Share

Ketika Cinta Ugal-Ugalan Itu Pergi
Ketika Cinta Ugal-Ugalan Itu Pergi
Author: Cathy

Bab 1

Author: Cathy
Sudut Pandang Abigail:

Keringat gugup membasahi kulitku saat aku menatap deretan rumah raksasa di kawasan perumahan eksklusif Kompleks Kamatie. Satpam di gerbang akhirnya membiarkanku masuk, tetapi hanya setelah aku menyerahkan kartu identitasku sebagai jaminan.

Aku datang ke sini untuk melamar pekerjaan sebagai asisten rumah tangga, tetapi karena sepeda tidak boleh melewati gerbang, aku tidak punya pilihan selain berjalan kaki sambil menggenggam koran dengan alamat yang sudah aku lingkari.

Setiap rumah mewah yang aku lewati terasa seperti sekilas pandang ke dunia lain, pengingat nyata betapa melimpahnya kekayaan di lingkungan ini. Kemewahan yang begitu mencolok membuat perutku menegang oleh rasa cemas.

Kalau orang tuaku mampu membiayai kuliahku, aku tidak akan datang ke Kota Marina. Namun, aku lahir dalam kemiskinan dan inilah beban yang harus aku tanggung demi mengubah nasib.

Aku bersyukur Gebi Sandra membawaku ke sini dan memberiku tempat untuk menumpang tidur sementara aku mencari pekerjaan. Namun, aku tidak bisa tinggal lama di sana. Rumah kecilnya sudah terasa sesak seperti ikan sarden dan pasangannya yang tinggal di sana membuatku merinding dengan tatapan-tatapannya yang mengganggu dan tidak pantas.

Ketika melihat seorang wanita yang sedang membuang sampah, aku segera menghampirinya. "Bu, permisi. Apa kamu tahu alamat ini?" tanyaku sambil menunjukkan koran.

Dia melirikku, lalu mengambil koran dari tanganku. "Kamu perlu sesuatu di sini? Mau lamar kerja asisten rumah tangga ya?"

Aku mengangguk cepat.

"Itu di ujung jalan. Jalan lurus saja, nanti kamu lihat rumah besar banget dekat ujung. Mereka yang paling kaya di sini. Rumahnya dua kali lipat lebih besar dari yang lain." Dia tersenyum dan aku mengucapkan terima kasih sebelum mempercepat langkahku.

Saat aku sampai di rumah mewah itu, aku mengecek lagi tulisan di gerbang besar itu dan mencocokkannya dengan alamat di koran. Tiba-tiba, seorang penjaga muncul dari arah rumah utama dan berjalan cepat ke arahku.

"Ada perlu apa, Bu? Mengemis dilarang keras di sini," katanya tegas.

Keningku berkerut. Apa dia mengira aku pengemis? Dengan hanya 150 ribu tersisa, mungkin aku memang terlihat begitu. Kalau aku tidak mendapat pekerjaan ini, aku akan tidur di jalan. Sesuatu yang sangat menakutkan di kota seperti Kota Marina.

"Aku datang untuk melamar pekerjaan asisten rumah tangga, Pak. Aku lihat iklannya di koran. Aku datang jauh dari desa, dan aku benar-benar butuh pekerjaan ini," jelasku.

Dia tampak terkejut, matanya mengamatiku dari atas sampai bawah. Ada sedikit amarah yang naik ke dadaku, tetapi aku menahannya. Kehilangan kesabaran sekarang hanya akan membuat perjalananku sia-sia.

"Kamu datang di waktu yang salah, Bu. Lagi ribut besar di dalam," katanya sambil mengecilkan suara.

Aku menatapnya dengan bingung. "Maksudnya? Aku nggak bisa pergi sebelum bicara dengan seseorang. Aku sudah berjalan jauh dan aku nggak punya uang untuk kembali besok."

Dia menatapku lagi, ragu. "Aku nggak yakin Madam mau menemuimu. Dia lagi marah-marah, teriak-teriak ke semua orang di dalam rumah."

Sarafku menegang. Karena sisa uangku hanya 150 ribu, aku tidak bisa kembali ke tempat Gebi dengan tangan kosong. "Tolong, izinkan aku mencoba. Di iklan tertulis pelamar bisa datang kapan saja. Kasihanilah aku," pintaku.

Dia menghela napas pelan dan akhirnya mengangguk. "Baiklah. Aku antar kamu ke kepala pelayan saja."

Dia mengantarku masuk dan aku langsung terpana oleh pemandangan di dalam. Rumah itu dihias dengan begitu mewah, dipenuhi rangkaian bunga dan tirai elegan, seolah-olah ada pesta besar yang sedang dipersiapkan.

"Hari ini hari pernikahan Tuan Ryan. Dia cucunya Madam Amara," bisik penjaga itu. "Tapi calon pengantin wanitanya kabur. Jadi sekarang semuanya kacau."

Saat itu juga, teriakan terdengar dari dalam, disusul suara benda pecah.

"Tuh, 'kan? Aku nggak mau kena semprot. Ayo, cari kepala pelayan, biar dia yang urus kamu."

Saat aku baru melangkah mengikuti penjaga itu, suara tajam memotong udara dari belakangku. "Siapa kamu?"

Aku berhenti dan perlahan berbalik, melihat seorang wanita tua dengan ekspresi garang, satu alis terangkat seperti siap menguliti siapa pun. Dia memakai perhiasan dan seorang pelayan berdiri kaku di belakangnya. Aku menelan ludah sebelum menjawab.

"Aku datang untuk melamar pekerjaan asisten rumah tangga, Madam."

Dia mengangkat alis, matanya menyusuri tubuhku dalam tatapan penilaian yang panjang. Sebuah senyum tipis yang licik muncul di bibirnya. "Sempurna! Kenapa nggak?"

Lututku melemas saat tatapannya bertemu mataku.

"Ikuti aku. Aku mau bicara denganmu di dalam," perintahnya sebelum berbalik dan melangkah masuk tanpa menoleh lagi.

Aku menatap penjaga itu dengan wajah putus asa, tetapi dia hanya memberi isyarat panik agar aku segera menurut.

Dengan helaan napas pasrah, aku mengikuti wanita itu. 'Yang penting dia bukan vampir yang mau mengisap darahku,' batinku saat mencoba menenangkan diri.

Begitu aku melangkah masuk, napasku tercekat. Bagian dalam rumah bahkan lebih memukau daripada bagian luarnya. Tatapanku langsung tertarik ke atas, ke sebuah lampu gantung besar yang berkilau seperti ribuan berlian asli, memantulkan cahaya ke seluruh aula besar.

Ya Tuhan, andai aku dapat pekerjaan ini. Bosku pasti kaya raya setengah mati. Sebuah harapan putus asa tumbuh di dadaku. Aku ingin tinggal di tempat seperti ini, meski hanya sebagai pelayan.

Wanita itu, Madam Amara Baskoro, duduk di sebuah kursi di meja panjang berhias ukiran dan memberi isyarat agar aku mendekat. Aku maju dengan kepala menunduk, jantungku berdegup kencang.

"Lima belas miliar," katanya, suaranya memecah keheningan tegang. "Sebagai imbalan untuk menikahi cucuku."

Aku tetap diam, yakin dia tidak sedang bicara padaku. Pasti ada orang lain yang lebih layak.

"Siapa namamu?" Nada tajamnya membuatku tersentak.

"Abigail! Abigail Salman," jawabku terbata-bata.

"Abigail, kamu dengar apa yang aku bilang barusan? Lima belas miliar untuk menikahi cucuku."

Mataku membelalak, tak percaya. Ini pasti lelucon.

"Ma ... Madam, aku datang untuk melamar jadi asisten rumah tangga. Bukan jadi istri," kataku, tubuhku gemetar.

Dia menatapku lama, ekspresinya yang tegas melembut menjadi senyum bermakna. "Kamu butuh uang, 'kan? Aku akan memberikan 15 miliar, sekarang juga, hanya untuk jadi pengganti dan menikahi cucuku."

Aku terpaku, pikiranku berputar liar. Aku bahkan ingin mencubit diriku sendiri. Apa aku sedang mimpi?

"Lola, ambilkan buku cekku di ruang kerja," perintahnya pada wanita yang mengikutinya.

Saat pelayan itu pergi, perhatian Madam Amara kembali padaku.

"Calon pengantin cucuku kabur. Upacara dijadwalkan jam tiga sore ini di taman, kamu lihat sendiri persiapannya tadi. Aku nggak akan membiarkan keluargaku dipermalukan di depan semua tamu gara-gara Iris Permana yang nggak bisa dipercaya itu.

"Terima tawaranku. Setelah pernikahan, kamu bebas kembali ke mana pun yang kamu mau, dengan uang itu sebagai bayaranmu."

Kenyataan dari tawaran itu mulai menyusup masuk ke pikiranku. Jika aku melakukannya, aku akan jadi miliarder seketika. Kami bisa membeli tanah di samping rumah kami, keluargaku akan aman, dan aku bisa membiayai kuliah sendiri. Aku tidak perlu menyikat lantai atau menghindari pacar Gebi yang menyeramkan itu.

"Eee, Madam, ini bukan penipuan, 'kan?" Kalimat itu keluar sebelum aku bisa menahannya dan aku langsung menggigit bibirku.

'Kenapa aku nggak bisa berpikir dulu sebelum ngomong?' Aku meringis dalam hati.

Tak disangka, dia terkekeh pelan. "Ini bukan penipuan, Abigail. Aku akan menyiapkan ceknya sekarang. Nggak ada waktu untuk ragu. Yang perlu kamu lakukan cuma mengenakan gaun pengantin yang ditinggalkan si Iris itu. Bilang kamu setuju dan aku akan menandatangani cek ini. Setelah upacara selesai, kamu bisa pergi dengan bayaranmu dan anggap semua ini nggak pernah terjadi."

Bujukannya begitu kuat. Wanita galak yang tadi mengamuk kini lenyap, digantikan seorang nenek yang tampak manis dan meyakinkan. Tanpa sadar aku mengangguk.

Mana mungkin aku pilih-pilih? Ini uang yang bisa mengubah hidup. Semua masalahku akan hilang begitu saja. Aku hanya harus menjadi pengantin pengganti dan pergi sebagai miliarder. Seperti menang lotre.

"Bagus! Karena kita sudah sepakat, aku bayar kamu sekarang. Aku mudah teralihkan nanti," katanya sambil menerima buku cek dari pelayannya yang baru kembali.

Dia menulis cepat, menandatangani dengan luwes, lalu menyerahkan secarik kertas itu kepadaku. "Ini. Lima belas miliar. Nggak lebih, nggak kurang."

Tanganku gemetar hebat sampai aku hampir tidak bisa memegangnya. Aku menatap angka itu, deretan nolnya sampai buram, sebelum aku menyimpannya ke dalam tas.

"Bagus. Sekarang ikut aku. Kita nggak punya banyak waktu. Para tamu segera datang." Dia melihat jam tangan dan berdiri, memimpin jalan keluar. Aku mengikutinya dalam keadaan linglung, merasa seperti melayang.

Kami memasuki ruang rias mewah tempat tiga penata gaya pria yang sudah menunggu. "Dandani dia. Dia akan menggantikan Iris. Pakaikan gaun pengantinnya."

Rahangku ternganga. Gaun yang dipajang di tengah ruangan adalah mahakarya, dengan bordiran yang tampak seperti berlian asli, tidak kalah dengan kilau lampu gantung.

"Bu, sebaiknya kamu cepat mandi dulu. Biar lebih segar waktu pakai gaunnya," saran salah satu penata gaya dengan lembut.

Aku tersentak, sadar kalau aku terlalu lama menatap. Saat aku melihat sekeliling, Madam Amara sudah tidak ada.

"Aku baru kena panas matahari, nanti aku kejang," gumamku spontan, teringat mitos lama dari desaku. Para penata gaya saling melirik geli, menahan tawa. Aku menggigit bibir, malu, lalu mengangguk sambil meletakkan tas di sudut ruangan.

"Kamar mandinya di mana?" tanyaku.

Salah satu dari mereka menunjuk ke pintu kecil. Aku masuk, dan berhubung mereka menunggu, aku mandi secepat kilat.

"Aku nggak peduli kalau aku kejang," bisikku sambil terpana melihat sabun-sabun impor dan kebersihan ruangan itu. "Selama aku dapat 15 miliar."

Aku ingin berendam lama, tetapi ketukan tak sabar dari pintu mengurungkan niatku.

'Nggak masalah,' pikirku saat keluar. 'Begitu aku cairkan cek itu, aku akan beli sampo merek ini satu kardus.'

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (2)
goodnovel comment avatar
Kalsum Syarifa
Abigail, kukira laki
goodnovel comment avatar
Yulniarti Saja
lanjutinceritanya bagus banget
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Ketika Cinta Ugal-Ugalan Itu Pergi   Bab 445

    "Nggak apa-apa, Sayang. Kami yang akan mengurus Felicia. Lanjutkan saja pestanya. Tamu kalian banyak sekali, sayang kalau ditinggalkan," kata Mama.Aku mengangguk tanpa berpikir panjang. Kemudian, aku merasakan Dante menggenggam tanganku erat dan menoleh ke arahnya."Jangan khawatir, Sayang. Ini anak keempat mereka, jadi nggak ada yang perlu dikhawatirkan. Felicia sudah seperti ahli dalam urusan melahirkan sekarang," katanya sambil tersenyum.Aku tak kuasa tertawa.Ada benarnya juga. Ini anak keempat Felicia. Apa yang perlu ditakutkan? Rasanya seperti perayaan ganda. Pernikahanku berlangsung pada malam yang sama dengan kelahiran anak keempat Felicia.Entah kenapa, aku jadi ingin mengejar mereka dan memiliki anak sebanyak Orson dan Felicia. Sepertinya aku benar-benar harus membujuk Dante agar tidak terlalu sering pulang larut malam supaya kami bisa segera mulai berusaha memiliki anak lagi.Semua tamu menikmati pesta resepsi. Kebahagiaanku semakin bertambah ketika Mama Abigail menelepon

  • Ketika Cinta Ugal-Ugalan Itu Pergi   Bab 444

    "Sekarang, pengantin pria dipersilakan mencium pengantin wanita!" ujar pendeta dalam upacara pernikahan kami.Hari-hari berlalu begitu cepat. Rasanya baru kemarin Dante melamarku, tetapi sekarang kami sudah kembali berdiri di depan altar, mengucapkan janji pernikahan dan berjanji untuk tetap bersama dalam suka maupun duka.Aku sudah melepaskan semua kenangan menyakitkan di antara kami. Aku sudah memaafkannya dan tidak ingin terus memikirkan masa lalu.Aku hanya ingin bersamanya dan memiliki keluarga yang utuh. Tidak ada yang lebih penting daripada keluarga kami dan orang-orang yang kami cintai.Aku merasakan bibir Dante perlahan menyentuh bibirku. Aku bahkan sudah tidak ingat berapa kali kami berciuman sampai sekarang, tetapi bibirnya masih terasa semanis dulu. Aku benar-benar bahagia.Saat Dante akhirnya menjauhkan wajahnya, semua orang langsung bertepuk tangan. Para tamu dan keluarga kami ikut bersorak. Senyum menghiasi setiap wajah dan semua mata tertuju kepada kami."Aku mencintaim

  • Ketika Cinta Ugal-Ugalan Itu Pergi   Bab 443

    "Sudah dekat! Sedikit lagi, sob. Seru banget, aku sampai iri!" kata Dorothy sambil terus berjalan bersamaku.Dorothy memang benar-benar ada-ada saja. Aku sama sekali tidak tahu apa yang sedang dia rencanakan. Awalnya dia hanya mengajakku keluar untuk makan malam biasa, tetapi ternyata dia sudah menyiapkan segala macam kejutan."Hei, Dorothy, kamu macam-macam banget, ya. Aku benar-benar bakal cubit kamu, deh," kataku.Dia malah tertawa seolah sangat menikmati keisengannya sendiri. Aku pun hanya bisa mengembuskan napas panjang.Kalau sejak awal aku tahu Dorothy akan melakukan hal seperti ini, aku pasti tidak akan setuju ikut dengannya. Memang selalu ada saja ulahnya."Kita sudah sampai. Aku akan melepas penutup matamu, tapi jangan terlalu senang, ya? Jangan lupa betapa besar usahaku untuk menyiapkan perayaan ini," katanya.Aku tidak tahu harus bagaimana bereaksi. Ucapannya seolah memberikan petunjuk tentang sesuatu, tetapi aku sama sekali tidak bisa menebaknya."Baiklah. Terus saja bicar

  • Ketika Cinta Ugal-Ugalan Itu Pergi   Bab 442

    Hari-hari berlalu dengan cepat dan tidak ada kelanjutan dari perseteruanku dengan Mindy. Aku berharap kami tidak akan bertemu lagi agar aku bisa terus hidup bahagia bersama Dante.Aku tidak ingin ada masalah lagi dalam hidupku, meskipun aku tahu Dante tidak akan membodohiku lagi. Aku sedang menidurkan si kembar ketika Dorothy tiba-tiba muncul di kamar."Dorothy, ada apa? Kamu mau bawa aku ke mana?" tanyaku.Dia bilang kami akan pergi keluar karena Dante mungkin baru akan pulang larut malam dari Kota Marina. Dante pergi ke sana untuk menghadiri rapat penting, tetapi berencana kembali ke Vistablanc malam itu juga.Sepertinya kepulangan kami ke Kota Marina akan tertunda lebih lama dari rencana. Ibu Dante sedang sakit dan setiap kali tiba waktunya bagi kami untuk pulang, dia selalu meminta dengan lembut agar kami tinggal sedikit lebih lama karena dia akan merindukan cucu-cucunya.Untungnya, Mama Abigail dan Papa Ryan tidak keberatan ketika aku memberi tahu mereka bahwa kepulangan kami akan

  • Ketika Cinta Ugal-Ugalan Itu Pergi   Bab 441

    Sudut Pandang Trinity:Aku melihat ekspresi terkejut di wajah Mindy setelah mendengar ucapanku. Dia mungkin tidak menyangka aku akan mengatakan hal seperti itu.Aku tak kuasa tersenyum sinis. Segarang apa pun seseorang, dia pasti tetap punya kelemahan. Saat ini Mindy memang belum gentar, tetapi aku akan memastikan dia tidak akan pernah berhasil menghancurkan hubunganku dengan Dante."Dulu kamu mungkin bisa menindasku, tapi sekarang nggak lagi, Mindy. Aku nggak akan membiarkan siapa pun merebut pria yang kucintai. Milikku tetaplah milikku.""Kalau aku sampai tahu kamu mencoba menggoda Dante lagi, aku akan menamparmu lebih keras dari ini. Ingat itu!" bentakku tanpa mengalihkan pandangan sedikit pun dari matanya.Dia langsung membuang muka dan tersenyum sinis, meski terlihat sedikit ragu."Wah, hebat sekali! Kita sudah bertahun-tahun nggak bertemu, sekarang kamu jadi seberani ini, ya! Sepertinya kamu jadi percaya diri karena sudah kembali sama Dante. Tapi, cara seperti itu nggak akan memb

  • Ketika Cinta Ugal-Ugalan Itu Pergi   Bab 440

    Sudut Pandang Trinity:Keesokan paginya, aku terbangun tanpa Dante dan anak-anak di sampingku.Aku segera berdiri, pergi ke kamar mandi, menyelesaikan rutinitas pagiku, lalu mengenakan pakaian yang nyaman sebelum keluar mencari suami dan anak-anakku.Setelah keluar, aku melihat Dante sedang bermain bersama anak-anak di taman dengan gembira. Aku tersenyum melihat betapa cepatnya mereka akrab dalam waktu sesingkat itu."Selamat pagi, Sayang!" sapa Dante saat aku menghampirinya. Dia kemudian mengecup bibirku dengan hangat, membuatku merasa canggung karena anak-anak melihat kami.Ibu mertuaku juga ada di sana, sibuk merawat bunga-bunganya. Aku masih belum terbiasa dicium Dante di depan orang lain."Selamat pagi. Kamu bangun pagi sekali," kataku sambil menghampiri si kembar dan mencium pipi mereka. Mereka sekarang sudah berusia 3 tahun, penuh energi, dan tidak pernah bisa diam di satu tempat terlalu lama."Ini sudah hampir siang, Sayang. Sekarang sudah jam 10. Kamu yang bangun kesiangan," k

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status