Share

Bab 6

Author: Cathy
Sudut Pandang Abigail:

Begitu Arthur menjauh sampai tak bisa mendengar kami lagi, Selly langsung memekik dengan suara melengking. Terlihat sekali kalau dia sangat tertarik pada Arthur.

"Kamu tahu nggak kalau Arthur itu sekretaris eksekutifnya Pak Ryan?" katanya dengan semangat, pipinya memerah. "Dia ganteng banget, 'kan?"

"Serius?" tanyaku, penasaran. "Terus gimana dengan wanita yang ada di ruangannya tadi pagi? Dia punya berapa sekretaris sih?" Aku juga tak melihat Arthur di lantai atas sebelumnya.

"Pak Ryan punya dua," jelas Selly, hampir tak bisa diam saking girangnya.

"Arthur itu sekretaris eksekutif. Dia yang urus semua rapat luar kota dan perjalanan bisnis besar. Yang satu lagi, wanita yang kamu lihat tadi, dia yang urus email, telepon, sama jadwal di kantor. Tapi yang jelas, Arthur gajinya lebih besar dan posisinya lebih penting." Dia mengakhiri dengan desahan penuh mimpi, membuat aku dan Carmen tertawa.

"Oh, ayolah, lihat dirimu sendiri," goda Carmen. "Silakan saja kalau kamu mau terus mimpiin Arthur. Tapi aku bahkan nggak yakin kalau dia tahu namamu."

Wajah Selly langsung meredup. Dia menjatuhkan diri ke kursinya dengan kesal. Carmen sempat melirikku dan memberi isyarat, menyuruhku berhenti menggoda Selly. Aku hanya mengangguk dan menoleh kembali ke layar komputer, membenamkan diri dalam pekerjaan.

Tak terasa, Selly akhirnya menepuk bahuku. Sudah pukul lima. Begitu aku meregangkan otot-otot yang kaku, rasa lelah merayap sampai ke tulang-tulangku. Yang aku inginkan cuma pulang ke apartemen kecilku dan langsung tiduran di kasur.

Namun, saat aku mencapai pintu keluar utama gedung, hatiku mencelus. Hujan turun deras, mengguyur seperti badai musim panas yang datang tiba-tiba. Aku menahan diri untuk tidak mengentakkan kaki. Aku masih harus berjalan beberapa blok ke halte bus dan taksi jelas di luar jangkauan anggaranku. Aku tidak punya pilihan selain naik bus.

"Aduh gimana ini? Deras banget! Tadi ada prediksi badai nggak sih?" keluh Selly di sampingku.

Carmen sudah mengaduk-aduk tasnya. "Halte busmu di mana, Abigail? Aku dan Selly ke arah sana buat naik kendaraan kami." Dia mengeluarkan payung kecil.

Semangatku semakin merosot. Sepertinya aku harus pergi sendiri. "Nggak apa-apa. Aku tunggu reda sedikit sebelum jalan ke halte. Kalian duluan saja, kalian 'kan bawa payung."

Mereka saling pandang dan Selly langsung menawar payungnya kepadaku. "Ini, pakai punyaku. Aku sama Carmen bisa berbagi, toh kami searah."

Aku menggeleng cepat, merasa malu. "Nggak, Selly, serius. Aku bakal baik-baik saja. Sebentar lagi juga reda." Aku tak tega mengambil payungnya dan membiarkannya pergi dengan tangan kosong. Aku bertekad tak akan keluar rumah tanpa payung lagi.

"Kamu yakin? Hujannya kayaknya parah banget," tekan Selly.

Aku mengangguk, berusaha tegar. "Yakin. Tuh, udah mulai agak reda kok." Aku jelas hanya berbasa-basi. Hujannya masih rintik-rintik, tetapi kupikir kalau aku bergerak cepat, aku tidak akan basah kuyup.

Mereka akhirnya mengangguk, pamit, dan pergi. Aku menarik napas panjang, ikut bergabung dengan para karyawan lain yang nekat keluar. Banyak juga yang tidak bawa payung, jadi aku sedikit terhibur.

Optimisme itu tak bertahan lama. Begitu aku sampai di halte yang penuh sesak, langit kembali membuka diri, hujan kecil pun berubah jadi siraman deras. Aku berlindung di balik atap halte yang seadanya, tetapi hujan angin tetap membasahi pakaianku.

Satu demi satu bus melewati halte, semuanya sudah penuh. Beberapa orang yang lebih nekat atau lebih putus asa berhasil memaksakan diri untuk masuk, tetapi aku menahan diri, menggigil saat dinginnya meresap ke tulang. Hampir dua jam berlalu. Sudah malam dan aku masih terjebak, basah kuyup, dan mulai merasa tidak enak badan.

'Aku nggak boleh sakit,' pikirku panik. 'Aku sama sekali nggak boleh izin sakit di hari kedua kerja.'

"Bu? Kamu kerja di Perusahaan Logistik Baskoro ya?"

Aku terlonjak, menoleh ke seorang pria berseragam Perusahaan Logistik Baskoro.

Aku baru mau menjawab ketika suara klakson mobil yang menyebalkan terdengar di tengah hiruk-pikuk hujan. Perhatianku tersedot ke jalan, di mana sebuah mobil mewah yang sangat mahal berhenti dan membuat kemacetan kecil.

Rahangku ternganga saat Ryan keluar dari mobil itu. Dia menelusuri halte yang penuh, ekspresinya dingin seperti badai, sampai matanya langsung mengunci ke arahku. Dia melangkah cepat, sepatu mahalnya tak peduli pada percikan air.

"Kenapa kamu nggak balik ke kantorku kalau kesulitan pulang?" tuntutnya, suaranya penuh kemarahan. "Aku bisa antar kamu."

Semua orang di halte menatap kami. Aku menelan ludah, gigiku mulai bergemeletuk karena dingin. "Aku nggak tahu bakal hujan begini dan aku nggak tahu busnya bakal penuh semua," jawabku, terlalu lelah dan kedinginan untuk mengarang alasan yang lebih bagus.

Aku terpana ketika tangannya mencengkeram lenganku. Dia mulai menarikku menuju mobil. Di tengah rasa dingin yang menyergap, muncul percikan keberanian untuk melawan. "Tunggu! Kamu mau bawa aku ke mana?"

"Mau ke mana lagi?" balasnya cepat tanpa berhenti melangkah. "Masuk ke mobil. Aku antar kamu pulang."

Aku hendak melawan, tetapi dia menarikku sekali lagi. Orang-orang memperhatikan dan aku sadar kalau membuat keributan hanya akan mempermalukanku.

"Ya ampun, kamu basah kuyup!" geramnya sambil membukakan pintu penumpang. "Kenapa kamu keras kepala sekali?"

Aku masuk pelan-pelan dengan pasrah. Aroma jok kulit mewah memenuhi hidungku dan tubuhku langsung tenggelam ke kursi yang empuknya tidak masuk akal. Begitu aku duduk, dia ikut masuk dan duduk tepat di sampingku. Aku spontan bergeser sejauh mungkin, menempel ke pintu.

"Tsk, tsk, tsk," tegurnya pelan, dahinya berkerut saat dia melepas jas mahalnya.

"Pakai ini. Kamu basah semua sampai menggigil," perintahnya, menyodorkan jasnya.

Aku buru-buru menggeleng. "Aku nggak apa-apa, Pak Ryan."

Dia menghela napas dengan frustrasi, lalu bergeser mendekat, mempersempit jarak yang baru saja kubuat. Sebelum aku sempat protes, dia sudah menyampirkan jas yang hangat dan berat itu di pundakku. Gestur itu begitu lembut sampai membuatku terpaku. Mungkin presdir ini punya hati juga.

Dia mengabaikan penolakanku, jarinya sempat menyentuh leherku saat merapikan kerah jas. Aku harus menahan napas ketika aromanya, perpaduan parfum mahal dan sesuatu yang khas darinya, menyelimutiku. Wangi maskulin itu membuat pikiranku kacau.

Keheningan yang berat memenuhi mobil. Dengan suara hujan yang stabil, rasa lelahku akhirnya menang.

"Mau ke mana, Pak?" Kudengar sopir bertanya.

Kelopak mataku terasa berat, deru mesin membuatku terhipnosis. Aku tak peduli lagi kalau aku tertidur di mobil bersama bos yang dikenal sebagai predator itu.

....

Aku terbangun oleh sinar matahari yang menyinari ranjang asing yang terlalu empuk. Aku kebingungan, butuh beberapa detik sebelum ingatanku kembali. Hujan, halte, Ryan, dan mobil.

Darahku tiba-tiba serasa membeku.

Aku langsung bangun dan saat itulah aku menyadari pakaian yang aku kenakan. Blus dan rok basah yang kupakai semalam sudah tidak ada. Digantikan kaus pria kebesaran yang lembut. Kepanikan langsung menghantamku. Apakah dia ... saat aku tidur ...?

"Sial," bisikku gemetar. "Apa yang dia lakukan padaku semalam?"

Aku memeriksa tubuhku, tetapi tidak merasakan sakit atau nyeri apa pun. Satu potongan percakapan dari teman kuliahku muncul di benakku. Biasanya sakit saat baru pertama kali.

Karena aku baik-baik saja, apakah itu berarti ... aku masih ...?

Pikiran kacauku terhenti saat aku memperhatikan kamarnya. Modern, mahal, jelas ini adalah kamar kelas atas. Tidak ada tanda-tanda keberadaan Ryan. Aku harus pergi.

Namun, baru saja aku menurunkan kaki dari ranjang, pintu kamarnya terbuka.

"Syukurlah kamu sudah bangun. Kamu harus makan dan mandi. Kita harus masuk kantor." Ryan berdiri di ambang pintu, sudah rapi dengan setelan baru, ekspresinya profesional.

"Pak Ryan, kita di mana?" tanyaku lirih.

Dia sempat terlihat heran. "Vilaku. Kamu ketiduran semalam, jadi aku bawa ke sini."

Aku menelan ludah, memikirkan pertanyaan yang membakar di lidahku. Siapa yang mengganti pakaianku?

"Makanannya sudah di meja. Cepat makan. Kita nggak punya banyak waktu," katanya, suaranya terdengar tidak sabar. Aku buru-buru menuju meja makan, di mana sarapan mewah sudah tersaji. Aku bisa merasakan matanya menatapku saat menuang jus jeruk dengan tangan gemetar. Suasananya begitu menyesakkan dan canggung.

Saat aku menoleh lagi, dia sudah menuju kamarnya. Aku mengembuskan napas lega dan mulai makan, rasa laparku mengalahkan rasa gugup. Aku tidak boleh telat di hari kedua. Selly dan Carmen pasti bertanya-tanya.

Baru saja selesai makan, bel vila pun berbunyi. Saat aku hendak mencuci piring, Ryan keluar dan menuju pintu. Aku fokus membersihkan diri sambil mencoba menenangkan diri. Ketika kembali ke ruang tamu, dia sudah duduk di sofa, memegang kantong belanja besar dan elegan dari butik mewah.

"Ambil ini. Ganti baju dulu biar kita bisa berangkat," katanya, menyodorkan kantong belanja itu padaku.

Aku terpaku, tercengang. "A ... aku bakal ganti semua ini, Pak Ryan. Kamu sudah terlalu baik karena mengizinkan aku menginap di sini dan pinjamkan baju ini." Aku memaksakan diri untuk tersenyum.

Dia berdiri dan menghampiriku dalam beberapa langkah, tatapannya dalam. Dia mengangkat tangannya, menyentuh pipiku, memaksaku menatap langsung ke matanya.

"Jangan panggil aku Pak Ryan," katanya, suaranya rendah dan sangat serius. "Kamu istriku. Kamu harus panggil aku dengan namaku."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Ketika Cinta Ugal-Ugalan Itu Pergi   Bab 534

    "Mana Joseph?" tanyaku pada Lanny.Kelas-kelasku sudah selesai, tetapi Joseph belum juga muncul di tempat biasanya dia menjemputku. Sebagai gantinya, aku melihat Lanny dan itu membuatku bingung. Ini pertama kalinya Joseph tidak menjemputku sepulang kampus. Tadi pagi dia masih mengantarku ke kampus dan dia juga tidak mengatakan bahwa ada rapat penting pada sore hari."Tuan bilang Nyonya akan bertemu dengannya di rumah," jawab Lanny.Aku terdiam sejenak. Aku masuk ke mobil tanpa berkata apa-apa, tetapi aku tidak bisa menahan perasaan kesalku pada Joseph. Dia bahkan tidak mengirimiku pesan untuk memberi tahu bahwa dia tidak bisa menjemputku. Dia pasti sangat sibuk sampai meneleponku sebentar saja pun tidak sempat.Aku terdiam sepanjang perjalanan pulang. Begitu tiba di rumah, aku terkejut saat melihat Jovi langsung menghampiriku dan menyambutku dengan ekspresi panik."Nyonya akhirnya pulang juga. Ya Tuhan. Apa Nyonya bertengkar dengan Tuan Joseph? Kenapa Tuan begitu marah?" tanya Jovi.Pe

  • Ketika Cinta Ugal-Ugalan Itu Pergi   Bab 533

    Joseph meninggalkanku di kamar selama beberapa saat. Saat kembali, dia memberitahuku bahwa Aaron dan yang lainnya sudah pergi.Aku langsung merasa lega. Untung saja mereka sudah pergi, karena aku pasti akan merasa tidak nyaman tinggal di rumah ini bersama orang-orang yang tidak menyukaiku."Sekarang kamu sudah lebih santai? Kamu nggak punya tugas?" tanya Joseph.Saat mendengar pertanyaan Joseph, aku sudah berbaring di tempat tidur. Aku melirik jam di meja nakas, lalu menjawab."Aku mengantuk. Aku mau tidur dulu, nanti baru kerjakan PR," jawabku sambil cemberut, lalu memejamkan mata.Joseph tidak menjawab, tetapi aku merasakan kasur di sebelahku sedikit turun. Beberapa saat kemudian, dia melingkarkan kedua lengannya erat-erat di tubuhku.Hari-hari berlalu dengan begitu cepat. Kehidupanku bersama Joseph berjalan lancar. Hujan maupun cerah atau saat dia sedang pergi ke kantor maupun tidak, dia selalu mengantarku ke kampus dan menjemputku sepulang kuliah. Bisa dibilang, aku adalah istri pa

  • Ketika Cinta Ugal-Ugalan Itu Pergi   Bab 532

    "Ayah, bukannya aku nggak menghormati Ayah. Aku bahkan sudah menawarkan diri untuk membayar biaya hotel Ayah, 'kan? Ayah nggak bisa tinggal di rumah ini karena kita semua tahu Ayah nggak suka aku menikah. Ayah nggak merestui Betty dan aku nggak bisa mengabaikan perasaan istriku," kata Joseph terus terang.Abraham menghela napas panjang, lalu menatap putranya. Kemarahan terlihat jelas di matanya saat dia menggelengkan kepala."Mungkin kamu hanya takut aku merebut Betty darimu, Joseph," kata Aaron.Saat menatap Aaron, aku menyadari senyum jahil di bibirnya. Aku akhirnya melihat sisi Aaron yang berbeda. Jika dilihat dari wajahnya, aku tidak akan pernah menyangka dia bisa bersikap seperti ini.Ucapan Aaron semakin memperkuat alasan Joseph untuk tidak menerima mereka di rumah ini.Namun, itu adalah masalah mereka. Mereka sudah cukup dewasa untuk tahu bagaimana harus bersikap. Aku tidak berniat ikut campur dalam percakapan itu karena ini adalah urusan keluarga mereka."Kamu masih punya alasa

  • Ketika Cinta Ugal-Ugalan Itu Pergi   Bab 531

    Sudut pandang Betty:Kami makan siang di sebuah restoran sebelum pulang ke rumah. Begitu mobil memasuki area rumah, aku melihat Joseph mengernyitkan alisnya sejenak saat memperhatikan mobil yang terparkir di halaman rumah."Siapa yang datang?" tanya Joseph pada salah satu penjaga."Ayah Bapak," jawab penjaga itu yang membuatku terkejut.Ayahnya? Berarti Abraham sudah datang? Ini kabar buruk, sepertinya perang lain akan segera dimulai.Aku refleks mencengkeram lengan Joseph dengan erat karena tiba-tiba merasa gelisah.Joseph meraih tanganku dan tersenyum padaku, lalu berkata, "Jangan khawatir. Aku nggak akan biarkan dia tinggal lama di rumah kita."Aku memaksakan senyuman, meskipun aku sebenarnya gugup. Aku teringat bagaimana Abraham memperlakukan kami saat mengetahui bahwa aku adalah istri Joseph. Aku tidak siap mendengar kata-kata menyakitkan darinya lagi. Hatiku belum siap, apalagi aku dan Joseph baru saja mulai merasakan kebahagiaan sebagai pasangan suami istri yang sesungguhnya.Ak

  • Ketika Cinta Ugal-Ugalan Itu Pergi   Bab 530

    Sudut Pandang Betty:"Aku Betty. Betty Brahman," kataku sambil menatap Bernard. Dia langsung tersenyum dan mengangguk."Hai, Betty. Sekarang aku ingat. Kamu istri Joseph, 'kan?" tanyanya sambil tersenyum.Aku langsung mengangguk.Aku juga ingat dengannya. Dia adalah pria yang kami temui saat dalam perjalanan pulang dari pesta. Nama belakangnya Sandiaga. Kalau aku tidak salah ingat, dia adalah putra pemilik kampus ini.Dia ternyata masih mengingatku? Padahal Joseph tidak memperlakukannya dengan baik malam itu, tetapi dia tetap bersikap ramah. Aku sama sekali tidak melihatnya marah atau kesal kepada Joseph.Joseph benar-benar bertingkah seperti orang bodoh malam itu. Kami pergi ke sebuah pesta, tetapi dia hanya berbicara dengan para tamu yang lebih tua. Sepertinya, selain mempermainkan wanita, suamiku memang tidak punya kehidupan sosial lain."Senang bisa ketemu lagi denganmu, Betty. Semoga kamu menikmati kuliahmu. Kalau ada masalah, jangan ragu untuk memberitahuku. Aku juga mahasiswa di

  • Ketika Cinta Ugal-Ugalan Itu Pergi   Bab 529

    Sudut Pandang Betty:"Kalau begitu, bicaralah dengan mereka. Kamu pikir aku masuk ke sini gratis jadi kamu bisa seenaknya menuntut hal seperti itu? Asal kamu tahu, aku bukan mahasiswa penerima beasiswa. Suamiku yang membayar biaya kuliahku," jelasku.Aku juga berdiri. Aku menyadari bahwa tinggi badan kami hampir sama. Namun, aku lebih cantik darinya karena Joseph sudah memilihku.Sebenarnya, Megan juga cantik. Kulitnya cerah dan mulus, wajahnya mungil, hidungnya mancung. Namun, dia sombong dan suka merendahkan orang lain. Karena itulah aku tidak menyukainya dan sama sekali tidak berminat berteman dengannya. Sepertinya kami memang tidak akan cocok."Kamu pikir dirimu siapa? Ingat ini. Tunggu saja satu tahun lagi, Joseph pasti akan bosan padamu, sama seperti semua wanita lain di hidupnya. Jadi, nikmatilah selagi dia masih tergila-gila padamu," katanya dengan nada menghina.Ucapannya membuatku semakin kesal. Dia benar-benar suka ikut campur dan sombong. Apa dia tidak malu memperlihatkan b

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status