LOGINMengira Anjasmara tak pernah mencintainya, Anye pun menerima pinangan dari lelaki lain. Namun siapa sangka, Anjas tiba-tiba datang melamarnya! Lantas, bagaimana kisah mereka selanjutnya? Terlebih, tampaknya ada rahasia besar yang disimpan rapat oleh sang kakek, Lukman Bagaskara, sehingga berkeras ingin menjodohkan kedua cucunya itu...!
View MoreLampu kristal yang tergantung megah di aula Istana Kekaisaran terasa berputar. Dentuman musik yang harusnya meriah kini bergema mematikan di telingaku.
Aku, Eleanora de Villon, Putri Duke yang berkuasa, berdiri tertegun di tengah lantai marmer, dikelilingi oleh bisikan dan tatapan menghakimi. Gaun satin merah anggur yang kukenakan—gaun favorit yang selalu membuatku merasa superior—kini terasa seperti kain kafan yang basah. Tepat di depanku, Putra Mahkota, pria yang kucintai di atas segalanya, menatapku dengan mata yang dingin, tanpa setitik pun kehangatan yang pernah kukhayalkan. "Kau telah menghukum dirimu sendiri." Bisik Putra Mahkota. "Dengan kejahatanmu ini. Lady Eleanora dari keturunan Duke Villon, telah melampaui batas yang bisa ditoleransi oleh Kekaisaran." ucapnya. Suaranya datar, namun setiap kata terasa seperti es beku yang membelah dadaku. Aku berusaha membantah, untuk menjelaskan, untuk memohon. Tapi, untuk apa? Ribuan mata yang menatapku bahkan terasa seperti pisau pelati yang siap menusuk dadaku. Jika dilihat akan menjadi cermin yang memantulkan satu kebenaran yang mengerikan.Aku adalah monster. Aku telah menghancurkan hidup orang-orang, memanipulasi, dan menggunakan kekuasaanku untuk menyakiti semua bangsawan yang tidak aku sukai, cara yang mengerikan untuk meraih posisi ini. Di saat itulah, kesadaran itu datang, menyakitkan dan terlambat.Tinta Merah Takdir yang selama ini kubuat, bukan hanya ada tercatat di Kekaisaran, tapi juga di jiwaku. Aku baru sadar betapa kejamnya aku, betapa pantasnya aku mendapatkan semua kebencian ini.Tapi nasi sudah menjadi bubur. Penyesalan terbesarku—bahwa aku terlalu kejam untuk seorang wanita. "Bawa dia pergi. Segel dia di penjara bawah tanah Kekaisaran. Biarkan dia merenungkan perbuatannya hingga akhir." Perintah Putra Mahkota terdengar menusuk di tengah keheningan. Aku diseret oleh Ksatria Kekaisaran, harga diriku hancur berkeping-keping di lantai dansa yang penuh kebohongan. Bruk! Di jeruji besi yang dingin dan lembap, pengawalan tidak menunjukkan belas kasihannya. Makanan yang datang hanya dua hari sekali, dan air bersih hanya sesekali. Dalam kegelapan yang pekat, tubuh bangsawan yang dulu kujaga dengan bangga kini kurus kering, dipenuhi penyakit. Aku mati bukan karena pedang, melainkan karena siksaan kelaparan, kedinginan, dan kesunyian yang memilukan. Namun, yang paling menyakitkan adalah suara yang terbawa angin lembap dari luar jeruji. Beberapa malam sebelum aku mengembuskan napas terakhir, aku mendengar bisikan para penjaga di koridor. "Kau dengar? Akhirnya, Putra Mahkota sudah bertunangan." "Tentu saja aku mendengarnya. Siapa sangka, setelah insiden Lady Eleanora, dia malah memilih Lady Lyra de Castillon dari keluarga Count itu haha. Katanya Lady Lyra adalah wanita yang sangat sederhana, lembut, dan murni..."Lady Lyra. Nama itu terasa seperti belati yang menusuk hatiku. Wanita yang muncul di Pesta Dansa Kedua. Wanita yang dicintai oleh Putra Mahkota. Wanita yang pantas untuk mendapatkan kebahagian.Tidak sepertiku....
Kematian yang wajar bagi wanita penjahat—mati mengenaskan tanpa tahu bahwa perasaanku telah hangus menjadi jiwa yang hampa.
Aku mati.Dalam keadaan sendiri dan terlupakan.
Di saat dunia luar sedang merayakan pertunangan Putra Mahkota dan wanita itu, seseorang yang kini mengisi tempat yang selalu kucita-citakan. Kini hangus ditelan penyesalan.
Hahaha
Saat itu aku pertama kalinya bagiku menangis, menyesali perbuatanku disaat keadaan ku sekarat. Hawa dingin mulai masuk dengan kejam bahkan menusuk jasadku.Akhir yang mengenaskan.Ting! Suara dentingan sendok perak yang beradu dengan piring porselen membawaku kembali. Napas yang sebelumnya terenggah kini kuhela perlahan. Aroma sup asparagus dan daging steak yang mewah memenuhi ruang makan keluarga Villon. Aku tidak lagi berada di jeruji besi, tapi di kursi megah di meja makan panjang—empat tahun sebelum kematianku. Tanganku yang memegang pisau steak gemetar. Bukan karena porselen yang dingin, tapi karena memori kematian yang masih sangat nyata. Di seberang meja, Duke Villon— Ayah dan Duchess Villon— Ibu duduk diam, menatapku dengan pandangan campur aduk antara lelah dan kecewa. "Eleanora," suara Ayah memecah keheningan yang mencekam. "Tolong, kendalikan tingkah lakumu." Ucap Duke sembari memijat keningnya. "Kau adalah Putri Duke Villon. Jangan membuat kami harus terus-menerus menutupi skandalmu, ini demi menjelang Pesta Dansa Keduamu di Perayaan Hari Kelahiran Kekaisaran." Aku merasakan tenggorokanku tercekat. Ini bukan lagi soal mempertahankan citra, ini soal memperbaiki kesalahan. Aku meletakkan sendok dengan sangat hati-hati, menundukkan kepala sedalam-dalamnya, menatap piring di hadapanku, mengambil napas dalam-dalam. Berbeda dengan dikehidupan sebelumnya, dimana seorang Lady yang akan membantah atau melempar garpu dengan arogan, kali ini aku berbicara dengan suara pelan dan mantap. "Saya mengerti, Ayah. Maafkan saya karena telah membuat Ayah dan Ibu kecewa. Mulai saat ini, saya akan berubah. Saya akan membuktikannya bahwa saya bisa menjadi lebih baik. Sekali lagi, mohon maafkan saya, Ayah... Ibu..." Keheningan melingkupi ruang makan. Duke dan Duchess Villon terdiam lama. Di mata mereka, aku melihat dengan campuran kejutan dan keraguan yang menyakitkan. Bertahun-tahun penuh kekecewaan tidak bisa dihapus hanya dengan satu kalimat. Mereka jelas tidak percaya. Rasa sakit kini menusukku, tapi itu pantas kuterima. Aku harus menerima ketidakpercayaan ini dan membuktikan janji itu melalui waktu, bukan kata-kata. Setelah makan malam yang terasa lambat itu usai, aku berdiri dan membungkuk sebentar pada orang tuaku—sebuah tindakan sederhana yang juga tak pernah kulakukan dulu. Saat berjalan menaiki tangga menuju kamarku, aku melirik ke ruang tunggu di ujung koridor. Di sana, Adikku—Elias yang berusia lima tahun, sedang bermain dengan kereta kayu di bawah pengawasan ketat Nyonya Pengasuh. Dia tersenyum dengan polosnya, sudah lama aku tidak melihat raut wajah itu. Beda dengan kehidupan sebelumnya, anak laki-laki itu akan sangat takut dan lari dariku. Jika diingat lagi, seperti ada batu yang langsung menghantam dadaku. Mataku memanas. Aku tidak akan pernah lagi merusak kepolosan itu. Aku terus berjalan, memikirkan langkah selanjutnya. Aku harus mulai dari hal terkecil. Krieeeett... Tanganku menarik kenop pintu kamar yang terbuat dari emas berukir itu, mengeluarkan derit halus khas pintu kayu mahal yang berat, dan melangkah masuk. Di kamar, Seraphina— Pelayan pribadi yang paling sering kurendahkan dan siksa, kini sedang merapikan tempat tidur dengan wajah menunduk. Melihatnya, tenggorokanku tercekat.Di kehidupan lalu, Seraphina mati karena kebodohanku.
Saat itu, Ayahku—Sang Duke, memang sudah tidak bisa memberi pengawalan lagi, alhasil ia hanya bisa menyediakan pengawal biasa- Alasannya karena satu pun dari para Ksatria militer tingkat tinggi itu tidak mau menghadapi tingkah lakuku yang memuakkan. Pada saat itu, aku tidak peduli. Aku hanya ingin pergi ke Toko Elite yang ada di pertengahan kota dan ingin membeli Bros Mahal Khusus untuk Putra Mahkota.Karena terlalu senang, tanganku terus memandangi tas belanja.
Lalu, tiba-tiba seseorang merampasnya dari tanganku yang sedang memegangnya.Itu sangat cepat. Aku panik saat itu.
Aku yang merasa berhak atas Bros itu, dengan rasa tidak mau tahu, menyuruh Seraphina mengambil kembali perhiasan berharga itu. Pencuri itu lari dan dikejar oleh Seraphine. Di gang sempit dia berhenti. Aku langsung menyuruhnya untuk mengambil Bros. Tapi, tiba-tiba sekelompok orang datang. Aku ingat, mereka adalah teman-teman pencuri itu. Walau dengan tangan yang gemetaran, Seraphine harus dan ingin mengambilnya kembali. Saat itu aku sadar, kami kalah jumlah dan kekuatan. Aku lari, tapi Serphine terlanjur dipukuli hingga mati- mengenaskan. Kini, di hadapanku, dia hidup. Aku menarik napas panjang, menenangkan gejolak penyesalan di dada. Ada banyak hal besar yang harus ku ubah, tapi semua harus dimulai dari tempat yang paling kuingkari.Berhenti menyakiti, dan mulai menghargai. Tindakan kecil yang tulus, sehalus embusan napas, adalah awal dari segalanya.Aku mengulang waktu.Aku membawa beban dosa, namun kini aku juga memiliki pengetahuan. Aku akan menggunakannya untuk menghindari takdir kematian, melindungi keluargaku—termasuk Kakakku, si jenius Menara Sihir— kutu buku yang mencari kedamaian.Tinta Merah Takdir memang terhapus sesaat oleh waktu, tapi jejaknya masih melekat kuat di jiwaku. Dengan hati yang penuh penyesalan dan harapan baru, aku ingin menempuh Takdir yang berbeda.Rosana tak kuasa menahan luapan emosi yang telah ia tahan selama dua pekan terakhir ini. Mendapati kenyataan sang suami pernah menduakannya telah benar-benar menguji kewarasan wanita yang sebagian rambutnya telah memutih itu.Kenyataan yang membuatnya merasakan kesakitan yang teramat sangat tentu saja dikarenakan ia mengenal dengan sangat baik sosok wanita yang pernah menjadi orang ketiga di dalam rumah tangganya. Jangan dikira karena wanita itu telah tiada, lantas dapat dengan mudah menghapus segala rasa yang hadir pasca tersibaknya tabir kelam pers3l1ngkuh4n sang suami yang pernah teramat ia cintai. Tidak segampang itu dan Lukman Bagaskara menyadari pula hal tersebut. "Haruskah aku bersimpuh di kakimu, Rosana?" Lukman mengiba. Rosana membuang tatapannya ke luar jendela. Hatinya masih sangat panas, luka tak berdarah itu masih terasa begitu perih, Ia bahkan tak tahu lagi bagaimana cara meneduhkan luka bathin yang kerap kembali menganga setiap kali ia mengingat sosok Melati dan juga
Anjas tak menyangka akan menuai penolakan dari sang ayah mertua.Padahal sebelum memutuskan akan membawa Anye ikut tinggal bersamanya di rumah dinas petani, Anjas telah mempertimbangkan matang-matang segala sesuatunya dari segala sisi.Dari sisi keamanan dan kenyamanan jelas rumah dinasnya lebih unggul, karena selain berada di tengah hamparan kebun sayur yang indah, pengamanan jelas sangat diutamakan mengingat mereka berada di tengah-tengah komoditi utama yang tentu saja sangat ketat dilindungi oleh sistem yang dirancang sedemikian rupa oleh Anjas dibantu semua staff yang ada di instalasi perkebunan hidroponik miliknya. Jangan ragukan kenyamanan yang telah Anjas persiapkan. Meski terlihat sederhana dari luar, sesungguhnya Anjas telah meng-upgrade banyak hal di rumah dinasnya menyesuaikan dengan kebutuhan pemulihan Anye. Semua itu ia persiapkan selama Anye berada dalam keadaan koma selama empat belas hari terakhir. "Papi apa pernah berkunjung ke rumah dinasku yang berada di pinggir k
Mata yang tadinya berkaca-kaca kini telah basah oleh air mata yang menggenang berselimut haru."T t tapi ... a a aku ... k k ka ki a a a ku ... kaki aku ...." Anye menggelengkan kepalanya sembari sebelah tangan menyentuh permukaan bibir menahan isakan yang pecah diwarnai kekalutan dan rasa hancur."Its okay, its no a big deal ... di mataku kamu sempurna, Sayangku ... ada atau tidak adanya pergelangan kakimu tidak mengubah sedikitpun rasa yang aku miliki padamu, bahkan menambah rasa sayang dan kekagumanku padamu karena telah memberanikan diri mengambil langkah demi mewujudkan hubungan kita yang semestinya, walau berakhir begini ... aku mohon, bersabarlah. Semua insyaa Allah akan baik-baik saja ke depannya. Trust me, kita hadapi semua sama-sama ya, Sayang." Anjas meraih telapak tangan Anye, dan menciumnya dengan lembut penuh kasih."Aku tidak mau lama-lama berada di sini, Mas," rengek Anye. Anjas tersenyum lembut sembari kembali menciumi tangan Anye yang masih berada di dalam genggam
Anjas tak bosan-bosannya berada di dekat sang istri terkasih. Berdoa tanpa jeda mengharap sang kekasih membuka mata dan kembali seperti sedia kala. Meski kini pergelangan kaki sebelah kiri Anye telah diamputasi, Anjas tak pernah mempermasalahkan itu. Kaki artificial untuk Anye bahkan telah dipesan oleh Arya Bagaskara untuk sang putri sematawayang kesayangan. Anjas tak mempermasalahkan ketidakhadiran Lukman Bagaskara, yang penting saat ini Anye telah berhasil ia halalkan, dinikahi secara sah dengan menggenggam tangan ayah kandung sang kekasih kala ijab kabul dilafadzkan. Anjas begitu bersyukur kini telah menjadi sosok suami bagi wanita yang paling ia inginkan dalam hidupnya. Wanita yang ia jaga sejak terlahir ke dunia, dibersamai dengan penuh kasih sayang hingga putik cinta bermekaran di hati keduanya. Anjas rutin membacakan ayat-ayat suci Al Qur'an saat berada di sisi Anye. Sesekali ia akan membisikkan kata-kata cinta dan pengharapan ke telinga sang dayita. "Baby, buka matanya






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore