Share

Bab 2

Author: Cathy
Sudut Pandang Abigail:

Ketukan di pintu kamar mandi terdengar lagi, kali ini lebih mendesak. Aku buru-buru membungkus tubuh dengan handuk tebal dari kabinet dan membuka pintu, terlihat salah satu penata rias yang jelas sudah tidak sabar.

Begitu melihat aku selesai mandi, dia langsung menggiringku keluar untuk memulai proses transformasi. Satu jam berikutnya terasa seperti badai. Para penata rias mengepungku. Satu mengatur rambutku dengan sangat teliti, yang lain mengaplikasikan make-up dengan sangat ahli.

Ya Tuhan, jadi begini rasanya jadi orang kaya. Ternyata ini rahasia mereka, satu tim lengkap yang didedikasikan cuma untuk membuatmu terlihat sempurna.

"Sudah! Gaun ini benar-benar seperti dibuat khusus untukmu! Pas banget, nggak perlu dirombak," seru salah satu penata rias ketika tubuhku diputar menghadap cermin panjang.

Aku menatap pantulan diriku sendiri, nyaris tidak mengenali perempuan yang membalas tatapanku itu. Dia terlihat ... mahal.

"Itu benaran aku?" bisikku tanpa sadar.

Dia tersenyum hangat. "Tentu saja."

Saat itu juga, Madam Amara masuk dengan langkah anggun, berbalut gaun pestanya yang megah. Tatapannya langsung mendarat padaku dan senyumnya mengembang, disertai tepuk tangan kecil penuh kepuasan.

"Sempurna! Sempurna sekali! Kalian semua akan dapat bonus untuk hasil luar biasa ini!"

Dia mendekat, sikapnya kali ini jauh lebih lembut. "Aku tahu kamu pilihan yang tepat untuk menjadi pengantin pengganti cucuku. Kamu sudah menyelamatkan keluargaku dari skandal yang memalukan, Abigail. Aku anggap ini sebagai utang budi."

Dia menyuruh para penata rias keluar, menyisakan kami berdua. Amarah mengerikan yang pertama kali aku lihat dari wanita itu lenyap total, digantikan dengan keramahan yang mencairkan hati.

Aku masih merasa cemas. "Madam, maaf kalau aku lancang, tapi ... ini nggak salah? Pernikahan ini bakal terdaftar secara hukum? Aku akan terikat secara legal dengan cucu Madam. Aku nggak bakal bisa menikah dengan orang lain lagi."

"Jangan khawatir, Abigail. Setelah dua tahun, pernikahan ini akan batal dengan sendirinya. Aku yakin kamu nggak punya rencana menikah dalam waktu itu, 'kan?" jawabnya. Aku mengangguk setelahnya.

"Bagus. Upacara dimulai beberapa menit lagi. Tinggal ikuti instruksi koordinator pernikahan. Teman-temanku sudah menunggu di taman." Dengan itu, dia pergi, meninggalkanku sendirian dengan pikiran yang semakin kusut.

Dibatalkan setelah dua tahun. Jadi ini bukan sepenuhnya palsu? Tetap sah di mata hukum, walaupun sementara. Kukira aku cuma jadi pengganti untuk pertunjukan, bukan istri sungguhan.

Aku menggeleng, mencoba menyingkirkan rasa gugup yang menyerangku. Pikiranku terputus ketika koordinator datang, seorang wanita anggun yang mengabarkan bahwa sudah waktunya. Dia membimbingku keluar sambil berbisik memberi instruksi terakhir.

Saat kami tiba di pintu masuk taman, lautan wajah berbusana elegan menoleh ke arahku. Setiap tatapan rasanya seperti sorotan lampu dan keinginan untuk bersembunyi membuncah hebat. Aku menelan ludah, mataku menyapu kerumunan sampai akhirnya menemukan pria yang berdiri di ujung altar. Dia tinggi, berwibawa, dan sedang menatap langsung ke arahku.

'Dia pengantinku?' bisikku dalam hati, genggamanku di buket mengencang.

Nada pertama lagu pernikahan mulai mengalun. Koordinator mengangguk padaku. Dengan napas gemetar, aku mulai melangkah perlahan ke arah pria yang mengenakan setelan jas yang dijahit sempurna itu.

Saat akhirnya aku berdiri tepat di depannya, matanya tidak beranjak dari tatapanku sejenak sebelum dia meraih tanganku. Bibirnya mengecup punggung tanganku, sentuhan lembut tetapi mengagetkan yang membuat tubuhku merinding.

Gestur formal seperti itu terasa sangat asing, sampai-sampai membuatku tidak nyaman. Apa orang kaya memang begini? Namun, pikiran gelisahku langsung dikalahkan satu fakta tak terbantahkan. Ketampanannya berada di level yang bisa merusak iman. Dia juga sangat ... wangi.

Kami berbalik dan berjalan menuju pendeta. Aku merasa sangat gugup. Ini adalah reaksi membingungkan yang tak bisa kukendalikan.

Telapak tangannya terasa halus saat menggenggam tanganku, membuatku jadi sadar diri mengingat kapalan di tanganku akibat bekerja di ladang bersama ayahku.

"Dari mana Nenek menemukanmu?" bisiknya dengan suara rendah.

Aku tersentak tetapi tetap menatap lurus ke depan, menolak menjawab. Memangnya penting? Aku dibayar. Madam Amara tidak pernah bilang aku harus meladeni rasa penasaran cucunya.

Upacara dimulai, tetapi pikiranku terlalu kacau untuk mengikuti setiap kata. Aku hanya mengucap "aku bersedia" saat disuruh, menjalani semua gerakan otomatis, sampai akhirnya aku tersadar penuh ketika merasakan cincin kawin yang dingin dan berat yang diselipkan ke jariku.

Sesaat kemudian, pendeta mengumumkan, "Sekarang, kamu boleh mencium pengantin wanitamu."

'Hah? Sudah? Cepat banget?' pikirku terpaku.

Napasku tertahan ketika mempelai pria perlahan mengangkat veil-ku. Ekspresinya serius, tatapannya intens. Jantungku berdebar sangat kencang saat wajahnya mendekat, bibirnya turun semakin dekat ke bibirku.

'Astaga, ini ciuman pertamaku!' Aku tidak bisa berhenti berpikir.

Aku refleks menjauh, tetapi tangannya terangkat menahan belakang kepalaku, dan dia menciumku.

Mataku langsung terbuka lebar. Aku bisa merasakan tekanan kuat bibirnya dan tarikan halus yang ... posesif.

'Dia ... mengisap mulutku?'

Ciumannya berlanjut. Terus berlanjut. Tidak ada tanda bakal berhenti.

'Astaga, dia memang tampan, tapi dia mesum!'

Aku terengah ketika dia akhirnya melepasku. Tepuk tangan meriah para tamu membuat pipiku panas terbakar malu.

"Manis," gumamnya, napasnya terasa hangat di telingaku.

Aku tidak tahu harus menangis atau menjerit. Ini tidak ada dalam kesepakatan! Madam Amara bilang ini cuma pernikahan formalitas. Kenapa harus ada ciuman? Ciuman pertamaku, telah direbut oleh playboy ini!

Dia itu mesum dan aku harus waspada. Aku harus pergi dari sini begitu resepsi selesai, sesuai kesepakatan dengan Madam Amara.

Tubuhku menegang saat dia menggandeng tangan dan mengajakku menyapa tamu. Ucapan selamat datang bertubi-tubi dan aku hanya merespons seperti robot dan pura-pura tersenyum.

Aku mencari-cari Madam Amara dan melihatnya sedang memperhatikanku dengan senyuman geli. Aku menatap balik, berharap dia memahami isyaratku yang meminta pertolongan, tetapi dia malah salah paham dan berpaling.

"Bi ... bisa lepasin dulu? Aku mau ke kamar mandi," gumamku pada Ryan Joe Baskoro, suamiku. Aku hafal namanya karena pendeta mengulangnya beberapa kali.

Itu cuma alasan. Kehadirannya terasa seperti predator yang mengintai mangsa dan aku tidak berniat membiarkan pria triliuner yang nakal ini mendekati keperawananku. Itu sesuatu yang kusimpan untuk suami yang benar-benar mencintaiku.

"Kamu tahu toiletnya di mana?" tanyanya, nada suaranya menunjukkan kalau dia mau mengantarku.

Aku mengangguk dengan terlalu semangat. "Aku bisa cari!"

Untungnya, salah satu temannya datang, menepuk punggungnya memberi selamat. Aku kabur dengan memanfaatkan kesempatan itu. Jantungku berdebar kacau. Aku harus cepat. Ketika melihat pelayan Madam Amara, Lola, aku langsung menghampiri.

"Lola, kamar mandinya di mana ya?" tanyaku cemas.

Dia terlihat bingung sampai aku mengingatkan, "Kamu tadi dengar kata Madam Amara. Setelah upacara, aku boleh pergi."

Dia terlihat paham dan langsung mengangguk. "Kamu ganti baju dulu. Nanti aku antar lewat pintu staf supaya tamu nggak lihat."

Rasanya lega luar biasa sampai kakiku terasa melayang. Aku kembali ke ruang ganti, melepaskan gaun mahal itu dengan panik, lalu mengenakan kembali baju murahku. Aku meraih tas, tetapi ketika hendak pergi, kilau emas di jariku menarik perhatianku.

Cincin itu.

Aku berbalik, mencoba menarik cincin kawin itu sekuat tenaga. Cincin itu tersangkut di jariku. Aku hampir menangis karena frustrasi.

"Aku harus gimana?" bisikku panik. "Playboy itu bakal punya alasan legal buat mengejarku kalau aku masih pakai ini!"

Tidak ada waktu lagi. Aku menggeleng dan berlari meninggalkan ruangan. 'Bodo amat! Nanti aku kirim lewat pos. Sekarang aku harus kabur sebelum dia berpikir kalau malam pertama termasuk dalam paket perjanjian.'

Lola sudah menunggu di pintu belakang. Dia memberi isyarat agar aku pergi. Tepat sebelum melangkah menuju kebebasan, rasa malu menerjangku.

"Lola, ini memang memalukan, tapi boleh pinjam uang nggak? Madam Amara kasih aku cek dan aku nggak punya uang receh buat naik bus. Kasih aku nomor kamu, nanti aku kembalikan plus bunga begitu ceknya cair," pintaku.

Dia menatapku lama, lalu menghela napas dan menyerahkan uang 1,5 juta. Rasanya aku ingin mencium dia saking bersyukurnya.

"Balikin saja di saat kamu sudah bisa. Sekarang pergilah, sebelum ada yang lihat," katanya.

Aku tidak butuh disuruh dua kali. Aku lari. Saat berbelok di sudut, keajaiban muncul dalam bentuk taksi kuning. Aku langsung naik dan meminta diantar ke terminal bus. Aku pulang, aku bebas, dan aku punya 15 miliar.

....

Sudut Pandang Ryan:

"Mana istriku?" tanyaku pada Nenek di vila yang mulai sepi.

Aku baru berhasil lepas dari teman-teman yang sibuk mengorek bagaimana aku bisa "move on" begitu cepat dari Iris. Pacarku selama lima tahun meninggalkanku untuk pria yang seharusnya menjadi pendamping priaku, Liam Lesmana. Aku baru tahu pagi ini. Rasa sakitnya masih baru.

Kecerdikan Nenek dalam mencari pengganti sudah menyelamatkanku dari rasa malu yang luar biasa dan aku bersyukur untuk itu. Reputasiku di kota ini bergantung pada citra tertentu.

Namun, aku tidak menduga pengantinnya bakal secantik bidadari. Begitu aku berpegangan tangan dengannya, aku merasakan sedikit 'sengatan'. Ketika kucium dia, dia begitu manis, begitu polos. Rasa posesif yang tidak pernah kurasakan sebelumnya menyergapku ketika melihat tamu pria lain meliriknya. Aku ingin menyembunyikannya. Dia milikku.

"Dia sudah pergi," kata Nenek dengan tenang. "Perannya cuma jadi pengganti Iris yang labil itu, bukan jadi mainan seumur hidupmu, Ryan."

Aku mengerutkan kening, wajah pengantinku yang pemalu masih terbayang di pikiranku. "Kenapa Nenek biarkan dia pergi? Dia istriku. Dia nggak boleh menghilang begitu saja."

"Jangan coba-coba," balas Nenek tajam. "Aku tahu apa yang kamu pikirkan. Hentikan. Anak itu polos, dan aku nggak akan membiarkan kamu menghancurkan hidupnya hanya karena kamu patah hati. Perbaiki dirimu dan lupakan Iris."

Aku mengusap rambut dengan frustrasi. "Aku pikir Nenek takut aku patah hati? Kenapa rasanya Nenek malah membela dia?"

"Kamu bisa melampiaskan 'kesedihanmu' pada perempuan mana pun di kota ini, Ryan. Tapi bukan Abigail. Dia masih muda dan punya mimpi. Aku nggak akan biarkan kamu merusaknya."

"Gimana kalau aku mau dia benaran jadi istriku?" sahutku. "Aku bisa suruh tim keamanan menemukannya dalam sejam."

"Kalau kamu coba sentuh seujung jari pun dari anak itu, kamu bakal berurusan denganku," jawab Nenek, suaranya rendah dan mengancam. "Kalau kamu berani menentangku soal ini, aku nggak akan ragu-ragu memotong warisanmu. Paham?"

Aku terdiam. Aku terpaksa mengalah dan tersenyum kaku. Apa lagi yang bisa kulakukan?

Namun aku tahu, dengan keyakinan yang mengendap di hatiku, kisah kami belum selesai. Suatu hari nanti, aku akan menemukan Abigail lagi. Ketika saat itu tiba, aku akan pastikan pernikahan kami sah dalam semua arti, supaya dia tidak bisa kabur dariku.

Untuk sekarang, aku harus menahan diri dan menyalurkan hasrat yang membuatku gelisah ini ke tempat lain. Masih banyak perempuan yang paham cara mainnya. Pengantin perempuanku yang kabur itu jelas belum berpengalaman. Ketakutan di matanya saat kucium tadi sudah cukup menjadi bukti.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (4)
goodnovel comment avatar
Kimberly Jane
memang agak ga masuk akal baru liat sekali langsung suka, entah suka apa napsu ini
goodnovel comment avatar
Ros
Jijik deh sm nih baskoro muda. Laki2 playboy. Masa mau keluarin hasrat nya sm perempuan lain ….. ? Jijik…. Sembarangan buang peju diluaran…. Najis. Jijik…. Untung si Abigail sdh kabur. Jgn sampe kena penyakit kelamin dr dia. Suami kontrak nya.
goodnovel comment avatar
Nanik Eka tini
lumayan deh,tapi itu mustahil didunia nyata
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Ketika Cinta Ugal-Ugalan Itu Pergi   Bab 417

    "Terima kasih," kataku dingin kepada Carlos saat menerima bunga darinya.Aku lelah dan ingin beristirahat, tetapi aku juga tidak mungkin mengabaikannya begitu saja. Keluarganya mungkin akan menganggapku tidak sopan jika aku melakukan itu."Maaf sudah datang mengganggu. Setelah kami meninggalkan kantormu tadi, tiba-tiba aku merindukanmu. Apa seperti ini rasanya jatuh cinta kepada seorang wanita?" katanya dengan manis.Aku tidak tahu harus menjawab apa. Ucapannya terdengar sangat gombal dan aku sama sekali tidak menyukainya.Dia merindukanku, tetapi aku justru merasakan sebaliknya. Kalau bisa, aku malah tidak ingin bertemu dengannya lagi. Namun, sekarang dia sudah berada di rumah. Apa lagi yang bisa kulakukan?"Oh, Carlos! Kamu datang berkunjung?"Aku mengembuskan napas lega ketika Papa Ryan tiba-tiba menghampiri kami."Iya. Aku datang untuk menemui Trinity. Kalau Paman nggak keberatan, aku ingin mengajaknya menonton konser malam ini. Ada penyanyi internasional yang akan tampil di kolose

  • Ketika Cinta Ugal-Ugalan Itu Pergi   Bab 416

    Saat Mama menceritakan semua itu, aku melihat betapa serius ekspresinya. Aku pun tahu dia mengatakan yang sebenarnya."Tapi kenapa tadi malam Papa dan Dante terlihat baik-baik saja? Kenapa Papa kelihatannya nggak marah?" tanyaku kepada Mama Abigail dengan bingung.Dia tertawa."Karena usaha Dante. Meskipun suamimu sudah beberapa kali dipukul oleh papamu, dia nggak pernah berhenti berusaha menebus kesalahannya. Dia hampir setiap hari datang ke rumah hanya untuk meminta maaf," jawab Mama.Aku hampir tidak percaya dengan apa yang kudengar. Apa Dante benar-benar melakukan semua itu? Apa karena dia benar-benar menyesali semua kesalahan yang pernah dilakukannya kepadaku?"Tolong jangan marah pada kami karena membiarkannya datang ke rumah. Kami bisa merasakan penyesalannya, dan kami nggak akan memaksamu untuk kembali bersamanya, Trinity. Apa yang dia lakukan kepadamu memang menyakitkan, tapi kami nggak mungkin membencinya selamanya, apalagi dia adalah ayah dari anak-anakmu, cucu-cucu kami," k

  • Ketika Cinta Ugal-Ugalan Itu Pergi   Bab 415

    Keesokan harinya, aku bangun cukup siang. Aku langsung mandi dan berganti pakaian.Pada jam segini, Papa mungkin sudah berada di kantor.Meski begitu, aku tetap berniat pergi bekerja walaupun sudah terlambat. Aku benar-benar ingin mempelajari seluk-beluk Grup Logistik Baskoro agar seluruh keluargaku bisa bangga kepadaku.Aku harus mulai menjalani hidup dengan serius. Aku akan bangkit dan suatu hari nanti menjadi presdir yang hebat seperti Papa. Aku ingin membuktikan kemampuanku, jadi aku akan bekerja keras.Benar, aku akan menyibukkan diri di perusahaan sampai anak-anakku tumbuh besar. Aku ingin mensyukuri apa yang sudah kumiliki. Aku tidak membutuhkan cinta yang baru untuk bisa bahagia.Setelah riasanku terlihat sempurna, aku menyampirkan tas ke bahu dan keluar dari kamar. Aku langsung menuju kamar bayi untuk melihat anak-anak dan tersenyum ketika mendapati mereka masih tertidur."Semalam anak-anak tidur larut?" tanyaku kepada dua pengasuh yang menjaga anak-anakku."Oh, Nyonya, mereka

  • Ketika Cinta Ugal-Ugalan Itu Pergi   Bab 414

    Kunjungan Dante untuk menemui anak-anak berjalan lancar. Dia tidak melakukan apa pun yang tidak kusukai. Dia bahkan hampir tidak mau pulang, dan Papa Ryan keburu pulang saat dia masih berada di rumah."Selamat malam, Pak!" sapa Dante kepada Papa.Aku tidak bisa menyembunyikan kebingunganku.Apa dia benar-benar memanggil Papa dengan sebutan "Pak"? Sejak menikah dengan Dante, aku hanya pernah mendengarnya memanggil Papa Ryan dengan sebutan Ayah. Dulu aku tidak pernah mempertanyakannya karena aku terlalu dimabuk cinta oleh Dante. Bagiku, tidak ada yang lebih penting daripada dia."Aku senang kamu datang mengunjungi cucu-cucuku. Makan malam saja di sini. Ada yang perlu kita bicarakan," kata Papa serius.Aku bingung.Sebenarnya, aku ingin Dante segera pergi. Aku merasa canggung karena dia terus menatapku. Semakin lama dia berada di rumah ini, semakin gelisah pula perasaanku. Entah kenapa, rasanya perlahan-lahan aku mulai dikuasai oleh kelemahanku sendiri."Kamu nggak punya urusan lain? Kamu

  • Ketika Cinta Ugal-Ugalan Itu Pergi   Bab 413

    Aku benar-benar bahagia melihat Dante bersama anak-anak kami. Aku tidak menyangka dia akan menerima mereka dengan begitu hangat. Hatiku dipenuhi kebahagiaan saat aku berusaha keras menahan air mata.Setelah menggendong Beatrice, dia beralih kepada Bernard dan menghujani pipinya dengan ciuman.Ini pertama kalinya aku melihat mata Dante berlinang air mata. Aku tidak bisa menahan diri untuk terus menatapnya. Tidak pernah kusangka anak-anak kami bisa membuatnya menangis.Aku menghampiri mereka ketika mendengar Beatrice menangis. Dia mungkin tidak terima karena papanya menurunkannya demi menggendong kakaknya."Dia cemburu," kataku kepada Dante sambil menggendong Beatrice dan mengayun-ayunkan tubuhnya dengan lembut. Aku menyadari Dante sedang menatapku, tetapi aku mengabaikannya. Aku bahkan membelakanginya sambil menenangkan Beatrice, terutama ketika tangisannya semakin keras karena ingin kembali digendong papanya."Benarkah?" tanyanya.Aku mengangguk."Iya. Dia mau semua perhatian hanya unt

  • Ketika Cinta Ugal-Ugalan Itu Pergi   Bab 412

    Aku menatap Dante. Harus kuakui, sekarang dia sudah belajar meminta dengan baik-baik. Lagi pula, siapa aku sampai harus melarangnya mendapatkan apa yang dia inginkan?Terlepas dari semua yang pernah terjadi di antara kami dan penderitaan yang kualami karena ulahnya, aku tetap tidak bisa menyangkal bahwa dia adalah ayah dari anak-anakku. Aku tidak mungkin terus menyembunyikan anak-anak darinya selamanya. Suatu hari nanti, mereka pasti akan mencari ayah mereka, dan aku tidak ingin merampas hak mereka untuk mengenal ayahnya.Aku tidak ingin bersikap egois jika menyangkut anak-anakku. Mengabulkan keinginannya bukan berarti kami akan kembali bersama. Aku tetap teguh pada keputusanku untuk tidak kembali kepadanya.Cukup sekali aku menderita karena dia. Aku akan berusaha hidup bahagia dan mencurahkan seluruh perhatianku pada bisnis serta anak-anakku. Aku tidak berniat menjalin hubungan lagi dengan siapa pun."Baiklah. Kamu tetap ayah mereka, dan aku nggak ingin merampas hakmu untuk bertemu me

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status