로그인“Kamu masih mual sekarang?”“Sudah mendingan.”Namun melihat wajah Dinda yang pucat, Rizal tidak tenang.“Kita ke rumah sakit saja,” katanya tegas.Dinda langsung menggeleng.“Tidak usah, Mas… mas mau kerja, kan. Sore saja," kata Dinda.“Kamu muntah lagi, kan ?" “Sore saja kita periksa,” jawab Dinda lembut. “Aku tidak apa-apa, mas. Beneran."Rizal menghela napas, mencoba bersabar.“Din… aku khawatir.”Dinda menatap suaminya dengan lembut.“Kamu kan mau kerja, mas. Beneran, aku tidak apa-apa." Rizal terdiam beberapa detik.Namun, tiba-tiba Dinda bangkit dari duduknya dan berlari ke dalam kamar mandi. Dinda kembali memuntahkan sarapan pagi yang baru lima menit mendiami lambungnya.“Kita ke rumah sakit sekarang,” katanya Rizal.Dinda akhirnya menyerah.Tiba di rumah, Dokter UGD memeriksa Dinda dengan teliti.Setelah beberapa saat, dokter tersenyum sambil melihat hasil pemeriksaan.“Selamat ya.”Rizal dan Dinda saling menatap bingung.“Selamat?” ulang Rizal.Dokter mengangguk.“Istri An
Pagi itu, sinar matahari mulai masuk perlahan melalui celah tirai kamar. Suasana rumah masih tenang. Hanya suara burung dari luar yang terdengar samar.Seperti kebiasaan mereka setiap pagi, Rayan dan Revan yang baru bangun tidur langsung berlari kecil menuju kamar Dina.“Bangunin Mama dan adek…” bisik Rayan pelan sambil membuka pintu.Revan yang di belakangnya ikut mendorong pintu hingga terbuka lebih lebar.Namun, begitu pintu terbuka—Keduanya langsung terpaku di ambang pintu. Mata mereka membulat. Mulut mereka sedikit terbuka.Di atas ranjang, mereka melihat sesuatu yang tidak biasa. Bukan mamanya dan Alya yang mereka lihat pagi ini.Melainkan, Danu sedang tidur… di samping Alya.Beberapa detik keduanya hanya diam, seolah memastikan apa yang mereka lihat itu nyata.Lalu tiba-tiba—“Ayah!!!” teriak keduanya bersamaan.Mereka langsung berlari dan melompat ke atas tempat tidur.“AYAH!! AYAH!!” seru mereka dengan suara penuh kegembiraan.Danu yang masih tidur langsung terkejut. Tubuhnya
Menjelang subuh, mereka akhirnya sampai di rumah Dina.Jalan di sekitar rumah sudah benar-benar sepi.Deni memarkir mobil di halaman. Mobil Danu dibelakang mobil Deni. Danu keluar dari mobilnya dan segera membuka pintu belakang mobil Deni dan menggendong Alya yang masih tertidur lelap setelah diberi obat oleh dokter.Tubuh kecil itu bersandar di dada ayahnya dengan napas yang lebih tenang.Pintu terbuka, Aini berdiri depan pintu."Bagaimana Alya?" tanyanya."Sudah tidak panas lagi, Bun," sahut Dina.Suasana rumah yang tadi sunyi kini kembali terasa hidup."Bawa ke kamar saja," kata Aini.Danu berjalan menuju kamar mengikuti Dina. Dina membuka pintu kamar lebar, Danu masuk dan dengan hati-hati meletakkan Alya di atas ranjang kecilnya. Ia menarik selimut hingga menutupi tubuh anak itu dengan rapi.Beberapa detik Danu hanya berdiri memandangi wajah putrinya.Alya terlihat jauh lebih tenang.Danu menghela napas lega.“Ayah…” gumam Alya pelan dalam tidurnya.Danu langsung menepuk lembut ba
Ia baru saja ingin masuk ke ruangan bagian pengepakan untuk melihat pegawai yang bagian pengepakan yang lembur karena banyaknya pemesanan mebel. Iwan mendengar suara seseorang berbicara dengan menyebut nama mamanya.Iwan berhenti.“Tenang saja, Bu Nora,” kata suara itu dengan nada penuh semangat. “Anak-anak janda itu, tadi sudah dipermalukan di sekolah.”Iwan langsung mengerutkan kening."Atin dan Mama?" Atin adalah pegawai bagian pengepakan di pabrik mebel milik Iwan.Iwan melangkah pelan mendekat tanpa mengeluarkan suara.Dari balik pintu yang setengah terbuka, ia melihat Atin sedang berdiri sambil memegang ponsel.Wanita itu berbicara dengan sangat bersemangat.“Iya, Bu. Anak saya sendiri yang bilang ke mereka kalau mereka tidak punya ayah,” kata Atin sambil tertawa kecil.Iwan langsung menegang.“Tadi sampai berkelahi di sekolah,” lanjut Atin. “Ibunya sampai dipanggil ke sekolah.”Di seberang telepon, suara Nora, mamanya Iwan, terdengar samar.“Bagus,” kata Nora dengan nada puas.
Deni keluar dari ruang UGD sambil membawa ponselnya.Lorong rumah sakit malam itu cukup sepi. Hanya beberapa orang yang duduk di kursi tunggu dengan wajah lelah.Ia menarik napas panjang sebelum menekan nomor Aini, bundanya.Beberapa detik kemudian telepon diangkat.“Halo, Den?” suara Aini terdengar cemas dari seberang.“Bagaimana Alya?” tanya Aini cepat. “Panasnya tinggi sekali tadi, Bun.” Deni bersandar di dinding lorong.“Dokter sudah periksa, Bun.”“Terus?” tanya Aini semakin khawatir.“Panasnya memang tinggi, hampir tiga puluh sembilan derajat,” jelas Deni.“Ya Allah…” gumam Aini.“Tapi dokter bilang tidak ada infeksi berat,” lanjut Deni mencoba menenangkan.“Alhamdulillah…” suara Aini terdengar lega.“Dokter bilang Alya kemungkinan stres atau kepikiran kejadian di sekolah tadi.”Aini terdiam beberapa detik.“Anak sekecil itu sudah menanggung pikiran begitu,” katanya pelan dengan nada sedih.“Iya, Bun,” sahut Deni.“Sekarang Alya sudah diberi obat penurun panas. Lagi diobservas
Malam di rumah Dina biasanya tidak hening. Setelah makan malam, si kembar biasanya bermain sebentar lalu tidur lebih awal karena besok harus sekolah.Namun malam itu suasananya berbeda.Sejak pulang dari TK, Rayan, Revan dan Alya terlihat tidak seceria biasanya. Terlebih Alya Gadis yang lebih banyak diam dan menempel pada ibunya.Ketika Dina mengajaknya makan malam, Alya hanya makan beberapa suap.“Kenapa, Nak? Tidak enak makanannya?” tanya Dina lembut.Alya menggeleng pelan."Mau makan apa? Biar mama masakin?" Alya menggelengkan kepalanya.“Ngantuk, Ma.”Dina tidak memaksa. Ia menggendong Alya masuk ke kamar.“Ya sudah, kita tidur saja ya.”Rayan dan Revan juga masuk ke kamar.Namun sekitar pukul sepuluh malam, Dina tiba-tiba terbangun karena mendengar suara lirih dari sampingnya.“Ma… mereka jahat… mereka jahat."Dina langsung duduk.Ia melihat Alya menggeliat di tempat tidur.“Ma… jangan… Alya punya Ayah…”Suara itu membuat jantung Dina langsung berdegup kencang.“Alya?” panggilny
Pagi itu udara masih dingin ketika Rima bersiap keluar rumah. Ia mengenakan jaket tipis, wajahnya tampak pucat dan tegang. Tangannya refleks mengusap perutnya yang mulai membesar, seolah ada firasat buruk yang sejak semalam menggelayut di dadanya.Begitu pintu dibuka dan kakinya ingin melangkah ke
Dina mengetuk pintu kamar rawat inap itu pelan sebelum membukanya. Begitu pintu terbuka, pandangannya langsung tertuju pada Dinda yang terbaring di ranjang dengan kaki disangga bantal. Wajah Dinda terlihat pucat, namun matanya langsung berbinar melihat Dina masuk.“Kak…” panggil Dinda lirih, suaran
"Bagaimana kondisi anak saya, Dok?”Dokter memberi isyarat agar Endang lebih tenang. “Ibu tidak perlu terlalu khawatir. Kami sudah melakukan pemeriksaan fisik dan rontgen pada putri ibu.”Endang menahan napas. “Apa… apa cedera serius, Dok?" “Tidak ada patah tulang,” jawab dokter tegas namun menena
Dinda baru saja melangkah ke tepi jalan, matanya fokus ke deretan warung di seberang rumah sakit. Suasana sore itu terasa hangat, dengan sinar matahari yang mulai meredup, menciptakan bayangan panjang di trotoar. Tangannya memegang tasnya dengan erat, karena lokasi depan rumah sakit rawan jambret.







