LOGINAndina, seorang gadis mandiri yang ditinggal pergi oleh kedua orangtuanya terpaksa harus merantau ke pulau Bali. Tempat terdekat dari kampung halamannya. Ia bekerja sebagai pelayan restoran disebuah perhotelan, hingga pertemuannya dengan Daniel membuatnya terjebak dalam permainan gila seorang laki-laki yang menjadi pemilik hotel tersebut. Namun, bukan itu saja yang menjadi permasalahan yang Andina hadapi. Sarasvati, ibu kandung Daniel pun ikut serta sebagai pengatur sandiwara kisah cinta mereka. Sanggupkah Andina mencintai Daniel dan bertahan mendampinginya? Ataukah ia memilih untuk pergi dan menghindar dari gejala menjelang gila?
View MoreRaya
“Raya, you are such a disobedient little brat. I don’t want you in my house. Leave right now!”
My mom's mean words hurt me a lot. Her angry voice makes me feel scared and small. I can feel how mad she is at me, and it's heavy on my heart.
Across from me, a man in his late forties who is said to be my father sits on the sofa, speaking up, urging my mother to reconsider. "Amanda, don’t just kick her out yet. Who will do the house chores if you kick her out?" I see my mom's anger start to go away, and she looks like she's thinking.
There's a hint of reconsideration in her eyes, but she's still looking at me with a mean look.
Even though things are tense, I hold onto a small hope that this argument might help improve our difficult relationship.
"No, William. She is a thief. She has stolen my diamond earrings!" My mother's accusing words are aimed at my father and me, weighing heavily on me and causing my heart to race as I struggle to understand the betrayal in her tone.
I sit there on the cold floor, on the verge of tears, my voice trembling as I question with a shaky tone, "Why would I do that? Am I not your daughter?" her gaze shifts back to me, her eyes cold and unforgiving. In a moment of brutal honesty, she delivers a blow that cuts deep into my soul, "No! You are not and you never will be."
Her words hit me like a punch, throwing me off balance and leaving me reeling, my emotions in chaos. Tears gather at the corners of my eyes, blurring my vision as they roll down my cheeks, each one a silent expression of the hurt and abandonment I feel.
I knew about my adoption, but I held onto a small hope that my parents would love me no matter where I came from.
As my mother's painful words fill the room, I turn to my father, hoping to find empathy or understanding in his eyes. My heart sinks as I realize that the rejection is mutual, cutting me to the core.
My attention then shifts to the figure standing at the top of the stairs, Sean, my brother. His hands are crossed over his chest, a sly grin playing on his lips. He acts cold and indifferent towards me like he doesn't care.
There is a big gap between us, with no love or warmth. I've always been pushed aside, only getting a little bit of love and attention compared to my sibling.
Sean, the favorite child, enjoys special treatment like a prince, with our parents fulfilling his every wish.
Alone in my small room, I am lying on my stomach, my mother's warnings bearing down on me, stirring up a storm of feelings.
Tears fill my eyes, hot and flowing freely, as I curse my luck and the hardships I have faced in life.
The command from my mother echoes in my head, her strict order to pack up and go ringing in my ears. Panic sets in as I come to terms with the harsh truth that I will soon be without a home.
Where will I go?
What will become of me in this unforgiving world?
How am I going to find my family?
Just when I am lost in my thoughts, the door to my room creaks open, and a figure enters. He leans against the doorframe, his gaze fixed on me. Panic grips me, fear enveloping my entire being.
“What are you doing here?” I ask and he shuts the door behind him, approaching me with a sly grin plastering on his face.
I sit back on the bed, feeling both alarmed and terrified. I prepare myself to run away if he tries to do something. However, he proves to be much stronger than me, swiftly pinning me against the mattress with his weight bearing down on me.
His hand covers my mouth completely, causing my eyes to widen in alarm as my heart pounds frantically in my chest. His grin continues as he leans in close, whispering, "Do you think I would allow you to escape that easily?"
He is monstrous, the very man who is said to be my brother.
"Sean, what are you doing? Please don't!" I plead with him as he releases his grip on my mouth.
I know the rules.
Don’t shout.
Don’t tell anyone.
Don’t complain and just take it.
Sean says that we are not related by blood which means whatever he is doing to me is right.
I might have agreed to it only if my consent was in it. But I hate it…I hate it when his tongue is crawling all over my body.
I hate it when he touches me inappropriately. I hate when he forcefully enters inside me and forces me to take all of it. I hate it when he forces himself into my mouth.
He does strange things to me, and I often wake up with random bruises on my body.
There's a scar on my chest, between my breasts, from a cigarette burn given by him.
“You can never escape me!” his raspy voice comes to my ears and I immediately respond with, “They are sending me away.” his eyes darken, his grip on my throat tightens, and with his teeth gritted he utters, “That won't happen.”
This person purposely left my mother's earrings in my room to upset her and now that she's kicking me out, he's trying to convince her. Apparently, he is the only one who gains benefit out of me. Well, the others too…everyone but in their own ways.
Before I can utter a word, he silences me with a forceful kiss, biting my lower lip in a way that feels inappropriate and violating.
The reason I cannot find the courage to speak about this is because I fear no one will believe me.
Proses melahirkan sukses membuat Daniel hampir pingsan. Bagaimana tidak? Selama proses terlahirnya manusia kecil yang sedang melakukan inisiasi menyusui dini itu, Andina terus mencengkeram suaminya. Meremas semua yang bisa ia jangkau dari untuk melampiaskan rasa sakitnya, atau tepatnya membagi rasa sakit.Andina bahagia, begitupun Daniel yang sempat menangis haru sepanjang hari kemarin."Masih sakit, yang?" tanya Daniel sambil mengamati sang anak yang masih menyusu dengan mata yang terpejam. Bayi merah yang diberi nama Dayana Dimitri tanpa Putri Adelard Sanjaya itu terlihat menikmati asi eksklusif dari Andina."Masih dong, kamu kira sulap! Di obati langsung sembuh!" seru Andina kesal.Daniel tersenyum seraya mengambil sisir untuk merapikan rambut Andina."Udah jangan marah-marah! Nanti Dayana sedih lho denger suaramu." sindir Daniel."Habis kamu lucu mas! Orang baru melahirkan kemarin kok ditanyain masih sakit apa eng
Di pesawat yang mengudara menuju Jakarta, Andina terus bertahan dengan hati yang begitu ketar-ketir memikirkan kandungannya. Ia takut terjadi apa-apa saat kemarin hasil check up menunjukkan sedikit risiko jika melakukan penerbangan. Namun, Daniel terus mengingatkan bahwa ia akan baik-baik saja asal jangan tegang."Gimana gak tegang, mas! Mama pasti bawel kalau cucunya kenapa-kenapa." sunggut Andina.Daniel mengusap perut Andina dengan pelan selama perjalanan yang hanya memakan waktu satu setengah jam itu."Rilex, sayang. Jangan takut! Aku bakal nyanyiin lagu anak-anak untuk Dayana putri kita. Lagu kita dulu, konyol tapi sampai sekarang aku masih ingat."Andina mengangguk pasrah dan berusaha memejamkan mata saat Daniel mulai menyanyikan lagu Barney."I love you, you love me. We are happy family. With a great big hug. And a kiss from me to you, won't you say you love me too..."Daniel tersenyum lega saat det
Butuh waktu hingga satu bulan untuk membujuk Andina agar mau melepas orangtuanya pulang ke rumah masing-masing. Meski berat, Andina tetap mengantar ibunya dan Feng ke Bandara Ngurah Rai setelah beberapa hari yang lalu Feri terlebih dahulu pulang ke Surabaya bersama kedua anaknya. Kirana masih tinggal di hotel untuk mengikuti job training dengan petinggi perusahaan. "Dimana rumah ibu?" tanya Andina setelah cukup puas menangis dan merengek sembari menarik ujung baju ibunya agar tidak pergi darinya lagi."Aku masih kangen, masih mau ibu ada disini!" lanjutnya tetap dengan nada merengek, seolah satu bulan ini tidak cukup untuk melepas kerinduan bersama. Feng yang 'mungkin' menganggap Andina aneh memasang wajah tak acuh. Ia bergumam dengan bahasa Mandarin yang pasti Larasati mengerti jika itu adalah peringatan. "Dina... Ibu harus pulang ke Hongkong. Ibu harus kerja, kalau kamu kangen sama ibu, Daniel sudah tahu dimana rumah ibu. Kamu bisa data
Suasana ballroom hotel terlihat sangat sejuk dengan hiasan bunga-bunga segar berwarna putih, begitu juga dedaunan yang di tata sedemikian rupa agar terlihat rapi dan indah. Balon-balon bertuliskan inisial DAYANA bergoyang-goyang diterpa angin dan kue tart penuh cream pandan buatan master chef Bisma menjadi pelengkap suasana pagi ini.Nuansa hijau dan putih masih menjadi pilihan Daniel untuk merayakan pesta kecil penyambutan calon bayi yang di kandung Andina. Begitupun seragam pesta hari ini.Hijau? Mungkin menjadi pilihan warna yang tidak biasa untuk gaun pesta. Namun, ya sudahlah. Daniel hanya menuruti keinginan sang istri. Beruntung Sarasvati mendapatkan desainer gaun pesta yang bagus, jadi gaun berwarna hijau itu bisa terlihat elegan dan mewah.Di kamar, Daniel memperhatikan penampilan Andina yang terlihat seperti gitar spanyol. Lekukan tubuhnya depan belakang begitu menonjol.Daniel menahan senyum saat Andina merengut dengan wa
Daniel bersorak gembira di tengah malam saat dirinya kembali menjejakkan kakinya di halaman rumah orangtuanya. Rumah masa kecilnya yang kini nampak lebih megah dari sebelumnya. Meski Jakarta masih menyambutnya dengan suasana yang sama seperti saat ia meninggalkan kota megapolitan itu.
Marco tertawa geli, terlihat terhibur sekali dengan adegan di depannya saat Daniel memeluk pinggang Andina seraya mengusap-usap perut Andina dengan riang gembira."Selamat, Mbak! Bentar lagi suamimu akan berganti status menjadi bodyguard galak super posesif!" Tawa Marco membahana seis
Samar-sama cahaya matahari mulai datang memberikan kecupan hangat pada embun basah di atas dedaunan. Pagi pun datang dengan berlimpah sinar cerah yang membiaskan ronanya sampai ke dalam kamar. Andina mengerjapkan matanya sebelum beranjak ke tepi ranjang dengan mata yang berat terbuka
Jakarta mungkin saja macet seperti biasanya. Namun, Sarasvati yang baru saja mendengar kabar bahwa Andina telah mengandung cucunya langsung memilih penerbangan tercepat hari ini untuk merayakan keberhasilan anaknya dalam menghamili istrinya.Bersama anggota keluarganya, ia terus meman












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ratings
reviewsMore