LOGINPintu tebal kamar utama apartemen tertutup rapat dengan bunyi klik yang bergema di tengah keheningan malam.Heri memutar kunci dua kali. Suasana kamar mendadak berubah menjadi sangat intens, hangat, dan dipenuhi ketegangan fisik yang tebal.Lampu tidur menyala redup, membiaskan cahaya keemasan yang menimpa siluet tubuh Sintya saat wanita itu berdiri di dekat meja rias untuk melepas perhiasannya.Heri melepas jas formalnya dan melemparnya sembarangan ke atas sofa kamar.Kemeja putihnya yang membungkus dada bidang kini terbuka di dua kancing atas. Langkah kakinya lebar dan mantap saat mengikis habis jarak di antara mereka.Dari belakang, Heri langsung merengkuh tubuh molek Sintya. Tangan besarnya memeluk pinggul sintal sang istri, menempelkan dada kerasnya ke punggung halus Sintya.Heri menundukkan kepala, menghirup dalam-dalam aroma wangi di ceruk leher Sintya, lalu melancarkan ciuman-ciuman menuntut di sepanjang garis rahang wanita itu."Her..." desah Sintya pelan, mendongakkan kepala
Malam harinya, suasana pesta pernikahan berlanjut di restoran milik Heri yang telah didekorasi secara hangat, privat, dan menawan.Suasana riuh rendah oleh tawa dan obrolan santai mewarnai setiap sudut ruangan. Kerabat, seluruh staf restoran, serta sahabat-sahabat dekat Heri dan Sintya menikmati aneka hidangan lezat yang tersaji melimpah.Musik akustik mengalun pelan di latar belakang, menambah kenyamanan malam syukuran tersebut.Heri berdiri di dekat meja utama memakai kemeja hitam formal yang digulung rapi hingga batas siku.Tangannya merangkul pinggang Sintya yang tampil makin memikat dalam balutan gaun malam simpel berwarna merah marun."Selamat ya, Her! Akhirnya sah juga sama Sintya!" sapa Aris, koki kepala restoran, sembari menjabat tangan Heri dengan erat."Terima kasih, Ris. Terima kasih juga sudah menyiapkan sajian luar biasa malam ini," jawab Heri dengan suara baritonnya yang ramah dan mantap."Tenang saja, Pak Bos. Semua koki dapur bongkar resep terbaik malam ini!" seloroh
Dua minggu berlalu cepat hingga hari pernikahan yang dinanti akhirnya tiba. Kapel kecil di pinggir kota itu dihiasi hamparan bunga segar berwarna putih dan krem. Suasana terasa sangat anggun, tenang, dan sakral.Heri berdiri di depan altar mengenakan setelan jas formal pas badan berwarna hitam.Posturnya berdiri lurus dan tegap, memancarkan wibawa yang amat kuat. Kedua tangannya bertaut di depan, menanti calon istrinya melangkah masuk.Pintu kayu kapel perlahan terbuka. Suasana mendadak menjadi sangat syahdu saat dentingan piano mengalun lembut.Sintya melangkah menyusuri lorong didampingi alunan musik, mengenakan gaun pengantin berwarna putih gading berbentuk sederhana namun amat elegan. Gaun itu membungkus rapi lekuk tubuhnya yang sintal.Heri menatap calon istrinya tanpa berkedip. Senyum tipis terukir di wajahnya saat Sintya akhirnya tiba di sampingnya. Heri mengulurkan tangan, menyambut jemari Sintya dan membimbingnya berdiri sejajar di hadapan pemuka agama."Apakah Saudara Heri b
Suasana kamar tidur utama di apartemen mewah Heri sudah dipenuhi keheningan malam. Lampu kamar dinyalakan temaram, memberikan pendaran cahaya keemasan yang hangat dan privat.Sintya duduk bersandar di kepala tempat tidur empuk. Wanita jelita itu mengenakan piyama sutra tipis berwarna merah marun yang membungkus ketat lekuk tubuhnya yang padat dan sintal.Di pangkuannya, berserakan beberapa katalog tebal dan brosur dekorasi pesta pernikahan mewah di gedung-gedung megah serta hotel bintang lima."Her, coba kamu lihat brosur yang ini deh," panggil Sintya dengan suara lembutnya sembari membolak-balik lembaran kertas glossy."Gedung di pusat kota ini ballroom-nya luas banget. Dekorasi bunganya juga kelihatan megah, cocok banget kalau buat nampung ratusan tamu."Heri yang baru selesai mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil hanya mengenakan celana tidur panjang kasual, membiarkan dada bidangnya yang tegap dan berotot terbuka bebas.Pria itu kemudian melangkah mendekati tempat tidur denga
Sore hari yang hangat menyelimuti balkon apartemen saat suasana rumah sedang sangat tenang. Angin senja bertiup lembut, membawa hawa sejuk yang menyapu area luar ruangan tersebut.Sintya sedang beristirahat di dalam kamar utama setelah seharian merapikan berkas-berkas, memberikan ruang dan waktu yang sangat pas bagi Heri untuk menghabiskan momen berkualitas bersama putra tunggalnya.Heri memanfaatkan momen tenang tersebut untuk mengajak Nathan, yang baru saja selesai mandi usai pulang sekolah, duduk mengobrol empat mata di balkon.Pria itu melangkah tegap, menyandarkan siku kekarnya di pagar pembatas balkon, sembari menatap langit senja yang mulai berubah warna menjadi jingga keemasan."Nathan, sini sebentar, Nak. Ayah mau ngobrol," panggil Heri dengan suara bariton rendahnya yang amat hangat.Nathan yang sedang membawa segelas air putih hangat langsung melangkah mendekat.Remaja berusia 12 tahun itu berdiri di samping tubuh bidang ayahnya, menyandarkan punggungnya di pagar balkon."N
Pagi hari di ruang kerja rumah Heri terasa sangat padat. Tumpukan berkas penting, map-map berkas kependudukan, lembaran formulir dari kelurahan, hingga dokumen legalitas pernikahan berserakan di atas meja kayu yang besar.Sinar matahari pagi menerobos masuk lewat jendela, menyinari Heri dan Sintya yang duduk berhadapan mengurutkan lembar demi lembar berkas.Heri tampil santai namun tetap memancarkan wibawa tegapnya dalam balutan kaus polos abu-abu yang mencetak dada bidangnya.Di sampingnya, Sintya terlihat teramat anggun dengan atasan tanpa lengan warna krem yang memperlihatkan bahu mulus serta lekuk tubuhnya yang sintal.Maman yang dipanggil untuk membantu memverifikasi kelengkapan data diri dan surat keterangan saksi tampak berdiri kaku di tepi meja.Pria itu kini sedang memegang satu bundel formulir dengan raut wajah yang makin berkerut parah. Tangannya yang biasa memegang senjata atau mengunci leher lawan kini terlihat canggung memegang pulpen."Astaga, Her... ini surat izin RT/R
“Pak, paket buat Nyonya Sintya. Katanya penting, harus sampai tangan sekarang,” ujar kurir itu buru-buru.Malam itu, gerimis tipis membasahi aspal kompleks perumahan elit Citra Kencana. Heri Hermawan, pria berusia 35 tahun dengan badan tegap sisa latihan bela diri masa muda, menghela napas panjang.
Heri menarik Sintya masuk lebih dalam ke dalam rumah mewah yang sunyi itu. Ia menendang daun pintu utama dengan tumit sepatu botnya hingga berdentum keras dan tertutup rapat, mengunci dunia luar bersama segala keributan tentang yayasan di balik dinding beton.Tanpa membuang waktu sepeser pun, Heri
Satu jam kemudian, Karin baru saja pergi dengan tawa renyah yang masih terngiang di telinga Heri. Pria itu segera bergegas ke wastafel, berniat mencuci piring dan gelas sisa sarapan tadi agar punya alasan untuk segera keluar dari rumah yang suasananya semakin gerah itu. Namun, baru saja ia menyabun
“Nih, makan. Anggap aja bonus karena kamu nggak becus kerja kalau perut kosong. Jangan pikir aku lagi perhatian, ini cuma supaya kamu nggak pingsan pas jaga,” ketus Sintya dengan nada yang amat gengsi.Heri yang baru saja hendak melangkah keluar dari dapur saat Sintya menyodorkan secangkir kopi hit







