เข้าสู่ระบบRoni berjalan meninggalkan halaman balai desa dengan langkah terburu-buru. Jantungnya berdebar kencang, dadanya sesak, dan keringat dingin terus mengalir meski udara malam cukup sejuk. Ia tak berani menoleh ke belakang, takut melihat bayangan Pak Kades yang masih berdiri di teras kantor.
"Aku bisa mengusirmu kapan saja." Kata-kata itu terus berputar di kepalanya. Roni menggigit bibir bawahnya, mencoba menenangkan diri. Tapi setiap kali ia memejamkan mata, ia melihat lagi pemandangan di balik jendela itu. Pak Kades menindih Bu Sri. Desahan-desahan yang kini terasa seperti mimpi buruk. "Sial..." gumam Roni pelan sambil mengibaskan tangan, seolah bisa mengusir bayangan itu. Langkah kakinya mulai melambat begitu ia melewati tikungan dekat rumah Pak Raharjo. Dari kejauhan Roni sudah mencium aroma masakan yang menggugah selera. KRUCUK... KRUCUK... Perutnya yang sedari tadi kosong langsung melantunkan musik keroncong. Tapi ia tak berhenti. Justru ia mempercepat langkah. "Roni?" Suara berat khas Pak Raharjo memanggil dari teras. Roni menoleh reflex, dan melihat sosok pria tua itu berdiri di depan pintu, mengenakan sarung dan kaus oblong. Di tangannya ada piring berisi nasi dan lauk yang masih mengepul. "Kamu dari mana? Kok buru-buru?" Pak Raharjo menyipitkan mata, menatap Roni dari ujung rambut sampai ujung kaki. "Kamu kelihatan pucat. Apa kamu baru saja ketemu hantu?" Roni menggeleng cepat, terlalu cepat. "Nggak apa-apa, Pak. Saya cuma... cuma mau pulang." "Pulang? Tumben gak mampir sini dulu?" Pak Raharjo menurunkan piringnya ke meja teras, lalu melangkah mendekati pagar. "Mari sini, Ajeng masak semur enak loh. Kamu pasti belum makan kan? Ayo makan dulu." Roni menelan ludah. Biasanya ia akan menerima tawaran ini dengan senang hati. Tapi malam ini berbeda. Ancaman Pak Kades yang serius membuatnya tidak ingin bertemu siapa pun, bahkan dengan Pak Raharjo yang selalu baik padanya. "Maaf, Pak," ucap Roni, matanya menunduk. "Saya... tidak laper." "Tidak laper?" Pak Raharjo tertawa kecil. "Ayo, Ron. Jangan malu-malu." Roni menggeleng lagi, kali ini lebih tegas. "Beneran, Pak. Ada... ada PR yang harus saya kerjakan." Pak Raharjo mengernyit. Dia tahu Roni bukan anak sekolah lagi, mana mungkin punya PR. "Roni," katanya pelan, suaranya menurun, "kau terlihat seperti orang yang ketakutan. Ada apa sebenarnya?" Roni membeku. Jari-jarinya mengepal di samping tubuhnya, kuku hampir menusuk telapak tangan. Dia ingin sekali bercerita pada Pak Raharjo—salah satu pria di desa ini yang selalu memperlakukannya seperti anak sendiri. Tapi kata-kata ancaman Pak Kades langsung terngiang. "Jika kau berani membuka mulut..." Roni menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya pelan. Ia memaksakan senyum tipis di bibirnya, meski terasa kaku. "Nggak ada apa-apa, Pak. Saya cuma kelelahan. Hari ini sibuk banget." Roni menepuk dadanya sendiri, pura-pura santai. "Besok saya akan ke sini jika ada jadwal bersih-bersih kandang." Pak Raharjo masih menatapnya curiga. Tapi akhirnya ia mengangguk, meski ragu. "Kan, kandangnya sudah dibersihkan tadi?" Balas Pak Raharjo sambil sedikit terkekeh. “Kalau mau membantuku cari rumput, ya gak apa-apa. Tapi aku gak sanggup bayarin kamu.” Roni mengangguk, matanya mulai terasa panas. Ia buru-buru menunduk agar Pak Raharjo tidak melihat. "Yaudah, pak. Kalau besok gak sibuk saya ke sini." Dengan langkah cepat, Roni melanjutkan perjalanan. Ia tak berani berlari karena takut Pak Raharjo makin curiga. Tapi di dalam dadanya, segala sesak dan ketakutan terus menumpuk. Ketika akhirnya ia sampai di depan rumahnya, tubuhnya lemas. Ia bersandar di pintu kayu, memejamkan mata. "Astaga..." bisiknya. "Hari ini... terlalu berat." Baru saja Roni menarik napas lega. Suara ketukan keras menggema di pintu depannya. Tok! Tok! Tok! Roni lonjak kaget, jantungnya yang mulai tenang langsung berdegup kencang lagi. “Pak Kades? Apa dia mengikutiku?” Pikirannya penuh kecurigaan. Perlahan ia meraih gagang pintu dengan tangan gemetar. “Permisi! Apa ada orang?” Suara wanita terdengar dari luar. Jelas bukan suara Pak Kades. Roni membuka pintu, dan langsung menelan ludah begitu melihat sosok di depannya. “Eh, Mbak... Dinda.” Ucap Roni sedikit gugup. Dinda berdiri dengan ekspresi datar. Di tangannya ia membawa rantang plastik. “Lama banget,” sapa Dinda dengan nada datar. Roni terdiam, wajahnya memerah. Ia langsung ingat kejadian siang tadi saat di kamar mandi. Saat dia masuk ke kamar mandi di rumah sebelah, dan dipergoki Dinda serta dianggap sebagai pencuri. “Ada apa, Mbak?” Tanya Roni lirih. “Apa Mbak masih mau memarahi saya soal kejadian—” “Sudahlah,” potong Dinda, tangannya mengibaskan santai. Meski wajahnya masih datar, nada suaranya sedikit melunak. “Aku tidak ingin membahas hal itu.” Roni menghela napas lega. “Mbak tidak marah?” Dinda mendengus kecil. “Marah? Tentu saja marah! Aku baru tahu ada laki-laki masuk kamar mandi rumahku tanpa ijin!” Ia melirik Roni tajam, membuat pemuda itu merinding. “Lain kali kamu harus ijin dulu kalau masuk ke rumah orang.” Roni mengangguk malu-malu. Dinda menghela napas panjang. “Sudahlah. Aku datang ke sini bukan untuk memperpanjang itu.” Ia mengangkat rantang di tangannya. “Ini. Aku masak nasi goreng kebanyakan. Anggap saja awal yang baru bagi kita berdua.” Roni menatap rantang itu, lalu menatap Dinda. Wanita itu masih terlihat dingin, tapi ada keramahan kecil di balik tatapannya yang tajam.Ajeng masih memegang asbak itu dengan tangan gemetar, napasnya tersengal-sengal. Matanya menatap Bram dengan tatapan yang keras, berbeda dari sebelumnya. "Aku tidak mau melakukan ini, Mas! Aku tidak mau!" Bram mengusap pelipisnya, masih terkejut, "Tapi tadi kau setuju! Kau bilang tidak masalah!" Ajeng menatap Bram dengan mata yang berubah—tidak lagi penuh ketakutan, tapi penuh keberanian yang Roni tidak pernah lihat sebelumnya. "Aku sengaja mendekatimu untuk membunuhmu!" suaranya tegas, "Aku tahu semua kebusukanmu! Aku tahu kau dalang di balik kasus Roni!" Roni yang masih tak terlihat di sudut ruangan, terkejut mendengar itu. Dadanya berdegup kencang. Bram? Dalang di balik semua yang menimpanya? Ajeng melanjutkan, "Aku mendengar percakapan teleponmu dengan Rangga sebelum kejadian! Kau yang mengatur agar Roni dituduh seolah memperkosa Mbak Heni! Kau yang menyuruhnya memprovokasi warga!" Bram terdiam, wajahnya berubah pucat, lalu merah karena amarah. "Kau jangan asal bicar
Roni masih berdiri di sudut ruangan tanpa terlihat. Pemandangan di depannya seolah mengiris hatinya, meski ia sadar tidak memiliki hak atas Ajeng. Bram mendekatkan wajahnya ke pipi Ajeng. Namun Ajeng justru menarik diri dari pangkuan Bram. "Kau kenapa, Ajeng?" Tanya Bram bingung. Ajeng memalingkan muka. "Aku ingin makan dulu sebelum kita berhubungan." "Apa? berhubungan?" Roni berteriak namun suaranya tetap tak terdengar oleh mereka berdua. Roni mendekat berharap mereka bisa menyadari kehadirannya. "Mas Bram," Panggil Roni di dekat wajah pria itu. "Jangan, Mas Bram! Kenapa kamu tega melakukan ini pada Ajeng?!" Roni semakin panik, ia beralih ke Ajeng yang kini sedang berganti baju di balik lemari yang terbuka untuk menutupi tubuh Ajeng dari Bram maupun Roni. "Ajeng, jangan Ajeng!" Panggil Roni semakin panik. Namun usahanya sia-sia karena dirinya tak dapat dilihat maupun didengar berkat kekuatan Dewi Murni. Tiba-tiba suara ketukan dari luar pintu terdengar. Bram langs
Roni dan Mina melangkah masuk ke lobi hotel yang mewah. Lampu kristal berkilau di langit-langit, dan aroma parfum lembut menyebar di udara. Roni berjalan ke meja resepsionis dengan langkah mantap, sementara Mina mengikuti di belakangnya, sesekali menatap sekeliling dengan kagum."Selamat malam, ada yang bisa saya bantu?" sapa resepsionis dengan senyum profesional."Saya mau menyewa kamar," kata Roni, "kalau bisa yang di sebelah kamar pria yang baru saja check-in beberapa menit lalu. Pria dengan kemeja batik hitam."Resepsionis mengerjapkan mata, lalu mengecek komputernya, "Oh, kebetulan ada satu kamar kosong tepat di sebelahnya, Pak. Nomor 308." Roni tersenyum tipis, "Saya ambil itu." Setelah proses check-in selesai, Roni dan Mina naik ke lantai tiga. Sesampainya di depan kamar 308, Roni membuka pintu dan membiarkan Mina masuk terlebih dahulu. Kamar itu cukup nyaman, dengan tempat tidur besar dan jendela yang menghadap ke pemandangan kota."Wah, kamarnya bagus," kata Mina, duduk di
"Ron?" suara Mina memecah lamunannya, "Kau lihat apa?" Roni tersentak, kembali fokus pada Mina yang menatapnya dengan bingung. "Eh... tidak, tidak ada. Sepertinya aku melihat orang yang ku kenal," jawabnya cepat, berusaha tersenyum. Mina menoleh ke arah yang sama, tapi kerumunan orang sudah menutupi sosok Bram dan wanita itu. "Apa kau punya kenalan yang kerja di sini?" tanya Mina lagi. Roni menggeleng, "Tidak. Mungkin hanya perasaanku saja." Ia berusaha mengalihkan perhatian, "Ayo, kita beli tiketnya. Filmnya akan segera mulai." Roni menggandeng tangan Mina dengan sedikit terburu-buru, berusaha menjauh dari tempat itu. Roni dan Mina memasuki ruang bioskop yang redup. Lampu-lampu mulai padam, dan layar besar mulai menampilkan iklan-iklan sebelum film dimulai. Mereka berdua duduk di deretan tengah, dengan Mina di sisi kiri Roni. Mina tampak sangat antusias, matanya berbinar menatap layar yang mulai bergerak. "Seru sekali, ya, Ron?" bisik Mina, masih belum bisa menyembunyik
Bi Tutik masuk ke dapur dengan membawa tiga kantong plastik berisi belanjaan. Ia tersenyum melihat Roni dan Mina mencuci piring bersama. "Wah, kalian berdua makin akrab aja, ya?" canda Bi Tutik sambil meletakkan nampan di meja kecil. Mina memanfaatkan momen itu, "Bi Tutik, aku mau minta ijin. Aku dan Roni mau pergi ke bioskop. Boleh?" Bi Tutik menatap mereka bergantian, lalu tersenyum lebar, "Tentu saja, Min. Kalian berdua pergi saja. Nikmati waktu kalian." Mina tersenyum lega, "Terima kasih, Bi Tutik!" Roni juga mengangguk, "Terima kasih, Bi." Bi Tutik mengangkat jari telunjuknya, "Tapi ingat, jangan pulang terlalu malam. Aku tidak kalau Nyonya pulang malam ini." Mina dan Roni saling pandang dengan senyum, lalu mengangguk patuh. "Kalau begitu aku mandi dulu." Ujar Roni pada Mina. Wanita itu mengangguk dan berjalan ke arah kamarnya. Setelah Roni selesai mandi, Bi Tutik datang dengan sehelai kemeja polos biru muda lengan pendek dan celana bahan hitam yang masih
Roni menggelengkan kepala, menatap Dewi Murni dengan tatapan yang tegas. "Tidak, Dewi Murni. Aku tidak mau menggunakan sihirmu untuk memanipulasi Mina. Itu tidak adil baginya." Dewi Murni mengerjapkan mata, sedikit terkejut, "Apa kau yakin, Ron? Ini akan mempercepat segalanya." Roni mengangguk, "Aku akan melakukannya dengan caraku sendiri. Aku tidak mau memulai hubungan dengan kebohongan dan sihir." Dewi Murni menatapnya lama, lalu tersenyum—senyum. "Kau benar-benar percaya dengan dirimu, Roni. Kamu pikir pesonamu yang membuat para wanita itu rela menyerahkan tubuhnya padamu." Roni tersenyum tipis, "Jika bukan karena pesonaku mana mungkin aku juga nenaklukkanmu, Dewi Murni." Dewi Murni mengangguk, lalu mundur beberapa langkah, "Baiklah. Aku akan mengawasi seberapa jauh sepak terjangmu. Tapi ingat, jika kau butuh bantuan, aku akan membantumu.." Roni mengangguk, "Terima kasih, Dewi Murni." Wanita itu menghilang, diikuti oleh Baccan dan Buccan yang setia, meninggalkan Ron







