แชร์

aset sang ahli waris

ผู้เขียน: arselaa
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2025-09-30 02:39:57

Malam berlalu seperti siksaan yang lambat. Efek ramuan itu benar-benar nyata; Luna merasakan seluruh tubuhnya digerogoti hawa panas yang membuatnya gelisah, namun setiap kali ia mencoba menjauh, Arkan akan menariknya kembali ke dalam pelukannya. Bagi mata kamera, mereka tampak seperti pengantin baru yang tak bisa terpisahkan, namun bagi Luna, setiap sentuhan Arkan adalah pengingat akan kontrak yang mencekik lehernya.

Cahaya fajar menyelinap malu-malu melalui celah gorden beludru saat pintu kamar diketuk dengan otoritas yang tak terbantahkan. Luna tersentak bangun, menyadari bahwa ia sempat terlelap di dada bidang Arkan yang keras.

"Waktunya bangun, Luna," gumam Arkan, suaranya serak khas orang baru bangun tidur, namun matanya langsung tajam waspada.

Pintu terbuka tanpa menunggu izin. Nyonya Rina masuk dengan langkah anggun, diikuti oleh dua wanita berseragam medis putih yang membawa peralatan laboratorium portabel. Wajah Nyonya Rina tampak segar, kontras dengan Luna yang tampa
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • ISTRI KONTRAK SANG CEO DINGIN   Diantara Dua Sangkar

    Sarah berjengit, menepuk dahinya pelan sembari menghela napas lega. "Oh, astaga! Luna, maafkan aku. Aku lupa kalau tadi sebelum kamu sampai, aku sempat memesan martabak lewat aplikasi. Aku belum sempat makan malam karena lembur."​Luna masih terpaku, tangannya mencengkeram lengan sofa hingga buku jarinya memutih. "Kamu yakin itu kurir makanan, Sar? Jam dua pagi?"​"Di kota ini, makanan tidak pernah tidur, Luna, kamu tau itu kan ?" Sarah berusaha mencairkan suasana meski jantungnya sendiri masih berdegup kencang. Ia berjalan menuju pintu, mengintip sedikit dari balik jendela. "Benar, itu jaket ojek online. Tunggu sebentar."​Sarah membuka pintu sedikit, melakukan transaksi singkat, lalu kembali dengan sebuah kantong plastik yang menyebarkan aroma manis mentega. Namun, Luna sama sekali tidak merasa lapar. Baginya, setiap suara di luar sana adalah ancaman yang bisa menyeretnya kembali ke dalam sangkar emas Arkan.​"Makanlah sedikit, Luna. Kamu pucat sekali," ujar Sarah sambil membuka kot

  • ISTRI KONTRAK SANG CEO DINGIN   pelarian di atas benang tipis

    Mobil itu melaju membelah kegelapan malam. Di dalam kabin yang sunyi, Luna terus menatap spion samping, melihat gerbang megah kediaman Wijaya yang perlahan menghilang ditelan bayangan. "Kamu sudah aman, Luna," ucap Adrian memecah keheningan. Matanya lurus menatap jalanan, kedua tangannya mencengkeram kemudi dengan sangat erat."K adrian, kita akan pergi ke mana?" tanya Luna. Suaranya serak. "Arkan benar, ibunya tidak akan diam saja. Kita tidak bisa hanya bersembunyi di dalam kota."Adrian melirik sekilas, wajahnya tampak kaku. "Aku sudah menyiapkan apartemen kecil di pinggiran kota. Atas nama salah satu stafku yang terpercaya. Untuk sementara, itu tempat paling aman dari jangkauan Arkan."Luna terdiam sejenak, memikirkan kata-kata itu. Apartemen milik staf Adrian? Itu artinya ia hanya akan berpindah dari satu pengawasan ke pengawasan lain."Tidak, k Adrian. Jangan ke sana," potong Luna tegas.Adrian menginjak rem sedikit mendadak karena terkejut. "Maksudmu? Kamu tidak bisa kembali

  • ISTRI KONTRAK SANG CEO DINGIN   pintu yang terbuka

    Pukul sebelas malam , Luna berdiri di balik gorden kamarnya, menatap ke arah gerbang belakang yang tertutup. Tangannya gemetar, menggenggam ponsel yang layarnya masih menyala menampilkan pesan dari Adrian. "Pilihan yang sulit, bukan?" Suara itu muncul dari kegelapan sudut kamar. Luna tersentak, jantungnya nyaris melompat keluar. Di sana, Arkan sedang menyesap segelas wiski. Cahaya bulan yang masuk menyinari separuh wajahnya, membuatnya tampak seperti predator yang sedang menunggu mangsa. "Arkan? Sejak kapan kamu di sana?" suara Luna bergetar. "Sejak kamu mulai menatap jam setiap lima menit sekali," Arkan bangkit, meletakkan gelasnya di atas meja dengan denting yang mematikan. "Kamu pikir aku tidak tahu Adrian mengirimkan pesan? Kamu pikir sistem keamanan rumah ini membiarkan sinyal asing masuk tanpa terdeteksi?" Luna mundur selangkah, napasnya memburu. "Kalau kamu tahu, kenapa kamu membiarkanku?" "Karena aku ingin tahu," Arkan melangkah mendekat, langkah kakinya tidak bersuara d

  • ISTRI KONTRAK SANG CEO DINGIN   penghianatan di balik dinding kamar

    Malam semakin larut, namun amarah di dada Arkan justru semakin berkobar. Laporan medis itu masih menyala di layar tabletnya, seolah menertawakan kebodohannya yang sempat merasa "terikat" secara emosional semalam. Bodoh," desis Arkan pada dirinya sendiri. "Kamu pikir dia mulai menyerah, ternyata dia sedang membangun benteng." Tanpa mengetuk, Arkan membuka pintu kamar dengan kunci cadangan. Suara pintu yang membentur dinding membuat Luna yang sedang meringkuk di atas ranjang tersentak bangun. "Arkan? Apa yang kamu lakukan? Aku bilang aku butuh waktu sendiri!" Luna bangkit, mencoba menutupi kegugupannya. Arkan tidak menjawab. Ia melangkah mendekat dengan tatapan sehitam jelaga, lalu melemparkan tabletnya ke atas kasur, tepat di depan Luna. "Jelaskan ini padaku, Luna. Sekarang." Luna meraih tablet itu. Begitu matanya membaca baris tentang jejak kontrasepsi, tubuhnya membeku. Warna di wajahnya hilang seketika. "Arkan, ini..." "Kamu meminumnya?" suara Arkan rendah, namun mengandung a

  • ISTRI KONTRAK SANG CEO DINGIN   sabotase dalam darah

    Kalimat "hanya wadah" itu bergetar di telinga Luna, memantul di dinding marmer lorong yang dingin. Di dalam ruang periksa yang steril, Dokter Hendra mulai menyiapkan peralatan medisnya. Aroma alkohol menyengat, menggantikan wangi parfum mawar Ibu Rina yang menyesakkan."Silakan berbaring, Nyonya Luna," ucap Dokter Hendra datar.Luna menuruti perintah itu dengan kaku. "Apa yang akan Anda periksa, Dok? Bukankah ini terlalu dini?""Hanya pengambilan sampel darah untuk melihat profil hormon dan kesiapan rahim," jelas sang dokter tanpa ekspresi. "Nyonya Besar tidak ingin ada spekulasi. Beliau ingin kepastian angka.""Angka," bisik Luna getir. "Semuanya memang hanya soal angka di rumah ini."Saat jarum suntik menusuk kulitnya, Luna tidak meringis. Rasa sakit fisik itu tidak sebanding dengan rasa hina yang merayap di dadanya. Sementara itu, di ruang tamu, suasana jauh lebih panas. Begitu Luna menghilang di balik pintu, Arkan langsung berbalik menghadap ibunya."Wadah? Apa Ibu sadar betapa

  • ISTRI KONTRAK SANG CEO DINGIN   sisa semalam dan altar perjanjian

    Pagi menyapa dengan keheningan yang berbeda. Tidak ada lagi ketegangan yang meledak-ledak, melainkan rasa canggung yang tebal seperti kabut. Luna terbangun dengan posisi Arkan yang sudah tidak ada di sampingnya, meninggalkan sisi ranjang yang masih hangat. Saat Luna turun ke lantai bawah, ia menemukan Arkan sedang berdiri di dekat jendela besar ruang makan, menyesap kopi hitamnya sambil menatap taman yang basah oleh embun. "Kamu sudah bangun," ucap Arkan tanpa menoleh. "Aku tidak bisa tidur lagi," balas Luna sambil menarik kursi, suaranya masih sedikit serak. "Jam berapa sekarang?" "Masih sangat pagi. " Arkan berbalik, menatapnya dengan intensitas yang membuat Luna ingin membuang muka. "Tentang semalam..." "Jangan dibahas, Arkan," potong Luna cepat. "Kita sudah melakukannya. Tugas sudah selesai untuk saat ini. Bukankah itu yang tertulis di dokumen?" Arkan meletakkan cangkirnya dengan denting yang cukup keras. "Kenapa setiap kali aku mencoba bicara sebagai manusia, kamu selalu me

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status