เข้าสู่ระบบ
Sudut Pandang Betty:Aku tak bisa berhenti tersenyum sepanjang perjalanan pulang.Aku baru saja dari kafe tempatku melamar kerja. Aku sangat senang karena mereka langsung menerimaku.Saat itu sedang libur musim panas. Aku ingin memiliki pekerjaan paruh waktu agar nanti ketika semester baru dimulai, aku tidak perlu meminta uang kepada Mama.Aku ingin meringankan bebannya sebisa mungkin. Aku tahu betapa sulitnya bagi Mama untuk terus bekerja di usianya sekarang."Hei, Betty! Sini, cantik!"Aku langsung berhenti ketika mendengar namaku dipanggil. Aku menoleh dan melihat Rain melambaikan tangan kepadaku sambil menyeringai."Betty, cantik, sini! Ayo, cepat!" Dia bahkan hampir menjerit karena terlalu bersemangat.Aku tak punya pilihan selain mampir ke salonnya. Mungkin dia hanya ingin bergosip denganku lagi."Ada apa? Dari teriakanmu saja sudah ketahuan ada sesuatu," kataku sambil mendekat. Aku lebih tinggi darinya, jadi dia harus mendongak untuk menatapku sambil tersenyum lebar.Dia langsun
Sudut Pandang Trinity:Lima belas tahun kemudian ...."Selamat ulang tahun ke-18, Sayang," kataku sambil menyapa putraku, Bernard. Tampak sedikit kesedihan yang tersembunyi di balik senyumku.Waktu berlalu begitu cepat. Rasanya baru kemarin aku melahirkan dia dan saudara kembarnya, Beatrice.Lima belas tahun terakhir hidupku bersama Dante berjalan dengan baik, meski Beatrice tidak bersama kami. Kami telah dikaruniai lima anak, tetapi itu tidak pernah membuatku berhenti memikirkan putriku yang hilang setiap hari."Terima kasih, Ma. Aku sudah bilang ke Mama dan Papa, aku nggak mau pesta," kata Bernard.Aku memaksakan senyum meskipun sebenarnya ingin menangis. Seandainya Beatrice ada di sini, pesta ini pasti akan terasa jauh lebih berarti. Ini juga ulang tahunnya yang ke-18. Dia seharusnya berada di sini bersama saudara serta sepupu-sepupunya.Pikiran itu saja sudah membuat mataku berkaca-kaca. Dante langsung panik. Dia merangkul bahuku dan mengecup puncak kepalaku."Sudah, jangan begitu.
Sudut Pandang Orang Ketiga:Marissa tidak mampu menghentikan air matanya saat menatap televisi. Berita sedang melaporkan kematian seorang wanita.Wanita itu adalah putrinya."Anne! Andai saja kamu mau mendengarkan Ibu. Andai saja kamu ikut Ibu kembali ke pedesaan, semua ini nggak akan terjadi padamu," katanya. Hatinya terasa hancur sementara air matanya terus mengalir.Jasad yang ditampilkan di layar memang disamarkan, tetapi kartu identitas Anne terlihat cukup jelas hingga Marissa yakin bahwa putrinyalah yang sedang diberitakan."Kenapa kamu begitu keras kepala? Kenapa kamu nggak pernah mau mendengarkan Ibu? Semua yang Ibu peringatkan akhirnya benar-benar terjadi padamu. Karma menghampirimu karena semua kesalahan yang kamu lakukan. Kenapa kamu nggak bisa berubah saja?" katanya sambil menekan tangan ke dada.Rasanya tidak ada lagi yang berarti baginya.Putri kesayangannya sudah meninggal."Mama! Mama!"Tangis Marissa seketika terhenti ketika mendengar suara gadis kecil yang ditinggalka
"Oke! Tunggu apa lagi? Bunuh aku sekarang! Bunuh aku sekarang!" teriak Mindy hingga urat-urat di lehernya menonjol.Setelah beberapa minggu Dante menjalani pemulihan di rumah sakit, kami pergi ke kantor polisi untuk menemui Mindy yang saat ini mendekam di dalam sel tahanan.Gelombang amarah seketika menyeruak dalam diriku begitu melihatnya. Meski keadaannya terlihat menyedihkan, aku sama sekali tidak bisa merasa kasihan padanya.Seluruh tubuhnya dipenuhi memar. Rambutnya sudah dicukur habis, tubuhnya tinggal kulit dan tulang, sedangkan wajahnya membengkak hingga nyaris tidak bisa dikenali."Kamu mau mati? Kenapa? Supaya kamu bisa lolos dari hukuman yang sudah kusiapkan untukmu? Dengar, Mindy, aku nggak akan melepaskanmu semudah itu. Aku akan memastikan kamu menderita atas semua yang sudah kamu lakukan. Kamu akan merasakan penderitaan yang nggak seharusnya dialami siapa pun," bentak Dante dengan penuh amarah.Kakinya masih belum pulih sepenuhnya sehingga dia harus duduk di kursi roda. N
Sudut Pandang Trinity:Hatiku terasa sakit melihat Dante terbaring di ranjang rumah sakit. Dokter sudah meyakinkanku bahwa kondisinya baik, tetapi aku tetap tidak bisa berhenti khawatir, apalagi dia masih harus menjalani operasi untuk menangani patah tulang di kakinya.Aku membelai wajahnya sementara air mata mengalir di pipiku. Setelah semua yang kami lalui, rasanya aku hampir mati rasa terhadap rasa sakit, terutama karena kami bahkan tidak tahu apakah suatu hari nanti kami akan bisa melihat putri kami lagi."Jangan menangis, Sayang. Semuanya akan baik-baik saja. Aku nggak akan berhenti sampai kita menemukannya," kata Dante.Aku mengangkat kepala dan baru menyadari dia sudah terbangun. Tatapan matanya terlihat lelah saat menatapku."Dan, gimana keadaanmu? Ada yang sakit? Aku akan panggil dokter," kataku panik sambil hendak berdiri, tetapi dia langsung menahan tanganku."Tenanglah. Nggak usah panik. Aku baik-baik saja," katanya.Kesedihan terlihat jelas di matanya saat menatapku. Ketik
Sudut Pandang Orang Ketiga:Lamunan Marissa buyar ketika mendengar gadis kecil itu menangis. Anne meninggalkannya begitu saja di atas kursi kayu yang keras, jadi Marissa segera menghampiri untuk mengurusnya. Hatinya terasa sakit saat melihat wajah gadis kecil itu yang cantik dan menggemaskan."Kamu cantik sekali. Maafkan apa yang sudah dilakukan putriku padamu. Meskipun aku ingin mengembalikanmu kepada orang tuamu, aku nggak tahu siapa mereka atau harus membawamu ke mana. Untuk sementara, sebaiknya aku yang merawatmu.""Aku yakin suatu hari nanti putriku akan sadar. Kalau saat itu tiba, aku akan mengantarmu pulang kepada keluargamu," kata Marissa kepada gadis kecil yang bahkan belum dia ketahui namanya.Gadis kecil itu hanya menatapnya dengan tatapan kosong, terlihat jelas rasa ketakutan di matanya. Hanya Anne yang tahu apa sebenarnya yang telah dia lakukan terhadap anak ini. Apa pun itu, Marissa bertekad merawat gadis kecil tersebut dengan baik, setidaknya untuk menebus kesalahan putr







