MasukBerawal dari keengganan Priya Zaneeta yang menolak untuk diajak menikah lantaran Priya sedang berada di puncak karirnya, membuat hidup seorang Senandika Antasena berubah menjadi rumit. Desakan orang tuanya, membuat Antasena semakin frustasi. Terlebih saat orangtuanya tidak merestui hubungannya dengan Priya. Sampai akhirnya tercetus ide gila dari Priya untuk mencarikan Antasena seorang perempuan yang mau dibayar untuk menjadi istri pura-puranya. Pradnya Sahira—sosok perempuan yang membutuhkan banyak uang untuk biaya pengobatan ayahnya, rela menukar hidupnya dengan berpura-pura menjadi istri pria lain dengan sebuah perjanjian. Namun apa jadinya jika Antasena melanggar perjanjian itu sendiri? Apakah Antasena bisa untuk tidak jatuh cinta dengan Pradnya sementara mereka telah melakukan kesalahan besar? Akankah Antasena segera mengakhiri hubungannya dengan Pradnya sebelum kesalahannya semakin memburuk? Atau dia justru membiarkan dirinya jatuh cinta kepada Pradnya dan meninggalkan Priya?
Lihat lebih banyak“Mas, bangun. Udah pagi ini!”Antasena menggeliat di atas tempat tidurnya, saat dia bisa merasakan sentuhan di lengannya. Matanya mengerjap, samar-samar dia menatap langit kamarnya yang kini masih gelap.“Masih gelap, Sayang. Aku ngantuk banget.” Tentu saja Antasena mengantuk. Bagaimana tidak, jika Flavia semalaman suntuk mengajaknya begadang sampai pagi?“Mas ini udah jam enam. Ayo bangun! Aku buka gordennya, ya?”Antasena mengerjapkan matanya sekali lagi. Dia menoleh ke arah Pradnya yang saat ini tengah duduk di sampingnya. Lalu dalam sekali sentak, pria itu sudah lebih dulu menarik perempuan itu agar bisa bergabung bersamanya.“Mas Sena!”“Apa sih, Sayang? Ini masih pagi, jangan teriak-teriak bisa, nggak? Kalau Bi Ummi dengar, bisa mikir yang nggak-nggak nanti.”“Habisan kamu sih! Hari ini adalah hari penting buat kamu, Mas. Kamu nggak mau mempersiapkan diri?”“Jas sama pakaian aku udah kamu siapkan semalam, kan? Aku tinggal mandi, pakai baju itu, dan langsung berangkat ke kantor.
PRADNYA terbangun saat dia menyadari tidak ada Antasena di sampingnya. Dia sangat yakin jika semalam bahkan mereka sempat berpelukan, lalu memutuskan untuk terlelap.Beberapa hari terakhir ini, siklus tidurnya tidak teratur. Flavia yang masih sering terbangun tengah malam membuat perempuan itu harus menahan rasa kantuknya demi menemani bayinya.Setelah memastikan jika bayinya masih tertidur pulas, Pradnya menata bantal-bantal di sekitarnya. Baru setelahnya perempuan itu turun dari tempat tidur, lalu keluar dari kamar untuk mencari keberadaan suaminya."Mas? Lagi ngapain?"Antasena tengah sibuk di dapur dengan apron hitam yang menggantung di lehernya. Pria itu tersenyum kecil ke arahnya."Hai, udah bangun?"Pradnya menganggukkan kepalanya. Dengan wajahnya yang masih mengantuk dia melangkah mendekati Antasena yang tampak sibuk di dapur."Mas lagi masak? Masak apa? Kenapa nggak bangunin aku aja, sih?"Antasena tersenyum, lalu menarik Pradnya agar mendekat kemudian melingkarkan kedua tang
TIDAK ada percakapan apapun selama menit demi menit yang telah berlalu. Flavia masih berada di dalam gendongan Pradnya, tengah menikmati ASI eksklusif yang diberikan perempuan itu untuknya.Sementara Antasena tak henti-hentinya takjub melihat betapa pemandangan yang ada di hadapannya sekarang, membuat hatinya seketika menghangat. Pria itu sama sekali tidak pernah menyangka jika dia bisa bertemu kembali dengan Pradnya.“Surat perceraian itu masih belum aku tanda tangani.” Perkataan Antasena membuat Pradnya lantas mengangkat wajahnya. “Kamu masih mau tetap bercerai sama aku?” tanyanya memastikan.Pradnya menggigit bibirnya bagian dalam. Kali ini dia merasa seperti sedang diinterogasi oleh petugas berwajib.“Selama tiga bulan ini… Mas sibuk apa aja?” Alih-alih menjawab pertanyaan Antasena, perempuan itu justru melontarkan pertanyaan lain. Setidaknya dengan mendengar jawaban darinya, Pradnya baru bisa menjawab pertanyaan Antasena sebelumnya.“Kesehatan Mama sempat drop,” kata Antasena den
“Tak lelo, lelo, lelo ledung.”“Cep meneng ojo pijer nangis.”“Anakku sing ayu rupane.”“Yen nangis ndak ilang ayune.”Pradnya menatap bayinya dengan mata berkaca-kaca. Bayi yang baru saja berusia beberapa hari itu, terlihat begitu tenang mendengarkan suara ibunya yang tengah bersenandung lirih.Senyumnya merekah lebar. Pemandangan hijaunya persawahan yang ada di hadapannya terasa begitu menenangkan."Hangat, ya Sayang? Iya?" Bayi mungil itu menggeliat di atas pangkuan Pradnya, sambil sesekali mengedipkan mata.Nismara Flavia Sahira, nama yang disematkan beberapa hari yang lalu ketika sang bayi lahir ke dunia."Mbak!"Pradnya kemudian menoleh, lalu mendapati Pramitha berjalan menghampirinya. “Ya, Tha?”“Belum selesai juga jemurin Dede?”“Belum, Tha. Kayaknya dia suka banget aku ajak berjemur gini. Ngerasa hangat kali, ya? Tahu sendiri gimana cuaca di sini.”“Iya juga. Tapi juga jangan lama-lama, Mbak. Dede bisa item nanti kulitnya,” kekeh perempuan itu.“Kamu tuh!” Pradnya terkekeh. “
“Kakek di mana, Bi?”Bibi yang melihat kehadiran Antasena yang tiba-tiba lantas tersenyum. “Tuan ada di ruang kerjanya, Den. Silakan masuk.”“Makasih, Bi.”Antasena melangkah menaiki anak tangga. Butuh beberapa menit untuk pria itu mencoba memastikan bahwa apa yang akan dilakukannya kali ini adalah kep
Pradnya masih mengingat jelas perbincangan kemarin bersama ayahnya. Tapi dia tidak menyangka jika perbincangan itu akan menjadi perbincangan terakhirnya bersama ayahnya.Tidak ada tanda-tanda bahwa ayahnya merasa sesak atau kesakitan malam itu. Bahkan ketika Pradnya sengaja datang ke kamar Donny dini
Setelah berusaha menjelaskan seperti apa situasinya saat ini, Pradnya tak henti-hentinya gelisah. Beruntung Bayusuta bisa menggantikannya menyetir, Antasena bisa duduk di samping istrinya sembari menenangkannya. Sementara Arjuna membawa mobil satunya di belakang mereka."Mas, Ayah pasti baik-baik saj
“Mas, mau ke mana?”Pradnya mengerjapkan matanya, kemudian mengubah posisi berbaringnya menjadi duduk. Perempuan itu menatap Antasena yang kini sudah siap dengan pakaian casualnya. Menoleh ke arahnya dengan senyuman lembutnya."Bentar ya, Sayang. Aku angkat telepon sebentar."Pradnya mengangguk kecil.












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.