เข้าสู่ระบบMayang masih berada di pangkuan Wandra, tubuh mereka saling menempel. Ia mengangkat pinggulnya sedikit, memegang batang Wandra yang masih keras, lalu menurunkan diri perlahan.Ujungnya masuk, lalu seluruhnya—sentimeter demi sentimeter—hingga Mayang menelan Wandra sampai pangkal. Keduanya mengerang pelan, napas saling bertemu.Mayang tidak langsung bergerak cepat. Ia hanya duduk di sana sejenak, merasakan Wandra memenuhi dirinya sepenuhnya, dinding dalamnya menyesuaikan diri dengan kehangatan dan ketebalan itu. Wandra memegang pinggangnya dengan lembut, ibu jari mengusap kulitnya.Lalu Mayang mulai mengayun.Gerakannya lambat. Naik pelan hingga hampir keluar, lalu turun kembali dengan dalam dan terkontrol. Setiap kali ia turun, Wandra merasakan kehangatan yang ketat memeluknya, dan Mayang merasakan setiap inci mengisi titik paling sensitif di dalamnya.Mereka saling menatap. Mata keemasan Mayang bertemu mata gelap Wandra. Tidak ada buru-buru. Hanya dua tubuh yang saling menikmati.Maya
Ciuman pertama itu lembut, penuh rasa syukur setelah pertempuran. Mayang membalas dengan sama lembutnya, tangan meraih leher Wandra, jari-jari menyusup ke rambutnya. Wandra memperdalam ciuman, lidah menyentuh bibir Mayang, meminta izin. Mayang membuka mulutnya, membiarkan Wandra masuk, dan ciuman itu berubah menjadi lebih dalam, lebih basah, lebih lapar.Mayang mendesah pelan ke dalam mulut Wandra. Tubuhnya menempel erat. Wandra merasakan detak jantung Mayang yang semakin cepat. Tangannya turun ke pinggang wanita itu, menariknya lebih dekat hingga tidak ada jarak tersisa.Mereka bergeser menuju ranjang tanpa melepaskan ciuman. Wandra menurunkan Mayang perlahan di atas kain sutra yang lembut. Ia menunduk, mencium lagi—kali ini di rahang, di leher, di tulang selangka. Mayang mengangkat dagunya, memberi akses, desahannya semakin jelas."Wandra..." bisiknya, suaranya serak.Wandra membuka ikatan jubah Mayang dengan jari-jari yang terampil. Kain itu meluncur dari bahu, memperlihatkan kulit
Mereka tiba di ruang kendali utama penjara. Tempat itu kacau balau. Puluhan penjaga penjara—makhluk golem yang terbuat dari cahaya bintang—telah hancur berkeping-keping.Di tengah ruangan, melayang sesosok pria tua berjubah putih. Namun, punggungnya membungkuk, dan matanya berputar-putar tanpa henti, memancarkan cahaya hijau yang menjijikkan. Itu bukan Gupta. Tubuh itu terlalu besar, auranya terlalu kuat. Tapi ekspresi wajah dan cara pria itu tertawa... itu adalah Gupta."Ah... ah ah ah... Putriku yang tersayang!" suara pria tua itu bergema, terdengar seperti gesekan ribuan jiwa. "Kau datang lebih cepat dari yang kukira. Dan pria bodoh yang meninju pintuku... oh, jiwa tujuh ribu tahun yang lezat itu."Mayang menatap pria itu dengan tatapan dingin. "Kau bukan Gupta. Gupta hancur olehku di makam. Siapa kau?"Pria tua itu tertawa terbahak-bahak. "Aku adalah Kaelen, Penjaga Penjara ini! Atau... setidaknya aku dulunya Kaelen. Ketika kau meremukkan tubuh Gupta di makam, secercah kecil jiwa
Keesokan paginya, seluruh Keluarga Sanandro berkumpul di halaman utama.Di tengah formasi raksasa, Mayang berdiri dengan Jarum Dewa di tangan kanannya dan Bintang Penuntun Jalan di tangan kiri. Wandra berdiri tepat di belakangnya, memegang Jantung Bintang Runtuh."Mulai!" seru Ferdinand.Formasi itu menyala. Cahaya perak meledak ke langit, merobek ruang di depan mereka. Namun, robekan ruang itu sangat tidak stabil, bergetar hebat dan mencoba menutup kembali karena tekanan dari kekosongan dimensi."Wandra!" panggil Mayang.Wandra melangkah maju. Ia tidak menggunakan sihir, tidak menggunakan formasi. Ia hanya mengulurkan kedua tangannya yang telanjang, mencengkeram tepi robekan ruang itu dengan tangan kosong.Otot-otot di lengannya menegang, kulitnya bersinar dengan cahaya emas redup dari pemurnian tingkat dua ribuan. Gravitasi dan energi kekosongan yang mencoba meremukkan tangannya sama sekali tidak berpengaruh. Dengan kekuatan fisik murninya, Wandra *memaksa* pintu dimensi itu tetap t
"Masih kurang panas," gumam Wandra, menggelengkan kepalanya dengan ekspresi kecewa yang sangat menyebalkan. "Aku pikir petir surga akan terasa lebih hangat dari ini."Mayang, yang berdiri di sampingnya dengan perisai nebula yang perlahan memudar, menatap Wandra dan tertawa pelan. Tawa yang merdu, memecah ketegangan yang mencekik. "Kau benar-benar gila, Wandra. Kau meninju petir tribulasi.""Tubuhku keras, ingat?" Wandra menoleh, menatap Mayang dengan senyum lembut yang hanya ia berikan pada wanita itu. "Lagipula, aku tidak bisa membiarkanmu berdiri di depan sendirian. Kita menghadapi ini bersama."Di atas mereka, awan hitam-emas itu bergetar hebat. Surga seolah sedang mengamuk karena gagal menghapus anomali. Namun, melihat Wandra yang berdiri tanpa luka dan Mayang yang auranya semakin menyatu dengan alam semesta, awan itu perlahan-lahan kehilangan keberaniannya. Warna hitam-emas itu memudar, digantikan oleh hujan gerimis spiritual yang turun membasahi seluruh lembah Sanandro. Hujan i
“Sebelum kita masuk, Paman Ferdinand,” kata Wandra sambil tersenyum, “izinkan saya memperkenalkan rekan-rekan saya. Ini Mayang, pasangan saya. Dan ini Viona dan Baskoro, dari Klan Montenegra.”Mendengar nama ‘Montenegra’, tubuh Ferdinand tersentak hebat. Ia menatap Viona yang berdiri dengan sopan di belakang Wandra. “Montenegra... Penyembuh lautan dari klan kuno? Kalian... kalian masih memiliki keturunan?!”Viona mengangguk, air mata mulai menggenang. “Saya Viona, cucu buyut dari tetua terakhir Montenegra. Klan kami... telah hancur. Kami hanya ingin mencari perlindungan.”Ferdinand tidak berkata apa-apa. Ia tiba-tiba melepaskan tangan Sherly, melangkah maju, dan melakukan sesuatu yang membuat seluruh penjaga dan pelayan Sanandro ternganga. Patriark yang menyembunyikan kekuatan dewa itu membungkuk dalam-dalam kepada Viona.“Klan Montenegra telah menyelamatkan nyawa leluhur pertama Keluarga Sanandro ribuan tahun lalu dengan ramuan air mata paus purba,” suara Ferdinand bergetar penuh hor
Wandra mulai memegang rambut Caroline sementara pinggul Wandra mulai goyang-goyang. "Ini enak sekali, kak. Makasih banyak, kak. Ini enak sekali.""Ini belum apa-apa, Wandra. Nanti kamu akan merasakan lebih enak saat kembali merasakan liang kenikmatanku," janji Caroline untuk kemudian dia kembali me
Di kota besar seperti ini, di mana tidak ada yang saling mengenal, lebih aman untuk tutup mata dan jalan terus.Tapi Wandra tidak bisa melakukan itu. Didikan orang tuanya dan neneknya mengajarkan bahwa menolong orang yang dalam kesulitan adalah kewajiban, bukan pilihan. Meskipun dia tahu risikonya
"Ini adalah pusaka keluarga kita," kata Mbah Surti dengan suara yang tiba-tiba menjadi serius. "Kakekmu mendapatkannya dari ayahnya, dan ayahnya mendapatkannya dari ayahnya lagi. Tidak ada yang tahu dari mana asal liontin ini sebenarnya, tapi kakekmu selalu percaya bahwa liontin ini memiliki kekuat
Pagi itu kabut masih menyelimuti Desa Sukamakmur ketika Wandra terbangun oleh suara batuk ayahnya yang begitu memilukan. Suara itu sudah menjadi alarm alami baginya selama tiga bulan terakhir, menggantikan kokok ayam yang biasanya membangunkannya untuk pergi ke sawah.Wandra segera bangkit dari tik







