เข้าสู่ระบบ"Siapa?" tanyaku."Orson, kamu tahu siapa yang Mama maksud. Mama tahu, sampai sekarang pun kamu masih mencarinya. Mencari Felicia," kata Mama Abigail dengan suara sedih.Aku tertegun."Kami juga sedang berusaha mencarinya, tapi sampai sekarang masih belum menemukannya. Dia tiba-tiba menghilang begitu saja. Papa bahkan ingin menyelidiki Dante. Bukannya dia orang terakhir yang bersama Felicia? Mama jadi takut kalau membayangkan Felicia mungkin mengalami sesuatu di tangan pria itu," katanya dengan nada yang dipenuhi kekhawatiran.Matanya mulai memerah, seolah dia sedang berusaha menahan tangis.Aku tidak bisa menahan diri untuk mengepalkan tangan."Kalau saja kamu tahu, Mama ingin meminta maaf padanya. Atas semua hal buruk yang Mama lakukan saat terakhir kali kami bertemu. Itu sebabnya Mama berharap kita bisa menemukannya," katanya lembut."Jangan khawatir, Ma. Aku sedang mencari cara untuk menemukannya," jawabku santai. Aku tahu, seiring berjalannya waktu, mamaku semakin dihantui rasa be
Sudut Pandang Orson:Aku kelelahan setelah menghadiri begitu banyak rapat, jadi aku melajukan mobil dengan cepat dalam perjalanan kembali ke rumah.Aku lega karena saat itu bukan jam sibuk, jadi tidak ada kemacetan di jalan. Rasanya seluruh energiku terkuras setelah berbicara dengan begitu banyak orang.Aku tahu mama dan papaku sedang menungguku di rumah. Mereka bilang ada hal penting yang ingin mereka sampaikan, jadi aku berusaha pulang segera setelah semua rapat itu selesai.Aku berhenti di lampu merah di Alaston dan secara naluriah melirik mobil di sebelahku. Kaca mobil itu tidak digelapkan, jadi aku bisa melihat siapa yang ada di dalamnya.Aku tidak bisa menahan diri untuk mengernyit saat melihat wanita yang duduk di kursi belakang. Hanya ada pengemudi dan wanita itu di dalam mobil, dan jantungku mulai berdebar tak terkendali."Felicia?" bisikku tanpa sadar.Aku tidak mungkin salah. Meskipun aku tidak bisa melihat seluruh wajahnya, hanya wajah sampingnya, hatiku tahu bahwa itu dia.
"Felicia, selama ini kamu ke mana saja? Kenapa kamu nggak menemui kami?" tanya Trinity sambil memelukku semakin erat.Air matanya terus mengalir. Aku pun tidak bisa menahan air mataku sendiri."Maaf. Kamu nggak perlu tanya soal itu lagi. Aku yakin kamu sudah tahu alasannya, 'kan?" balasku.Aku langsung melihat ekspresinya berubah serius. Dia menoleh ke sekeliling sebelum berbicara, "Ini karena apa yang terjadi antara kamu dan Orson?"Aku tersenyum getir. "Aku nggak ingin membicarakan itu lagi. Aku ingin melupakan semuanya," jawabku.Dia terdiam sejenak, lalu menghela napas pelan. "Jadi, gimana keadaanmu sekarang? Kamu tinggal di mana? Gimana dengan kuliahmu?" tanyanya bertubi-tubi sampai aku tidak tahu harus menjawab yang mana lebih dulu."Jangan khawatir. Hidupku baik-baik saja sejak aku meninggalkan keluarga. Hanya saja, aku harus berhenti kuliah untuk sementara karena alasan pribadi," jawabku sambil tersenyum."Kamu yakin? Maksudku, kamu bisa kembali ke kami kapan saja. Apalagi seka
Sudut Pandang Felicia:Pagi-pagi sekali, aku sudah berpakaian rapi dan siap berangkat. Aku berencana pergi ke kampus lamaku untuk mengambil berkas akademik.Meskipun di berkas itu margaku masih Baskoro, ada cara untuk mengatasinya. Seperti yang dikatakan Dante, bagi Keluarga Sandiaga, tidak ada yang mustahil.Aku sudah menghubungi kampus yang ingin kutuju untuk pindah, tetapi aku tetap harus mengambil berkas dari kampus lamaku agar tidak perlu mengulang semuanya dari awal. Mata kuliah yang sudah kuambil akan tetap diakui dan itu akan sangat membantuku."Ayah, aku pergi sebentar. Tolong jaga anak-anak ya," kataku kepada Ayah.Ayah sedang berada di ruang tamu sambil membaca koran. Dia menatapku, lalu mengangguk. "Jangan khawatir. Ayah akan menjaga cucu-cucu Ayah selama kamu pergi," katanya sambil tersenyum.Aku berterima kasih, lalu mencium pipinya sebelum keluar dan langsung menuju mobil.Aku memberi tahu sopir pribadiku tujuan kami. Dia mengangguk sopan sebelum melirik para pengawal ya
Kami kembali ke Philvania dengan jet pribadi. Aku tahu anak-anakku tidak akan mengalami kesulitan selama perjalanan. Para pengasuh mereka adalah perawat bersertifikat, jadi mereka akan sangat membantu dalam memastikan kondisi kedua anakku tetap baik."Kamu nggak perlu terlalu memaksakan diri setelah sampai di Philvania. Kamu bisa melakukan apa pun yang kamu mau, Felicia. Jangan khawatir soal cucu-cucu Ayah. Ayah yang akan mengurus mereka," kata Ayah sambil tersenyum. Dia duduk tidak jauh dariku, sibuk dengan ponselnya."Ayah, Dante sudah menjelaskan tanggung jawabku sebagai bagian dari Keluarga Sandiaga. Jangan khawatir. Aku bisa mengurus semuanya tanpa mengabaikan anak-anak," kataku sambil tersenyum dan memperhatikan tangan putraku, Ethan. Dia anak laki-laki, tetapi aku menyadari bahwa dia lebih cengeng dibandingkan saudari kembarnya, Megan."Ayah cuma khawatir. Kamu bahkan belum benar-benar menetap di Philvania, tapi sepertinya Dante sudah membebanimu dengan berbagai macam tanggung j
Sudut Pandang Felicia:"Kamu sudah siap?"Aku terkejut ketika seseorang tiba-tiba berbicara di belakangku.Aku sedang berada di ruang tamu, memeriksa satu per satu barang yang akan kubawa kembali ke Philvania.Hari-hari berlalu begitu cepat. Hampir setahun telah berlalu sejak aku melahirkan anak kembar. Selama setahun itu, aku hanya berusaha menikmati hidup di Nestergrand.Seiring berjalannya waktu, aku menyadari bahwa negara ini bukan tempatku. Setiap hari aku merindukan Philvania, jadi aku meminta izin kepada Ayah untuk pulang bersama anak-anak dan melanjutkan program doktorku di sana. Proses administrasinya juga akan lebih cepat jika diurus di sana.Aku sebenarnya bisa melanjutkan pendidikan di kampus dulu, tempat aku kuliah bersama Trinity. Namun, aku memutuskan pindah ke kampus lain, kampus yang jauh dari Keluarga Baskoro.Aku mengakui bahwa aku belum siap menghadapi mereka. Lebih dari setahun ternyata belum cukup untuk menyembuhkan luka di hatiku.Aku juga tidak berencana memberi







