แชร์

Bab 2

ผู้เขียน: Angie
Manajer itu melihat matanya yang merah, akhirnya tidak berani bertanya lagi. Dia segera merapikan dokumen dan berkata dengan hormat, "Kami akan segera mengurus prosedurnya. Nanti kami akan langsung beri tahu Anda waktu spesifik untuk naik ke pulau."

Selene menandatangani dengan cepat. Dari dompetnya, dia mengeluarkan kartu hitam. Saat menggesek kartu, tangannya sangat stabil, tidak ada sedikit pun getaran.

Saat dia pulang, langit sudah benar-benar gelap. Ketika Selene mendorong pintu, cahaya hangat kekuningan dari ruang tamu mengalir keluar, menyorot pemandangan harmonis di sofa.

Aster sedang mengupas apel untuk Stella. Jari-jarinya yang panjang memegang pisau buah, gerakannya anggun seperti sedang memahat karya seni. Tiga kakaknya duduk mengelilingi sofa. Sonny memegang mangkuk obat, membujuk dengan lembut, "Stella, waktunya minum obat."

"Pahit sekali ...." Stella mengerutkan hidung dengan manja. "Aku mau makan permen."

Shawn langsung mengeluarkan permen susu dari saku, "Yang paling kamu suka waktu kecil, aku selalu siapkan untukmu."

Selene berdiri di dekat pintu masuk, ujung jarinya menancap dalam ke telapak tangannya.

"Selene?" Aster yang pertama melihatnya. Dia meletakkan pisau buah dan berjalan mendekat. "Hari ini ke mana saja? Kenapa nggak di rumah?"

Suaranya tetap lembut, seolah-olah orang yang siang tadi memeluk Stella dan menciumnya dalam-dalam di depan kantor catatan sipil bukan dirinya.

Selene tidak merespons. Tatapannya melewati Aster dan tertuju pada Stella.

Aster mengikuti arah pandangannya, lalu menjelaskan dengan nada wajar, "Stella kembali karena sakit parah. Keinginan terakhirnya adalah kami menemaninya melewati sisa waktunya."

Dia berhenti sesaat. "Dulu dia memang salah karena kabur dari pernikahan, tapi dia tetap kakakmu. Demi kamu ...."

"Demi aku?" Selene tiba-tiba tertawa. "Atau memang sejak awal kamu nggak pernah melupakannya?"

Aster mengernyit sedikit. "Selene ...."

"Selene!" Sean berjalan mendekat, refleks ingin mengusap rambutnya, tetapi tangannya berhenti di udara, lalu beralih menepuk bahunya. "Stella nggak punya banyak waktu lagi. Keluarga kita juga nggak kekurangan uang buat hidupin dia ...."

"Benar." Sonny menyambung, "Waktu kecil dia memang nakal, tapi sekarang dia sudah cukup menderita di luar dan tahu kesalahannya. Bagaimanapun kita satu keluarga."

Shawn bahkan maju memberi tekanan, "Selene, kamu paling pengertian, 'kan?"

Selene mendengarkan mereka berbicara satu per satu. Hatinya sakit sampai hampir mati rasa. Pada akhirnya, dia mengangguk pelan. "Ya."

Keempat pria itu langsung menghela napas, wajah mereka menunjukkan kelegaan.

"Kamu temani Stella dulu di sini," kata Aster dengan lembut. "Kami pergi siapkan kamarnya."

Setelah suara langkah kaki mereka menghilang di tangga, Stella baru berjalan mendekat perlahan.

Wajahnya pucat, tetapi tidak bisa menyembunyikan kepuasan di matanya. "Selene, lima tahun nggak bertemu, aku bawain kamu hadiah."

Selene tanpa sadar mundur selangkah. Sejak kecil sampai sekarang, hadiah dari Stella selalu boneka berisi jarum atau kue yang dicampur obat pencahar.

"Tenang." Stella tersenyum polos. "Aku nggak akan menyakitimu lagi seperti lima tahun lalu."

Setelah berkata begitu, dia memaksa menyerahkan kotak hadiah ke pelukan Selene, bahkan membantu membuka tutupnya dengan perhatian.

"Ah!" Seekor ular berbisa hitam pekat tiba-tiba melesat keluar, menggigit pergelangan tangan Selene dengan keras!

Rasa sakit yang tajam langsung menyebar. Secara naluriah, Selene melempar kotak itu, tetapi tanpa sengaja justru mengenai bahu Stella.

Stella langsung jatuh terduduk di lantai, mengeluarkan jeritan pilu, "Sakit sekali ...."

"Ada apa?!" Saat empat pria itu berlari turun, yang mereka lihat adalah Stella tergeletak di lantai dengan air mata bercucuran, sementara Selene memegang pergelangan tangannya yang berdarah dengan wajah pucat.

Aster yang pertama berlari menghampiri dan langsung mendorong Selene. "Kamu ngapain?!"

Selene terhuyung menabrak meja, punggung bawahnya terasa sakit menusuk.

"Stella baik hati kasih kamu hadiah," kata Sean dengan ekspresi dingin sambil membantu Stella berdiri. "Begini caramu membalasnya?!"

"Itu ular ...." Selene kesakitan sampai berkeringat dingin. "Dia melepas ular berbisa untuk menggigitku ...."

"Omong kosong!" Shawn memotong dengan keras, "Stella sekarang berjalan saja susah, dari mana dia punya tenaga mencari ular berbisa untuk mencelakaimu?"

Stella menangis tersedu-sedu. "Aster, Kak ... aku cuma ... ingin kasih hadiah untuk berdamai dengan Selene. Aku nggak nyangka dia menyimpan dendam padaku dan memfitnahku seperti ini."

Selene tidak menyangka setelah lima tahun, akting Stella masih sebaik itu. Karena merasa teraniaya, dia berusaha menahan diri dan ingin mengambil kotak itu. "Aku nggak bohong. Kalau nggak percaya, kalian lihat saja ...."

"Cukup!" Aster langsung menggenggam pergelangan tangannya. Luka bekas gigitan ular itu langsung berdarah deras. "Dia kakakmu dan sekarang sakit parah. Gimana kamu bisa sekejam ini?"

Sonny sudah menggendong Stella. "Kita ke rumah sakit dulu, dia nggak boleh terlalu emosional."

Empat pria itu bergegas keluar, tidak ada satu pun yang menoleh ke Selene.

"Itu benar-benar ... ular berbisa ...." Selene terduduk di lantai. Racun mulai menyebar, pandangannya semakin kabur.

Dia melihat para pembantu berlari mendekat dengan panik dan mendengar teriakan ketakutan mereka, tetapi kesadarannya sudah mulai memudar.

"Nyonya! Nyonya!" Pembantu bernama Lina berlutut di sampingnya, menepuk wajahnya dengan gemetaran. "Cepat bangun!"

Ambulans melaju kencang membawanya ke rumah sakit, tetapi baru saja didorong ke ruang gawat darurat, dokter sudah dipanggil pergi.

"Maaf, semua dokter dipindahkan ke ruang VIP," kata perawat dengan ragu. "Kondisi Nona Besar Keluarga Wiyoko tiba-tiba memburuk. Ada perintah langsung dari atas, semua dokter hari ini hanya boleh merawat beliau. Kalian sebaiknya pindah rumah sakit."

Suara Lina panik dan tercekat. "Nggak bisa begitu dong! Kalau dipindahkan, nyonyaku pasti nggak selamat!"

Selene berbaring di ranjang rumah sakit, kesadarannya putus-putus. Rasa sakit membuat keringat dingin membasahi tubuhnya, tetapi yang lebih sakit adalah hatinya.

Dia mengeluarkan ponsel, mengerahkan seluruh tenaga untuk menelepon Aster. Telepon berdering lama sebelum akhirnya diangkat.

"Aster ...." Suaranya lemah. "Aku digigit ular berbisa .... Bisa ... kirim satu dokter ... ke sini ...?"

"Selene!" Suara Aster dingin seperti es. "Karena kamu mendorong Stella, kondisinya sekarang memburuk! Dia kena kanker, gimana kamu bisa sekejam ini? Sekarang kamu masih mau pura-pura?"

"Aku benar-benar ...."

Telepon itu diputus dengan kejam.

Selene menggenggam ponsel, air matanya mengalir tanpa suara. Dia meringkuk kesakitan, kesadarannya semakin kabur.

"Nyonya! Nyonya!" Lina menangis sambil mengguncangnya. "Jangan tidur! Jangan sampai tidur!"

Namun, dia sudah tidak sanggup bertahan. Terlalu sakit, terlalu lelah .... Dia perlahan menutup matanya.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Kekasihku Tak Pernah Mencintaiku, Tetapi Kakakku   Bab 22

    Mereka masih memendam harapan, ingin mendapatkan pengampunannya. Hadiah-hadiah terus dikirim ke Selene, tetapi semuanya dikembalikan.Adam yang melihat cara Selene melempar semua hadiah itu pun tak bisa menahan tawa. "Proyekku di sini sebentar lagi selesai. Kamu mau ikut aku kembali ke Kota Kibar?"Gerakan Selene terhenti sejenak."Adam, kamu benar-benar menyukaiku? Kamu benar-benar nggak keberatan dengan masa laluku?"Adam menatapnya dengan tatapan yang tegas dan lembut. "Selene, aku orang dewasa. Aku bisa membedakan antara rasa suka dan rasa terima kasih. Aku menyukaimu, mencintaimu, dan ingin melindungimu.""Untuk masa lalumu, yang kurasakan hanya sakit hati ... dan penyesalan kenapa aku nggak bertemu denganmu lebih awal."Adam adalah seseorang yang sangat baik dalam mengejar cinta. Perhatiannya selalu terlihat dari setiap hal kecil.Selene sudah melewati usia yang mendambakan cinta yang dramatis dan penuh pengorbanan. Justru perhatian yang tersembunyi dalam detail seperti ini yang

  • Kekasihku Tak Pernah Mencintaiku, Tetapi Kakakku   Bab 21

    Menghadapi semua tindakan mereka, Selene hanya merasa jijik."Aku sudah mengatakan semuanya dengan sangat jelas. Aku nggak ingin lagi menjadi adik kalian, apalagi menjadi istri Aster. Aku hanya ingin menjadi Selene. Kemunculan kalian hanya membuatku merasa muak."Mendengar kata-katanya, wajah mereka semua menunjukkan kesedihan. "Selene, kami benar-benar tahu kami salah. Semua ini karena Stella, jadi kami melakukan kesalahan seperti itu."Selene mencibir, lalu mengangkat lengannya. "Di sini, aku pernah digigit ular berbisa yang diberikan Stella. Karena kalian nggak mau memberiku pengobatan, aku hampir mati. Sampai sekarang, karena efek racunnya, lenganku masih sering mengalami nyeri saraf."Dia lalu menatap Sean, menunjuk punggungnya, dan berkata dengan jelas, "Karena difitnah Stella, aku dihukum 100 cambukan. Sampai sekarang, bekas lukanya nggak bisa hilang."Dia lalu menunjuk dadanya. "Aster, kamu menabrakku hingga tiga tulang rusukku patah. Setiap kali hujan, rasanya sakit.""Dan per

  • Kekasihku Tak Pernah Mencintaiku, Tetapi Kakakku   Bab 20

    Selene tidak berkata apa-apa. Keheningan mengalir di antara mereka berdua.Aster menatapnya lekat-lekat, berharap pengakuannya bisa meluluhkan hati Selene."Aster, untuk apa kamu melakukan ini?" Selene menggeleng, penolakannya sangat tegas. "Kamu seharusnya tahu, di dunia ini nggak ada obat penyesalan.""Kalau memang ada, hal yang paling kusesali adalah dilahirkan di Keluarga Wiyoko. Yang kedua adalah menikah denganmu lima tahun lalu."Selene tidak ingin terus terlibat dengannya. "Aster, saat digantung di tebing itu, aku sudah mati sekali. Anggap saja kamu melepaskanku, bisa?"Dia ingin berbalik pergi, tetapi pergelangan tangannya ditahan oleh Aster."Nggak bisa. Selene, aku benar-benar sudah sadar salah, aku juga benar-benar menyesal. Bukankah kamu dulu paling ingin menikah denganku? Ikut aku kembali, kita daftarkan pernikahan kita ya?"Semakin dia mengatakan hal-hal itu, Selene semakin merasa muak. Saat dia tidak bisa melepaskan diri, sebuah tangan menarik pergelangan tangannya dari

  • Kekasihku Tak Pernah Mencintaiku, Tetapi Kakakku   Bab 19

    Selene terus berkeliling ke berbagai tempat, hingga akhirnya menetap di sebuah kota bunga di perbatasan.Dia berjalan santai di jalanan, sesekali mengangkat kamera untuk mengambil beberapa foto."Selene!" Mendengar seseorang memanggil namanya, Selene menoleh.Meskipun samar-samar, dia langsung mengenalinya. Itu Aster.Dia tak bisa menahan diri untuk mengernyit. Sudah terlalu lama dia tidak melihat orang-orang yang berkaitan dengan Aster, sampai-sampai hampir melupakannya.Selene tidak mengerti. Jelas-jelas Aster tidak mencintainya dan dia juga sudah memilih pergi. Kenapa pria ini masih datang mengganggunya?Begitu memikirkan Aster, dia langsung teringat masa-masa di Keluarga Wiyoko. Cuaca di sini hangat, luka di tulang rusuknya sudah lama tidak terasa sakit. Namun, begitu melihat Aster, rasa sakit karena luka batin itu kembali menyeruak.Selene mempercepat langkah dan pergi. Kerumunan dan gang-gang memisahkan dirinya dari Aster.Saat Aster melihat Selene untuk pertama kalinya, dia hamp

  • Kekasihku Tak Pernah Mencintaiku, Tetapi Kakakku   Bab 18

    Sejak Adam datang ke sini, kehidupan Selene memang banyak berubah. Dulu, di hatinya selalu terasa seperti ada yang hilang.Namun, setelah Adam datang, mereka sesekali berbincang. Bahkan saat tidak berbicara, dia tetap akan berdiri di sampingnya sebentar.Selene menyentuh dadanya dan baru menyadari bahwa rasa hampa dan kehilangan itu sudah lama tidak muncul.Baru saat itu Selene sadar, perasaan hampa itu muncul karena dia terlalu lama sendirian dalam keheningan.Manusia adalah makhluk sosial. Selama masih manusia, pasti akan mendambakan kebersamaan. Terlalu lama terpisah dari orang lain akan menimbulkan rasa kesepian.Selene dulu memang ingin menghabiskan sisa hidupnya di pulau terpencil ini, tetapi sekarang dia berubah pikiran.Beberapa bulan telah berlalu. Mereka seharusnya sudah melupakannya. Dia sendiri sudah dianggap mati sekali, jadi tidak perlu lagi menyiksa diri.Memikirkan hal itu, Selene tidak menolak usulan Adam."Aku juga akan pergi besok. Tapi nggak perlu temani aku jalan-j

  • Kekasihku Tak Pernah Mencintaiku, Tetapi Kakakku   Bab 17

    Selene sudah tinggal di pulau terpencil ini selama beberapa bulan. Selain kapal suplai yang sesekali datang, hampir tidak ada manusia di sini.Yang menemaninya setiap hari hanyalah angin laut dan burung laut yang kadang terbang melewati jendela.Hidup sendiri terasa cukup nyaman. Awalnya Selene masih sesekali teringat pengalaman di Keluarga Wiyoko, tetapi lama-kelamaan dia mulai melupakannya, seolah-olah kenangan yang tidak menyenangkan itu terkubur.Hal-hal tentang Keluarga Wiyoko dan Aster terasa seperti terjadi di kehidupan sebelumnya.Melihat peringatan badai di ponselnya, Selene menutup rapat pintu dan jendela vila yang berada di tengah pulau, lalu menunggu cuaca kembali cerah.Benar saja, hari cerah yang langka akhirnya datang. Melihat langit tanpa awan, Selene tiba-tiba ingin keluar berjalan-jalan.Air laut di sini sangat biru. Selene sering merasa dirinya seperti berada di ujung dunia. Tiba-tiba, sesuatu di pantai kejauhan menarik perhatiannya.Dia berjalan mendekat dan menemuk

  • Kekasihku Tak Pernah Mencintaiku, Tetapi Kakakku   Bab 8

    Angin kencang menderu. Dengan gaun putihnya, Stella berdiri di tepi tebing. Tubuhnya goyah seolah-olah bisa jatuh kapan saja. Angin laut mengibaskan gaunnya, membuatnya tampak rapuh seperti kertas."Stella!" Para kakak berteriak dengan panik, "Cepat kembali!"Stella menoleh, air matanya mengalir der

  • Kekasihku Tak Pernah Mencintaiku, Tetapi Kakakku   Bab 7

    Saat Selene membuka mata, dia mendapati dirinya terbaring di rumah sakit. Bau disinfektan masuk ke hidungnya, monitor jantung mengeluarkan bunyi "bip, bip" yang teratur."Kamu sudah sadar?" Perawat mendorong pintu dan masuk. "Lukamu cukup parah, tiga tulang rusukmu patah. Kamu butuh keluarga untuk m

  • Kekasihku Tak Pernah Mencintaiku, Tetapi Kakakku   Bab 6

    Pada saat itu juga, angin kencang tiba-tiba menimbulkan ombak besar. Kapal pesiar berguncang hebat. Suara Selene sepenuhnya tenggelam oleh deru ombak dan teriakan.Aster mengernyit. "Tadi kamu bilang apa? Anginnya terlalu kencang."Selene baru hendak membuka mulut, tetapi Stella sudah berkata dengan

  • Kekasihku Tak Pernah Mencintaiku, Tetapi Kakakku   Bab 5

    Empat pria itu masih sibuk memeriksa apakah Stella terluka. Lengan Stella hanya sedikit memerah karena terkena panas."Stella! Kamu nggak apa-apa?""Biar kulihat!""Cuma sedikit merah, cepat ambil obat!"Akhirnya seorang awak kapal yang lewat menemukan Selene. Dengan panik, dia berlari mendekat, men

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status