เข้าสู่ระบบ“Ning... Ning, kamu kenapa?” bisik Banyu cemas seraya makin merapatkan punggung tangannya di dahi Bening.Suhu tubuh Bening terasa sangat tinggi, membakar kulitnya. Bening tidak langsung menjawab. Kelopak matanya terpejam rapat, bibirnya yang pucat bergetar pelan menahan gigilan dingin yang membungkus tubuhnya dari dalam. Napasnya memburu, terdengar patah-patah di tengah heningnya sepertiga malam.“Mas... dingin...” gumam Bening lirih, suaranya hampir tenggelam oleh suara embusan angin di luar ruko.“Panas kamu tinggi sekali, Ning. Ini tidak bisa dibiarkan,” ujar Banyu panik. Pria itu sudah bersiap untuk bangun dan menegakkan posisinya. “Aku cari apotek 24 jam sekarang. Kalau tidak ada, kita ke rumah sakit malam ini juga.”Namun, Bening dengan sisa tenaganya menahan lengan Banyu. Jemarinya yang panas meremas kemeja pria itu dengan erat, menolak untuk dilepaskan.“Jangan, Mas... Jangan ke mana-mana,” bisik Bening menggeleng pelan. “Minta minum saja... sama peluk aku saja. Sudah malam
Sambungan telepon itu terputus setelah Bening menurunkan ponsel dari telinganya secara perlahan. Kemudian ia memeluk lututnya di atas kasur busa, menatap kosong pada sudut ruangan yang temaram. Udara malam mulai merayap dingin, namun kulit kepalanya yang tadi sempat dijambak hebat masih terasa berdenyut nyeri. Setiap kali ia memejamkan mata, bayangan wajah-wajah penuh kebencian dan lemparan kotoran dari warga desanya kembali berputar jelas di kepala.Sementara itu, di dalam mobilnya yang terparkir di tepi jalanan sepi, Banyu menatap layar ponsel yang gelap. Niatnya untuk menuruti Bening mendadak sirnah begitu membayangkan bagaimana Bening saat ini. Masalah datang bertubi-tubi dan dia sendirian.“Masa bodoh,” bisik Banyu pada dirinya sendiri.Banyu langsung menginjak pedal gas, melesatkan mobilnya menembus kegelapan malam menuju jalan lintas kota. Persetan dengan skorsing dinas dan kelelahan fisiknya. Pikiran tentang Bening yang merintih sendirian membuat akal sehatnya tak mampu berko
“Kalian semua, hentikan! Apa-apaan ini?!”Suara berat dan lantang itu memecah kegaduhan di pekarangan rumah Bening. Pak RW melangkah cepat membelah kerumunan, didampingi tiga anggota Linmas berpakaian seragam hijau.Melihat kedatangan pengurus desa, wanita paruh baya yang tadinya menjambak rambut Bening akhirnya melepaskan cengkeramannya dengan kasar. Bening terhuyung ke depan, meringis kesakitan seraya memegangi kulit kepalanya yang berdenyut nyeri. Hairpin yang ia kenakan sudah terlepas, membuat rambutnya yang setengah basah oleh air kotor terurai acak-acakan.“Ada apa ini ramai-ramai? Kenapa sampai main hakim sendiri begini?” tegur Pak RW tegas, menatap warga desa yang berkumpul di halamannya dengan raut wajah gusar.“Pak RW jangan pura-pura tidak tahu!” celetuk seorang ibu-ibu berbadan tegap sambil menunjuk muka Bening. “Wanita ini yang bikin kampung kita tercemar! Dia baru pulang saja sudah bikin kotor suasana desa!”“Betul, Pak RW!” sahut pria paruh baya di sebelahnya, menyilang
Suasana di rumah duka masih dipenuhi lalu lalang para pelayat. Namun, Bu Retno—ibu Banyu—segera meminta putranya untuk mengantar Bening kembali ke hotel agar bisa beristirahat. Selain karena kerabat yang datang makin ramai, Bu Retno tak ingin Bening makin terpukul dan juga sedih mendengar bisik-bisik tajam dari berbagai sudut ruangan rumah itu.Setiap satu tatapan ke arah Bening akan diikuti dengan cibiran, cemoohan.“Gara-gara Bening batalin nikah, Mamanya Tara jadi drop...” “Iya, padahal kelihatannya saja lugu, tapi diam-diam main belakang sama sepupunya sendiri.”Selentingan omongan itu terus mengudara. Padahal, di tengah pusaran duka yang berat ini, orang yang paling hancur dan patah hati tentu saja Tara.Begitu sampai di lorong hotel, Bening menahan langkah Banyu. “Mas Banyu, sebaiknya Mas segera kembali ke rumah Dokter Tara. Dia pasti butuh orang untuk menemaninya sekarang.”“Sudah ada saudara yang lain di sana, Ning. Tapi nanti aku juga balik lagi. Kamu tenang saja...” jawab B
Banyu perlahan menurunkan ponsel dari telinganya. Sambungan telepon dari Tara baru saja terputus, membiarkan keheningan yang amat pekat membungkus kamar hotel itu.Bening menatap Banyu dengan napas tertahan, memburu jawaban dari raut wajah pria di depannya. Namun, yang ia dapati di mata Banyu hanyalah sorot duka yang begitu dalam.“Ganti bajumu, Ning. Kita langsung ke rumah Budhe,” kata Banyu dengan suara serak yang bergetar pelan. “Kita bantu siapkan kedatangan jenazah dan urus pemakamannya. Budhe tidak punya siapa-siapa lagi di sini selain Tara dan keluarga kita... Anaknya yang satu masih di luar negeri.”Bening tidak sanggup mengeluarkan patah kata pun. Tangannya yang gemetar hebat langsung meraih pakaian ganti, menuruti instruksi Banyu secara mekanis. Pikirannya benar-benar kacau dan hancur.Mama Tara benar-benar telah tiada.Selama ini, wanita paruh baya itu sangat baik padanya, selalu menyambutnya dengan hangat dan menganggapnya seperti putri sendiri. Bening bahkan belum sempat
“Nunggu apa, Ning? Kamu gak takut aku keburu jadi kakek-kakek?” tanya Banyu dengan suara serak menahan tawa.Bening menyunggingkan senyum kecil. Kelopak matanya sudah terasa sangat berat untuk terus terbuka. “Ya tidak apa-apa kalau memang jodohnya sudah kakek-kakek...”“Jangan, Ning. Aku yang tidak kuat menahan rindu. Sekarang saja rasanya aku mau gila. Kalau tidak menikah denganmu, aku tidak akan pernah menikah,” sahut Banyu mantap.“Kok begitu?” tanya Bening pelan, nyaris berbisik.“Karena cintaku padamu jauh lebih besar, Ning, daripada cintamu padaku,” aku Banyu jujur.Pria itu perlahan membalikkan tubuh Bening agar menghadap ke arahnya. Kini posisi mereka saling berhadapan dalam jarak yang sangat dekat, hingga hembusan napas hangat keduanya saling berbenturan di remangnya lampu kamar.Sebenarnya, bukan karena cinta Bening yang tidak besar. Hanya saja, Bening memiliki alasan lain yang tersimpan rapat—alasan yang ia pikir adalah jalan terbaik untuk semua orang saat ini.Banyu membel
"Itu…. perut saya, Mbak."Suara Banyu terdengar tenang, namun gemuruh di dada Bening yang menderang.Bening mematung. Telapak tangannya masih merasakan sensasi kulit yang hangat, lembap, dan berotot di bawah sana. Mana pernah ia memegang hal seperti itu selama hidupnya?Saraf-saraf di sekujur tubu
"Pak Lurah, mari saya antar," ucap Bening buru-buru berjalan mendahului seusai melepas jabatan tangan.Ia berusaha menjaga jarak yang cukup lebar."Jangan panggil saya Pak. Panggil saja Mas," sela Banyu dari arah belakang.Langkah kaki Bening sempat tersendat. Bening buru-buru menelan ludah yang te
"Ning, nanti kalau Pak Lurah tinggal sementara di pendopo rumahmu. Jangan gatel-gatel, ya." celetuk Bu RT dengan suara yang sengaja dikeraskan.Bening menarik napas panjang, berusaha mengabaikan sengatan ejekan itu. Ia membenahi cardigan yang melapisi dasternya, mencoba tampak tidak peduli meski hat
Banyu menarik pelan tubuh Bening hingga mereka berdiri sangat dekat. Aroma pria itu—perpaduan antara sisa peluh aktivitas luar ruangan dan aroma tembakau yang samar—seketika menyerbu indra penciuman Bening, membuatnya nyaris pening. Banyu sedikit menunduk. Cengkeraman pria itu di pergelangan tanga







