Share

Bab 5

Penulis: Cathy
Sudut Pandang Abigail:

Seluruh tubuhku langsung kaku saat Ryan berhenti tepat di depan meja kami. Tatapannya yang intens mengunci wajahku. Aku sangat berharap bumi akan terbelah dan menelanku hidup-hidup.

"Abigail." Suaranya memotong keramaian di kantin, yang perlahan berubah menjadi keheningan tegang.

Aku menunduk semakin dalam, pipiku panas sekali. Kalau bisa, aku akan menaruh wajahku di piring demi menghindari tatapan menusuknya.

Sebuah sentilan tajam dari Selly membuatku terpaksa mendongak. Dia memberi isyarat panik dengan dagunya ke arah Ryan, yang sedang memelototiku. Ekspresinya makin gelap saat dia melirik Russel. Aku merinding saat menyadari semua orang di kantin sedang menatap meja kami.

"Abigail, jangan paksa aku gendong kamu keluar dari sini. Aku lapar, dan kamu buang-buang waktuku," katanya dengan suara dingin dan nada memerintah.

Aku benar-benar ingin menghilang. Selly dan Carmen memandangku, wajah mereka seperti campuran antara syok dan bingung.

"Umm, Pak Ryan," kataku terbata-bata, memaksakan senyum lemah. "Ada perlu apa? Apa dokumennya sudah selesai? Aku bisa ambil nanti."

Kerutan di dahinya makin dalam. Dalam satu gerakan cepat, dia mendekat dan mencengkeram lenganku. Dia menarikku berdiri, memaksaku menghadapi tatapan bingung rekan-rekanku.

"Ayo." Nada suaranya tidak memberi ruang untuk menolak. Dia langsung menarikku pergi. Mau tidak mau, aku hanya bisa terhuyung mengikutinya, malu setengah mati karena drama yang kami timbulkan. Baru hari pertama, aku sudah jadi bahan gosip perusahaan.

Luar biasa. Dari semua perusahaan di kota ini, kenapa aku harus bekerja di perusahaan milik pria yang paling enggan kutemui? Selain itu, kenapa jantungku harus berdegup sekencang ini setiap dia mendekat? Ini bukan ketertarikan, ini murni kepanikan.

"Pak Ryan, lepaskan saja tanganku. Aku ikut kok," kataku, mencoba melepas cengkeramannya. Namun, dia hanya memberiku tatapan peringatan dan mempercepat langkah menuju lift. Aku sampai harus setengah berlari mengimbanginya, sadar akan bisikan-bisikan di belakang kami.

Begitu pintu lift tertutup, barulah dia melepas lenganku. Aku mengusap pergelangan tanganku, bingung luar biasa. Apa yang dia mau? Istirahat makan siangku bahkan belum habis.

"Kamu bisa saja panggil aku setelah jam istirahat," kataku, memecah keheningan yang tegang. Dia tidak menjawab, hanya menatapku dengan intensitas yang membuatku gelisah.

"Siapa pria tadi? Dia goda kamu?" tanyanya.

Butuh beberapa detik sebelum aku sadar yang dia maksud adalah Russel. "Oh, Russel? Kami cuma ketemu pas mau ke kantin. Ini pertama kalinya aku ketemu dia."

Dia memproses jawabanku, tatapannya tak berkedip. "Aku nggak mau dia dekat-dekat kamu lagi. Jauhi dia. Mulai sekarang."

Aku terlalu kaget untuk bicara. Apa ini? Sinetron? Sejak kapan ada aturan kantor yang melarang bicara dengan rekan kerja? Nanti aku tanyakan ke Selly dan Carmen.

"Tapi kenapa?" Pertanyaanku keluar begitu saja. "Dia cuma bersikap ramah. Kenalan itu penting. Punya teman di kantor 'kan bagus."

Matanya menyipit, memperlihatkan bahaya dengan jelas. Aku refleks melangkah menjauh, tanganku naik sedikit sebagai isyarat agar dia tetap tenang.

Orang ini tidak waras. Apa sebenarnya yang dia mau? Aku harus waspada. Pria yang berhubungan badan dengan sekretarisnya di kantor bukan tipe pria yang bisa dipercaya untuk melindungi kehormatanku. Keperawananku hanya untuk suami masa depanku, dan yang jelas bukan dia.

Begitu pintu lift terbuka, kami melewati sekretarisnya. Dia duduk di meja, wajahnya cemberut tidak senang saat menatapku.

"Dia cemburu ya?" gumamku pelan tanpa sadar.

Aku mengikuti Ryan masuk ke ruangannya dan terbelalak. Mejanya penuh dengan hidangan mewah, seperti jamuan kecil. Kebingunganku pasti terlihat jelas. Aku menatap makanan itu, lalu beralih ke tatapannya yang tetap serius. Apa dia selalu semurka ini, atau cuma padaku?

"Duduk. Kamu makan sama aku," perintahnya sambil menunjuk kursi.

Rasa terkejutku membuat ketakutanku sedikit berkurang. "Kamu menyeretku ke atas ... cuma untuk makan bareng? Kenapa nggak ajak pacarmu saja?" Begitu kalimat itu keluar, aku ingin menampar diriku sendiri. Kenapa mulutku ini tidak bisa diam?

Makanannya memang terlihat luar biasa, tetapi aku sudah kenyang.

"Duduk. Dan makanlah," ucapnya, setiap kata yang keluar penuh tekanan.

Aku tetap berdiri, menyilangkan tangan. "Aku sudah kenyang. Baru saja makan di kantin. Kalau kamu mau traktir, mestinya bilang dari tadi. Aku bisa hemat satu porsi." Aku tahu, keberanianku ini sangat bodoh.

Dia tertegun sejenak, lalu tatapannya kembali terlihat berbahaya. Dia melangkah mendekat. Aku langsung menyerah dan cepat-cepat duduk.

"Kalau aku suruh kamu makan, ya makan saja," katanya, tubuhnya menjulang di atasku seperti bayangan gelap. "Dan mulai sekarang, kamu dilarang makan di kantin. Kamu juga dilarang bicara dengan pria mana pun di gedung ini. Satu-satunya orang yang boleh kamu ajak bicara cuma aku dan dua rekan kerja perempuanmu."

Aku menatapnya, tak bisa berkata-kata. Aku mencari tanda-tanda bercanda di wajahnya, tetapi tidak ada. Tatapannya begitu intens dan panas sampai rasanya hampir meleleh.

"Kamu bercanda, 'kan?" ucapku, tak percaya. "Aku nggak bisa diam terus dan nggak bicara ke siapa-siapa. Aku mau punya teman."

Dia tidak menjawab. Dia hanya mengambil sendok saji dan mulai menumpuk makanan ke piringku tanpa berkata-kata, tenang tetapi mengancam.

"Kamu harus ikuti perintahku kalau kamu nggak mau aku memecat setiap pria yang berani mendekatimu," katanya dengan suara tenang.

Aku menatapnya, rasa terkejut membuatku tak bisa bicara. Aku mencari-cari di wajahnya, berharap bisa menemukan sedikit saja tanda kalau ini cuma lelucon aneh, tetapi tidak ada. Ekspresinya sekeras batu. Apakah dia memperlakukan semua karyawan baru seperti ini, atau cuma aku yang sial?

"Kenapa?" bisikku pada akhirnya, suaraku bergetar antara takut dan marah. "Kamu bukan ayahku. Kamu nggak bisa atur hidupku."

Brak!

Telapak tangannya menggebrak meja begitu keras sampai peralatan makan bergetar. Untungnya, tidak ada yang tumpah.

Darahku serasa membeku. 'Dia benar-benar gila,' pikirku.

Apa setiap penolakan akan dibalas dengan cara seperti ini? Dia pikir dia siapa?

Semua ucapan Selly dan Carmen langsung terkonfirmasi. Presdir kami bukan cuma sulit dihadapi. Dia juga menakutkan.

"Makan," perintahnya lagi, mengambil garpunya sendiri seolah-olah tadi tidak terjadi apa-apa. "Mulai besok, setiap makan siang kamu ke sini."

Dengan pasrah, aku mengambil alat makan dan mulai menyuapkan makanan meski perutku sudah kenyang. Harus kuakui, makanannya luar biasa enak. Orang kaya memang hidup di dunia yang berbeda.

Dulu, uang 15 miliar itu memang mengubah hidupku. Aku bisa beli tanah, bangun rumah, bayar kuliah untukku dan adik-adikku. Namun, tabungan itu sekarang sudah menipis. Aku butuh pekerjaan ini untuk masa depanku, untuk menjadi orang sukses di Kota Marina dengan kemampuanku sendiri.

Setelah selesai makan, dia memanggil sekretarisnya untuk membersihkan meja. Wajah perempuan itu penuh amarah. Aku masih belum tahu dia itu apa. Sekretaris, pacar, atau teman tidur? Pikiran itu membuatku merinding.

"Baiklah, Pak Ryan, aku kembali ke departemenku. Rekan-rekanku pasti mencariku," kataku, ingin cepat kabur dari atmosfer mencekik ini dan dari tatapan membunuh sekretaris itu.

"Nanti Arthur Wardoyo yang akan bawakan dokumennya. Dan jangan lupa aturan-aturanku. Turuti perintahku," katanya dari kursi putarnya. Nada suaranya tidak memberi ruang untuk bernegosiasi.

Aku tidak menjawab. Aku sama sekali tidak berniat mengikuti aturan konyol itu. Mana mungkin dia tahu aku bicara dengan siapa? Begitu aku masuk ke kantor akuntansi, aku langsung diserbu.

"Apa yang terjadi?" seru Carmen. "Kenapa Bos menyeret kamu keluar kantin? Apa dia marah soal ... kejadian tadi?"

Aku menggeleng, rasa malu pagi ini kembali menyeruak. "Dia cuma mau makan bareng. Mungkin dia kesepian makan sendirian di kantornya."

Keduanya ternganga.

"Serius?" Selly menatapku ngeri. "Jangan-jangan kamu target barunya! Dia bilang apa? Dia ngajak kamu tidur?"

"Selly, dia bukan tipeku," kataku tegas. "Aku sama sekali nggak tertarik jadi koleksi playboy begitu."

Mereka saling berpandangan, ragu.

"Kami percaya kok," kata Carmen, suaranya tulus. "Tapi hati-hati. Kamu masih muda. Jangan termakan oleh pesonanya. Nanti kamu cuma akan berakhir seperti yang lain. Dipakai lalu dibuang."

"Tenang saja, Carmen. Aku berbeda. Mau setampan apa pun dia, standarku jauh lebih tinggi. Ini ...." Aku menunjuk diriku sendiri dengan senyum nakal. "Cuma buat calon suamiku."

Mereka tertawa dan suasana kembali terasa ringan.

Sekitar satu jam kemudian, terdengar ketukan di pintu. Kami menoleh dan melihat pria tinggi berpenampilan rapi berdiri di ambang pintu. Selly sampai terkesiap. Carmen pun cepat-cepat berdiri.

"Pak Arthur, kejutan sekali Bapak ke kantor kami," ucap Carmen, mendadak sangat profesional.

"Aku cuma antar dokumen ini, sudah ditandatangani presdir," kata pria itu sambil menyerahkan berkasnya.

Selly dan Carmen tampak terpana.

"Kenapa Bos menyuruh Bapak ke sini?" tanya Selly. "Bapak 'kan bisa telepon saja. Ini kehormatan besar buat kami."

Arthur tersenyum formal. "Aku nggak punya pilihan. Kalian tahu sendiri, Bos itu kayak gimana. Perintahnya mutlak." Saat bicara, tatapannya sempat bergeser ke arahku sebelum dia pergi.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (4)
goodnovel comment avatar
Ros
Hahahaha….. pd ga tau aja …. Kerja bareng bu baskoro. Istri syah presdir….. mudah2an Abigail aman.
goodnovel comment avatar
Suci
Bagus banget
goodnovel comment avatar
Ayfie Az-zahra
ceritanya seru
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Ketika Cinta Ugal-Ugalan Itu Pergi   Bab 413

    Aku benar-benar bahagia melihat Dante bersama anak-anak kami. Aku tidak menyangka dia akan menerima mereka dengan begitu hangat. Hatiku dipenuhi kebahagiaan saat aku berusaha keras menahan air mata.Setelah menggendong Beatrice, dia beralih kepada Bernard dan menghujani pipinya dengan ciuman.Ini pertama kalinya aku melihat mata Dante berlinang air mata. Aku tidak bisa menahan diri untuk terus menatapnya. Tidak pernah kusangka anak-anak kami bisa membuatnya menangis.Aku menghampiri mereka ketika mendengar Beatrice menangis. Dia mungkin tidak terima karena papanya menurunkannya demi menggendong kakaknya."Dia cemburu," kataku kepada Dante sambil menggendong Beatrice dan mengayun-ayunkan tubuhnya dengan lembut. Aku menyadari Dante sedang menatapku, tetapi aku mengabaikannya. Aku bahkan membelakanginya sambil menenangkan Beatrice, terutama ketika tangisannya semakin keras karena ingin kembali digendong papanya."Benarkah?" tanyanya.Aku mengangguk."Iya. Dia mau semua perhatian hanya unt

  • Ketika Cinta Ugal-Ugalan Itu Pergi   Bab 412

    Aku menatap Dante. Harus kuakui, sekarang dia sudah belajar meminta dengan baik-baik. Lagi pula, siapa aku sampai harus melarangnya mendapatkan apa yang dia inginkan?Terlepas dari semua yang pernah terjadi di antara kami dan penderitaan yang kualami karena ulahnya, aku tetap tidak bisa menyangkal bahwa dia adalah ayah dari anak-anakku. Aku tidak mungkin terus menyembunyikan anak-anak darinya selamanya. Suatu hari nanti, mereka pasti akan mencari ayah mereka, dan aku tidak ingin merampas hak mereka untuk mengenal ayahnya.Aku tidak ingin bersikap egois jika menyangkut anak-anakku. Mengabulkan keinginannya bukan berarti kami akan kembali bersama. Aku tetap teguh pada keputusanku untuk tidak kembali kepadanya.Cukup sekali aku menderita karena dia. Aku akan berusaha hidup bahagia dan mencurahkan seluruh perhatianku pada bisnis serta anak-anakku. Aku tidak berniat menjalin hubungan lagi dengan siapa pun."Baiklah. Kamu tetap ayah mereka, dan aku nggak ingin merampas hakmu untuk bertemu me

  • Ketika Cinta Ugal-Ugalan Itu Pergi   Bab 411

    Sudut Pandang Trinity:Saat kami hampir sampai di mobil Dante, anak buahnya menoleh ke arah kami. Mereka masing-masing buru-buru menyembunyikan ponsel seolah tidak terjadi apa-apa, lalu menghampiri kami."Bos, apa yang terjadi? Apa Anda terluka?" tanya salah seorang dari mereka.Kalau aku tidak salah ingat, dia adalah tangan kanan Dante. Rasanya aku ingin menoyornya. Sudah jelas Dante terluka, tetapi dia masih saja bertanya."Sedikit. Buka pintu mobil!" jawab Dante sambil merangkul bahuku.Aku sudah tidak merasakan beban tubuhnya lagi, jadi aku berusaha menjauh. Namun, tiba-tiba dia mengangkat tubuhku dan memaksaku masuk ke mobil."Apa yang kamu lakukan? Dante, aku nggak mau ikut denganmu! Lepaskan aku!" bentakku sambil meronta, berusaha melepaskan diri dari cengkeramannya.Tanpa kesulitan sedikit pun, dia berhasil memasukkanku ke dalam mobil.Aku mulai merasa curiga.Bukankah tadi Dante terkena pukulan Carlos? Bagaimana mungkin dia bisa memaksaku masuk ke mobil dengan semudah itu? Apa

  • Ketika Cinta Ugal-Ugalan Itu Pergi   Bab 410

    Sudut Pandang Trinity:Aku perlahan menarik tanganku dari genggaman Carlos.Kalau bisa, aku tidak ingin menyinggung perasaannya. Apalagi orang tuanya dekat dengan orang tuaku. Namun, jika dia memang berniat mendekatiku, aku akan menjaga jarak darinya."Hm, maaf kalau ucapanku tadi membuatmu kaget. Aku cuma nggak mau membuang waktu. Waktu pertama kali lihat fotomu, aku langsung jatuh cinta. Aku pikir, mungkin ini kesempatan yang tepat untuk mendekatimu," katanya, membuatku semakin canggung.Dia seharusnya tidak mencintaiku. Hatiku sudah menjadi milik pria lain.Belum sempat aku tersadar dari lamunanku, suara yang begitu kukenal tiba-tiba terdengar di seluruh restoran."Trinity, istriku. Syukurlah, kamu sudah pulang."Aku spontan berdiri mendengar suara itu. Itu adalah suara Dante yang sudah terukir dalam ingatan dan jiwaku."Mau apa kamu di sini? Kenapa kamu terus bikin keributan sih?" tanya Carlos dengan marah. Dia berdiri dan langsung mencengkeram kerah baju Dante.Aku pun panik."Car

  • Ketika Cinta Ugal-Ugalan Itu Pergi   Bab 409

    Sudut Pandang Trinity:"Mama, aku baik-baik saja. Aku bisa kok," jawabku segera sambil bersiap di depan cermin.Hari ini adalah hari pertamaku masuk ke kantor sejak pulang dari Amestria.Aku akan menepati janjiku kepada Papa, mengambil alih Perusahaan Logistik Baskoro setelah berhasil pulih dari patah hati akibat perlakuan Dante."Mama cuma khawatir, Sayang. Papa juga nggak protes kalau kamu nggak mulai kerja hari ini. Kamu baru saja pulang, tapi sudah langsung mikirin pekerjaan. Kamu bisa santai dulu sama anak-anak. Jangan khawatir soal perusahaan. Papa bisa mengurusnya," kata Mama.Aku tersenyum."Aku tetap bisa santai sama anak-anak meski sambil bekerja. Jangan khawatir, Ma. Aku nggak apa-apa kok. Aku cuma nggak enak sama Papa. Dulu aku minta waktu setahun, tapi malah molor jadi tiga tahun gara-gara harus mengurus anak-anak," sahutku sambil tersenyum."Kamu ini ngomong apa? Mama sudah bilang, nggak usah dipikirkan. Papa nggak masalah," kata Mama.Aku menyelesaikan riasanku, lalu men

  • Ketika Cinta Ugal-Ugalan Itu Pergi   Bab 408

    Sudut Pandang Dante:"Nyonya sudah pulang ke Philvania, bagaimana rencana selanjutnya?" tanya Ruben.Dia satu-satunya saksi atas semua yang telah kulalui selama beberapa tahun terakhir, jadi aku menganggapnya seperti keluarga sendiri. Aku berterima kasih kepadanya karena selalu menjagaku.Aku menyandarkan tubuh di kursi sambil memijat pelipisku. Kepalaku berdenyut akibat beberapa malam tidak bisa tidur.Sejak melihat Trinity dan anak-anak kami di bandara, aku tidak bisa tidur. Insomniaku makin parah. Setiap kali memejamkan mata, wajah lembut Trinity terus menghantui pikiranku.Aku membuka mata dan menatap bingkai foto di atas meja. Itu adalah foto Trinity dan anak kembar kami.Ya, aku tahu semua tentang kehidupan Trinity di Amestria berkat saudari tiriku, Dorothy.Dorothy adalah putri ibuku dari pria lain. Aku baru mengetahui keberadaannya belum lama ini. Aku pun senang kami bisa menerima satu sama lain sebagai saudara.Dia satu-satunya saudara perempuanku. Tidak ada alasan bagiku untu

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status