เข้าสู่ระบบ
Dipermalukan Komar seperti itu di hadapan semua orang, aku merasa harga diriku diinjak-injak. "Komar, kenapa kamu ngomong sembarangan? Apa maksudnya aku ini munafik?"Mungkin karena terlalu dikuasai amarah, Komar langsung membeberkan masalah kami berdua."Jordan, nggak usah pura-pura. Kamu sering pergi ke spa prostitusi denganku. Kamu sering panggil terapis yang namanya Aiko itu. Bulan lalu aku masih lihat kamu bermesraan sama wanita itu dia dalam ruangan. Kamu selingkuh di belakang istrimu, sekarang bahkan mau menipu putriku. Kamu ini nggak ada hati nurani lagi ya?!"Sekujur tubuhku terasa tegang, keringat dingin membanjiri punggungku. Setelah masalah mengenai Aiko dibongkar oleh Komar, istriku langsung memelototiku dengan marah dan wajah memucat. Aku juga tidak gentar saat menghardiknya kembali, "Komar, jangan kira kamu ini suci. Kamu sering transfer uang ke guru yoga, kamu kira aku nggak tahu?"Komar langsung tertegun dan tangannya yang dikepalkan langsung mengendur."Nggak usah bah
"Aku salah. Maaf, Sayang. Kejadiannya nggak seperti yang kamu bayangkan."Istriku menunjuk ke arahku sambil memaki, "Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri! Apa lagi yang masih mau kamu bantah?"Seluruh tubuhnya gemetar, seolah-olah baru saja melihat neraka.Mina mengenakan kembali pakaiannya dengan perlahan, lalu melirik istriku dengan pandangan menghakimi. Saat melihat tubuh istriku yang agak gemuk dan tidak memesona, dia tak kuasa tersenyum mengejek."Kampungan sekali pakaiannya, pantas saja nggak memikat." Suaranya begitu pelan, tetapi terasa bagaikan palu gada yang menghantam di telinga istriku.Wajah istriku langsung menjadi merah padam dan mulai menangis, "Kamu ... apa kamu bilang?!"Aku buru-buru mencegat Mina, "Jangan ngomong sembarangan!"Meski istriku memang sudah berusia, bagaimanapun kita ini adalah pasangan sah. Aku tidak mungkin merendahkannya di hadapan semua orang. Aku mengadang di hadapan istriku, mencoba untuk meredakan situasi yang canggung ini.Istriku melihat
Melihat aku terus memelototi jari kakinya, Mina tersenyum. "Papa Jordan, kamu sesuka itu sama kakiku, ya?"Dipergoki langsung olehnya, aku merasa cukup canggung. Aku pun mengalihkan pandangan dengan kikuk dan berdeham dua kali untuk menutupi rasa malu. Dia malah tertawa pelan, lalu mengaitkan kakinya di kakiku. "Kalau begitu, lain kali kuperlihatkan sampai puas?"Dalam hatiku merasa kegirangan. Namun, istriku masih di dalam kamar. Mana mungkin aku melakukan hal seperti itu?Aku buru-buru bertanya, "Kenapa kamu datang ke rumahku selarut ini? Ada urusan apa?"Mina berjalan ke arah sofa dan duduk. Kedua kakinya langsung dinaikkan ke meja teh. Kakinya yang mungil terpampang di hadapanku."Tentu saja aku datang untuk berterima kasih sudah mengajariku berenang tadi siang."Melihat Mina datang dengan tangan kosong dan bahkan duduk seperti tuan rumah, dia tidak terlihat seperti datang untuk mengucapkan terima kasih. Aku bertanya dengan jahil, "Jadi, gimana kamu mau balas budi?"Tak disangka, M
Mengingat gerakan saat di dalam air tadi, aku masih terus terngiang-ngiang dengan perasaannya. Sekujur tubuhku terasa menggelitik.Mina berkata, "Semua ini karena Papa Jordan pintar mengajar. Ke depannya harus ajari aku lagi kalau ada waktu, ya."Saat berbicara, Mina mengedipkan matanya sekilas. Aku langsung mengerti bahwa dia sangat menikmati perasaan tadi dan bahkan masih menginginkan sentuhan intim tadi. Hanya saja, yang membuatku merasa aneh adalah, padahal Mina sangat cantik, seharusnya ada banyak pria yang mendekatinya. Kenapa dia bisa suka padaku?Apa aku benar-benar punya pesona sebesar itu?Semakin dia mendekat, aku merasa semakin ada rahasia di balik semua ini.Sorenya, kami terus bermain di dalam air. Aku dan Mina semakin kerap bersentuhan. Setiap kali aku memegang pinggangnya, setiap gerakannya seolah memang direncanakan. Dia menggunakan alasan belajar untuk mendekatiku. Napasnya menyapu area leherku, ujung jarinya mengelus pelan lenganku.Komar yang berdiri di samping meli
Mina ini benar-benar gadis muda yang lentur! Terutama, bagian intimnya juga masih sangat rapat dan lembut. Tanpa sadar, aku mengerahkan seluruh tenagaku. Aku terus mendorongnya dari belakang, sedangkan kedua tanganku menopang pinggangnya yang ramping agar dia tidak tenggelam.Sekujur tubuh Mina benar-benar lemas dan rileks. Gerakannya ini hanya bergantung pada doronganku dari belakang sepenuhnya. Dia terus mendesah lirih, "Papa, lebih cepat!"Aku melihat Komar yang sedang melihat kami dari seberang, jaraknya semakin lama semakin jauh. Jika Komar sampai menyadari hal ini, mungkin dia akan mengulitiku habis-habisan.Mina menatapku dengan kebingungan."Kenapa, Papa Jordan? Nanti kalau sudah sampai di seberang, kita tinggal berpisah saja, 'kan?"Aku menunjuk ke belakangnya dan berkata, "Celana kita masih di belakang! Kalau sampai ketahuan sama ayahmu, dia pasti akan menyadarinya!"Mina hanya bergumam, "oh", lalu berbalik arah dengan patuh. Aku berdiri di belakang sambil terus mendorongnya.
Setelah siap dengan posisinya, Mina bertanya dengan lembut, "Papa Jordan, poseku ini sudah benar belum?"Saat melihat posturnya masih belum tepat, aku berdiri di belakang untuk membantu membungkukkan tubuhnya. "Condongkan pinggang sedikit lagi ke depan, dan arahkan kedua lengan lurus ke depan dengan tenaga."Mina mencondongkan pinggangnya dengan keras, bokongnya langsung mengenai bagian intimku. Sensasi itu begitu lembut dan halus. Sekujur tubuhku sampai terasa panas karenanya. Yang membuatku lebih kegirangan adalah, Mina sama sekali tidak merasa tidak nyaman. Sebaliknya, dia malah mencondongkannya dengan lebih kuat lagi.Bahkan, dia menggeliat sejenak. Gesekan itu terasa bagaikan dialiri sengatan listrik yang merangsang otakku. Sementara itu, Mina juga sepertinya sangat menikmati kesenangan ini."Papa Jordan, poseku ini benar nggak?"Aku hampir tidak bisa menahan diri lagi, lalu akhirnya buru-buru berkata, "Sudah oke, langsung lompat saja."Mina sama sekali tidak takut. Dia langsung m







