Mag-log inSinopsis: Nala Olivia, menikah dengan Akbar Fattan seorang pengusaha muda yang terkenal alim dan begitu menjunjung tinggi kesetiaan. Siapa sangka bila di tujuh tahun pernikahannya mereka diguncang dengan badai dahsyat hingga menuju ke perpisahan. Memang, tidak ada yang sempurna kecuali Tuhan Yang Maha Esa. Hanya saja, akan tinggi harapan wanita bila prianya selalu saja menyuguhkan manisnya madu di dalam rumah tangga mereka. Hingga, dalam suatu keadaan ekonomi yang melilit, yang nyaris saja membuat kehidupan mereka menjadi pahit. Seketika bisa kembali mengecap manisnya hidup berada dengan bantuan seorang janda kaya raya. Ada kalanya, penghianat terkejam adalah orang dalam dan itulah yang terjadi dalam kehidupan Nala. Cintanya koyak, hatinya remuk saat suatu fakta mengejutkan terungkap di tujuh tahun pernikahannya. Di saat itu cinta masa mudanya kembali. Ryan mantan kekasihnya semasa SMA datang. Dia menyembuhkan luka Nala dan membantunya untuk bangkit. Tidak ada yang tahu bahwa Ryan adalah anak dari pemilik perusahaan besar yang sedang kabur sedari SMA. Ryan memiliki mimpi menjadi dokter, dan ayahnya sangat menentang itu. Dia pergi dari rumah dan menyembunyikan jati dirinya. Hingga di saat terdesaknya bersama Nala, barulah Ryan menunjukan jati dirinya demi mengangkat derajat wanitanya. Akankah Nala bertahan? Akankah di bangkit bersama Ryan? Cinta pertama sekaligus si kaya raya yang menyembunyikan jati dirinya?
view moreDalam sebuah kamar ketika malam tiba, seorang wanita terus saja menggerutu seorang diri sambil memijit kakinyay yang terasa sakit. Nala merasakan sakit dibagian kakinya karena benturan tadi saat di adengan nekat menabrakkan mobilnya pada mobil Akbar. Dia sudah sangat marah kali ini sikap Akbar yang kembali ingin menggodanya membuatnya muak.Terdengar suara pintu terbuka lebar, menampilkan sosok laki-laki dengan stelan jas hitam memasuki kamar tanpa sambutan. Dia hanya tersenyum simpul menatap Nala. Ryan, sama sekali tidak banyak bicara terlebih saat dia mengira bahwa istrinya tidak ada karena mobil mereka juga tidak ada di garasi.“Aku pikir kamu pergi Sayang, ternyata kamu ada di rumah. Mobilmu ke mana?” tanya Ryan sembari meletakan tas dan jasnya dan ia mendekati Nala yang masih duduk membelakanginya di tepi ranjang.“Astaga! Kenapa kakimu bengkak membiru begitu? Kenapa ini tadi Sayang? Kamu kenapa?” tanya Ryan dengan sedikit panik.“Enggak apa-apa, aku enggak sengaja nabrak aja tad
"Sayang, hari ini kamu dulu ya yang jemput Gaffi, aku ada rapat dadakan. Ayah tiba-tiba sakit kepala, jadi aku tidak bisa menjemputnya, aku harus menggantikan ayah Sayang," kata Ryan kepada Nala yang tengah menatakan makan siang suaminya di meja kerja. "Loh, kenapa enggak bilang dari tadi Sayang? Hari ini Gaffi pulang cepat, kalau sampai keduluan Mas Akbar bagaimana?" kata Nala yang seketika terlihat panik. Dia segera merapikan tasnya dan mencium pipi sang suami sebelum pergi.. "Kamu nanti jangan malam-malam ya pulangnya, kita makan malem bareng!" ucap Nala dengan setengah berteriak kepada sang suami yang melambai kepadanya dengan senyuman yang menghiasi bibirnya. "Iya, aku usahakan. Kamu hati-hati nyetirnya!" kata Ryan dengan setengah berseru lantaran Nala yang dnegan cepat melangkah pergi meninggalkan ruangan kerja sang suami. "Dia masih sama saja, tetap menomer satukan keluarga. Hemh ... aku merasa Akbar itu tetaplah gangguan yang besar untuk keluarga kecil kami dan aku haru
61. “Ada apa? Kamu kenapa?” tanya Nala kepada suaminya yang hanya diam setelah penyatuan mereka. Untuk pertama kalinya Ryan menyalakan rokok yang ia bawa di dalam tasnya. Nala terkejut melihat ini. Bagaimana tidak, ini adalah kali pertama Ryan merokok di depan matanya. Mantan dokter itu tadinya sama sekali tidak menghisap benda merugikan itu. Terlihat ada raut kecemasan di wajah Ryan, pria itu terlihat stress dan mempunyai beban pikiran namun di asama sekali tidak mau membagikannya dengan Nala, istrinya. Ia memendamnya seorang diri. “Gimana aku bisa bilang sama dia kalau mantan suaminya itu tadi mengatakan sesuatu yang membuatku begitu terganggu? Akbar ingin merebut Nala kembali dengan caranya. Bukan tidak mungkin itu terjadi, mengingat masih ada Gafi diantara mereka. Gafi adalah jembatan terbaik bagi keduanya bertemu,” pikir Ryan. “Sayang, kamu kenapa? sejak kapan kamu jadi merokok begini?” tanya Nala lagi yang kali ini mendekat sambil memeluk tubuh sang suami dari belakang. Jem
60. "Aku tidak ingin melakukan apa-apa selain memberikan ucapan selamat atas pernikahan kalian," jawab Akbar dengan ketulusannya. Terlihat dengan sangat jelas raut wajah yang tidak rela itu nampak di mimik wajahnya. Si mantan suami itu separuh hatinya telah bergelut dengan rasa kecewa. Wanita yang dulu ya buang iya bohongi sinetron lihat begitu terang benderang dan menjadi pusat perhatian. "Selamat ya Selamat ya semoga awet sampai kakek-kakek dan nenek-nenek," ucap Akbar sembari mengulurkan tangannya dan Ryan pun menerimanya dengan sukarela. "Terima kasih. Aku harap ini benar-benar ucapan yang tulus dan bukan sesuatu yang modus." Ryan membalas ucapan dari Akbar dengan datar dan dingin. Mendengar apa yang Ryan katakan membuat Akbar tertegun. Sepersekian detik iya membeku dan tidak bisa berkata apa-apa. Salah semua kata-kata yang telah ia persiapkan dari rumah ke nilainya begitu saja. Belum sempat dia membalas ucapan Ryan, ayah dan ibunya sudah datang berlarian untuk mencegahnya
Pertengkaran di Rumah Sakit Aroma karbol begitu menguar di penciumanku. Aku masih merasakan pusing di bagian kepalaku. Amat sangat pusing dan berdenyut membuatku merasa kesakitan meskipun hanya ingin berganti posisi. “Akh ….” erangku kesakitan saat aku berganti dari berbaring menjadi miring. Seke
Bab 3. Siapa Wanita itu Semalaman aku menangis, menyesali diriku yang selama ini terlalu bodoh dan terlalu mengandalkan pria. Pantas saja, Mas Akbar bekali-kali menyindirku untuk mencari kesibukan lain. Mungkin sebenarnya dia sudah muak melihatku terus menerus hanya bisa menengadah tangan menghara
Bab 2. Pertengkaran Kami “Bangun Bun, bangun, kamu kenapa kok tidur di sini? Kamu mimpi apa kok sampai nangis?” tanyanya kepadaku sambil menyeka pipi basahku dengan tisu. Aku menatapnya, tatapan sendu berurai air mata menggambarkan sedih hatiku. Aku bersyukur semua itu hanya mimpi dan walaupun ha
Bab 1. Bukan Biduk yang Sempurna“Mas, yakin besok mau berangkat?” tanyaku kepada suamiku yang sedari pulang kantor tadi sudah sibuk mempersiapkan segala keperluannya.“Iya, pekerjaan ini sama sekali tidak bisa di tunda lagi Sayang, kamu tahu ‘kan bagaimana aku membangun usaha ini? Bagaimana susah












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
RebyuMore