsa tebal.
"Mbak Sri," panggil Bayu pelan, tersenyum hangat. "Yuk, ikut sebentar ke garasi tua. Kita ukur dulu lokasinya supaya pas buat calon 'Dapur Mbak Sri'."
Mbak Sri mengangguk setuju. Mereka berdua berjalan menuju garasi tua di samping rumah, mengukur beberapa sudut ruang yang berdebu namun berpotensi besar untuk disulap menjadi dapur impian Mbak Sri.
Setelah selesai mengukur, mereka kembali ke teras. Bayu membentangkan kertas sketsa di atas meja kayu teras.
"Nah, kalau pintunya di sebelah sini, meja olahannya bisa ditaruh melintang di tengah, Mbak," kata Bayu.
Tiba-tiba Bayu bergeser, berdiri rapat tepat di belakang Mbak Sri untuk menunjukkan detail denah. Dada bidang Bayu menempel ringan di punggung Mbak Sri. Tangan kanan Bayu yang hangat melingkar, memegang jemari Mbak Sri yang sedang memegang pensil, lalu mengarahkannya untuk menarik garis di atas kertas.
Mbak Sri seketika menahan napas. Hatinya berdesir hebat saat merasakan hembusan napas hangat Bayu berhembus begitu dekat di leher belakangnya. Sentuhan yang lembut namun intim itu membuat fokus Sri buyar seketika.
"Garisnya... diikutkan dari sini ke sini, Mbak Sri..." bisik Bayu lembut, suaranya terdengar makin serak dan dekat.
Di saat yang bersamaan, suasana tenang di area dalam rumah terusik oleh langkah terburu-buru Rehan. Ia sedang kebingungan mencari data dan nomor plat motor tua milik almarhum bapak Mbak Sri yang dibawa oleh Teguh.
“Mas Rehan, ada apa?” tanya Mbak Sri.
Menyadari kedatangan Rehan, membuat Bayu melepaskan genggaman tanganya dari tangan Mbak Sri, pria itu menggeser tubuhnya sedikit menjauh sambil berdehem pelan.
Rehan menatap Bayu sebentar, sedetik kemudian tatapannya Kembali tertuju pada Mbak Sri. “Ini Mbak, saya mau tanya nomor plat motor yang di bawa kabur suami Mbak Sri,” jawab Rehan. “Saya mau kasih ke Gavin suapaya di bantu mencari keberadaan motornya,” sambung Rehan.
Mbak Sri mengangguk, “Ada, kalau begitu ayo ke kamar Gavin,” ajak Mbak Sri yang di balas anggukan oleh Mas Bayu dan Rehan.
Rehan berjalan menuju lorong belakang dan berhenti tepat di depan kamar nomor lima. Tanpa ragu, ia menggetok pintu kayu itu lumayan keras.
Tok! Tok! Tok!
"Vin? Gavin? Ini Mas Rehan. Cuma mau minta tolong sebentar," panggil Rehan dengan nada agak mendesak tapi berusaha santai.
Pintu kamar nomor lima terbuka perlahan, hanya menyisakan celah sekitar sepuluh sentimeter. Gavin berdiri di balik celah itu, memakai kacamata dengan rambut yang sedikit berantakan. Wajah khas n-nya tampak agak cemas melihat ada tiga orang sekaligus di depan kamarnya.
"Kenapa, Mas?" bisik Gavin singkat.
"Gini, Vin. Motor CB tua almarhum bapak Mbak Sri yang dibawa Teguh sampai sekarang belum balik. Mas butuh data atau jejak si Teguh ini, tapi nomor lamanya udah gak aktif. Ini ada nomor HP baru Teguh yang sempat dicatat teman Mas, kamu bisa tolong lacak gak?" Rehan menyodorkan secarik kertas.
Tangan Gavin keluar sedikit dari celah pintu, mengambil kertas itu secepat kilat.
Mbak Sri yang berdiri di belakang Rehan ikut memajukan badannya. "Iya, Vin. Kalo bisa dilacak dari nomornya, tolong bantu ya. Teguh itu makin hari makin aneh kelakuannya."
"Pake tools yang biasa kamu pamerin itu, Vin," tambah Mas Bayu sambil tersenyum tipis. "Siapa tahu nemu jejak digitalnya."
Gavin meringis pelan, matanya tidak berani menatap langsung ke tiga orang di depannya. "Emm..iya... taruh sini aja kertasnya... eh, udah ya. Nanti... nanti tak kabarin di grup WA kosan aja. Tunggu sebentar."
Cklek.
Belum sempat Rehan menimpali, pintu kamar nomor lima sudah ditutup rapat kembali.
"Lah, cepat amat ditutupnya," gumam Mas Bayu sambil terkekeh pelan. "Tipikal Gavin banget."
"Ya udah, kita tunggu di ruang tengah aja," kata Mbak Sri sambil menghela napas.
Suasana di ruang tengah lumayan hening, sampai suara notifikasi W******p dari ponsel Rehan, Bayu, dan Mbak Sri berbunyi hampir bersamaan.
Di ruang tengah, Rehan dan Bayu saling pandang, sementara Mbak Sri mengelus dada menahan emosi membaca tulisan Teguh di F******k. Di saat yang sama, mereka bertiga merasa lega sekaligus kagum dengan keahlian Gavin yang berhasil membongkar semuanya hanya dari dalam kamar.
"E-enggak kok, Mbak... cuma dikit lagi selesai," jawab Raka terbata-bata.Muka Raka makin memerah menahan malu. Tak sanggup berlama-lama menatap Mbak Sri, Raka segera meletakkan kuncinya dan berdiri terburu-buru."Raka ke dapur sebentar ya, Mbak, mau cuci tangan!" seru Raka cepat, melangkah lebar meninggalkan area samping rumah.Mbak Sri hanya tersenyum kecil melihat tingkah pemuda itu, lalu menyusulnya ke dapur. Ia meletakkan es teh yang sudah mulai mencair, lalu memutuskan untuk membuatkan segelas teh hangat manis yang baru agar perut Raka yang sedang kepanasan tidak kaget.Suara denting sendok yang mengaduk teh memecah keheningan dapur. Raka, yang baru selesai membasuh muka di wastafel, masih berusaha menetralkan debar jantungnya."Ini, Ka, diminum dulu teh hangatnya biar mendingan," kata Mbak Sri sambil menyodorkan gelas."Ah, iya Mbak, terima kasih banyak," jawab Raka gugup.Karena terburu-buru ingin mengambil gelas itu, jemari Raka tanpa sengaja menyambar dan menggenggam erat je
Mbak Sri yang panik segera ganti pakaian dan cepat-cepat keluar untuk membuka gerbang kos. Tapi, baru setengah jalan, Bimo yang baru bangun tidur bersama Rehan dan Raka langsung menahan Mbak Sri di teras dan meminta ia diam saja.Mbak Sri yang ketakutan setengah mati ingin ikut menjelaskan ke arah gerbang kalau dia dan Teguh sudah mau cerai, agar tidak disangkutpautkan lagi. Namun, langkahnya langsung dihentikan Bimo, anggota Reskrim Polsek lokal berbadan tegap itu melangkah keluar paling depan dan berbisik tegas."Mbak Sri di sini saja. Biar saya dan anak-anak kos yang urus."Mas Rehan beserta Raka mendekat ke pagar, lalu menghentak pintu besi itu dengan tegas dari dalam hingga menimbulkan dentuman keras."Siapa yang izinkan kalian berteriak dan mengancam menyita properti pribadi di sini?" Suara dingin Mas Rehan memotong teriakan tiga debt collector bertato suruhan pinjol yang kembali menggoncang-goncang pagar besi Wisma Asri pagi itu.Tiga penagih utang yang diutus menguras utang li
Pintu depan kos terbuka, memperlihatkan Nico yang datang terengah-engah sambil menjinjing dua kantong plastik besar. Es batu dalam kantong minuman dingin bergemerincing, bersanding dengan beberapa bungkus jajanan pasar dan roti."Nih, buat Mbak Sri," kata Nico sambil menyerahkan kantong itu ke Mbak Sri. "Tadi pas Raka nge-chat di grup bilang Mbak Sri hampir pingsan, aku langsung mampir ke toko kelontong depan."Mbak Sri hanya bisa tersenyum haru, lalu mengangguk pelan. "Makasih ya, Nico... jadi repot begini."“Tidak repot kok, Mbak,” jawab Nico dengan senyum khasnya.“Lebih baik Mbak Sri sekarang istirahat saja sudah malam,” ucap Mas Bayu.Setelah Mbak Sri dipaksa masuk ke dalam untuk istirahat dan meminum es tehnya, Mas Bayu memanggil beberapa anak kos lain dan berdiri di pelataran depan kosan. Tangannya memegang meteran gulung, matanya meneliti setiap sudut teras luar yang rencananya akan disulap menjadi warung."Udah, biarkan Mbak Sri istirahat dulu," ujar Mas Bayu, menepuk bahu Ra
Cahaya matahari pagi yang beranjak siang menyinari teras kos Wisma Asri. Suasana di rumah kos itu masih diliputi rasa haru dan sesak yang menyisa. Berita mengenai suami Mbak Sri yang kabur membawa lari seluruh isi rekeningnya meninggalkan duka mendalam bagi wanita cantik yang selama ini merawat rumah kos tersebut.Mbak Sri duduk tersandar di kursi rotan, matanya sembap dan tangannya gemetar memegang cangkir teh jahe yang sudah mendingin. Di hadapannya, Raka, Rehan, dan Dimas masih setia menemani.Dimas maju satu langkah, berlutut sejajar dengan tempat duduk Mbak Sri, lalu menatap wanita itu dengan sorot mata yang mantap dan hangat."Mbak Sri, dengarkan Dimas," ucapnya lembut namun penuh penekanan. "Wisma Asri ini rumah kita semua. Tempat ini berdiri bukan cuma karena bangunan atau atapnya, tapi karena Mbak Sri. Mbak adalah alasan kenapa kos ini selalu terasa hangat dan bikin kita semua betah untuk pulang."Dimas menoleh sebentar ke arah Raka dan Rehan yang mengangguk setuju, lalu kemb
Langkah kaki Rehan dan Raka begitu berhati-hati saat menuntun Mbak Sri menuju teras depan. Wanita itu masih tampak sangat pucat, napasnya tersendat-sendat pasca-kejadian pingsannya yang tiba-tiba di lantai dapur tadi. Dengan perlahan, mereka mendudukkan Mbak Sri di kursi rotan tua yang berada di sudut teras.“Mbak Sri duduk dulu ya,” ucap Raka.Tatapannya kosong, Mbak Sri perlahan duduk dengan tubuh yang lemas. Namun, rasa syok yang membendung seolah tak sanggup ditahan lagi. Baru saja tubuhnya menyentuh kursi, Mbak Sri justru meluruh ke bawah, bersimpuh lemas di atas tegel.Air matanya menetes makin deras, meresap dan membasahi kain daster batik lusuh yang dikenakannya. Isak tangisnya pecah, meratapi kemalangan nasib yang seakan tak henti-hentinya menghimpit.Merasa iba, Rehan bersimpuh di samping tubuh Mbak Sri, “Mbak yang tenang, ada kami di sini yang siap membantu Mbak Sri.”Dadanya terasa sangat sesak, seolah dihantam batu besar yang tak kasat mata. "Salahku apa, Gusti... Kenapa
"Mbak Sri! Teguh bawa kabur motor almarhum Bapak sama cewek karaoke, tabungan Mbak di bank juga dikuras bersih!"****Aroma gurih adonan tempe mendoan yang meletup-letup di atas wajan berpadu dengan wangi pekat teh tubruk yang baru disaring. Dapur kos-kosan dua lantai itu seperti biasa dihidupkan oleh sesosok wanita berusia 35 tahun berdaster batik katun kusam. Rambutnya disanggul asal dengan jepitan plastik yang sedikit longgar. Dialah Sri Rahayu atau yang kerap di panggil Mbak Sri, jantung utama yang membuat rumah itu selalu terasa seperti pulang."Kopi hitamnya kurang manis tidak, Mas Rehan?" tanya Mbak Sri sambil menyeka keringat di pelipisnya dengan ujung daster.Mas Rehan, pengacara LBH berwajah lelah yang kemeja putihnya tergulung kaku hingga siku, menyesap cangkir sengnya perlahan. Matanya yang sembap akibat sisa-sisa lembur membela kasus penggusuran rakyat kecil mendadak tampak lebih rileks."Pas, Mbak. Kopi buatan Mbak Sri selalu paling bisa menyembuhkan sakit kepala," jawab







