INICIAR SESIÓNSeorang gadis desa menikah dengan pria kaya dari kota dan merupakan pria yang telah memperkosanya setahun lalu. Namun, pria itu terus menyangkal dan tak pernah menganggap gadis itu sebagai istrinya, bahkan berpikir jika dia hanya dijadikan kambing hitam untuk menutupi kelakuan bejad sepupunya yang gemar gonta ganti pasangan. Akankah pria itu percaya dan menerima dia sebagai istrinya?
Ver másADRIEN’S POV
“Your training starts soon young master’’
I was informed by one of my many guards
“I will be there soon”
That was my response, as I stood up to leave my room, the only place that felt like home to me in this big mansion. I had lived my life reminding myself who I was, who was I?
Well, I am the heir to my mafia father`s many businesses, I am meant to learn the techniques and grow to take over after him. I lost my mother due to all this mafia chaos, yet I am supposed to inherit the title and continue my father’s legacy. That's what I’ve been told since I was twelve and I’m expected to accept it the way it is as if it’s a neutral thing.
* * * * *
“You need to improve on your aim young master’’ said my trainer, today was one of the many days I hated. It was the day I had to train in shooting.
Which has not always been my strong suit because of how bad I am at shooting or maybe it’s because I didn’t want to do it. Anyway I have this training twice a week.
“BANG” I missed again oh my god wasn’t I tired of all this?
“That cannot be a shot by the Montrega`s family heir”
I could recognize that voice even in my sleep. It was the same voice that had been nagging me for the past twelve years, that deep voice full of command, it was the voice of my father Victor Montrega.
Whenever we saw each other we always ended up arguing and I was in no mood for arguing with him because it was always in vain.
I turned around to leave the room, I had barely taken five steps when he called out from behind me
“You’re running away again like the coward that you are”
He said in a mocking tone
“Yes I am. What? You’re so scared that your so called heir isn’t going to manage the business well because his shooting suck’s”
I said, I didn’t want to argue but he started it
“Is that how you speak to your father?!” He shouted, making everyone in the room tremble.
“You may go. Today’s training will be postponed” I said to my trainer and signaled one of my bodyguards with my hand to escort him so he does not faint from fright and then I signaled the rest to leave us alone finally facing my father’s angry face
“Where were we? Ooh the answer to your question “IS THAT HOW I SPEAK TO MY FATHER” well let’s see is it the father who left his fourteen year old son in the hands of military men or is it the father who makes his son do things against his wish by threatening him or is it………’’
“SHUT up’’
I was caught off by him
“what? are you afraid I will keep on listing the many qualities that make you a bad father and how bad of a father you have been to me and Isabella”
I knew that what I said angered him and knew how this was going to end but he started it, I opened my mouth to speak but he spoke
“You are just like your mother always fighting for what’s right but Adrien that’s not how things work in real life it only happens in the shitty music you write, I did all that because I don’t want my heir to be weak but I guess it was all in vain, you are just so useless”
When I heard him say that, I thought I was going to die from rage. How dare he mention my mother’s name in his filthy mouth? I thought he had a little bit of respect for her but I was wrong. He cares only about his business.
“Since I am useless then why are you wasting time on a useless heir huh? Just let me be since you know very well that I don’t want all this and mom wouldn’t all this but what can I expect from you?
You may have forgotten but let me remind you how she wanted me to live a good life so let me be’’ I said with tears in my eyes could he even see it. He was too blinded with rage to see it. I turned to leave then he said
“I will not let you disgrace the name I built with so much hard work, so NO I will never let you be Adrien you are going to take over after me’’
The tears started rolling down my cheeks. What was I expecting? Was I expecting him to understand me and where I was coming from? No, he wouldn’t because he was blinded by his greed for power. The same greed for power that caused my mother’s death. This was how it always ended. We could never come to a common ground. That's just how it has been and how it will always be I guess.
“I wish you would see above your greed, I really wish’’ I said as I walked out of the room .
My training room was a very spacious room with training equipment meant for the military. I was supposed to train like I was in the army but it was not going that way.
It was no use running away. I tried a lot when I was younger and I never got out of the house even if I did. I always got caught before boarding the bus or plane but I couldn't afford to do that. Now I am all that Isabella has.
If I leave she will be forced to inherit my father’s business, thank god my escape never proved futile. I can't imagine how Isabella would have been treated. My father is no less than an animal so I wouldn’t be shocked if he took out all his anger on her.
I thought as I reached the top of the stairs I stood looking down at the many servants doing their various jobs. The mansion was very spacious, the entrance hall opened wide beneath a soaring ceiling, its marble floor cool and smooth, a sweeping staircase curved upward, its banister carved and polished. Above a chandelier hung heavy with crystal, reflecting light.
The corridors were broad, designed to carry footsteps without echo. Tall doors lined the halls, each leading to rooms with their own character yet luxurious. The living rooms were spacious, plush sofas fit for kings and Queens, yet it never felt like home. It always felt like a prison cell, it was heavily guarded day and night and even when I went to attend lectures I was still heavily guarded. I was monitored every minute and second of my life. That's how Adrien Montrega’s life was and is going to forever, I guess.
Tangannya menggenggam erat benda panjang yang masih lembek dengan ujung masih runcing, tapi lembut. Perlahan gerakan pada mulutnya terhenti, bahkan terlepas dari benda bulat nan besar serta keras yang sejak tadi dia emut kasar seperti tuyul kehausan."Pisang?" gumamnya menebak dengan mata mendongak menatap wanita cantik yang ada di bawahnya dengan dress yang sudah berantakan sedang mendesah keenakan."Kenapa berhenti? Sedot lagi!" rengek wanita itu manja dan menggoda. Kiki menggeleng keras dan dengan cepat melepas pisang jadi-jadian yang digenggamnya serta bangkit dari tubuh wanita itu sambil bergidig.'Hueeek hueeek'Kiki mendadak mual terlebih ketika matanya menangkap pisang yang tadi masih sedikit lembek kini sudah mengacung di balik semvak berwarna merah senada dengan dress yang wanita itu kenakan. Kiki bergidig dan tanpa menoleh, tangannya langsung menyentuh handle mobil agar bisa keluar dan jauh-jauh dari dedemit yang menyamar untuk menggodanya."Sialan, gue nyedot nenen siluman
Seminggu akhirnya dilewati dan dua jam lalu, Abe serta Ayman sudah terbang ke Kalimantan ikut penerbangan pagi. Saat ini, Ayumi sedang di kamarnya mengambil pakaian kotor untuk segera dicuci oleh Bik Tina. Sesampainya di ruang kotor, tampak dia sudah menggiling pakaian di mesin cuci dan sedang menjemur sebagian yang sudah dicuci."Letakkan saja di situ, Neng!" kata Bik Tina menoleh pada Ayumi yang baru datang.Ayumi hanya tersenyum dan meletakkannya sesuai permintaan. Langkahnya pelan menuju teras di mana Mariana sedang duduk santai membaca koran. Mengulum senyum, Ayumi pun menghampirinya dan duduk berhadapan."Oya, Nak. Abe banyak kasih wejangan tidak saat berangkat tadi?" tanya Mariana penasaran akan otak lemot anaknya."Tidak, Ma. Kak Abe hanya bilang agar Ayu tak keluar rumah sendirian dan menyerahkan kartu ATM tadi," jawab Ayumi apa adanya."Hmm, begitu toh. Kirain tak kasih uang untuk istri yang ditinggalkan. Mau Mama pecat jadi anak kalau dia pelit dengan istri!" ujar Mariana m
Menunggu setengah jam, akhirnya Ayumi tiba sambil membawa nampan berisi teh panas. Dengan hati-hati, Ayumi meletakkannya di meja. Sedangkan, Abe terus memandang Ayumi yang tak menatapnya sedikit pun, berbeda dengan Mariana yang sumringah sepanjang hari."Duduk di sini, Nak!" ucap Mariana menepuk kursi di sebelahnya.Ayumi mengulas senyum dan duduk di sebelah Mariana dengan tatapan Abe tak pernah lepas darinya. Setelah duduk, Ayumi membuang pandangannya pada layar tv yang kini sedang menayangkan film asing."Ma, minggu depan Abe akan ke Kalimantan bersama Ayman untuk seminggu. Mama di sini saja bersama Ayumi!" kata Abe membuka pembicaraan dan seketika mata Ayumi beralih pada Abe yang sudah menantinya sejak tadi."Iya dong. Kebetulan Mama sedang tak ada jadwal urus ina inu dan bisa dikerjakan di rumah. Kalau pun ada, bisa Mama kerjakan dari rumah," jawab Mariana santai. Ayumi yang tak paham hanya menyimak. Walaupun Abe sudah urus perusahaan, tapi Mariana masih memantau dan sesekali ikut
Sekitar jam 9 malam, Ayman dan Cindy akhirnya keluar apartemen. Lebih tepatnya apartemen milik Cindy yang ada di kawasan Depok. Cindy adalah dokter kandungan yang bekerja di sebuah rumah sakit dan termasuk dari bagian Bakkas Group alias milik keluarga Abe serta ada Ayman tentunya. Cindy berasal dari keluarga sederhana, di mana orang tuanya adalah seorang PNS dan tinggal di Bandung. Kecerdasan Cindy telah mengantarkan dia hingga pada posisi ini dan terus merangkak naik karena telah memiliki beberapa restoran di beberapa kota yang dipantau oleh orang tuanya kini. Setiap akhir pekan, Cindy kadang pulang ke rumah orang tuanya di Bandung. Bahkan, Ayman sudah beberapa kali datang berkunjung."Cin, kamu yakin mau bawa mobil ke rumah sakit?" tanya Ayman yang berjalan di samping Cindy."Iya. Memang kenapa?" sahut Cindy."Enggak sekalian saja aku yang antar. Kebetulan searah denganku!" lanjut Ayman lagi."Gak usah. Aku bawa mobil saja, kebetulan besok mau langsung pulang ke Bandung." Ayman meno
Berdiri sebentar, Abe mengayunkan langkahnya ke dalam rumah. Dia yakin benar jika ada orang yang datang dan masih berbincang di dalam. Selangkah mema
Bersama para pekerja dan tim, saat ini Abe sedang memantau lokasi pendirian hotel. Sejak siang hari, Abe sudah berada di sana bersama Ayman. Namun, karena ada sedikit urusan mendesak, Ayman terpaksa undur diri dan meninggalkan Abe yang berencana akan menginap di bangunan hotel yang sudah jadi, da
“Hai, cewek cantik!”Sebuah suara bariton terdengar dari sebuah mobil dengan jendela kacanya dibuka. Ayumi yang melihatnya hanya diam tanpa mau perduli dan tetap mendorong sepedanya. Namun, pnaggilan genit dari pengendara di mobil tersebut bukannya berhenti malah semakin gencar
Tak ada jawaban dan hanya helaan nafas pelan terdengar lirih beradu dengan suara hujan yang turun semakin lebat diiringi kilatan petir. Menunggu dengan setia Ayman mengunyak pisang goreng sambil menatap wajah Abe yang nampak tenang.“Susah cari wanita pengertian, Man. Selama ini, wan






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reseñas