MasukAlesya Keiko dan Aidan Harvet dulu adalah sepasang suami isteri yang Romantis. Semenjak menjelang dua tahun pernikahan mereka, Alesya mengetahui kalau dia tidak bisa mempunyai keturunan seumur hidupnya. Ia pun perlahan berubah menjadi bersikap dingin kepada Aidan. Hingga Aidan merasa kalau Tidak ada cinta lagi dirumah tangga mereka. Pada suatu hari Aidan menceraikan Alesya beralasan sudah jenuh atas pernikahan mereka. Namun tentu saja Alesya menolak, dengan Berdalih, Aidan tidak perlu menganggap Alesya ada. Aidan lalu memberi kesepakatan jika salah satu dari mereka menemukan pasangan lain, maka dari itu perceraian akan terjadi. Alesya sepakat dengan usulan Aidan, yang menurutnya bagus. Ia bisa bekerja terlebih dahulu untuk mencari uang, dan bisa keluar dari rumah Aidan kapan saja. Alesya lalu menemukan bahwa Aidan sedang makan malam dengan perempuan bernama Morin. Ia jadi berpikiran jika Aidan menceraikannya karena perempuan itu. Dan Alesya juga bertemu dengan seorang Pria dingin yang ternyata adalah bosnya. Saat Pernikahan ALesya Keiko dan Aidan Harvet sudah diujung tanduk, tibalah orang ketiga diantara mereka. Apakah cinta itu masih ada?
Lihat lebih banyakAroma keringat bercampur dengan parfum mawar samar memenuhi udara kamar pasca pergulatan yang melelahkan. Di bawah temaram lampu, kulit Sella berkilap peluh, namun desah nafasnya yang tidak teratur bukanlah tanda kepuasan, melainkan amarah tertahan.
“Ahh, Mas, jangan keluar dulu dong!” Sella mendesah kecewa saat Bimo, suaminya, cepat keluar sebelum dia dapat meraih klimaksnya. Bimo melepaskan penyatuan mereka dengan perasaan bersalah karena lagi-lagi sudah membuat sang istri kecewa. Padahal sebelum bercinta, dia sudah meminum obat kuat agar bisa melayani nafsu Sella yang cukup tinggi. Namun tampaknya, usahanya masih sia-sia. Bimo memeluk Sella dan mencoba menghiburnya. “Sayang, maafkan aku. Aku sudah minum obat kuat untuk memuaskanmu, tapi aku malah mengecewakanmu. Kita coba lagi besok, ya?” “Ck, cuma segitu kemampuanmu, Mas?! Aku bahkan belum pernah merasakan bagaimana nikmatnya klimaks!” seru Sella, kesal setelah Bimo melepaskan penyatuan berdua. “Aku iri mendengar cerita temanku yang baru menikah dengan suami bulenya di Australia itu! Setiap hari temanku selalu mendapatkan kepuasan dari suaminya!” “Maafkan aku, Sella. Aku sudah berusaha melakukan apa saja agar bisa memuaskanmu di atas ranjang. Aku sudah minum obat kuat dan melakukan gym dua minggu sekali di tengah kesibukan pekerjaanku yang lumayan padat. Aku…” Belum selesai Bimo bicara, Sella sudah lebih dulu menyelanya. “Aku capek, Mas! Milikmu selalu loyo dan lemas sebelum aku dapat meraih puncak! Masih mendingan aku main sama timun dan terong sekalian!“ hina Sella sambil menarik selimut untuk menutupi tubuhnya lalu tidur dengan posisi berbalik memunggunginya. Bimo hanya bisa terdiam membisu sambil menundukkan kepalanya dengan wajah bersalah dan malu setelah mendengar keluhan istrinya. Dengan langkah gontai, ia turun dari ranjang lalu memakai pakaiannya dengan cepat sebelum memutuskan untuk keluar dari kamar. Bimo berjalan menuju ruang tamu dengan langkah berat. Ia memilih untuk menghidupkan laptopnya demi mengalihkan rasa malunya karena gagal memberikan kepuasan pada istrinya. Sebenarnya, pikirannya benar-benar kacau dan ia sama sekali tidak dapat berkonsentrasi mengingat pertengkarannya dengan Sella barusan. Namun, ia tidak bisa menunda pekerjaannya karena besok adalah deadline tugas kantornya. Baru saja layar laptopnya menyala, tiba-tiba terdengar derap langkah kaki yang mendekat dari arah dapur. “Bimo, kamu belum tidur, Nak?” suara lembut itu memecah kesunyian. Mayang, mama mertuanya, muncul sambil membawa secangkir kopi hangat yang aromanya langsung tercium oleh Bimo. Fokus Bimo seketika teralihkan pada kemolekan tubuh Mayang yang menggoda. Meskipun sudah berkepala empat, mertuanya itu terlihat seperti wanita umur 30-an. Darahnya berdesir ketika melihat dua tonjolan yang tercetak sempurna di balik daster mini yang dipakai wanita itu. Bimo bisa menebak bahwa Mayang tidak memakai bra sama sekali. Saat sang mertua menunduk meletakkan kopi di atas meja, dia dapat melihat bukit kembarnya dari balik kerah daster yang terbuka. Bukit ranumnya terlihat sangat besar dan menantang, lebih besar dari milik istrinya—ukurannya diperkirakan 38 cup D. Rasa bersalah langsung menyergapnya. Dia lekas memalingkan pandangannya ke arah lain, tidak seharusnya dia menatap mertuanya seperti tadi. “Te… terima kasih, Ma,” ucap Bimo dengan suara tergagap. Mayang tersenyum lembut. “Iya, sama-sama, Nak. Apa kamu habis bertengkar lagi dengan Sella?” Pertanyaan dari Mayang itu membuat Bimo ingin mengubur dirinya hidup-hidup. Apakah Mayang mendengar pertengkaran mereka barusan? Harga dirinya benar-benar runtuh di hadapan mama mertuanya itu. Mayang kemudian melangkah perlahan ke belakang Bimo dan mulai menyentuh pundaknya. “Kamu kelihatannya sangat capek dan tertekan, Bimo. Sini, biar Mama bantu pijat sedikit supaya pikiranmu bisa lebih rileks. Jangan terlalu dimasukkan ke hati ucapan Sella, mungkin dia hanya sedang lelah.” “Ti… tidak usah, Ma, aku tidak apa-apa kok. Lagian ini sudah malam, Mama istirahat saja,” tolak Bimo dengan suara bergetar karena gugup. Dia merasa kurang pantas jika mama mertuanya itu memijatnya di tengah malam begini. Namun, Mayang seolah tidak menerima penolakan tersebut dan tetap mulai memijat punggung Bimo dengan gerakan yang mantap namun lembut. Tangan Mayang terasa begitu halus, namun setiap sentuhannya membuat seluruh tubuh Bimo bergetar karena rasa tak nyaman. “Gimana, Nak Bimo? Pijatan Mama terasa enak, kan?” tanya Mayang dengan nada yang sangat pelan dan menenangkan di telinga Bimo saat pijatannya sudah merambat ke area punggungnya. “Iya, Ma… enak sekali,” jawab Bimo lirih, pijatannya memang nikmat hanya saja dia kurang menikmatinya lantaran yang memijatnya adalah mama mertuanya sendiri. Ia mencoba fokus pada layar laptop, namun pikirannya sudah tidak berada di sana lagi. “Mama punya cara supaya Sella berhenti marah,” bisik Mayang pelan di sela pijatannya. “Kalau kamu mau… Mama bisa membantumu agar Sella puas di atas ranjang.”Pelan-pelan dia membuka pintu, tapi tidak ada satupun orang diruang tamu. “Syukurlah tidak ada nenek tua itu disana!” batin Alesya merasa lega. lalu menapakkan kakinya dianak tangga menuju kamarnya.“Akh lelah sekali...” Alesya merasa lega setelah membaringkan tubunya dikasur. Bahkan ia tidak sadar bahwa Aidan belum juga pulang.***Morin telah selesai memasak, dia menarik lengan Aidan agar mengikutinya keruangan makan. “Taraa... Lihat semua ini makanan kesukaanmu,” imbuhnya menunjukkan kearah meja, hidangan yang sudah tertata rapi bak restoran bintang 5. Disitu ada lobster lada hitam, Chicken teriyaki, tumis sayur, dan juga curry rice. Semua adalah makanan kesukaannya Aidan.Aidan terperangah seaka tidak percaya saat melihat hidangan yang tampak lezat itu selesai hanya dalam 30 menit. Melihat itu perutnya secara almiah mengeluarkan bunyi.Krukk!Morin mendengar suara perut Aidan yang sudah memberontak membuat perempuan itu tertawa geli. “Kelihatannya perutmu sudah keroncongan, langsu
Setelah makan siang bersama Morin. Tampak Aidan tengah mengetik dilaptotnya dengan serius. Ia seketika teringat omongan kekasihnya Morin bahwa Direktur mereka ingin mengadakan kerja sama antara perusahaan yang berada disamping kantor mereka. Aidan tahu jika kantor tersebut tempat Alesya bekerja. Jadi ia ingin menolak, tapi direkturlah yang langsung menunjuk orang yang ikut dalam bisnis itu, dan nama Aidan ada tercantum dengan jelas disecarik kertas pengumuman. Kini Aidan hendak pulang, ia juga membereskan segala yang berserakan dimeja. Dan setelah sampai diparkiran yang tampak tidak ada orang itu, Morin tiba-tiba saja mengetuk kaca mobil Aidan.Tok, tok, tok! Aidan menurunkan kaca mobilnya. “Ada apa Bu?” tanya Aidan yang masih belum beranjak keluar dari mobilnya. “Panggil Morin! Karena ini sudah diluar jam kerja. kamu menyebalkan sekali, ” rengek Morin manja merungutkan bibirnya.“Hehehe maksud saya Morin,” balas Aidan tersenyum kepada kekasihnya tersebut.“Hmmmm... Ngomong-ngomong
“Akhirnya selesai,” Alesya menyelonjorkan punggungnya dikursi tempat kerjanya. “Akh, pinggang ku sakit sekali!” keluh Alesya yang kesal akibat Aidan yang sangat ganas tadi malam, membuat pinggang-nya seperti akan patah.Misami mengirim pesan kepada Alesya {Apakah kamu baik-baik saja?} Isi pesan sahabatnya tersebut.“Aku tidak baik-baik saja,” gumam Alesya yang langsung menelepon Misami. [Halo Mi!]“Hmm Ada apa?” sahut Misami dengan suara serak tampak seperti baru bangun.“Apakah kamu pulang dengan selamat?” tanya Alesya untuk memastikan keadaan sahabatnya itu setelah kejadian semalam.“Tentu saja, jika tidak bagaimana aku bisa mengangkat telepon darimu, kamu berharap aku tewas gara-gara pukulun pria brengsek yang tak seberapa itu?” seloroh Misami tertawa lu. Agar sang sahabat tidak khawatir.“Syukurlah, kukira kamu mendapatkan luka serius setelah pukulan itu. Kamu tahukan tenaga Pria itu sangat kuat. Leher ku saja masih berbekas! Ah andai saja aku punya kekuatan sudah kuhabisi dia, ”
Aidan duduk memutar-mutarkan kursi tampak isi pikirannya masih terbayang-bayang akan malam yang panas yang telah dilakukannya bersama Kena. “Sial, bisakah aku tidak memikirkan hal itu lagi,” decihnya kesal. Namun lagi-lagi pikirannya malah mengingat saat Alesya memberikan ciuman panas untuknya. Dan hal itu sukses membuat wajah Aidan menjadi merah padam dengan hanya mengingatnya saja. “Aakh.. Bagaimana ini, aku bisa gila!” Aidan mengacak-ngacak rambutnya seolah pikirannya sedang bercabang-cabang.Untung saja Zellius sang sahabat datang menemuinya. “Kamu sudah jadian dengan bu Morin?” bisik lelaki itu seraya melirik disekelilingnya agar tidak ada orang yang mendengar.“Sudah,” dijawab Aidan dengan tampang bak benang kusut.“Tapi kenapa wajahmu seperti orang yang tidak gajian satu bulan,” tanya Zellius yang tampak bingung.“Aku hanya lelah saja sehabis mengerjakan tugas yang menumpuk,” dalih Aidan menunjukkan kertas-kertas yang sudah tersusun rapi.“Hei... kamu sangat beruntung tahu! Lih
Alesya menghempaskan tubuh Aidan Ketempat tidur dengan galak, “Pantas saja dia ingin sekali bercerai.” Alesya tersenyum kecut, saat menatap wajah Aidan yang tertidur pulas.Ia juga memastikan bahwa Aidan tidak kedinginan lalu mengambil selimut dan melekatkan ketubuhnya.
“Dino Foster, salam kenal gadis cantik!" Lalu ia berdiri memegang serta Mencium tangan Alesya dengan senyuman menggoda.Alesya buru-buru menarik tangannya, ia tampak geli atas perilaku Dino.“Sembarang cium.” Misami menoyor kepala Dino dengan tangannya. Dino
Alesya yang sudah hampir selesai, dengan tidak senang hati berlari mematikan api kompor. Akhirnya Surat yang ia bikin, sudah selesai dikirimt. Tinggal menikmati hidangan yang sudah memanggilnya dari tadi.Ia memotret makanannya menggunakan ponsel. dengan senyum tersungging dibi
Setelah pernikahan selama tiga tahun Aidan merasakan kehampaan yangsangat mendalam, ia merasa seperti siput tanpa cangkang sangat jauh berbeda saat mereka perpacaran dulu. “Aku sudah muak denganmu!” ucapnya kala itu. Alesya yang mendengar pun tidak terkejut sama sekali, terlihat ia juga sudah mu






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan