เข้าสู่ระบบMbah Sidi tidak langsung menjawab. Ia menatap Mayang dengan tatapan yang aneh, seperti sedang memilih kata-kata yang paling tepat."Kau tidak akan menemukan jawaban itu dengan mendengarkannya," Mbah Sidi berkata. "Ingatanmu harus kau temukan sendiri. Tapi yang jelas, dulu, saat kau masih kecil, kau diserang oleh musuh. Musuh yang sangat kuat. Kau nyaris terbunuh saat itu."Mayang merasakan lututnya lemas. Wandra meraih lengannya, menopangnya."Musuh itu," Mbah Sidi melanjutkan, "berusaha membunuhmu. Saat itu kau sedang sendirian di hutan. Kau panik. Kau lari. Dan dalam pelarianmu, kau tersandung dan jatuh ke sebuah lembah yang dipenuhi oleh jamur Adlora."Mayang menggenggam lengan Wandra dengan erat."Tanpa sengaja, kau memakan jamur itu," Mbah Sidi berkata. "Mungkin karena lapar. Mungkin karena panik. Tapi apapun alasannya, jamur itu menyelamatkan hidupmu. Energi yang terkandung di dalamnya meledak keluar dari tubuhmu, menciptakan ledakan yang melukai musuhmu dan memaksanya untuk kab
Wandra menutup pintu kamar dengan pelan, memastikan tidak ada yang menguping dari luar. Di dalam kamar, Mayang sudah duduk bersila di atas ranjang, sementara cermin kuno itu diletakkan di atas meja kecil di hadapannya. Cahaya redup dari permukaan cermin berkelip-kelip seperti lilin yang nyaris padam.Wandra duduk di kursi kayu di samping ranjang, menatap cermin itu dengan ekspresi yang sulit ditebak. Ia sudah memikirkan pertanyaan ini sejak tadi, sejak Mbah Sidi menunjukkan pengetahuannya tentang tripang dewa dengan akurasi yang mencengangkan."Ada satu pertanyaan yang ingin kutanyakan," Wandra berkata akhirnya.Mbah Sidi muncul perlahan di permukaan cermin, tubuhnya yang keriput dan kecil tampak berbaring santai seperti orang yang baru saja tidur nyenyak. "Pertanyaan apa lagi, anak muda? Semoga bukan pertanyaan yang membosankan."Wandra menatapnya lekat-lekat. "Kapan dunia akan kiamat?"Mbah Sidi terdiam. Mayang ikut terdiam, menoleh ke arah Wandra dengan ekspresi terkejut."Kau seri
Wandra juga mengangguk, meskipun ekspresinya dingin. "Aku tidak akan membocorkannya."Mbah Sidi tersenyum, lalu sosoknya perlahan memudar dari permukaan cermin, meninggalkan pantulan samar wajah Wandra dan Mayang yang berdiri di depannya.Mayang merapikan pakaiannya, mengenakan jubah longgar dan cadar tipisnya, lalu menoleh ke Wandra. "Ayo."Wandra menghela napas. "Baik. Tapi biar aku yang bicara dengan Jack Sparrow."Mereka berdua keluar dari kamar dan menaiki tangga menuju geladak atas. Malam itu cukup terang, bulan nyaris purnama menggantung di langit tanpa awan, membuat permukaan laut terlihat seperti hamparan perak yang bergerak perlahan.Jack Sparrow berdiri di kemudi seperti biasa, mata setengah terpejam, mulut menggumamkan lagu pelaut yang tidak jelas nadanya. Ketika Wandra dan Mayang mendekat, ia membuka satu matanya."Ada apa, pasangan muda? Tidak bisa tidur?"Wandra berdiri di samping kemudi. "Kami perlu mengubah arah sedikit ke timur laut. Sekitar sembilan belas kilometer
Mereka tidak kembali ke ranjang.Wandra menarik Mayang dari kasur, masih basah, masih menyatu dalam hasrat yang belum padam. Ia menekan wanita itu ke dinding dekat meja kecil, tepat di depan cermin kuno pemberian Viona yang tergeletak diam. Dalam posisi berdiri saling berhadapan, Wandra mengangkat salah satu kaki Mayang ke pinggangnya, lalu masuk kembali dengan satu dorongan dalam.Mayang mengerang di lehernya. Wandra menghantam ke atas, cepat dan lapar. Dada mereka saling bergesekan. Ciuman mereka basah. Gairah yang sempat sempat mereda meledak lagi di depan permukaan cermin yang buram itu.“Wandra… di sini… ahh…”Wandra tidak menjawab. Ia hanya menekan Mayang lebih rapat ke dinding, menghentak lebih dalam, napasnya panas di telinga wanita itu. Mayang membalas dengan menggerakkan pinggulnya ke bawah setiap kali Wandra mendorong ke atas. Suara tubuh mereka yang basah memenuhi kamar kapal yang bergoyang.Tengah asyik seperti itu, tiba-tiba keduanya kaget.Sebuah desahan terdengar.Buka
Setelah Viona dan Baskoro pergi, kamar itu kembali sunyi. Wandra masih memegang cermin kuno itu beberapa saat, memandang permukaannya yang buram. Tidak ada getaran energi. Tidak ada petunjuk. Ia tidak tahu cara mengaktifkannya, sama seperti yang dikatakan Mayang.Akhirnya Wandra meletakkan cermin itu di meja kecil dekat tempat tidur, di samping lampu minyak yang sudah hampir padam. “Nanti saja,” gumamnya pelan. “Kalau waktunya tiba, rahasianya akan terbuka sendiri.”Ia menoleh ke ranjang.Mayang sudah terlelap. Cahaya redup dari jendela kecil kapal menerangi tubuhnya yang hanya diselimuti kain tipis. Napasnya teratur. Rambutnya tergerai di bantal. Kain itu sedikit tersingkap di dada, memperlihatkan lekuk payudara Mayang yang montok dan penuh, kulitnya tampak lembut di bawah cahaya malam.Wandra berdiri di tepi ranjang cukup lama. Gairah yang sempat tertahan selama percakapan tadi naik lagi dengan cepat. Ia duduk perlahan di sisi Mayang, berhati-hati agar tidak langsung membangunkannya
Malam itu, setelah keramaian akibat kekalahan Sekte Naga Laut mulai mereda dan sebagian besar penumpang kembali ke aktivitas normal mereka, sebuah ketukan pelan terdengar di pintu kamar Wandra dan Mayang.Wandra membuka pintu dan menemukan Viona berdiri di sana bersama pelayan tuanya, wajah keduanya menunjukkan campuran antara rasa syukur dan keseriusan."Boleh kami masuk sebentar?" Viona bertanya dengan suara yang sopan. "Ada sesuatu yang ingin aku ceritakan, dan sesuatu yang ingin aku berikan sebagai tanda terima kasih."Wandra mempersilakan mereka masuk. Mayang, yang sedang duduk di dekat jendela kecil kamar mereka, mengangguk ramah kepada kedua tamu itu.Setelah duduk dengan canggung di kursi kayu sederhana yang tersedia, Viona menarik napas panjang sebelum mulai bercerita."Aku belum sepenuhnya jujur tentang siapa aku sebenarnya," Viona memulai, matanya menerawang jauh seolah mengingat kenangan yang sangat menyakitkan. "Namaku Viona Montenegra. Aku adalah keturunan dari Klan Mont
Di kota besar seperti ini, di mana tidak ada yang saling mengenal, lebih aman untuk tutup mata dan jalan terus.Tapi Wandra tidak bisa melakukan itu. Didikan orang tuanya dan neneknya mengajarkan bahwa menolong orang yang dalam kesulitan adalah kewajiban, bukan pilihan. Meskipun dia tahu risikonya
"Ini adalah pusaka keluarga kita," kata Mbah Surti dengan suara yang tiba-tiba menjadi serius. "Kakekmu mendapatkannya dari ayahnya, dan ayahnya mendapatkannya dari ayahnya lagi. Tidak ada yang tahu dari mana asal liontin ini sebenarnya, tapi kakekmu selalu percaya bahwa liontin ini memiliki kekuat
Pagi itu kabut masih menyelimuti Desa Sukamakmur ketika Wandra terbangun oleh suara batuk ayahnya yang begitu memilukan. Suara itu sudah menjadi alarm alami baginya selama tiga bulan terakhir, menggantikan kokok ayam yang biasanya membangunkannya untuk pergi ke sawah.Wandra segera bangkit dari tik
Wandra mulai memegang rambut Caroline sementara pinggul Wandra mulai goyang-goyang. "Ini enak sekali, kak. Makasih banyak, kak. Ini enak sekali.""Ini belum apa-apa, Wandra. Nanti kamu akan merasakan lebih enak saat kembali merasakan liang kenikmatanku," janji Caroline untuk kemudian dia kembali me







