Share

Bab 3

Penulis: Cathy
Lima tahun kemudian.

Sudut Pandang Abigail:

Aku menghentikan taksi pertama yang kulihat. Ini hari pertamaku di pekerjaan baru dan aku berniat memberi kesan baik dengan datang lebih awal. Mengenakan pakaian kantorku yang paling rapi, aku memutuskan untuk tidak naik bus yang padat demi kedatangan yang lebih berwibawa.

Menara kaca menjulang milik Perusahaan Logistik Baskoro sudah tampak di depan. Aku langsung menuju departemen akuntansi. Setelah lulus dengan gelar Sarjana Akuntansi, bisa mendapat pekerjaan di firma bergengsi seperti ini rasanya seperti mimpi yang jadi nyata. Aku sudah dengar standar penerimaan mereka luar biasa ketat.

"Selamat pagi!" sapaku pada staf pertama yang kulihat di kantor.

Dia menoleh denganku dengan senyum hangat. "Hai! Kamu pasti Abigail Salman, karyawan baru kita."

"Benar." Aku mengangguk.

"Aku Selly Setyono. Aku yang akan bimbing kamu. Ayo, ini mejamu."

Aku mengikutinya sambil mengucapkan terima kasih.

"Kamu baru lulus kuliah?" tanya Selly.

"Iya, ini pekerjaan pertamaku."

"Tenang saja, kamu aman sama aku. Kerjaannya cukup sederhana dan kita bertiga satu tim. Bisa dapat posisi di sini tuh perlu sedikit keberuntungan, jadi lakukan yang terbaik, oke?"

Aku mengangguk, merasa sedikit lebih lega.

Selly baru mulai menjelaskan sistem-sistem kerja ketika seorang karyawan lain, Carmen Setia, datang. Dia sama ramahnya dengan Selly. Keduanya sudah bekerja di perusahaan ini hampir lima tahun dan paham segala seluk-beluknya.

"Selly, kita butuh tanda tangan Pak Ryan untuk persetujuan bonus, 'kan? Dokumennya sudah siap," kata Carmen.

Aku tetap fokus pada tugas yang diberikan Selly, input data cek untuk diarsipkan. Itu butuh konsentrasi penuh.

"Kamu saja yang bawain. Kemarin aku, sekarang giliran kamu," jawab Selly.

"Aduh, ini bagian yang paling menyebalkan. Harus berurusan sama bos. Kamu saja deh, dia kayaknya lebih ramah kalau kamu yang naik," keluh Carmen.

"Nggak bisa, aku lagi kewalahan. Suruh Abigail saja," usul Selly.

Keduanya menoleh kepadaku. Aku tersenyum dan berdiri. "Aku bisa."

"Aku tahu ini hari pertamamu," kata Carmen sambil menyerahkan map. "Tapi ini nggak boleh ditunda. Orang-orang bisa ngamuk kalau bonusnya telat."

"Nggak apa-apa. Kantornya di mana?"

"Serius? Makasih! Naik lift ke lantai paling atas. Kamu nggak bakal salah, itu satu-satunya suite kantor di sana. Sekretarisnya biasanya duduk di meja depan, tapi kamu butuh kartu akses ini. Cuma departemen tertentu yang boleh masuk lantai eksekutif," jelas Carmen.

Aku mengambil kartu dan mapnya lalu pergi. Mengikuti arahannya, aku menempelkan kartu di pemindai lift dan naik ke lantai penthouse. Begitu pintu terbuka, lantai itu terasa sangat sunyi. Meja sekretaris kosong. Aku melirik jam tanganku, sudah jam 9. Aneh.

Aku mendekati satu-satunya pintu yang bertuliskan "Perusahaan Logistik Baskoro". Aku mengetuk beberapa kali, tetapi tak ada jawaban.

Aku mengernyit sambil mencoba memutar gagangnya, tidak terkunci. Dengan hati-hati aku melangkah masuk ke kantor mewah itu. Aku hendak memanggil Pak Ryan ketika sebuah erangan pelan membuatku terdiam di tempat.

Hawa dingin menjalar di punggungku. Lantai itu benar-benar sepi dan sesaat aku sempat berpikir, apakah tempat ini berhantu?

Aku memutuskan untuk segera pergi, tetapi aku mendengarnya lagi. Bukan suara orang bicara, tetapi rintihan teredam yang berirama. Mataku menyapu ruangan, sampai akhirnya berhenti pada sebuah pintu yang sedikit terbuka, menuju kamar mandi pribadi.

Saat itulah aku melihat mereka.

Seorang wanita membungkuk di atas wastafel, wajahnya menegang, sementara seorang pria bergerak di belakangnya, tubuhnya menahan wanita itu di tempat. Aku menutup mulut dengan tangan, menahan teriakan, kakiku terpaku dalam ketakutan bercampur kejutan.

"Lebih cepat, Ryan! Lebih keras! Ahh! Aku suka! Kamu besar banget!" rintih wanita itu.

Darahku seperti membeku. Aku sedang menyaksikan sesuatu yang jelas bukan untuk dilihat. Rintihan wanita itu campuran antara nikmat serta sakit, dan rasa panas karena malu merambat naik ke leherku.

"Aku sudah mau klimaks! Jangan berhenti!" jerit wanita itu.

Aku mundur beberapa langkah, ingin sekali kabur. Rasanya jiwaku melayang ketika pria itu, Ryan, melirik ke arahku dan mata kami saling bertemu. Raut terkejut muncul di wajahnya, tetapi gerakannya tidak berhenti. Dia tetap menatapku sambil terus menghantam tubuh pasangannya.

Aku langsung berbalik, jantungku berdebar kencang.

Astaga. Ini memalukan sekali. Mereka pasti mengira aku orang mesum. Mana mungkin aku tahu presdir sedang begituan di kamar mandi kantornya?

"Jangan ke mana-mana! Kami hampir selesai!" Suaranya menggema dari kamar mandi saat aku lari menuju pintu.

Aku sempat terdiam, terpaku selama sepersekian detik. Pikiranku kacau, tetapi kakiku menang. Aku harus kabur. Aku menerobos keluar dari kantor itu, rintihan wanita yang semakin keras masih menghantuiku saat aku berlari, wajahku panas karena malu dan syok.

Aku masuk kembali ke departemen akuntansi, terduduk di kursiku sambil memegangi dada, jantungku berdebar gila-gilaan. Dua rekan baruku langsung menghampiri.

"Abigail? Ada apa? Kamu kayak lihat hantu," kata Selly, suaranya penuh kecemasan.

"Ada apa? Kamu pucat banget," tambah Carmen, ekspresinya terlihat merasa bersalah. "Ini gara-gara bos ya? Maaf banget kami suruh kamu ke sana di hari pertama. Seharusnya kami lebih bijak."

Aku menggeleng, masih berusaha bernapas. Kata-kata seperti tersangkut di tenggorokanku. "A ... apa itu benaran bos kita?" tanyaku tergagap-gagap.

Mereka saling bertukar pandang kebingungan. "Maksud kamu apa?" tanya Carmen.

"Itu ... mereka ... dia sedang ...." Aku tak kuasa mengucapkan adegan memalukan itu.

Dering telepon kantor memotong kalimatku. Carmen buru-buru mengangkat. "Halo? Selamat pagi, Pak Ryan!" Matanya langsung melebar dan menatapku tanpa berkedip. "Siapa? Ah, iya, dia karyawan baru, Abigail Salman."

Tubuhku seketika merinding. Aku terpaku, melihat Carmen mendengarkan dengan serius sambil terus menatapku. Dia menutup telepon dan menoleh padaku, wajahnya tegang. "Abigail, Pak Ryan minta kamu ke atas. Sekarang. Kamu ngapain tadi? Dia kedengarannya ... serius banget."

Aku menunduk, tiba-tiba merasa mual. Dipecat di hari pertama. Ini pasti rekor baru.

"Ini semua salah kami," ucap Selly. "Kita nggak boleh suruh dia yang bawa dokumen itu."

"Balik saja ke sana," kata Carmen lirih, lebih lembut. "Bawa dokumennya lagi. Mungkin dia mau tanda tangan sekarang. Hati-hati ya."

Dengan napas berat, aku bangkit, kakiku lemas seperti jelly. Aku keluar dari departemen dengan langkah gontai.

Di lift, aku menempelkan kartu akses untuk lantai eksekutif, urat sarafku menegang. Ingatan tentang apa yang kulihat di kamar mandi pribadi presdir kembali menghantuiku, membuatku merinding. Wanita itu, sekretarisnya ... mereka benar-benar melakukan itu sebelum jam kerja? Kalau kehidupan kantor seperti ini, aku lebih baik kembali ke desa untuk panen ubi.

Begitu keluar dari lift, sekretaris yang tadi sudah duduk di mejanya. Dia langsung merasakan kehadiranku dan menatapku, matanya menyipit dengan ketus.

"Kamu lagi? Mau apa?" tanyanya.

Aku menahan diri agar tidak menyahut, 'Kamu nggak berhak galak sama aku. Aku tahu persis apa yang kamu lakukan.'

"Aku dari departemen akuntansi. Ada dokumen yang harus ditandatangani Pak Ryan," ujarku setenang mungkin.

Telepon di mejanya berdering, memutus ketegangan itu. Dia mengangkat, suaranya berubah manis sekali. "Iya, Pak Ryan?" Matanya melirik ke arahku, dan wajahnya langsung pucat. "Ba ... baik. Siap."

Dia menutup telepon dan menunjuk ke pintu kantor bosnya dengan jari yang terawat, suaranya tegang. "Kamu boleh masuk."

Setelah mengatur napas, aku berjalan menuju pintu presdir dan mengetuk tiga kali.

"Masuk." Suara itu dalam dan tidak mungkin salah dikenali.

Perlahan aku membuka pintu. "Se ... selamat pagi, Pak Ryan," ucapku gugup, menatap punggung kursinya.

Kursi itu berputar perlahan. "Selamat pagi, Bu Baskoro."

Nama itu seperti tamparan. Namun, rasa terkejutku pada panggilan itu tidak ada apa-apanya dibandingkan perasaan tidak asing yang menghantam ketika dia berdiri dan menghadapku sepenuhnya. Dari kejauhan di kamar mandi tadi, aku tidak melihat wajahnya dengan jelas. Namun sekarang, dari jarak sedekat ini, tidak mungkin aku salah mengenalinya.

Itu Ryan Joe Baskoro. Pria yang kunikahi lima tahun lalu.

Lututku hampir goyah. Dia melangkah mendekat dengan tenang, seperti predator. Senyum tipis yang penuh arti terlukis di bibirnya. Dia berhenti hanya beberapa sentimeter dariku, tatapannya menusuk.

"Akhirnya kita bertemu lagi, istriku," katanya lirih.

Mataku membelalak karena panik. "A ... apa maksudmu, Pak Ryan? Aku nggak paham. Dan aku bukan Bu Baskoro. Namaku Abigail Salman." Aku mundur dengan cepat, ingin menjaga jarak.

Dia mengangkat alis, sedikit geli, lalu bersandar di mejanya. Tangannya menyilang di dada, senyuman menyebalkan itu tidak hilang.

"Jangan bilang kamu lupa kejadian lima tahun lalu? Kamu menerima kesepakatan untuk menikahiku dengan imbalan 15 miliar dari nenekku." Nada suaranya terdengar santai, tetapi matanya tajam, mengawasi setiap reaksiku.

Aku mengalihkan pandangan, menggigit bibir. Tidak ada gunanya berpura-pura. Aku tersenyum lemah, gugup. "Oh, itu? Aku ... sudah hampir lupa tentang itu."

Dia tidak menjawab, tetapi senyumannya semakin lebar. Dia beranjak dari meja dan mendekat lagi, kali ini lebih terang-terangan. Dia meraih pergelangan tangan kiriku.

"Menurutku kamu sama sekali nggak lupa. Aku nggak pernah mengira kamu itu tipe pembohong, Bu Baskoro," bisiknya, ibu jarinya menyusuri pangkal jari manisku.

Aku menelan ludah, napasku tercekat. Di jariku ada cincin kawin yang seolah-olah sudah menyatu dengan kulitku. Cincin kawin yang tidak pernah bisa kulepas. Aku sudah mencoba segalanya selama lima tahun ini. Sabun, minyak, es batu, tetapi cincin itu tetap melekat, pengingat berkilau dari satu hari yang mengubah hidupku.

Aku menggigit bibir, menolak menatap binar kepuasan di matanya. Aku mendengar tawa kecil penuh kemenangan sebelum akhirnya aku menarik tanganku dari genggamannya.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Ketika Cinta Ugal-Ugalan Itu Pergi   Bab 127

    Sudut pandang Abigail:Aku menatap ke luar jendela mobil dengan kesal. Aku merasa tidak ada gunanya berbicara dengan Ryan, dia sudah membuat keputusan. Dan aku tahu apa pun yang aku katakan, dia tidak akan mendengarkan karena dia selalu melakukan apa pun yang diinginkannya."Kamu tahu nggak Orson sangat terluka saat kamu menghilang? Kami pikir kamu sudah meninggal. Kenapa kamu bersembunyi dari kami, Abigail? Kenapa kamu biarkan kami percaya kalau kamu sudah mati?" kata Ryan.Aku menghela napas dengan kuat. Aku pikir Ryan akan tetap diam, tetapi dia malah terus berbicara.Aku sama sekali tidak ada hubungannya dengan semua itu karena aku koma selama bertahun-tahun. Saat aku sadar, Liam baru menjelaskan semuanya padaku. Dia menceritakan bagaimana mereka membawaku ke Gervox untuk menjalani perawatan dan bagaimana kecelakaan itu membuatnya menipu Ryan hingga percaya aku sudah meninggal.Liam yakin Ryan tahu tentang obat yang diberikan Nelly padaku adalah obat yang salah dan aku hanya akan m

  • Ketika Cinta Ugal-Ugalan Itu Pergi   Bab 126

    Orang tuanya Liam bahkan tidak berbelas kasihan sedikit pun padaku saat aku hampir mati karena berduka atas kepergian istriku. Mereka benar-benar membuatku percaya Abigail sudah meninggal.Aku meraih tangan istriku dan Abigail segera mundur. Ini adalah saat yang sudah kutunggu-tunggu. Aku segera melingkarkan lenganku di pinggangnya dan mengangkatnya. Dia pun menjerit dan meronta-ronta, sedangkan Shirley dan Arnold langsung berdiri untuk menghentikanku."Ryan ... lepaskan Abigail!" perintah Shirley.Aku tidak mendengarkan perintah itu karena mereka tidak berhak untuk menghentikanku. Mereka sudah membantu putra mereka untuk membohongiku, sehingga aku tidak memiliki alasan untuk mendengarkan mereka. Aku berkata dengan marah, "Aku bawa istriku pergi, Bi Shirley. Bilang pada Liam, kita akan berhadapan."Pasangan suami istri itu saling menatap karena tidak mampu menjawab.Sementara itu, Abigail berusaha keras untuk melepaskan diri, sehingga aku memeluknya lebih erat. Aku tidak akan membiarka

  • Ketika Cinta Ugal-Ugalan Itu Pergi   Bab 125

    Sudut Pandang Ryan:Aku sebenarnya tidak berencana menghadiri jamuan makan malam ini. Aku sudah berjanji kepada Nenek Amara bahwa aku akan makan di rumah. Aku juga tahu Orson sedang menungguku.Namun, Jeff selaku sekretaris mengatakan bahwa pengusaha tua itu ingin berbicara denganku sebelum berangkat ke Honshin besok untuk menjalani perawatan. Jadi, aku tidak punya pilihan lain. Aku harus menemuinya. Lagi pula, sekretarisnya sudah berulang kali menghubungiku selama beberapa minggu terakhir.Seperti yang sudah kuduga, kami membahas urusan bisnis. Kami mengobrol dan akhirnya mencapai kesepakatan. Pertemuan itu pun berakhir dengan cepat.Setelahnya, aku berniat pergi ke toilet. Kami mungkin akan terjebak macet dalam perjalanan pulang, jadi lebih baik berjaga-jaga.Aku baru saja hendak berbelok di sebuah sudut ketika menabrak seseorang. Untungnya, refleksku cukup cepat. Aku segera meraih pinggang wanita itu agar dia tidak jatuh.Awalnya aku ingin memarahinya, tetapi ketika melihat wajahnya

  • Ketika Cinta Ugal-Ugalan Itu Pergi   Bab 124

    Apa yang dikatakan Shirley memang benar. Aku tidak bisa terus menjadi lemah. Aku harus belajar bagaimana menjalani hidup.Mereka tidak boleh lagi menindasku. Aku harus belajar memperjuangkan diriku sendiri.Alasan aku kembali ke negara ini setidaknya untuk mendapatkan keadilan atas apa yang telah mereka lakukan kepadaku. Aku tidak bisa terus bersembunyi dari mereka selamanya."Oh ya ... Arnold undang kamu makan malam di restoran favoritnya. Kamu dan Marcie sebaiknya siap-siap. Nanti kita keluar," kata Shirley sambil tersenyum, lalu menyerahkan sebuah kantong kertas kepadaku.Aku menatapnya dengan bingung."Kamu ini wajah baru produk kita. Pakai itu. Mulai besok, banyak orang yang akan mengenalimu. Aku ingin kamu terlihat cantik di mata semua orang," ujar Shirley sambil tetap tersenyum.Aku mengangguk dengan ragu. Aku memutuskan untuk mandi terlebih dahulu sebelum mengenakan pakaian yang diberikan Shirley.Pakaiannya terlihat cukup bagus. Aku tidak perlu merasa malu memperlihatkan sedik

  • Ketika Cinta Ugal-Ugalan Itu Pergi   Bab 123

    "Terima kasih, Pa!" jawab Orson sebelum kembali memejamkan mata.Aku menatapnya dengan sedih. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, dia mengucapkan terima kasih kepadaku.Mungkin dia masih linglung akibat kecelakaan itu, jadi melihat sesuatu yang sebenarnya tidak ada. Atau mungkin dia hanya memimpikannya, itulah sebabnya dia terus mengatakan bahwa ibunya masih hidup.Aku sedang menatap Orson dengan sedih ketika ponselku berdering. Aku langsung mengangkatnya saat melihat nama Arthur di layar."Ada kabar apa?" tanyaku."Pak, para polisi yang melakukan penyelidikan di rumah sakit sudah pergi. Aku juga sudah mengirim dua pengacara ke kantor polisi untuk menangani para pelapor," lapornya."Bagus. Katakan kepada para pengacara untuk melakukan apa pun yang diperlukan agar nama Orson nggak terseret. Jangan sampai ini masuk ke media. Aku bersedia bayar berapa pun agar masalah ini selesai," jawabku."Baik, Pak. Jangan khawatir. Sepertinya para pelapor sudah setuju dengan penyelesaian secara

  • Ketika Cinta Ugal-Ugalan Itu Pergi   Bab 122

    Sudut Pandang Ryan:Hatiku nyaris hancur mendengar perkataan Orson. Aku bisa merasakan betapa dalam kesedihannya karena kehilangan ibunya. Aku menggenggam tangannya dan berusaha menenangkannya."Orson, tenang dulu. Yang kamu katakan itu nggak mungkin terjadi. Ibumu sudah tiada. Dia sudah meninggal sejak lama," kataku dengan suara yang sarat kesedihan.Dia langsung menggeleng. "Nggak .... Mama masih hidup. Tadi dia ada di sini. Aku lihat Mama dengan jelas," jawabnya sambil berusaha bangkit dari tempat tidur dan meringis kesakitan."Aku nggak salah. Aku sadar waktu melihat Mama. Aku merasakan dia menciumku. Aku mendengar dia menangis. Kalau Papa benar-benar mencintai Mama, cepat cari dia. Dia ada di sini," kata Orson.Aku hanya bisa menggeleng. Percakapan kami terputus ketika seorang perawat masuk. Syukurlah, Orson akhirnya terdiam sejenak.Kami membiarkan perawat itu melakukan pekerjaannya. Dia memeriksa kondisi Orson dan infus yang terpasang di tubuhnya. Beberapa menit kemudian, dia se

  • Ketika Cinta Ugal-Ugalan Itu Pergi   Bab 49

    Kami hampir punya segalanya ... punya anak bersama dan menjadi keluarga sungguhan. Lalu dalam satu momen yang menyakitkan, semua itu hancur begitu saja.Aku tidak pernah membayangkan rasa sakit seperti ini. Ada kekosongan yang menganga, membuat segalanya terasa tidak berarti. Hilangnya Abigail menan

  • Ketika Cinta Ugal-Ugalan Itu Pergi   Bab 50

    Tujuh tahun kemudian.Sudut Pandang Ryan:Tujuh tahun berlalu begitu saja, tetapi kekosongan di dadaku tetap terasa dan tidak pernah benar-benar hilang. Aku tidak pernah membayangkan bisa menjalani hidup tanpa Abigail di dalamnya.Sudah sejak lama aku menerima kenyataan pahit itu. Aku terlambat meny

  • Ketika Cinta Ugal-Ugalan Itu Pergi   Bab 16

    Aku tidak tahu bagaimana itu bisa terjadi, tetapi tiba-tiba rasa panas yang meluap memenuhi tubuhku. Padahal AC menyala dingin, aku justru seperti terbakar.Ciuman itu seperti candu, dan aku mendapati diriku mengikuti ritme bibirnya, tenggelam dalam sensasinya. Waktu seakan-akan tidak berarti. Aku b

  • Ketika Cinta Ugal-Ugalan Itu Pergi   Bab 9

    "Astaga! Leah, kamu ngapain? Lepasin dia sekarang juga!"Suara Arthur yang menggelegar memotong kekacauan itu. Leah yang berada di atas tubuhku mendadak ditarik menjauh. Aku langsung bangkit duduk, terengah-engah, dan melihat Arthur berdiri menatap kami, wajahnya penuh amarah."Apa yang terjadi? Ken

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status