Share

6. Teror

Author: pramudining
last update Last Updated: 2025-05-16 10:58:58

Happy Reading

*****

"Saya nggak pernah mengingkari janji." Mutia tanpa ragu, membuka pintu mobil yang ditumpanginya bersama Bagas. Secara bersamaan, lelaki itu mengikuti apa yang Mutia lakukan.

Mendengar suara dentum pintu mobil, reflek Nazar menoleh ke sumber suara dan saat itulah terlihat sosok perempuan yang dicarinya.

"Sayang," panggil Nazar disertai lirikan pada Bagas.

Mutia terpaksa menghentikan langkah dan menatap lelaki berkemeja hitam tersebut penuh pertanyaan dan kemarahan. Apalagi ketika mengingat semua chat dan foto yang dikirimkan sahabat dekatnya semalam.

"Maaf, aku sudah terlambat. Permisi," kata Mutia begitu acuh.

"Sayang, semalaman aku nyariin kamu. Kenapa nggak mau balas dan angkat telponku?" Nazar berusaha memegang pergelangan Mutia supaya perempuan itu tidak melanjutkan langkahnya. Namun, Mutia malah bersikap sebaliknya.

Sang guru cantik malah mengibaskan tangannya dan menatap Nazar tajam. "Nggak usah nyari perhatian. Ini lembaga pendidikan tempatku mengajar. Jangan sampai anak didikku berpikiran negatif dengan tingkah laku kita."

Nazar menarik tangannya, menjauhi perempuan yang beberapa tahun belakangan telah menjadi kekasihnya. Lalu, dia melirik Bagas dan mendekatinya.

"Kenapa kamu bisa bareng sama dia? Apa kalian punya hubungan khusus?"

Bagas mencebik, tersenyum seperti mengejek Nazar. Lalu, tanpa kata lelaki berjas hitam tersebut membuka pintu mobil tanpa menjelaskan apa pun. Namun, sebelum meninggalkan kekasih Mutia, Bagas menoleh untuk yang terakhir kalinya.

"Rasanya, aku nggak perlu menjelaskan apa pun," ucap si anak pejabat yang tengah berkuasa di kota tersebut.

Nazar diam mematung sambil memandang kendaraan roda empat yang ditumpangi Bagas menjauh dari lembaga pendidikan tempat Mutia mengajar.

"Sepertinya, ada yang tidak beres dengan mereka berdua. Apa mungkin Mutia memang memiliki hubungan khusus dengan Bagas?" gumam Nazar.

Tanpa keduanya ketahui, sejak tadi ada sepasang mata yang terus memperhatikan tingkah mereka. Seseorang itu kemudian mengambil ponsel dan mulai menelpon.

"Target ternyata masih sehat. Sepertinya, dia di bawah pengawasan Pak Bagas. Apa langkah selanjutnya?" ucap seseorang itu di teleponnya.

"Buat dia seperti rencana semula. Perkara Bagas, biar aku yang kan menyelesaikannya."

*****

Masuk ruang guru, wajah sahabat karibnya sudah terlihat. Novita mengamati tampilan Mutia dari atas sampai bawah yang tidak seperti biasanya.

"Mut, bajumu baru?" tanya Novita.

"Baru gimana, sih?" Mutia memutar bola mata, kemudian memajukan bibirnya. "Pasti kebanyakan ngerjain rapor anak-anak. Jadinya, buram. Baju udah lama dibilang baru."

"Masak, sih." Novita berdiri, mendekati sahabatnya dan menarik sesuatu dari ujung kemeja yang dikenakan Mutia. "Ini bukti kalau bajumu baru," ucap istri sang pengacara sambil menunjukkan label harga yang masih melekat di baju sahabatnya.

Mutia jadi salah tingkah. Mengapa dia sampai lupa memeriksa dan mencopot label harga harga yang masih melekat di baju tersebut.

"Dih, masih nggak mau ngaku," cibir Novita. "Wah, harganya mantap, tuh. Pasti Nazar yang beliin.

Seketika kerongkongan Mutia mengering, tatapannya berubah aneh pada sang sahabat. "Kok, ngomongnya begitu?" tanyanya.

"Lah, memangnya kenapa? Wajar, dong, kamu kan pacarnya Nazar. Jadi, kalau dia beliin kamu baju semahal ini, ya, nggak masalah." Novita menggerakkan kedua bahunya sambil mencebik.

"Suamimu nggak cerita?" tanya Mutia. Menaruh tas dan mendaratkan bokongnya ke meja tempatnya bekerja.

"Cerita apa?" Menatap Mutia penuh selidik, tidak biasanya Alfian yang notabene seorang suami yang tidak bisa menyimpan rahasia apa pun, belum bercerita perkara Nazar dan sahabatnya.

"Nggak usah pura-pura, deh. Nggak mungkin kalau suamimu itu belum menceritakan masalah pesta yang dihadirinya semalam." Mutia berdiri setelah mengambil semua rapor anak didiknya yang siap dibagikan. "Males, ah. Aku mau ke kelas dulu. Sudah ditunggu anak-anak," ucapnya.

"Mut, tunggu." Novita memegang pergelagan tangan sang sahabat karena masih penasaran dengan ucapan Mutia tadi. "Aku beneran nggak tahu apa yang kamu maksud. Semalam, aku tidur duluan, jadi aku nggak tahu pas Alfian datang. Pagi ini, kami juga nggak sempat ngobrol karena dia harus ketemu sama kliennya."

Mutia terpaksa mengembuskan napas panjang. "Aku malas untuk membahas masalah ini, Nov. Kamu tanya sama suamimu saja."

"Ih, kok, gitu?"

"Aku nggak mau bahas tentang Nazar untuk saat ini." Mutia melanjutkan langkahnya, tetapi baru berjalan sekitar dua langkah, salah satu satpam memanggilnya.

"Bu, ada paket," kata satpam tersebut.

"Dari siapa, Pak?" tanya Mutia dan Novita berbarengan.

"Kurang tahu, orangnya sudah pergi. Pas ditanya nama, dia bilang Bu Mutia pasti mengetahui dari siapa paket itu," jelas sang satpam. Lelaki berseragam keamanan itu segera meninggalkan Mutia dan Novita setelah menyerahkan paket tersebut.

"Aneh, nggak biasanya kamu nerima paket di sekolah. Apa mungkin dari Nazar yang pengen ngasih kamu kejutan," ucap Novita disertai alisnya yang bergerak naik turun.

Mutia memutar bola mata malas. Dia malah curiga jika benda di dalam kotak kardus tersebut dari Bagaskara.

"Eh ... eh. Kok, gitu?" kata Novita. "Daripada penasaran. Sebaiknya, kita buka saja biar tahu isinya apa."

Istri sang pengacara tersebut langsung mengambil kotak kardus di tangan sahabatnya.

"Eh, jangan dibuka," protes Mutia. Namun, tangan Novita sudah terlanjur membuka kotak kardus tersebut.

"Astagfirullah," teriak keduanya bersamaan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Guru Cantik Simpanan Anak Pejabat   150. Tetaplah Mencintaiku

    Happy Reading*****"Agak aneh," sahut Arham."Nggak aneh, cuma kaget saja. Kamu bisa ngomong sebijak itu," tambah Surya."Anak Mama ternyata sudah semakin dewasa," timpal Anjani."Makin sayang kalau suamiku seperti ini," jawab Mutia."Kalian ini," ucap Bagas, malu-malu.Anjani tidak berani berkomentar karena takut Bagas akan tersinggung. Sementara itu, Nazar sudah berhasil memeluk Fardan. Sejak anak itu ditemukan dan dibawa pulang oleh anjani dan Surya, Nazar sebenarnya juga ingin dekat. Namun, sayangnya kebenciannya pada Bagas terlalu besar sehingga menyebabkan tembok pemisah yang menjulang tinggi. Pada dasarnya, Nazar itu penyayang dan sangat menyukai anak-anak."Boy, apa kamu mau manggil aku, Om?" tanya Nazar sebelum benar-benar memeluk si kecil yang hampir beranjak remaja.Tangan Fardan terangkat, mencegah Nazar mendekatinya."Boy, jangan begitu," nasihat Bagas disertai senyuman lembut."Apaan, sih, Pa," protes si kecil. Menatap lelaki di depannya. "Om boleh meluk, tapi ada syara

  • Guru Cantik Simpanan Anak Pejabat   149. Saling Memaafkan

    Happy Reading*****Mutia hampir melayangkan kembali tamparan di pipi Nazar andai tangan sang suami tidak bergerak cepat mencekalnya."Sayang, kekerasan tidak akan menyadarkannya. Lagian, saat ini dia sedang dipengaruhi oleh alkohol. Otaknya sudah bergeser," bisik Bagas memperingati sang istri. Mutia terdiam, baru menyadari jika suaminya memang sudah berubah. Biasanya, Bagas akan langsung melakukan kekerasan fisik pada seseorang yang nyata-nyata menentangnya."Mas, dia sangat menentangmu," kata Mutia, masih tak percaya jika suaminya akan dengan mudah memaafkan apa yang sudah dilakukan Nazar."Perkataan Mutia benar. Aku menantangmu secara terang-terangan. Serahkan dia untuk kembali padaku. Maka, aku akan melupakan semua dendam ini." Nazar menatap garang pada Bagas."Nazar, di mana hati nuranimu? Kenapa kamu tega melakukan ini? Jangan sampai Mas Bagas kembali marah dan nggak akan memaafkanmu," bentak Mutia."Biarkan dia melampiaskan semua kekesalan hatinya, Sayang," sahut Bagas, "Apa y

  • Guru Cantik Simpanan Anak Pejabat   148. Saling Memaafkan

    Happy Reading*****Mutia menoleh ke arah sang suami. Mengerutkan keningnya sambil bertanya dengan gerak bibir. "Siapa?"Bagas mengangkat kedua bahunya karena memang tidak mengetahui siapa yang menelpon Mutia dan tidak mempercayai jika dia adalah suami si ibu guru."Tolong jangan marah dulu, Pak. Saya cuma pekerja kafe yang diminta untuk menelpon nomor ini. Orang itu mengatakan jika Bu Mutia adalah istrinya dan sekarang Bapak mengaku sebagai suami Bu Mutia. Jadi, saya bingung. Siapa yang benar dan salah di sini," jelas suara di seberang. "Ngawur saja!" bentak Bagas. Mutia dengan cepat memencet tombol speaker untuk mengetahui penyebab kemarahan sang suami. "Sabar, Sayang," bisik Mutia disertai kecupan di pipi sang suami. "Maaf, kalau memang salah, Pak. Kami cuma menjalankan tugas saja. Kafe kami sudah mau tutup dan orang ini mabuk berat. Jadi, tujuan saya menelpon Bu Mutia sebagai istrinya supaya mau menjemput beliau."Mutia dan Bagas saling pandang. Lalu, si ibu guru membisikkan se

  • Guru Cantik Simpanan Anak Pejabat   147. Gagal

    Happy Reading*****Mutia menempelkan kedua tangannya pada pipi sang suami. Menatap Bagas penuh cinta."Maaf, Mas Sayang," ucap si ibu guru membuat Bagas membulatkan kelopak matanya. Mutia beringsut, menggeser posisinya semula, mundur.Senyum si lelaki terbit, lalu menyerang bibir Mutia secara membabi buta. Bagas sama sekali tidak memberikan kesempatan pada sang istri untuk melanjutkan perkataannya tadi. Mengapa Mutia sampai harus meminta maaf.Selang beberapa menit kemudian karena ciuman Bagas yang menuntut, Mutia mulai kehabisan napas. Memukul-mukul pelan dada bidang sang suami, si ibu guru meminta untuk menghentikan aksi mereka.Bagas melepaskan pagutannya. Menyatukan kening dengan napas memburu. "Kenapa minta maaf, Hem?" tanyanya."Kita nggak bisa melakukan itu," kata Mutia."Kenapa?" Kedua alis Bagas hampir menyatu. Keningnya berkerut dan raut mukanya menunjukkan kekecewaan yang sangat.Si ibu guru mendekatkan bibirnya ke telinga sang suami. Lalu berkata cukup lirih, "Aku lagi da

  • Guru Cantik Simpanan Anak Pejabat   146. Sah

    Happy Reading*****Bagas mengutuk lelaki yang memecah konsentrasinya tadi. Dia menatap tajam pada tamu yang tak dikenalnya itu. Keringat pun mulai turun membasahi dahinya.Mutia dengan cepat menggerakkan tangannya, menggenggam tangan sang calon imam dan menggelengkan kepalanya supaya tidak marah pada tamu yang sedang menelepon dengan berisik tadi."Nggak usah marah-marah di hari bahagia kita. Mas bisa ngulang lagi, kok," bisik Mutia lembut."Ya, bisa. Tapi, Mas, malu, Sayang. Gara-gara orang itu ngomongnya kenceng banget. Konsentrasinya Mas buyar," kata Bagas membalas perkataan sang pujaan."Ya, sudah. Sabar, ulang saja, Mas."Tak lama setelah Mutia mengatupkan bibir, sang penghulu memintanya untuk mengulang kalimat akad tersebut. Saat itu, semua tamu undangan sudah berhenti tertawa dan mulai menyimak apa yang akan diucapkan oleh sang mempelai pria."Ayo, Mas. Kita mulai lagi, konsentrasi, ya. Jangan sampai fokusnya hilang lagi. Nanti, makin lama belas durennya," goda sang penghulu un

  • Guru Cantik Simpanan Anak Pejabat   145. Dibayar Kredit

    Happy Reading*****Mutia menganga menatap lelaki di depannya yang terlihat sangat tampan. Tampilan Bagas sungguh mempesona dan sangat menakjubkan. Pantas jika banyak wanita kepincut padanya."Terpesona, ya? Masmu ini memang ganteng, kok," bisik Bagas yang melihat Mutia masih belum berkedip dan terus menatapnya."Dih," ucap si ibu guru. Baru sadar jika dia terlena oleh ketampanan sang calon suami. Para sahabat keduanya pun tertawa melihat tingkah lucu sang calon pengantin."Jujur saja kenapa?" kata Bagas."Udah nggak usah banyak ngomong. Ayo berangkat keburu telat," ajak Mutia."Hahai, sudah ada yang nggak betah pengen segera nikah," goda Azalia.Mutia mencebik, setelahnya masuk mobil tanpa menggubris candaan para sahabatnya. Bersama Bagas sebagai sopirnya, perempuan itu melaju ke tempat pernikahan."Mas kita mau ke mana sebenarnya? Arah ini kan nggak menuju rumah utama," tanya Mutia."Hmm, siapa yang mengatakan kita nikahnya di rumah?" Menoleh pada sang pujaan, tangan Bagas mulai jah

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status