ANMELDENPagi itu udara masih terasa sejuk dan kabut tipis masih menyelimuti jalanan. Matahari baru saja mulai muncul perlahan, menyinari atap-atap rumah yang berdiri berjejer.
Dimas bangun lebih awal dari biasa. Ia bangun dengan wajah yang terlihat segar dan penuh semangat, seolah-olah harapan baru benar-benar datang untuk dirinya. Ia segera mandi, mengenakan baju kerja yang sudah disetrika rapi, dan memakai sepatu yang masih terlihat layak pakai meski sudah lama dipakai. Di ruang makan, Rina sudah menyiapkan sarapan hangat. Ada nasi putih, lauk pauk sederhana, dan segelas teh manis yang masih berasap. Saat Dimas datang ke meja, Rina segera menyambutnya dengan senyum lebar dan tatapan yang penuh kasih sayang. “Pagi, Mas Dimas! Semoga hari ini lancar ya di kantor Pak Adi. Aku sudah berdoa supaya pekerjaanmu berjalan baik,” ucap Rina dengan suara lembut dan nada yang penuh harap. Matanya bersinar, terlihat betapa bahagianya dia melihat suaminya akhirnya mendapatkan pekerjaan tetap setelah sekian lama menganggur. Dimas duduk di kursi makan dan membalas senyum itu dengan tulus, namun di dalam hatinya ada sesuatu yang sama sekali berbeda dari apa yang ditampilkannya. Ia menyentuh tangan Rina sebentar, lalu berkata, “Pagi, Rin. Terima kasih ya sudah menyiapkan sarapan. Aku juga berharap ini jadi awal yang baik buat kita berdua.” Mereka makan bersama dengan suasana yang terlihat sangat harmonis. Selama ini kehidupan mereka memang tidak mudah. Dimas sudah hampir setahun tidak memiliki pekerjaan tetap, dan hal itu sering kali menjadi beban pikiran bagi Rina. Namun hari ini, ada peluang yang datang dari tetangganya Pak Adi, yang menawarkan posisi di perusahaannya. Bagi Dimas, ini bukan sekadar pekerjaan, tapi juga jalan keluar dari keterbatasan yang selama ini ia rasakan. Namun jauh di lubuk hatinya, Dimas menyimpan pikiran yang kelam. Ia tidak pernah melupakan rasa sakit dan kecewa yang ia rasakan selama ini. Ia sering merasa dirinya tidak dihargai. Ia merasa bahwa selama ini ia harus bergantung pada uang yang ada di tangan Rina, dan hal itu membuatnya merasa rendah diri. Di dalam benaknya yang tersembunyi, ia membuat sebuah keputusan: Nanti kalau aku sudah bekerja dan mengumpulkan banyak uang, aku akan berubah. Aku akan menjadi pelit dan tidak akan pernah memberikan apa pun pada Rina. Aku ingin membalas semua rasa sakit yang aku rasakan selama ini dengan cara membuatnya merasakan bagaimana rasanya hidup dalam kekurangan dan tidak dihargai. Namun saat ini, Dimas tahu bahwa ia masih membutuhkan bantuan Rina. Uang yang ada di dompetnya hanya cukup untuk ongkos perjalanan sekali jalan saja, belum cukup untuk pulang, apalagi untuk keperluan lainnya. Oleh karena itu, ia harus bersandiwara seolah-olah ia adalah suami yang baik dan tulus, agar Rina tetap percaya dan mungkin bahkan memberikan bantuan lebih atau setidaknya tidak mencurigai niat aslinya. “Mas, semoga kamu sukses hari ini ya. Jangan lupa minum obat kalau kamu merasa lelah, dan ingat istirahat secukupnya,” kata Rina sambil menuangkan teh lagi ke dalam gelas Dimas. “Kalau ada kebutuhan atau hal yang sulit di sana, bilang saja ya ke aku. Kita hadapi bersama.” Dimas menelan makanan perlahan, lalu menatap Rina dengan tatapan yang dibuatnya seolah-olah penuh rasa terima kasih. “Terima kasih banyak, Rin. Kamu benar-benar istri yang baik dan sabar. Aku tahu aku sering membuatmu khawatir, tapi percayalah, aku akan berusaha sekuat tenaga supaya kita bisa hidup lebih baik nanti. Nanti kalau aku sudah punya penghasilan, aku akan pastikan kamu tidak kekurangan apa pun.” Kata-kata itu keluar dari mulutnya dengan sangat halus dan meyakinkan, padahal di dalam hatinya, ia hanya sedang memainkan peran. Rina tersenyum lebar saat mendengar ucapan suaminya itu. Baginya, itu adalah kabar baik yang sudah lama ia nantikan. “Aku percaya sama kamu, Mas. Aku tahu kamu pasti bisa. Semangat ya!” Setelah selesai makan, Dimas mengambil tas kerjanya dan bersiap untuk berangkat. Rina mengantarnya sampai ke pintu depan, matanya tidak lepas dari wajah suaminya. “Hati-hati di jalan ya, Mas. Jangan terburu-buru,” ucap Rina dengan nada yang lembut. “Semoga hari ini berjalan lancar dan kamu bisa belajar banyak hal baru.” Dimas mengangguk pelan, lalu mencium kening Rina seolah-olah itu adalah tanda kasih yang tulus. “Iya, Rin. Kamu juga jaga kesehatan di rumah ya. Nanti kalau pulang, aku akan ceritakan semuanya.” “Baik, Mas. Selamat bekerja,” jawab Rina, dan ia tetap berdiri di sana sampai Dimas benar-benar menghilang dari pandangannya. Saat Dimas mulai berjalan menuju halte kendaraan umum, senyum di wajahnya perlahan hilang dan digantikan oleh tatapan yang dingin dan penuh niat. Ia berjalan dengan langkah yang cepat, pikirannya terus melayang ke masa depan yang ia bayangkan. Ia membayangkan saat ia sudah memiliki banyak uang, saat ia sudah tidak perlu lagi bergantung pada siapa pun. Sesampainya di kantor Pak Adi, Dimas menyambut dengan sikap yang terlihat sangat sopan dan rajin. Ia bekerja dengan rapi, mendengarkan setiap instruksi dengan baik, dan terlihat sangat bersemangat di depan orang lain. Namun di dalam kepalanya, ia terus menghitung-hitung berapa lama ia harus bekerja sampai bisa mengumpulkan uang yang cukup banyak. Ia bertekad dalam hati: Saya tidak akan tinggal di sini selamanya. Saya akan bekerja dengan baik, supaya dipercaya dan dapat gaji yang besar. Begitu punya banyak uang, saya akan pulang dan berubah menjadi orang yang tidak bisa diandalkan. Saya akan membuat Rina menyesal dan merasakan apa rasanya hidup tanpa kebaikan. Hari-hari pertama bekerja berjalan lancar seperti yang direncanakan. Dimas selalu tampak ceria dan ramah kepada rekan kerja dan atasan. Ia menyelesaikan tugas dengan baik, dan Pak Adi mulai memberikan pujian kepadanya. Suatu hari saat istirahat makan siang, Dimas duduk di sudut ruangan kantor sambil memegang ponselnya. Ia memandang foto Rina yang tersimpan di sana. Wajah istrinya terlihat begitu tulus dan baik, namun hati Dimas sudah tertutup oleh rasa dendam dan keinginan untuk membalas sakit hati. Ia berpikir, Dimas tahu bahwa selama ini Rina tidak pernah menyakiti dirinya dengan sengaja. Namun rasa kecewa dan rasa tidak berharga yang ia simpan selama bertahun-tahun membuatnya buta akan kebaikan istrinya Setelah jam kerja selesai, Dimas pulang ke rumah dengan perasaan yang masih campur aduk. “Selamat pulang, Mas! Bagaimana harinya? Apakah banyak hal baru yang kamu dapatkan?” tanya Rina dengan nada yang antusias. Dimas segera mengubah ekspresinya kembali menjadi wajah yang ramah dan senyum yang dibuat-buat. “Bagus saja, Rin. Aku belajar banyak hal baru dan Pak Adi juga menyukai pekerjaanku hari ini. Aku berharap nanti bisa semakin berkembang di sini.” “Syukurlah kalau begitu,” jawab Rina dengan senyum yang lebih lebar. “Nanti kalau sudah ada gaji, kita bisa mulai menabung sedikit demi sedikit ya. Aku sudah siap menyiapkan catatan keuangannya.” Mendengar kata-kata itu, dada Dimas terasa sesak sedikit. Namun ia segera menutup perasaannya. “Iya, itu ide yang bagus. Nanti kalau sudah mulai dapat gaji yang tetap, kita atur dengan baik ya. Aku ingin kita bisa hidup lebih tenang dan aman ke depannya.” Hingga saat ini, Dimas masih terus bekerja dengan tampilan yang baik di depan semua orang, terutama di depan Rina. . Ia terus menyembunyikan kebenaran di balik topeng kesabaran dan keramahan, sementara di dalam hatinya, rasa dendam dan keinginan untuk membalas sakit hati masih tetap ada dan semakin kuat setiap hari.“Baiklah, aku siap melakukan apa saja demi kita,” jawab Dimas dengan penuh keyakinan. Di dalam hatinya, ia justru merasa senang dengan rencana ini. Bukan hanya karena bisa lebih jauh dari Rina, tapi juga karena di Bandung ia akan memiliki posisi yang lebih baik, gaji yang mungkin lebih besar, dan jauh lebih mudah untuk menyembunyikan semua uang yang ia kumpulkan tanpa diketahui siapa pun. Tapi ia tidak mengatakan hal itu pada Sari. Ia hanya tersenyum dan berkata, “Aku akan tunjukkan bahwa keputusan Ibu—eh, maksudku keputusan Sayang ini benar. Aku akan bekerja sebaik mungkin di Bandung, supaya kamu tidak menyesal.” Sari tersenyum bahagia dan mencium kening Dimas. “Itu yang aku harapkan. Ingat terus, jaga rahasia ini seketat mungkin. Sampai kita siap untuk membuka semuanya nanti, tidak boleh ada satu orang pun yang tahu.” “Janji,” jawab Dimas singkat, sambil memeluk Sari kembali. Mereka berdua duduk berdiskusi lebih lanjut mengenai cara menyampaikan hal ini pada Anto dan reka
Sementara itu, di rumah sederhana , malam itu terasa sangat panjang dan menyiksa bagi Rina. Sejak Dimas pergi keesokan harinya, tidak ada kabar sama sekali. Jam dinding sudah menunjukkan pukul dua belas malam, lalu satu pagi, namun Dimas belum juga pulang. Rina duduk di tepi kasur dengan lampu kamar yang menyala redup. Beberapa kali ia mengambil ponselnya dan menekan nomor Dimas, berharap suaminya akan mengangkat teleponnya. Namun setiap kali hanya terdengar suara dering yang berulang, dan akhirnya berakhir dengan pesan bahwa nomor yang dituju sedang tidak dapat dihubungi. Dimana dia? Kenapa tidak ada kabar sama sekali? Apakah ada sesuatu yang terjadi? Atau apakah dia masih marah padaku karena hal kemarin? Rina terus bertanya-tanya dalam hati. Ia merasa cemas, takut, dan sedih bercampur jadi satu. Ia tidak pernah menyangka bahwa di luar sana, saat ia menunggu di rumah yang sepi, Dimas sedang bersenang-senang bersama wanita lain yang jauh lebih kaya dan menarik darinya.
Rina mengangguk pelan, lalu membuka pintu dan keluar dari rumah dengan langkah yang berat. Sebelum pintu tertutup, ia sempat melirik sekali ke arah Dimas yang kembali duduk di sofa dan membuka ponselnya lagi, kali ini wajahnya kembali terlihat senyum-senyum sendiri seperti tidak ada hal buruk yang baru saja terjadi. Saat Rina benar-benar pergi dan tidak terlihat lagi, Dimas segera berdiri dan kembali membaca pesan dari Bu Sari. "Sudah siap belum? Aku sudah siapkan teh dan kue kesukaanmu. Jangan terlambat ya." Dimas tersenyum lebar kali ini, jauh berbeda dengan wajah marahnya pada Rina tadi. Ia mengetik balasan dengan cepat: "Siap Bu. Aku akan berangkat sekarang. Terima kasih sudah menunggu." Di dalam hati Dimas, ia merasa puas dan lega. Dengan mengusir Rina sebentar dan membuatnya merasa rendah diri, ia bisa bebas pergi menemui Bu Sari sesuai rencananya. Ia tidak peduli sama sekali bahwa Rina hanya ingin terlihat rapi dan baik, atau bahwa perkataannya itu sangat menyakiti
Mendengar kata-kata itu, air mata Rina kembali menetes. "Ibu… kenapa harus terburu-buru begitu? Rina masih ingin belajar dari Ibu. Tapi kalau memang harus begitu, semoga perjalanan Ibu selamat sampai tujuan ya." "Iya Nak, terima kasih. Jangan marah sama Dimas terlalu lama ya. Ibu pamit dulu," jawab Ibu Dimas, lalu segera berjalan mengikuti Dimas menuju pintu depan. Rina hanya bisa berdiri di sana, menyaksikan mereka berdua pergi. Ia merasa sangat bingung. Kemarin ibunya Dimas masih bersikap ramah dan manis, tapi hari ini malah pergi dengan terburu-buru. Ia tidak menyadari bahwa semua ini adalah bagian dari rencana Dimas yang lebih besar. Sebenarnya, alasan utama Dimas menyuruh ibunya pulang bukanlah karena ada urusan di kampung. Ia khawatir sekali. Ia sudah mulai menjalin kedekatan dengan Bu Sari, dan hubungan mereka semakin erat. Ia tidak ingin ibunya atau Rina melihat atau mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, apalagi jika suatu saat nanti ia harus mendua dan berinter
"Ada apa ini? Kenapa kalian berdua berteriak dan bertengkar malam-malam begini?" tanya Ibu Dimas dengan suara yang tegas namun khawatir, lalu langsung menghadap ke arah Rina. "Rina, kamu tidak apa-apa nak? Kenapa kamu menangis?" Mendengar suara ibunya, Dimas hanya mengangkat bahu santai. "Nggak apa-apa Bu, cuma Rina saja yang sensitif sekali. Aku cuma bilang ke dia supaya dia lebih jaga penampilan dan kebersihan saja." "Kamu bicara apa itu?" Ibu Dimas langsung menatap anaknya dengan tajam. "Meskipun Rina itu tidak punya banyak uang, dia sudah bekerja keras menjaga rumah dan melayani kita selama ini. Kamu kok bisa bicara kasar dan menghina dia begitu? Bau asem apa yang kamu maksud? Dia sudah mandi dan merawat diri seperti biasa." Ibu Dimas kemudian berbalik menghadap Rina dan memegang bahu menantunya itu. "Jangan didengarkan kata-kata kasar anakku ya, Nak. Dia cuma sedang capek dan tidak berpikir panjang. Ibu minta maaf atas perkataan anakku itu." Namun yang tidak diduga oleh
Malam itu sudah cukup larut saat Dimas sampai di rumah. Jalanan sudah sepi dan udara terasa dingin, namun di dalam hatinya Dimas penuh dengan rasa bangga dan kepuasan yang tidak ia tunjukkan. Ia baru saja kembali dari rumah Sari, dengan perasaan bahwa ia sudah mendapatkan peluang besar dan dukungan dari wanita yang sangat ia inginkan. Saat ia membuka pintu rumah, cahaya lampu ruang tamu masih menyala terang. Rina sudah duduk menunggunya sejak tadi, dengan wajah yang tampak cemas dan menunggu. Begitu mendengar suara pintu terbuka, Rina segera berdiri dan menghampiri suaminya. "Mas, kamu sudah pulang. Aku sudah siapkan makanannya tadi, sudah dihangatkan lagi. Kamu pasti lelah sekali ya, makan dulu ya supaya tenagamu kembali," ucap Rina dengan suara lembut, berusaha menyembunyikan kekhawatirannya. Namun Dimas hanya mengangguk pelan, wajahnya tidak terlihat senyum seperti biasa. Ia melepas jaketnya dan meletakkannya di kursi, lalu duduk santai sambil menghela napas panjang.
Keesokan harinya Dimas hanya diam saja duduk di depan rumah. Seperti biasa, Rina memasak dulu sebelum berangkat kerja. Ia bergerak ke sana kemari di dapur, menyiapkan makanan seadanya, namun tidak sekalipun ia menoleh ke arah suaminya. Tanpa pamit, tanpa sepatah kata pun, Rina meletakkan kunci
Tekad Rina makin kuat. Ia melihat perubahan kecil. Dimas mulai gelisah. Ia tidak lagi bisa meminta uang seenaknya, tidak lagi bisa menuntut layanan batin kalau ia sendiri tidak memberi apa-apa, dan tidak lagi bisa melempar semua kesalahan begitu saja. Harga diri palsunya yang selama ini ia bangu
Suatu malam, saat Dimas sudah tidur pulas setelah menghabiskan sisa uang yang Rina dapatkan hari itu, Rina duduk di lantai dekat jendela. Di tangannya ada secarik kertas berisi daftar nama orang yang harus ia bayar. Angka-angka itu seolah menatapnya dengan sinis. Ia memegang dadanya yang terasa
"Rina,Rina ......kamu bangun saja lama sekali, apa kamu mau kami kelaparan terus?" suara Dimas meledak, nada bicaranya tinggi dan penuh amarah, padahal Rina baru saja duduk di pinggir kasur. Rina menunduk, menahan air mata yang mulai menggenang. "Maaf, Mas. Aku cuma ingin istirahat sebentar saja,







