เข้าสู่ระบบini bab reguler terakhir hari ini. Akumulasi Gem: 5/15 Akumulasi Hadiah: 30/1000 Bab bonus: 2 Yuk tambah Gem atau Hadiah untuk bab bonus malam ini(◍•ᴗ•◍) Selamat Beraktivitas (◠‿・)—☆
“Siapa orang ini? Sudah mencapai tataran Kebajikan Laksana Air?”“Dilihat dari auranya, dia pasti seorang raksasa!”“Orang seperti ini tidak boleh diusik!”Bisik-bisik langsung menyebar di antara kerumunan. Silas Stein sama sekali tidak memancarkan aura, tetapi kehadirannya tetap membuat banyak orang waspada. Tak terhitung banyaknya tatapan langsung tertuju kepadanya.Raut Silas tetap dingin. Rambut putihnya berkibar diterpa angin sungai, sementara jubah putihnya sama sekali tidak basah meski baru saja melintasi permukaan air. Begitu ia mendarat di tepian, orang-orang di dekatnya tanpa sadar mundur beberapa langkah karena tidak berani berdiri terlalu dekat.Rowena melihat pemandangan itu lalu berkata tanpa terkejut, “Orang ini benar-benar datang.”Vincent Lowell yang berdiri di sampingnya justru mengerutkan kening. “Bukankah kudengar dia terluka parah oleh satu telapak Kaisar Bela Diri Keluarga Sinclair?” “Kenapa sekarang tidak terlihat seperti orang yang pernah terluka?”Begitu k
Bruce tersenyum dingin. “Pak Tua, kau mau adu jumlah denganku?”Begitu kalimat itu selesai, perubahan langsung terjadi.Dari langit malam di kejauhan, belasan sosok dengan aura kuat melesat cepat menuju Sungai Wulan. Dalam beberapa tarikan napas, semuanya sudah mendarat di sisi Bruce.Mereka jelas bukan orang biasa.“Itu Kaisar Api!”“Titan juga datang!”“Dan Kaisar Halilintar dari Amerika!”Seruan keterkejutan langsung pecah di tengah kerumunan.Banyak kultivator Garudapolis berubah wajah. Beberapa orang bahkan tanpa sadar mundur beberapa langkah.Mereka sama sekali tidak menyangka dunia Barat juga mengincar kapal hantu.Lebih mengejutkan lagi, orang-orang yang datang bukan tokoh sembarangan.Meski jumlah mereka tidak terlalu banyak, masing-masing adalah raksasa kelas dunia dengan kekuatan yang tidak bisa diremehkan.Seorang perempuan berambut pirang berjalan keluar dari belakang Bruce.Tatapannya begitu memikat hingga banyak orang tanpa sadar memperhatikannya.“Semuanya datang ke si
Soal Pendeta Aldwin dan tiga orang yang datang bersamanya, Rowena dan yang lain tidak terlalu memikirkannya.Bagi mereka, pertemuan itu hanya selingan kecil.Sekali pandang saja, mereka sudah bisa menilai bahwa kultivasi keempat orang tersebut tidak cukup tinggi untuk menarik perhatian.Ryan sendiri tidak membahasnya lagi.Ia menatap kapal hantu yang masih diam di tengah Sungai Wulan, lalu bertanya, “Kapan kita naik?”“Tunggu.” Emeric Tanner menyipitkan mata. “Orangnga terlalu banyak sekarang.”Ia melirik kerumunan di sekeliling. “Kalau kita bergerak lebih dulu, kita hanya akan menjadi sasaran.”Emeric tersenyum tipis. “Kita tunggu sampai sebagian besar orang datang. Biarkan mereka saling menguras tenaga dulu.”Ucapan itu masuk akal.Meski mereka berasal dari Tiga Alam Tertinggi dan kekuatan tempur mereka jauh melampaui kebanyakan orang dari Alam Fana, jumlah orang di tepi sungai terlalu banyak.
Di atas sebuah bukit kecil tidak jauh dari Sungai Wulan, Evan Sinclair berdiri sambil menyaksikan dua Grandmaster yang baru saja tewas.Raut wajahnya dingin. “Mereka sudah bosan hidup.”Pada saat itu, seorang pemuda di sampingnya tiba-tiba menunjuk ke arah seberang.“Tuan Muda Sinclair, mereka sudah datang.”Evan mengikuti arah telunjuknya.Tak butuh waktu lama baginya untuk melihat rombongan Rowena bersama Ryan.Tatapan Evan langsung berhenti pada Ryan.Beberapa detik berlalu.Jari-jarinya yang terlipat di belakang punggung perlahan mengepal.Sudut bibirnya kemudian terangkat membentuk senyum dingin.'Di Garudapolis aku memang tidak bisa melakukan apa-apa terhadapmu.'Tatapan Evan semakin tajam.'Tapi setelah naik ke kapal hantu, aku akan membunuhmu.'Pada saat yang sama, Ryan seolah merasakan sesuatu.Ia mengangkat kepala lalu menoleh ke arah bukit.
Rombongan Ryan terus bergerak tanpa berhenti. Lebih dari sepuluh menit kemudian, mereka akhirnya tiba di tepi Sungai Wulan. Malam sudah sangat larut. Angin dingin berembus tajam dan menggigit kulit, sementara langit gelap tanpa satu pun bintang. Namun suasana di tepian sungai sama sekali tidak sepi. Sebaliknya, tempat itu dipenuhi lautan manusia. Sejauh mata memandang, kerumunan bergelombang tanpa ujung. Napas orang-orang mengepul menjadi kabut putih di udara beku. Ada yang datang menggunakan mobil mewah. Ada yang berjalan sambil memanggul pedang. Ada pula yang mengenakan jubah pertapa dengan tasbih tergantung di tangan. Ryan melihat kerumunan itu dan sedikit mengerutkan kening. “Kenapa bisa sebanyak ini?” “Kau benar-benar tidak tahu?” Rowena merapatkan mantelnya sambil terkekeh pelan. “Tiga Alam Tertinggi saja mengincar kapal hantu, apalagi orang-orang lain.” Ia menunjuk kerumunan. “Setiap kali kapal hantu muncul, kabarnya menyebar ke mana-mana.” “Tidak heran kalau oran
Malam itu, Ryan sedang membicarakan beberapa urusan dengan Darren Vale dan Tuan Budi ketika ponselnya tiba-tiba berdering. Nama Rowena muncul di layar. Ryan segera mengangkatnya. “Ryan, kapal hantu sudah muncul. Cepat datang kemari dan temui kami!” Raut wajah Ryan langsung menegang. “Baik. Kirimkan lokasi pertemuannya.” Ia berhenti sebentar. “Aku segera berangkat.” Setelah menutup telepon, Ryan menatap Darren dan Budi yang berdiri di sampingnya. “Aku sudah menyerahkan teknik kultivasi umum kepada seluruh anggota Paviliun Asura.” Nada suaranya terdengar serius. “Setelah aku pergi, Budi bertanggung jawab atas seluruh urusan Paviliun Asura. Darren akan membantumu.” Darren sempat membuka mulut, seolah ingin mengatakan sesuatu. Namun setelah melihat keteguhan di mata Ryan, ia akhirnya hanya mengangguk. Tuan Budi pun menegakkan punggung dan menepuk dadanya. “Tenang saja. Selama kami masih ada, tidak akan terjadi apa-apa.” Ryan mengangguk. ** Vila Keluarga Hartono sudah tengg
Wulan yang baru keluar dari dapur langsung pucat pasi. Tangannya yang memegang spatula gemetar hebat. Dia menatap Ryan dengan panik, bibirnya bergetar tapi tidak ada kata yang keluar.Ryan bangkit dari sofa, menatap ibunya dengan tatapan tenang. "Ibu, siapa mereka?""Ryan..." Wulan berbisik, suaran
Ryan awalnya terkejut, lalu menatap gadis kecil itu dengan tak percaya.Nenek... Dia... dia adalah...Gadis kecil itu akhirnya menyadari kehadiran Ryan. Tangisannya berhenti seketika, dan secara naluriah dia bersembunyi di belakang Wulan, mengintip Ryan dengan mata penuh curiga.Ryan segera menatap
Malam itu, langit Kota Sentralis mendung tanpa bintang. Bulan purnama bersembunyi di balik awan tebal, menciptakan suasana yang mencekam. Di Taman Melati, sebuah taman kota yang biasanya ramai, kini sepi dan sunyi.Tiba-tiba, langit meledak.JEDER!Sebuah kilat raksasa menyambar tepat di tengah ta
Ryan berjalan keluar dari Kompleks Graha Sentosa dengan langkah tenang namun penuh tekad. Matahari pagi menyinari jalanan Kota Sentralis yang mulai ramai dengan kendaraan dan pejalan kaki.Dia menghentikan taksi di pinggir jalan dan naik ke kursi belakang."Ke mana, Pak?" tanya sopir taksi, seorang







