เข้าสู่ระบบMalam berikutnya, kondisi Ibunya kembali menurun. Nayla yang sudah tidak tahan melihat Ibunya menderita, memaksa untuk ke dokter saat itu juga.Dia mengambil uang tabungannya yang tidak seberapa itu, berniat untuk memanggil taksi agar bisa membawa Ibunya ke rumah sakit terdekat.“Nay, kita gak akan punya uang untuk bayar rumah sakit,” kata Ibunya perlahan sambil menahan batuknya.“Nanti saja baru pikirin Bu, yang penting Ibu dirawat dulu.”“Rumah sakit gak akan mau merawat orang yang gak punya uang, Nay. Kita ke rumah Om kamu dulu saja, siapa tau mereka bisa bantu kita.”“Kalau gitu Ibu tunggu disini ya, aku aja yang kerumah Om. Ibu istirahat dulu.”Nayla segera menggoes sepedanya sekencang mungkin agar segera sampai di rumah Kakak Ibunya yang jaraknya cukup jauh. Angin malam yang bertiup kencang itu tidak mengganggunya, tidak juga tetesan hujan yang mulai turun.Lima belas menit kemudian dia sampai ke rumah Heri, satu-satunya keluarga yang dimiliki Ibunya. Heri yang bekerja sebagai k
Suara batuk hampir tidak berhenti terdengar di rumah kecil yang sudah usang itu. “Ibu, kita ke dokter aja ya,” ucap Nayla yang masih remaja sambil berlinang air mata. Rumah itu terasa semakin dingin diguyur oleh deras hujan yang sedari tadi tidak kunjung berhenti. “Gak perlu, Nay. Ibu baik-baik saja. Kamu tolong buatkan teh hangat saja ya,” jawab Ibunya sambil berusaha tersenyum di balik tubuh ringkihnya.Dia pun mengistirahatkan tubuhnya pada kasur kecil yang sudah tua dan hampir habis busanya itu. Sedang gadis kecilnya langsung sigap menuju dapur untuk membuatkan pesanan Ibunya.“Ini Bu, minum dulu,” Nayla menyodorkan segelas teh hangat sambil membantu Ibunya untuk bangkit dari tidurnya.Setelah meneguk teh hangat itu, Ibunya merasa lebih baik.“Tuh kan Ibu baik-baik saja,” ujar wanita paruh baya itu sambil tersenyum agar putrinya merasa tenang.“Ibu sudah beberapa hari ini batuk-batuk terus, aku khawatir Ibu kenapa-napa. Kenapa kita gak ke dokter saja?”“Ibu sehat gini kok, jadi
Sejak Nugie menyatakan perasaannya, Nayla banyak menghabiskan waktu dengan Nugie. Menjemput Nayla di kantor menjadi rutinitas baru untuk Nugie. Jika biasanya dia menghabiskan waktu di rumah atau pergi dengan Bobby, sekarang dia menghabiskan waktu dengan lebih menyenangkan.Dua tahun menjomblo cukup lama bagi Nugie yang biasanya hanya butuh waktu enam bulan sampai satu tahun untuk kembali punya gandengan. Tapi sejak putus dari Shilla dan sibuk dengan perusahaan barunya, akhirnya Nugie bisa kembali merasakan bunga-bunga dalam harinya.Walaupun hubungan mereka belum resmi pacaran, namun bagi Nugie ini adalah kesempatan untuk meyakinkan Nayla tentang keseriusannya. Sore itu mereka memutuskan untuk makan malam di Mall untuk menikmati suasana yang berbeda, sekaligus jalan-jalan sehabis makan. Beruntung hari biasa Mall tidak seramai biasanya jadi mereka bisa makan dan jalan-jalan dengan tenang.“Aku seneng banget akhirnya Mama sama Nara akhirnya bisa baikan setelah sekian lama hubungan mer
“Jadi Kakak udah jadian sama reporter itu?” Nara bertanya tanpa basa-basi pada Nugie saat sedang sarapan pagi itu."Dia belum jawab," jawab Nugie singkat.Tawa Nara sontak meledak, membuat Nugie yang sedang meminum kopinya hampir tersedak."Kenapa sih kamu?" tanya Nugie bingung."Emang Kakak gak merasa aneh?" Nara berusaha menahan tawanya. "Ini pertama kali lho Kakak tuh ditolak!" tawanya kembali meledak."Siapa yang ditolak? Dia belum jawab!" "Emang pernah dalam sejarah Kakak gak langsung diterima saat itu juga? Gak kan? Baru kali ini kan?"Nugie terdiam. Benar juga kata Nara. "Jadi penasaran ama cewek ini. Kenalin dong.""Gak ah, nanti kamu ngomong yang aneh-aneh lagi kayak si Bobby.""Gak kok, janji.""Udah, gak usah bahas itu. Bahas soal rencana kamu aja. Jadi soal itu..."“Iya tuh setiap kali ditanya mau ngerjain apa pasti jawabannya gak pernah jelas," potong Mamanya yang tiba-tiba muncul dari dapur sambil membawa semangkuk sup panas.“Kamu nasehatin nih, Gie, biar dia serius d
Sore itu Nugie sudah menunggu di parkiran gedung kantor Nayla. Pukul 17.30 tepat dia sudah sampai, dia tidak ingin membuang kesempatan sekecil apapun. 'Gak usah buru-buru, Nay. Beresin dulu aja kerjaannya.'Dia mengirimkan pesan pada Nayla, memastikan Nayla tau dia menepati pembicaraan tadi siang. Sore ini Nugie mengajak Nayla untuk makan malam bersama Bobby dan Mia.Tadinya Nayla ingin menolak, namun setelah bom besar yang dijatuhkan Pak Rino padanya tadi siang, dia merasa perlu bersenang-senang sedikit.Begitu menerima pesan dari Nugie, Nayla langsung membereskan mejanya dan bersiap pulang. Willy sampai bingung karena baru kali itu rasanya Nayla pulang on time. Saat melihat sedan BMW hitam milik Nugie, senyum langsung merekah di wajah Nayla. “Sory ya jadi nungguin," ucap Nayla begitu duduk di kursi empuk mobil Nugie itu.“Baru sampe juga kok," balas Nugie kemudian memundurkan mobilnya untuk siap keluar dari parkiran.Segera mobil itu melaju dan berbaur dengan ribuan mobil lainnya
Makan siang santai itu tiba-tiba terasa agak canggung. Untung saja Fajar bisa mencairkan suasana dengan obrolannya. "Enak juga makanan disini," ucapnya sambil melahap makanan yang dipesannya. "Eh Nay, Adit habis bangga-banggain kamu tuh tadi."Nugie langsung melihat pada Adit sambil menunggu apa yang akan dikatakan Fajar selanjutnya. "Asli baru kali ini dia tuh suka muji timnya. Biasanya nih semua pekerjaan tuh cuma B aja buat dia," lanjut Fajar."Udah deh, gak usah berlebihan," potong Adit."Beneran! Lo tau sendiri kan Nay, gimana perfeksionisnya si Adit ini. Gak banyak yang bisa masuk standar dia kalau soal kerjaan. Gue aja dulu stress satu tim ama dia." Adit hanya meneguk minuman di hadapannya saat mendengar apa yang dikatakan Fajar. Entah mengapa siang itu dia terlihat sedikit berbeda."Bener banget Mas Fajar," timpal Nayla. "Semua hasil kerja Mas Adit itu memang perfect." Nugie sudah terdiam sejak Adit dan Fajar duduk di meja itu. Dia hanya berusaha menyaring semua informasi







