LOGIN"Ma ... Stella tak mencintaiku, aku juga tidak pernah bisa mencintainya. Kami tidak akan bisa bersama." Bian Dominic. "Kalau begitu, berikan Mama cucu yang berasal oleh kalian berdua!" Calista Dominic. Stella Danasya Gracia harus menekan rasa sakit di hatinya demi menuruti permintaan ibu mertuanya yang menginginkan cucu. Pernikahan tanpa cinta yang dilakukannya dengan Bian Dominic, sudah berlangsung lima bulan dan itupun karena permintaan ibu mertuanya juga. Bian adalah anak tunggal, sekaligus CEO dan juga pewaris tahta kekayaan keluarganya. Dia sudah pernah menetapkan takkan pernah menghabiskan waktu layaknya suami istri dengan Stella. Namun, akibat permintaan ibunya, dia menuruti permintaan istrinya dan mulai melakukan percintaan itu. Mampukah dia menghadapi suaminya yang perlahan-lahan mulai terasa posesif tanpa dia pahami apa sebabnya?
View MoreSebenarnya kalau dipikirkan lagi, kata-kata Bian terdengar cukup berlebihan dan aneh. Untuk ukuran Stella yang bukan siapa-siapa dan bukan orang hebat, berhenti dengannya untuk terus melanjutkan hidup adalah sesuatu yang mustahil dilakukan oleh pria mapan dan tampan itu. Namun, Stella sudah berniat untuk tidak lagi mencari masalah dan berniat juga untuk mempercayai sekaligus memberikan kesempatan untuk Bian. Baginya, tidak ada salahnya juga kalau tetap bersama pria ini, setidaknya dia bisa membesarkan dan memberikan kasih sayang pada anaknya yang akan lahir beberapa bulan lagi. "Kalaupun dia berubah nanti, belum terlambat kalau aku tetap pergi dari hidupnya." Stella menghela napas, menatap makanan di depannya yang di pesan Bian. Mereka tengah menikmati makan siang bersama, dengan Bian yang terlihat begitu peduli sampai memberikan beberapa lauk secara langsung ke piring Stella dan bahkan menyuapkan makanan untuknya. "Semua menu ini bagus untuk ibu hamil," ucap Bian sambil meny
Bian yang mendengar pertanyaan Stella, menoleh dengan alis terangkat. "Sejak kapan kau peduli aku marah atau tidak?" tanyanya membuat Stella merengut pelan dan berjalan mendekatinya. "Sikapku menyebalkan di matamu?" tanya Stella, begitu tiba di depan mejanya sampai Bian harus mengangkat kepala demi menatap wajahnya. "Aku berulang kali membuatmu emosi, aku sadar sudah salah. Tiba-tiba saja aku berpikir, kenapa aku harus sensitif padahal tidak ada sesuatu yang berlebihan yang kau lakukan? Mengingat semua itu, aku jadi tidak nyaman lama-lama di cafe, makanya aku pulang." Bian menghela napas, lalu bangkit setelah mematikan laptopnya dan berjalan menghampiri Stella yang diam menunggunya. "Kesalahan yang kulakukan memang pantas membuatmu benci padaku, aku akhirnya merasakan bagaimana perasaanmu saat kata-kataku dulu selalu menyakitimu." Bian meraih tangannya, menatap wajah Stella dengan lembut lalu kembali berkata. "Masih ada banyak waktu bagiku untuk mengubah semua itu dari dalam pik
Sampai di cafe, Stella turun sambil berpikir. Kemungkinan tadi dia terlalu sensitif, kehamilan membuatnya makin sulit dan sering memikirkan hal-hal yang menyakiti hatinya sendiri. Padahal Bian sudah berusaha melakukan yang terbaik untuknya dan berubah, tapi apa yang Stella lakukan tentu saja bisa membuat pria itu muak dengan sikapnya. "Harusnya aku tidak membuatnya emosi tiap hari." Menghela napasnya, Stella berjalan memasuki cafe. Suasana tidak begitu ramai pagi ini tapi dia tetap berusaha untuk bekerja, merapikan meja dan menyapu lalu duduk di kasir sementara Lyra menyiapkan makanan yang dipesan oleh pelanggan. Mereka bekerja sama dengan bakery dan cake yang tidak jauh dari tempat ini. Toko bakery and cake itu akan mendistribusikan hasil-hasil kue buatan mereka pada Stella yang membuka cafe lalu bekerja sama dengan sistem harga reseller. Jadi, kalau ada pelanggan yang ingin duduk-duduk dengan santai maka pihak bakery and cake langsung mempromosikan supaya mereka ke cafe
Stella sebenarnya mengatakan semua itu dengan sangat santai pada Bian tapi entah mengapa karena menyebut kata 'ibuku', Bian adi perasaan sendiri teringat dengan kesalahannya. Namun, meski begitu dia tetap meminta pelayan untuk membuatkan makanan yang diinginkan oleh Stella, pelayan itu datang dari rumah utama alias tempat ibunya tinggal dan membawa makanan yang diinginkan Stella. Sebenarnya semua ini dirasa terlalu berlebihan, padahal Stella sudah bilang kalau dia bisa membuatnya sendiri. Namun, Bian menyebalkan dengan kata posesif yang ada di dalam dirinya. Membuat Stella juga tak bisa membantah dan memutuskan untuk langsung makan saja karena dia sudah lapar. "Apakah ini yang namanya mengidam? Kudengar, seorang ibu hamil biasanya akan menyukai makanan-makanan random. Kau mendadak menginginkan makanan asia seperti ini, kau sedang mengidam?" tanya Bian sambil menyuapkan satu potong daging ke mulutnya. "Mungkin saja, aku juga tidak begitu tahu karena Ini pertama kalinya aku hamil












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore