登入Sudut Pandang Felicia:Meskipun aku merasa canggung berhadapan langsung dengan Trinity, aku tidak punya pilihan selain menghadapinya dengan baik. Aku berutang begitu banyak kepada orang tuanya, jadi setidaknya sekarang aku harus berbicara dengannya secara terbuka."Kamu pergi sama siapa? Kamu tahu Orson berusaha mengejarmu tadi malam? Kamu tahu Marcie dipermalukan gara-gara ulahmu?" kata Trinity.Aku bisa melihat kekecewaan terpancar jelas dari wajahnya. Perkataannya membuatku merasa sangat bersalah."Maaf. Aku benar-benar minta maaf," jawabku karena aku tidak tahu harus berkata apa lagi.Trinity menatapku lekat-lekat sebelum kembali berbicara."Kamu nggak perlu menyembunyikan alasanmu lagi, alasan kenapa kamu tiba-tiba kabur dari rumah. Aku tahu apa yang terjadi antara kamu dan Orson," katanya.Aku terkejut, lalu menatapnya dengan gugup. Dia tahu tentang itu? Bagaimana mungkin? Sesakit apa pun itu, aku sudah berusaha keras menyembunyikan semuanya dari mereka. Aku berusaha sebisa mungk
"Mal ini milik Keluarga Sandiaga. Aku membawamu ke sini supaya kamu nggak bosan di rumah," jawab Dante sambil mulai berjalan masuk. Aku segera mengikutinya dari belakang."Aku lagi nggak ingin jalan-jalan. Kamu juga tahu aku kabur dari rumah. Mal ini adalah tempat yang selalu didatangi Keluarga Baskoro. Mereka mungkin ada di sini dan bisa saja melihatku," jawabku.Dia berhenti berjalan, lalu berbalik menghadapku."Memangnya kenapa? Kamu sudah cukup dewasa untuk menentukan sendiri apa yang ingin kamu lakukan, 'kan?" jawabnya sebelum merogoh saku jasnya. Dia menyerahkan sesuatu kepadaku. Aku menatapnya dengan bingung."Gunakan ini. Kata sandinya adalah tanggal ulang tahunmu. Kamu bisa beli apa saja yang kamu mau dengan kartu ini. Aku harus urus sesuatu di kantor, tapi aku akan segera kembali," katanya sebelum berbalik dan pergi. Para pengawalnya langsung mengikuti dari belakang.Pria itu benar-benar aneh. Dia memberiku kartu begitu saja, lalu pergi. Aku harus pergi ke mana? Aku sebenarny
Sudut Pandang Felicia:Aku tidak bisa menahan rasa cemas memikirkan ke mana Dante membawaku hari itu. Dia hanya mengatakan bahwa kami akan pergi ke suatu tempat, tetapi tidak memberitahuku ke mana."Aku boleh tanya sesuatu?" Aku memecah keheningan di antara kami. Dia melirikku sebelum mengangguk."Kenapa kamu begitu baik kepadaku? Maksudku, kamu 'kan orang yang dulu membeli Trinity. Cerita yang kudengar tentang apa yang kamu lakukan kepadanya benar-benar berbeda dengan caramu memperlakukanku sekarang.""Dulu, kamu hampir membuatnya terbunuh. Sekarang, kamu malah merawatku. Kenapa? Kami sama-sama perempuan, 'kan? Mereka bilang kamu menyukai perempuan," tanyaku dengan berani.Aku melihat keningnya berkerut. Seketika, aku langsung merasa gugup. Dia mungkin akan marah dan tiba-tiba mengusirku dari mobil. Namun, aku berusaha untuk tidak menunjukkannya. Aku tidak ingin dia tahu bahwa aku takut padanya.Aku mendengar dia mengembuskan napas panjang sebelum menjawab, "Karena kamu berbeda dariny
Sudut Pandang Orson:Kepalaku berdenyut-denyut, jadi aku memutuskan turun ke ruang makan untuk minum kopi. Seluruh vila masih sepi. Aku bisa melakukan apa pun yang kuinginkan tanpa ada yang menggangguku."Selamat pagi, Tuan," sapa seorang pelayan ketika aku masuk ke ruang makan. Dia sedang sibuk mengelap sesuatu. Aku hanya mengangguk sebelum duduk di meja."Aku mau kopi. Kopi hitam saja. Tolong buatkan," perintahku.Dia mengangguk, lalu bergegas pergi menyiapkannya.Aku duduk diam sambil menunggu. Beberapa menit kemudian, dia kembali membawa secangkir kopi yang masih mengepul."Apa Tuan ingin makan sesuatu?" tanyanya lagi.Aku meliriknya sebelum menjawab, "Nggak usah. Aku nggak lapar. Ngomong-ngomong, di mana semuanya?"Dia terdiam sejenak sebelum menjawab, "Tuan berangkat kerja pagi-pagi. Nona Trinity pergi ke sekolah. Nyonya sedang berada di taman."Aku tidak menjawab. Aku segera berdiri sambil membawa kopi, lalu berjalan keluar dari vila. Aku melihat Mama dan Marceline sedang asyik
Aku segera melepas jubah mandiku dan masuk ke bak mandi yang dipenuhi air yang harum.Suhunya pas, jadi aku kembali tersenyum. Aroma lilin aromaterapi membuatku ingin berendam di sana selamanya. Tiba-tiba, perasaan tenang dan aman menyelimutiku.Aku sebenarnya tidak ingin mengakhiri waktu berendamku, tetapi rasa lapar mulai menyerang. Jadi, aku tidak bisa terlalu lama berada di kamar mandi.Aku segera membilas tubuh menggunakan pancuran air. Setelah itu, aku mengeringkan tubuh dengan handuk lembut yang harum, sebelum kembali mengenakan jubah mandi. Aku juga mengeringkan rambut sebelum buru-buru keluar dari kamar mandi.Aku mengambil gaun tadi dan langsung mengenakannya. Panjangnya sedikit melewati lutut dan ukurannya benar-benar pas. Dugaanku tadi benar. Pakaian yang dibelikan Dante sesuai dengan ukuranku.Aku berputar di depan cermin meja rias sebelum mengambil sandal jepit yang kulihat di salah satu paper bag.Tepat ketika hendak keluar dari kamar, aku mendengar ketukan pelan di pint
Sudut Pandang Felicia:Aku masih tertidur lelap ketika mendengar pintu kamarku terbuka dan seseorang memanggil namaku dengan lembut.Awalnya aku hendak mengabaikannya, tetapi kemudian aku tiba-tiba teringat bahwa aku bukan sedang berada di rumah tempatku dibesarkan. Aku langsung terbangun dan melihat seseorang berjalan mendekat sebelum menepuk bahuku dengan lembut."Nona, selamat pagi. Apa semuanya baik-baik saja?" tanyanya dengan khawatir.Aku berbalik dan melihat wajah Lorey yang dipenuhi kekhawatiran."Aku baik-baik saja. Kamu hanya membuatku kaget," jawabku sambil menguap. Aku refleks melirik jam di meja samping tempat tidur dan terkejut melihat waktu sudah hampir pukul 9 pagi. Aku benar-benar tidur seperti babi di kamar milik orang asing.Mungkin karena beberapa hari terakhir aku tidak bisa tidur dengan nyenyak. Sejak aku menyerahkan keperawananku kepada Orson pada ulang tahunku yang ke-18, aku tidak pernah bisa beristirahat dengan baik. Semalam adalah pertama kalinya aku benar-be







